
Dor
Suara senjata api menggema keheningan. Anisa memejamkan matanya pasrah menunggu peluru akan menembus kulit dan dagingnya.
Set. Namun dugaannya salah, bukan sebuah peluru yang mengenainya tapi sebuah suntikan yang bersisi cairan mengenai leher belakangnya.
Pandangan Anisa berubah menjadi buram, kepalanya sangat pusing dan dengan perlahan kesadarannya mulai menghilang.
Bruuk. Anisa tersungkur di tanah yang di tumbuhi rerumputan.
******
Srak, srak, srak.
"Kenapa kita harus pakek baju kaya gini sih, Bos."
"Emangnya kamu mau pakek baju kaya apa?. Baju renang."
"Ya baju seragam lah Bos, biar keren."
"Adit-adit, kan kita lagi nyamar gimana sih."
"Kenapa tim kita yang bertugas?"
"Kemarin si Adit bikin ulah di barak, alhasil kita kena semprot semua."
"Oh, jadi semua ini gara-gara lo Dit,"
Srak, srak, srak.
Keempat Pria itu saling bertatapan dan berpencar untuk bersembunyi. Walaupun percakapan mereka seperti orang-orang aneh, tapi itu semua semata-mata hanya untuk melunturkan ketegangan yang sedang mereka rasakan.
Zahran tiarap dan bersembunyi di semak-semak dengan pandangan yang sangat fokus menatap ke arah sumber suara yang mencurigakan. Rumput bergoyang dan tersibak satu persatu.
"Kejar dia jangan sampai lolos!"
Dengan tenaga yang tersisa Rara terus berlari sejauh mungkin dari orang-orang jahat itu. Kakinya yang sudah berlumuran darah akibat goresan dengan akar dan ranting-ranting kering dia abaikan.
Greeep.
Tiba-tiba tangan Rara ada yang menarik. Rara memekik kaget namun tidak menimbulkan suara karena mulutnya sudah di bekam oleh tangan kekar seseorang.
"Shht!" bisik Adit tepat di telinga Rara.
"Brave! Robust! alihkan konsentrasi lawan dan bawa jauh dari sini!" ucap Zahran tegas melalui saluran rahasia yang melilit di lehernya.
Ezra yang di panggil Brave dan Aidan yang di panggil Robust mengangguk dari tempat mereka masing masing. Langsung keluar dari tempat persembunyian dan berlari ke arah yang berbeda.
"Kejar mereka!" Teriak seorang pria yang tadi mengejar Rara.
Saat situasi sudah aman Zahran keluar daei persembunyiannya dan menghampiri Adit yang seorang membekap Rara.
"Nona anda tidak papa?"
"Hah, hah, hah."
"Tolong selamatkan Anisa!"
"Tolong selamatkan dia aku akan membayar kalian berapapun juga!"
"Tolong selamatkan dia!"
"Hei Nona harap tenang sebentar!"
"Tolong tenang dan ceritakan kenapa anda ada di sini?"
Rara menceritakan semua kejadian yang telah ia lalui dan alasan kenapa sampai dia terdampar di tengah hutan belantara seperti ini.
Deg.
Hati Zahran tiba-tina sesak, ia sangat takut jika Anisa yang di maksud adalah seorang wanita yang beberapa hari ini ia kenal.
"Tolong selamatkan dia, hiks hiks hiks."
"Nona bolehkah saya meminjam ponsel untuk sebagai petunjuk arah?"
Rara mengangguk sebagai jawaban.
"Fire!. Amankan korban. Saya akan pergi untuk menyelamatkan sandra yang lain."
"Siap Kapten!"
"Komando!"
"Komando!"
*****
Bruk!
Zahran di lempar ke dalam tenda yang berisi sandra lainnya.
Mata Zahran membulat sempurna saat melihat sorang gadis tergeletak di tanah dengan darah yang keluar dari lengan atasnya. Tapi gadis itu tidak sadarkan diri, dia seperti tidur dengan nyenyak.
Zahran ingin sekali menghampiri gadis itu dan memeriksa keadaannya tapi para mafia masih berada di dalam tenda.
Pria bertubuh kekar itu melirik ke kanan dan ke kiri, dirasa aman ia langsung ke luar.
Zahran langsung membuka ikatan di tangan dan kakinya. Bukan hal yang sulit bagi Zahran untuk membuka ikatan itu. Zahran bergegas menghampiri gadis yang sejak tadi menarik perhatiannya.
"Anisa!" Jerit Zahran di dalam hati.
"Anisa! Anisa! Bangun!" Zahran menepuk-nepuk pipi Anisa agar segera bangun.
Namun sang empu masih terpejam dengan nyaman. Zahran dibuat frustasi, jika tidak memikirkan misinya. Ingin sekali dia langsung membawa Anisa keluardari sana dan memberi pelajaran kepada meraka yang berani-beraninya melukai Anisa.
Sreeet!.
Zahran merobek lengan bajunya dan melilitnya di lengan Anisa agar lukanya tidak terus-terusan mengeluarkan darah. Untunglah itu hanya goresan peluru. Melihat tanda-tanda yang Anisa tampilkan, Zahran yakin jika Anisa senang dalam pengaruh bius. Ia meletakkan jaket yang digunakan sebagai bantalan Anisa untuk tidur.
Dengan perlahan Zahran memindahkan posisi Anisa agar berdekatan dengannya. Tali yang tergeletak kembali ia gunakan untuk mengikat kembali tangan dan kakinya.
