My Mother's Husband

My Mother's Husband
Rasa Suka



Salahku bunga itu tumbuh?


Salahku ia mekar berseri merindu kumbang?


Bukankah kita yang menyirami bersama rindu-rindu memupuk kasih.


Bukankah kita bermanja menikmati semerbak aroma cintanya.


Namun saat satu-satu kelopak berguguran, itu salahku?


***


Hiruk pikuk terasa begitu kental di setiap sudut rumah. Semua orang sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Ada yang merangkai bunga, memasang tenda, mendekorasi, juga menata pelaminan. Tempat tinggal Arini dan bundanya disulap menjadi istana dalam semalam. Dindingnya berlapiskan kain berwarna emas, lantai berpermadani senada. Mawar putih menghiasi setiap sisi.


Sofa di ruang tamu dikeluarkan, diganti dengan sebuah pelaminan cantik berwarna keemasan. Hiasan payung-payung kecil berenda di kedua sisinya, ditambah untaian bunga-bunga yang dirangkai sedemikian rupa menambah romantis suasana. Benar-benar pernikahan impian.


Arini masih di dalam kamar bersama dua orang wanita penata rias. Ia masih menjalani sesi make-up. Wajah manisnya yang memikat setiap mata memandang dipoles menjadi jauh lebih cantik lagi. Bak bidadari yang turun dari Nirwana.


"Ayo ayo! Buruan!" Seorang wanita tiba-tiba masuk, Arini tidak menoleh, ia fokus pada cermin di depannya. "Udah belum?"


"Sedikit lagi."


"Mempelai pria sudah datang."


Deg. Jantung gadis itu berdegup. Calon suaminya telah datang. Perias mempercepat kerjanya, memberikan sentuhan terakhir. Beres.


Pak Tara terlihat begitu tampan dalam balutan jas hitam. Hiasan emas di saku kirinya menambah kesan mewah. Sebuah songket keemasan melingkar di pinggang laki-laki itu. Warnanya senada dengan sunting yang menghiasi kepala calon istrinya.


Arini merasa terpaku di tempatnya berdiri saat sepasang mata mereka bertemu. Akhirnya ia dan pak Tara menikah.


Kriing kriing kriiing! Suara jam weaker membangunkan Arini dari tidurnya.


Gadis itu mengerjap-ngerjap seakan tak percaya dengan apa yang ia saksikan barusan. Pemandangan itu terasa begitu nyata. "Kok bisa-bisanya mimpi kayak gitu sih?" bisiknya sambil meraih handuk dan melangkah ke kamar mandi.


Bunda Ayudira sedang melahap roti di meja makan saat Arini keluar kamar. "Pagi Sayang. Sini duduk, udah Bunda siapin roti stroberi kesukaan kamu."


"Iya," jawabnya singkat. Tiba-tiba ia teringat perkataan pak Tara kemarin.


"Hmm... Bunda pulang jam berapa semalam?" tanya Arini menatap bundanya sedetik.


Wanita itu menaikkan alis, lalu mengerjap menatap Arini. Bulu matanya yang tebal dan lentik naik-turun. "Tumben nanya nih anak." Kira-kira begitu perkataan yang ditunjukkan ekspresinya.


"Jam sebelasan udah di rumah kok," jawabnya. "Kamu udah tidur, Bunda sempat lihat ke kamar."


Arini mengangguk pelan, mengunyah rotinya.


"Bunda udah lama kenal sama pak Guntara?"


Uhuk! Uhuk! Ayudira tiba-tiba tersedak. Buru-buru ia meraih gelas di hadapannya, dan minum beberapa teguk. "Ehm." Wanita itu menepuk-nepuk pelan dadanya.


"Bunda baik-baik aja?"


"Iya, gak apa-apa. Ehm... Gimana tadi? Kamu nanya apa, Sayang?"


"Pak Tara. Bunda kenal kan?"


"Oh iya. Kenal. Kebetulan keluarganya punya butik juga."


Arini mengangguk. Sekarang ia paham, siapa "seseorang" yang dimaksud pak Tara tempo hari. Bundanya ternyata.


"Ah pak Tara," batin gadis itu. