
Arini tampil cantik malam ini. Wide leg pants cokelat muda membalut kakinya, atasan kaos dengan warna senada dilengkapi cardigan di bagian luar. Pak Tara sudah menunggu di depan rumah, sedang berbicara dengan bundanya. Kabar baiknya, entah bagaimana cara laki-laki itu meminta izin, akhirnya Arini diperbolehkan keluar.
Malam ini malam terakhir pasar malam di lapangan alun-alun kota. Sebelumnya sudah berulang kali Arini minta izin untuk pergi bersama teman-teman sekelas, namun tak pernah diperbolehkan. Tadi siang, di perjalanan pulang ia bercerita tentang hal itu kepada pak Tara. Dan akhirnya malam ini ia mendapat izin dari sang Bunda.
"Hati-hati yaa." Ayudira melepas anak gadisnya setelah berbicara panjang lebar dengan Guntara, calon suaminya itu.
"Iya, Bunda. Kok gak sekalian ikut aja sih Bun?"
"Aduuh kerjaan Bunda numpuk. Banyak desain yang harus direvisi juga. Kan bulan depan mau cuti panjang. Ups." Ia menutup mulut, untungnya Arini tak memperhatikan.
Mereka berdua memasuki mobil.
"Jaga anak kita ya, pak Tara."
Laki-laki itu tersenyum mendengarnya, mengangguk pelan.
"Anak kita?"
"Iya kan, anak muridnya pak Tara, sama anak kandungnya Bunda."
Arini merengut melihat dua orang itu terkekeh. Mobil silver terang itu mulai melaju meninggalkan halaman.
Malam ini, guru bahasa Inggris yang ada di sampingnya terlihat sangat tampan. Berkali-kali Arini curi-curi pandang, tak berani menatap langsung. Gayanya santai, namun masih terlihat keren. Perpaduan celana jeans hitam dengan sweeter coklat tua. Malam ini mereka berdua tak lagi terlihat seperti guru dan murid. Lebih seperti sepasang kekasih--menurut Arini.
"Eh, baju kita kompakan ya," komentar pak Tara saat sadar mereka sama-sama memakai nuansa coklat.
"Iya ya Pak. Nggak janjian loh ya." Arini ikut tertawa senang, merasa semesta ikut mendukung.
"Aduh, macet lagi."
Perjalanan ke alun-alun tidak begitu jauh, namun karena akhir pekan, jalanan begitu ramai. Macet, terutama di beberapa persimpangan yang ada lampu merah.
"Pak, Bapak ngomong apa ke Bunda? Kok bisa dikasih ijin?" tanya Arini beberapa saat kemudian.
"Oh tentang itu. Awalnya bundamu gak ngasih ijin loh sebenarnya. Tapi saya bilangin gini, 'Tenang saja bu Ayu. Saya akan jaga anak gadis ibu dengan sepenuh hati. Bahkan dengan nyawa sekalipun. Saya pastikan dia pulang dalam keadaan utuh.' gitu. Haha."
Arini ikut tertawa mendengarnya. "Bisa aja Pak."
"Kenapa kok pengen banget liat pasar malam?"
"Gak kenapa-kenapa sih, Pak. Cuma udah beberapa kali Vira ngajakin. Teman-teman yang lain juga. Tapi gak dibolehin mulu. Kalau bareng bunda, dia sibuk terus."
"Memangnya kapan terakhir ke pasar malam?"
Arini berpikir sejenak, mengingat-ingat. "Hmm. Kayaknya udah lamaa banget. Saya udah nggak ingat ... eh kalau nggak salah, terakhir sama Bunda sama Ayah deh. Pas SMP." Arini menggigit bibir demi mengingat itu.
"Oh iya, udah lama banget ya."
Akhirnya mereka sampai di tujuan. Tempat itu luar biasa ramainya, pak Tara sempat kesulitan mencari lokasi parkir.
Arini terpana. Ini berbeda sekali dengan yang ia lihat sepintas dari kejauhan saat di perjalanan ke sekolah. Berbagai wahana terlihat menarik. Setiap tempat penjualan tiket dipenuhi pengunjung yang antre. Kerlap-kerlip lampu begitu menyilaukan, ditambah suara dentuman musik di sana-sini.
