
Untuk cinta yang tersemai tanpa sengaja...
Untuk benih-benih rindu yang tetap tumbuh antara pilu...
Mengapa mahkota indahnya tetap mekar meski angin berulang kali menggugurkan?
Mungkinkah kumbang tetap hinggap meski wanginya tak lagi menggiurkan?
-
Arini berdiri di bawah naungan atap gerbang sekolah, berlindung dari tetesan hujan yang terus menebal. Ia kebingungan. Seperti biasa, hari ini bundanya hanya bisa mengantarkan sampai di depan gerbang, terlalu buru-buru untuk bisa masuk ke halaman sekolah atau setidaknya parkiran. Lagipula, tadi gerimis belum setebal ini, jadi ia mengangguk saja saat bundanya bertanya, tak apa sampai di sini?
Sebenarnya Arini bisa saja menerobos seperti murid-murid yang lainnya. Toh tidak begitu jauh. Namun kali ini berbeda. Ia membawa sebuah kardus berisi origami. Semalaman ia bergadang melipat kertas, mewarnainya dengan sepenuh hati. Tidak lucu jadinya jika pagi ini semua hasil kerja kerasnya berantakan terkena tempias air hujan.
Tin tin! Suara klakson sepeda motor terdengar.
Arini menoleh. Sosok wajah yang ia kenal terlihat saat helmnya dibuka. Itu Kelvin, teman sekelasnya yang paling menyebalkan.
"Loh Nona Manis. Kok gak ke kelas? Malah berdiri di sini." Laki-laki berkacamata itu menatap heran.
"Hujaan!"
"Lah terus kenapa? Kan gak deras juga. Apakah Nona ini sejenis garam, takut mencair?" Kelvin tertawa meledek. "Lagian kan Nona juga pake jaket."
"Yee, bukan gitu." Arini mendengus sebal terus dipanggil Nona. Sudah dari dulu ia melarang, tapi memang bukan Kelvin namanya kalau bisa dilarang. "Aku bawa ini nih. Takut berantakan kena air."
"Apa sih, Nona Manis?" Kelvin mendekatkan mukanya, melihat ke dalam kotak kardus yang dipeluk Arini.
"Buat hiasan kelas. Aku kebagian bikin origami."
"Oohh." Laki-laki itu mengangguk.
Sudah menjadi tradisi di sekolah ini, setiap pergantian semester maka kelas akan didekorasi ulang. Ganti suasana agar tidak terkesan membosankan dan begitu-begitu saja. Lukisan-lukisan diganti, pun kerajinan tangan yang bergelantungan di langit-langit, hiasan jendela juga, bahkan terkadang dinding dicat ulang, tergantung kesepakatan penghuni kelas.
Setiap orang mendapatkan tugas masing-masing. Dan kebetulan kali ini Arini diminta membuat hiasan berupa burung-burung lucu warna-warni dari kertas. Tak ada murid di kelas yang bisa membuat hiasan origami sebagus dia.
"Bantuin dong, Vin. Cariin plastik atau apa kek buat nutupin ini."
"Oke-oke, Nona. Tunggu bentar, Kakanda Prabu ke kelas dulu, siapa tau ada teman-teman yang bawa payung. Nona Manis diam di sini dulu," ucap Kelvin mengedipkan mata sebelum kemudian menarik gas sepeda motornya.
"Cepat yaa!"
Arini tersenyum senang. Temannya itu, walau lebih sering menyebalkan, kata-katanya absurd dan suka seenaknya, tapi kadang-kadang ada gunanya juga.
Tin tin! Suara klakson terdengar lagi di belakang gadis itu. Kali ini sebuah mobil berwarna silver cerah. Arini mundur selangkah.
Wajah manis berlesung pipit itu tampak bertanya-tanya, merasa tidak pernah melihat mobil itu sebelumnya di parkiran sekolah. "Siapa ya? Guru baru?" batinnya.
Mobil itu berhenti tepat di depannya. Sesosok wajah tampan terlihat saat kaca diturunkan, hitam manis, tersenyum bersahaja pada Arini, seragamnya menunjukkan kalau ia seorang guru, rambutnya juga dipotong rapi, disisir rata ke samping kanan. Saat tersenyum terlihat dua buah lubang di pipi kiri dan kanannya.
"Wow dia punya dua lesung pipit!" Spontan batin gadis itu berkata.
"Gak bawa payung? Ayo naik aja bareng saya biar tidak basah," laki-laki itu menawarkan. Suaranya terdengar berat, nge-bass berwibawa.
"Eh? Tidak usah, Pak." Arini kebingungan, mencoba menolak halus.
"Tidak apa-apa, naik saja. Hujannya makin deras." Ia menatap langit yang semakin deras mencurahkan tetesan air. "Jangan sungkan, saya juga guru di sini kok."
Arini berpikir cepat, menimbang. Ia melihat sekitar, Kelvin masih belum terlihat batang hidungnya. Sementara gerimis semakin menebal. Akhirnya, ragu-ragu gadis itu melangkah membuka pintu mobil dan duduk di samping laki-laki yang bahkan belum dikenalnya tersebut.
Mesin mobil menderu dan bergerak maju memasuki gerbang sekolah. Benar saja, beberapa detik kemudian hujan turun dengan derasnya. Arini mentap jeri. Seandainya ia tetap bertahan di gerbang itu, habis sudah kebasahan. Atap yang hanya beberapa meter tersebut tak akan mampu lagi menghalangi tempias air hujan deras yang terbawa angin.
"Terima kasih sebelumnya, Pak," ucap Arini sopan.
Laki-laki itu mengangguk.
"Bapak guru baru ya? Maaf, soalnya saya belum pernah lihat sebelumnya."
"Benar. Saya baru masuk hari ini." Ia tersenyum, melihat ke arah Arini sedetik.
Gadis itu mengangguk.
Mobil berhenti di bawah atap parkiran. Dari sini Arini bisa berjalan ke kelas tanpa khawatir terkena hujan. "Terima kasih sekali lagi, Pak," ucapnya sebelum melangkah.
"Iya, sama-sama, Arini."
Arini melangkah cepat menuju kelas, ia melirik jam tangan, sebentar lagi bel masuk akan berbunyi. Namun baru beberapa langkah ia berjalan, Arini menyadari sesuatu. Gadis itu mengecek seragamnya, memastikan kalau ia tidak sedang memakai baju yang ada plang namanya. Ia menoleh ke belakang. "Dari mana bapak itu tau namaku?"
Guru baru itu sudah keluar dari mobil, melangkah cepat menuju ruang guru.
Teng teng! Bel masuk berbunyi. Arini mengurungkan niatnya untuk bertanya. Sudah telat. Ia melangkah menuju kelas dengan kepala penuh tanda tanya.
"Terbang." Arini menjawab sekenanya kemudian langsung duduk di bangkunya dengan kening dilipat.
"Kakanda Prabu serius, oi, jawabannya malah gitu." Kelvin mendengus.
Arini mencibir.
"Selamat pagi anak-anak!" Bu Ratih, wali kelas XII IPA 1 melangkah masuk. Sedikit kaget, Kelvin segera kembali ke bangkunya.
"Pagi bu Ratih!"
Seluruh penghuni kelas mulai sibuk membicarakan perihal dekorasi ulang ruang belajar. Bu Ratih mendikte tugas masing-masing kelompok, memastikan semuanya teratur. Benda-benda yang ia minta untuk disiapkan kemarin juga dikumpulkan ke depan.
Hanya Arini yang terdiam membisu, kepalanya masih penuh tanda tanya. Ia bahkan ditegur Vira teman sebangkunya karena tidak menyahut saat bu Ratih menanyakan perihal origami yang menjadi tanggung jawabnya.