Zahran tersenyum kecut, ternyata ia bisa berdekatan dengan Anisa yang asik tertidur, namun sayangnya keadaan yang terlalu ekstrim. Zahran berdoa dalam hati semoga ia bisa menatap Anisa lagi jika sedang tidur. Namun tidak beralaskan tanah tapi sebuah bangunan layak huni.
Hari semakin malam dan Anisa masih asik tertidur dengan Zahran yang setia duduk di sampingnya.
******
"Aku di mana?" tanya Anisa di dalam hati.
"***!" Dengan menahan rasa sakit Anisa bangun dari tidurnya.
"Ya tuhan!" Pekik Anisa saat melihat Zahran sedang tertidur dengan posisi duduk di sampingnya.
Anisa bertanya-tanya di dalam hati kenapa dia bisa bertemu dengan pria aneh itu lagi, dan kenapa ia bisa tertidur di atas tanah seperri ini.
Anisa terpaku saat melihat wajah Zahran yang begitu tenang saat tertidur, jika di hitung ini adalah kedua kalinya ia melihat Zahran yang terlelap tenang seperri ini. Jika di lihat-lihat ternyata Zahran memiliki wajah yang tampan.
Menyadari pikirannya yang sudah semakin melantur Anisa menggeleng-gelengkan kepalanya dan beristigfar di dalam hati.
"Sudah bangun?"
"Kenapa kita ada di sini?. Harusnya kita tidur di kosan bukan di dalam tenda seperi ini!"
"***!, pelan kan suara mu, kamu tidak mengingat apa yang sudah terjadi."
Anisa terdiam sejenak.
"Rara!"
"Apakah dia baik-baik saja?." Tanya Anisa cemas.
"Hm, jangan khawatirkan dia saya menemukannya."
"Kenapa Bapak bisa di tangkap?, bukannya bapak seorang tentara?. Cepat keluarkan saya dari sini!"
"Kenapa diam saja?!. Saya melihat ada sekitar sepuluh sandra di sini, cepat selamatkan mereka."
"Kenapa hanya mengangguk!"
"Jangan kencang-kencang ngomongnya." Zahran mengingatkan.
"Atau jangan-jangan Bapak itu tentara gadungan?. Bapak sudah menipu saya?!"
Zahran terkekeh mendengar tuduhan Anisa yang seenaknya.
"Kenapa diam saja?!"
Anisa kesal karena Zahran tidak menjawab satuoun pertanyaannya.
"Jangan panggil saya Bapak, memangnya kamu tidak lihat kalo wajah saya masih muda dan tampan?" ucap Zahran.
"Ini bukan waktunya bercanda!" jawab Anisa kesal.
"Saya senang sekali pagi-pagi sudah bisa melihat bidadari dari surga!" Zahran masih asik menggoda Anisa.
Sraaat!, tirai di buka.
Brak!. Para penjahat melemparkan tiga orang pria ke tanah lalu pergi.
"Senior!" Teriak mereka bersamaan dan langsung menghampiri Zahran.
"Anda baik-baik saja?"Tanya Ezra khawatir.
"Bagaimana keadaan Cherry?" Zahran tidak menjawab dan malah menanyakan Rara.
"Baik-baik saja." Jawab Adit.
"Senior baik-baik saja kan?" ucap Aiden drngan memperhatikan keadaan Zahran.
"Hahaha, jangan meremehkan ku," Ucap Zahran narsis.
"Dia siapa senior?" Mereka melirik ke arah Anisa penasaran. Sedangkan Anisa hanya diam dan mengabaikan mereka.
"Dia tetangga kost ku."
Ketiga pria itu mengangguk sebagai respon.
"Hallo Nona," Ezra menyapa Anisa.
Anisa hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Jadi bagaimana?" tanya Zahran serius.
Mereka melirik Aidan untuk menceritakan semuanya.
"Kisah tom and Jery versi baru!" ucap Aidan serius.
"Ceritakan saya sudah lama menunggunya!" Wajah Zahran berubah menjadi serius.
"Tom menyandra anak Jerry untuk bernegosiasi dengan Anjing. Tapi anjing tidak merespon dan mengabaikannya." Jawab Ezra santai.
"Apa tujuan Tom?"
"Agar tulang dari tetangga bisa masuk ke rumahnya, tanpa di gonggong atau di gigit oleh Anjing. Namun, karena anak Jerry kurang efektif untuk mengancam Anjing, sekarang Tom menyandra anak Anjing!" Ucap Ezra.
"Wohooooy! Fantastic!" Pekik Adit.
"Kisah yang sangat menarik!" Zahran mengangguk-anggukkan kepalanya mencerna apa yang Ezra dan Aiden ucapkan.
"Ayo kabur dari sini dan menonton Tom and Jerry!" Ucap Zahran serius.
Mereka saling tatap dan mengangguk dengan misterius. Anisa menghela napasnya pelan saat mendengarkan obrolan ketiga pria aneh itu. Bisa-bisanya mereka bercerita tentang kartun dengan tangan dan kaki di ringkus seperti itu.
"Menyedihkan!" gumam Anisa di dalam hati.
******
Hallo Readers jangan bosan untuk melanjutkan kisah Zahran dan Anisa yang tentunya akan semakin seru.
Salam Aksara 🤗.
"Cerita ini hanya fiktip belaka dan tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan nyata."
Follow Ig untuk visualisasi tokoh : @itsme_d43604
ig author : denisa_sahara