"Kita ke mana dulu?" Pak Tara sedikit berteriak, mendekatkan mulutnya ke telinga Arini. Di sini berisik sekali, terutama suara sepeda motor dari wahana Tong Setan.
Arini menggeleng, ia juga tak tau mau ke mana. Kebingungan sendiri melihat pengunjung yang berdesak-desakan di mana-mana.
"Yang itu namanya Kora-kora, itu yang muter-muter Biang Lala," pak Tara menunjuk wahana di sekitar mereka. "Itu yang berisik banget Tong Setan, kayak atraksi motor trail gitu. Nah yang agak di pojokan itu Rumah Hantu."
Arini mengangguk-angguk. Sebenarnya ia sudah tau dari cerita teman-temannya.
"Jadi mau ke mana?"
"Terserah pak Tara aja deh."
"Rumah hantu?"
"Jangan! Serem."
"Trus? Biang Lala?"
"Itu tinggi banget Pak. Takut jatooh."
"Yaudah naik itu aja tuh." Ia menunjuk mainan kereta api mini di atas rel.
"Itu mah buat anak-anak Pak!" Gadis itu merengut.
Pak Tara tertawa. "Katanya terserah saya."
Dasar wanita.
Dan pada akhirnya mereka tidak masuk ke wahana mana pun. Hanya berputar-putar, membeli jajanan, mencari tempat duduk untuk istirahat sejenak, berputar-putar lagi. Lalu malam semakin larut, dan memutuskan pulang.
Arini tertidur di perjalanan pulang, mungkin kelelahan. Malam ini ia aktif sekali, mengajak gurunya berjalan ke sana-ke mari menjelajahi setiap sudut pasar malam untuk melihat semua wahana yang ada. Walau hanya menonton saja tidak naik apa pun.
"Hei. Arini. Udah nyampe di rumah nih." Pak Tara menyentuh lengannya.
Wajah manis itu masih terlelap, hanya bergerak sedikit. Namun antara sadar dan tidak, ia merasa seseorang mencium pipinya.
***
"Gimana perkembangan hubungan kalian? Kulihat akhir-akhir ini semakin membaik, Honey." Sepasang kekasih itu duduk di kursi rotan yang ada di teras, seusai sang Bunda memastikan Arini terlelap di kamarnya.
Ayudira mengangguk pelan. "Terima kasih ya. Semua ini juga berkat kamu, Mas."
"Aku nggak berbuat banyak. Hanya menasehati seperlunya. Kuncinya tetap di komunikasi kalian."
"Ya, mas Gun benar." Wanita itu merapatkan tubuhnya, angin malam berembus pelan membelai kulit. Terasa dingin. "Aku udah ngikuin saran kamu. Beberapa berkas desain kubawa pulang agar bisa dikerjakan di rumah. Jadi aku tidak perlu pulang terlalu larut seperti biasanya. Beberapa malam terakhir, aku bahkan sempat menemani Arini mengerjakan tugas sekolahnya."
Guntara merangkul leher calon istrinya. Mengecup manja. "Kelihatan kan hasilnya? Dengan kamu lebih banyak menemaninya di rumah, hubungan kalian juga pasti membaik. Dengan sendirinya keintiman antara ibu dan anak akan terjalin kembali. Arini butuh kamu, Honey. Bahkan lebih dari yang kamu tau."
"Iya Mas. Kok kamu jadi lebih tau ya tentang urusan menjadi orangtua? Kayak udah berpengalaman." Ayudira terkekeh.
Guntara menjawil pipinya. "Ya kan aku udah cukup lama jadi guru."
"Loh apa hubungannya?" Alisnya naik meminta penjelasan.
"Guru itu kan juga orangtua di sekolah. Tak jauh beda dengan orangtua di rumah."
Bunda satu anak itu mengangguk-angguk. Enggan berdebat.
"Kapan kamu bakal bilang sama Arini, Mas? Waktunya tinggal dua minggu lagi loh."
"Secepatnya, Honey." Guntara menatap lembut. "Saat ini hubunganku dengan Arini sudah cukup dekat, dia bahkan sudah nyaman curhat padaku. Mungkin besok lusa aku bisa menanyakan bagaimana pendapatnya jika sang Bunda menikah lagi. Akan kucoba memberikan pengertian, semoga saja ia menyikapi dengan positif."
"Itu yang membuatku takut. Aku takut Arini menganggap bundanya begitu mudah mencari pengganti sosok ... " Wanita itu menghela napas tak sanggup meneruskan kata-katanya. Tangan kekar itu mengusap rambutnya pelan.
"Udah. Nggak perlu berpikir yang tidak-tidak. Aku yakin dia sudah cukup dewasa untuk mengerti."
"Iya Mas. Semoga saja."
"Honey. Aku mau nanya sesuatu. Kayaknya kamu belum cerita soal ini."
Ayudira balas menatapnya. "Tentang apa?"
"Tentang mendiang ayah Arini."
Kening wanita itu berkerut.
"Kenapa kamu membakar semua fotonya?"
"Oh, tentang itu. Arini sudah bilang ke kamu?"
Guntara mengangguk. Tatapannya tajam menunggu jawaban.
Haaahh. Ia menghela napas lagi. "Semua itu aku lakukan untuk kebaikan Arini Mas. Kamu tau? Dari semenjak hari kematian ayahnya, Arini tidak bisa tidur nyenyak. Dia selalu ..." Ayudira tercekat, kenangan itu sempurna kembali memenuhi ingatannya saat ini.
"Tak apa, Honey. Pelan-pelan aja ceritanya."
"Ini menyakitkan untuk diingat. Tapi aku tau kamu juga berhak untuk bertanya." Bulir-bulir bening mulai mengalir di sudut matanya. "Di hari kecelakaan itu terjadi, kami begitu shock. Hari itu bertepatan dengan libur sekolah Arini. Kami bertiga sudah memiliki rencana untuk pergi berlibur bersama seminggu penuh. Barang-barang yang akan dibawa sudah disiapkan, tiket pesawat sudah dipesan. Namun tiba-tiba semuanya berubah saat sore aku mendapat telepon dari kenalan, seorang polisi. Ia mengatakan ada tabrakan beruntun, sebuah mobil tanki pembawa BBM tiba-tiba remnya blong, menabrak tiga mobil di depannya. Salah satunya mobil milik ...."
Ayudira tergugu.
Guntara mengusap punggungnya.
"Ini salahku, Mas. Salahku, Arini jadi seperti saat itu." Matanya memandang ke depan, terbayang semua kejadian di masa lalu. "Jenazah sampai di rumah. Para petugas yang mengantarkan sudah mewanti-wanti, sebaiknya tidak perlu dilihat lagi karena kondisinya sangat menggemaskan. Tapi aku begitu bodoh, aku tak peduli, tetap membuka penutup wajahnya. Arini di sampingku melihat wajah ayahnya yang hancur tak lagi berbentuk.
Itu semua salahku. Arini hanyalah seorang gadis kecil yang jiwanya masih rapuh, dan aku membuatnya menyaksikan hal yang seharusnya tidak ia saksikan. Semenjak hari itu, setiap malam dalam tidurnya ia selalu terbangun memanggil nama ayahnya. Setiap malam ia tidak bisa tidur nyenyak. Kesehatannya mulai memburuk, berat badannya turun drastis, bibirnya yang merah semakin pucat.
Akhirnya, pada suatu hari seorang teman menyarankan aku untuk membawa Arini ke psikiater. Ia menjalani hipnoterapi untuk melupakan wajah ayahnya dan semua kejadian buruk itu. Karena itu juga aku membakar sebagian besar fotonya bersama sang ayah. Meskipun masih ada beberapa yang kusembunyikan. Suatu saat nanti ketika dia benar-benar sudah siap, akan kutunjukkan."
Guntara mengangguk mengerti. Tangannya mengusap pipi Ayudira yang basah. "Yang kamu lakukan sudah tepat, Honey. Maaf, aku membuatmu harus mengingat semua itu lagi."
***