Arini hanya ingin kelas ini cepat-cepat berakhir, hingga ia bisa mencari kesempatan menemui guru baru tersebut dan meminta penjelasan.
Ini benar-benar hal mengejutkan, bagaimana mungkin guru yang baru pertama kali bertemu bisa tau namanya. Kening gadis itu semakin berkerut.
Arini tidak tau kalau besok-besok akan ada kejadian lain yang akan membuatnya jauh lebih terkejut.
***
"Kamu sakit?" Vira menatap sahabatnya itu lamat-lamat. Mereka duduk di kantin saat jam istirahat.
Arini menggeleng.
"Kok kelihatan lebih kalem? Ya bagus sih, gak secerewet biasanya. Tapi tetap aja aneh. Hehe." Vira nyengir sambil menyendok siomay ke mulutnya. "Kenapa? Cerita dong. Ada masalah sama Bunda?"
Andini mengehela napas. "Yahh. Kalau itu sih selalu ada, Vir. Kamu tau sendiri gimana bundaku."
"Ya trus?"
"Loh, Nona Manis beneran sakit?" Kelvin yang baru datang langsung memotong pembicaraan, duduk di samping Arini, pura-pura meraba kening gadis itu, lalu meraba pantatnya sendiri. "Ah tidak panas kok, Nona. Jangan membuat Kakanda Prabu khawatir."
Dua gadis itu melotot kesal. "Bisa gak semenit aja gak bikin orang kesal?"
Kelvin mengangkat kedua telapak tengannya, tidak mau benar-benar ditonjok oleh kedua gadis itu. "Maaf-maaf, Nona." Ia menggeser duduknya dan menyantap makanannya yang sudah diantar penjaga kantin.
Arini diam sejenak. "Kamu tau guru baru di sekolah kita?" Menatap Vira.
"Hm? Guru bahasa Inggris yang dibilang bu Ratih tadi?"
"Ha? Bu Ratih ada bilang gitu?"
"Ada tadi, kamu sih kebanyakan bengong, jadi gak denger. Kalau tidak salah namanya pak Tara." Vira meraih gelas, mengisinya dengan air putih. Siomay di mangkuknya sudah tandas. "Katanya menggantikan pak Rasyid yang sudah pensiun. Kenapa emang?"
"Ehm, itu-tadi dari gerbang aku barengan pake mobilnya ke dalam ..."
"Oohhh jadi gara-gara guru baru itu Nona mengabaikan Kakanda Prabu yang sudah bersusah payah menyari payung?"
Andini tertawa geli. "Maaf, lagian kamu lama."
"Huh! Wanita di mana-mana emang sama aja. Tak pernah menghargai perasaan laki-laki. Kakanda sudah berjuang, bersusah payah mengarungi lautan, mendaki gunung, menuruni lembah demi mencari sebuah payung untuk Nona Manis," katanya sambil menghentakkan kaki, lalu berdiri. "Selera makan Kakanda jadi hilang. Nona Manis kejaam!" Ia melangkah pergi sambil tetap menghentak-hentakkan kaki ke lantai seperti anak kecil yang kesal mainannya direbut.
Dua gadis itu menggeleng-gelengkan kepala, tertawa melihat mangkuk Kelvin yang memang sudah kosong.
"Udah, abaikan aja, kayak gak tau Kelvin aja."
"Iya, biasa kok."
"Trus gimana kelanjutannya?"
"Iya, gak gimana-gimana sih, aku ikut mobil bapak itu sampai di parkiran, trus turun ke kelas. Namun ada satu hal yang bikin aku heran sampai sekarang. Entah bagaimana caranya, guru baru itu tau namaku."
"Yang bener?"
Arini mengangguk. "Waktu aku bilang makasih, dia jawab, 'Sama-sama Arini.' Kaget dong aku."
"Kamu yakin gak ada memperkenalkan diri?"
"Yakin banget!"
"Hm? Aneh sih."
"Makanya, ..."
Teng teng! Bel masuk berbunyi.
***