My Mother's Husband

My Mother's Husband
Rindu Ayah (2)



"Kamu lapar? Saya pesanin makanan."


"Tidak, Pak. Saya minum saja."


Guru bahasa Inggris tersebut mengangguk sambil menyebutkan pesanan kepada waitress.


"Oke. Jadi gimana tadi?" Alih-alih duduk di seberang meja, pak Tara lebih memilih tempat duduk di samping Arini, lalu menggeser kursinya lebih dekat.


Deg-deg-deg. Jantung gadis itu berdegup kencang, entah kenapa, ia juga tak mengerti. Posisi pak Tara begitu dekat, ia bahkan bisa mencium aroma parfum gurunya itu. Kondisi saat ini jauh berbeda dengan saat pak Tara menggendongnya kemarin, saat itu ia begitu shock, ditambah rasa sakit yang teramat sangat. Ia tak sempat berpikir yang aneh-aneh.


Tapi saat ini ...


"Jangan-jangan dia beneran suka sama kamu, Rin," Ucapan konyol Vira di sekolah tadi kembali terngiang di benaknya.


"Kok diam?" Wajah pak Tara semakin dekat. Awalnya Arini merasa grogi, tapi lama-lama ia mulai terbiasa dan nyaman. Arini balas menatap laki-laki itu sedetik, lalu kembali menunduk. Ia tak sanggup menantang sepasang mata yang sorotnya begitu tajam tersebut.


Tampang pak Tara tidak "boros", bahkan ia jauh terlihat lebih muda dari umurnya. Walau usia mereka terpaut jauh, tapi masih terlihat wajar jika berpasangan. Pantas saja beberapa pengunjung cafe itu menatap mereka seperti melihat hantu. Pasalnya mereka berdua masih sama-sama memakai seragam.


Guru dan murid SMA ke cafe berduaan. Kentara sekali, apalagi dalam posisi sedekat itu.


Sekian lama suasana hening. Sisa tangisan masih jelas di wajah Arini. Ia belum berbicara lagi, hanya diam menatap segelas minuman dingin -entah apa namanya- yang dipesan laki-laki di sampingnya itu.


"Ayah kamu itu, orang yang seperti apa?" pak Tara bertanya pelan usai menyeruput greentea dari cangkir putih di hadapannya.


Arini tak langsung menjawab, ia menunduk dengan bibir terkatup. Selama ini perasaan itu ia tutupi, dipendamnya seorang diri. Tak pernah ia ungkapkan, bahkan kepada ibunya sekalipun. Apa kali ini ia harus bercerita pada seseorang yang baru dikenalnya? Apa mungkin pak Tara bisa mengerti apa yang dirasakannya?


"Saya sudah tidak ingat persis seperti apa wajah ayah, hanya terbayang samar-samar," Arini menggeleng. "Bunda sudah membakar semua fotonya."


Pak Tara melotot, sedikit terkejut. "Dibakar?" Hal ini sama sekali belum pernah didengarnya.


Gadis itu mengangguk sambil memperbaiki posisi duduknya. Ia mengusap wajah, menyingkirkan anak rambut yang menghalangi mata. Kejadian lima tahun silam menyeruak memenuhi ingatannya. Beberapa kenangan masih terbayang jelas, hanya saja entah kenapa, ingatan tentang seperti apa wajah ayahnya memudar begitu saja.


***


Arini menyudahi ceritanya dengan sedu-sedan tangis. Ia tertegun saat pak Tara tiba-tiba meraih tisu dan mengusap pelan pipinya yang basah. Gadis itu menatap sendu, tak sadar kepalanya sudah bersandar di pundak kokoh laki-laki itu.


Arini merasa begitu nyaman di posisi tersebut. Merasa aman dan tentram di saat bersamaan. Ia juga tak tahu pasti perasaan apa ini. Apakah sebatas nyaman antara guru dan murid, atau sesuatu yang lain. Setidaknya ia sudah berani meluapkan seluruh isi hatinya yang selama ini coba ia pendam sendiri. Apapun itu, ia jadi lebih plong setelahnya.


"Kamu tau, orang bijak pernah bilang, sebenarnya orang yang sudah mati itu tidak benar-benar mati. Selama kita masih mengingat kenangan tentangnya, maka selama itu pula ia hidup. Di sini." Pak Tara menempelkan tangan di dada. "Di hati kita."


Arini menggigit bibirnya. Kata-kata pak Tara begitu dalam.


"Kamu rindu pada ayahmu, percayalah ia pasti juga rasakan hal yang sama. Untuk sekarang, kamu harus bahagia, jangan terlalu larut dalam kesedihan yang tak akan ada ujungnya. Saya yakin, ayahmu di sana juga ingin melihat anak gadisnya tersenyum. Melihatmu menangis, ia pasti lebih sedih lagi."


Laki-laki itu menghela napas sejenak. "Kemudian tentang bundamu. Cobalah untuk mengerti posisinya. Sekarang ia adalah single parent, Arini. Ia sedang berusaha untuk menjadi dua orang dalam satu waktu. Menjadi ayah yang mencari nafkah untuk kelangsungan hidup kalian, sekaligus menjadi ibu rumah tangga. Dan percayalah, itu berat sekali.


Wajar, jika ada kalanya kamu merasa bundamu tidak memperhatikan atau malah mengabaikan. Itu semua karena ia juga memiliki kekurangan, punya keterbatasan. Kalau ia bisa, pasti bundamu sudah membagi tubuhnya jadi dua, agar bisa jadi ayah dan ibu sekaligus untuk anak gadisnya. Sayang sekali itu mustahil, bukan? Saya yakin sekali, bunda sangat menyayangi kamu." Pak Tara menatapnya lekat-lekat. "Cobalah bantu ia, coba sedikit mengerti posisinya."


Arini mengangguk pelan. Matanya menunduk semakin dalam, menggigit bibir semakin keras, menahan tangis. Arini mulai menyadari kekeliruannya selama ini. Ia paham betapa berat beban yang ditanggung bundanya seorang diri.


"Udah hampir sore. Saya antar pulang yuk." Pak Tara memegang pundaknya.


Gadis itu hanya menjawab dengan anggukan pelan.


"Pak Tara. Terima kasih banyak." Senyumnya kembali mengembang, meski masih terlihat dipaksakan.


***


Arini berdiri di teras melambaikan tangan melepas kepergian pak Tara setelah mengantarnya. Mata gadis itu mengikuti mobil silver cerah miliknya hingga hilang dari pandangan. Arini tersenyum tipis menyaksikan tiba-tiba mobil tersebut putar balik di penghujung jalan, menuju ke arah satunya.


"Dasar tukang bohong," bisiknya. "Katanya memang searah."


Tidak ada siapa-siapa di rumah, seperti dugaannya. Bibi, ART-nya juga pasti sudah pulang setelah menyelesaikan semua pekerjaan rumah. Arini melangkah pelan menuju kamarnya. Melepas sepatu, mengganti baju, kemudian merebahkan badannya yang masih terasa sakit di beberapa bagian.


Ia meraih HP yang tersimpan di laci meja belajar. Sudah banyak chat masuk. Arini memang tak berani membawa HP ke sekolah. Aturan di sekolahnya cukup tegas masalah ini. Jika ada murid yang kedapatan membawa HP ke sekolah, pasti akan disita dan hanya dikembalikan saat sudah lulus. Tapi tetap saja, walaupun demikian, masih ada murid yang bandel, sembunyi-sembunyi membawanya.


Tak ada chat yang penting. Hanya teman-teman kelas lain yang mengirimkan chat-chat pasaran, yang membosankan untuk dibaca.


Vira : "Rin, udah di rumah?"


Vira : "Rin..."


Vira : "Arini..."


Vira : "Ke mana sih?"


Chat dari Vira sudah menumpuk dari tadi siang. Mungkin sahabatnya itu khawatir ia kenapa-kenapa.


"Maaf, Vir. Aku baru ngecek HP. Hehe." Arini membalas. "Sebenarnya emang baru sampai di rumah sih."


Vira : "Loh kok lama pulangnya? Kamu baik-baik aja kan?"


"Baik kok. Tenang aja. Vir, aku mau nanya."


Vira : "Syukur deh."


Vira : "Nanya apa?"


Arini berpikir sejenak. "Tadi di kelas kamu kan bilang, jangan-jangan pak Tara beneran suka sama aku. Kok kamu bisa kepikiran gitu?"


Arini menunggu, Vira mengetik sedikit lama.


Vira : "Ya soalnya yang aku tau pak Tara itu kan kalem banget kalau di luar jam pelajaran. Bahkan anak-anak kelas lain bilang, ia kadang disapa diam aja."


Vira : "Nah, sama kamu tiba-tiba perhatian tingkat dewa, kan aneh. Makanya aku jadi mikir gitu."


Arini mangut-mangut.


Vira : "Kenapa emangnya, Rin?"


"Aku mau cerita, tapi jangan bilang siapa-siapa ya."


Vira : "Ya ampun, emangnya aku pernah bilang siapa-siapa soal cerita kita?"


"Hehe. Enggak sih."


Vira : "Cerita apa?"


"Tadi aku pulang diantar pak Tara lagi."


Vira : "Wahh. Trus kok lama nyampenya?"


"Iya, soalnya dia gak langsung nganterin ke rumah. Ngajak ke cafe Rahvana yang dekat taman."


Vira : "Oemji! Seiusan? Trus trus? Ngapain di sana?"


"Di sana aku curhat panjang lebar gitu ke dia. Pokoknya dia bisa banget mancing aku buat cerita, tau. Aku aja gak nyangka bisa seterbuka itu."


Vira : "Trus?"


"Dia dengerin ceritaku, terus ngasih masukan gitu. Aku sempet nangis, dia nenangin, trus ngapus air mataku gitu, Vir."


Vira : "Arini!!!"


"Iyaa!" Arini mengerutkan kening.


Vira : "Percaya deh, itu bukan hubungan sebatas guru-murid lagi."


Vira : "Pak Tara BENERAN SUKA SAMA KAMU!!!"


Arini menggigit bibir demi membaca deretan huruf-huruf kapital itu.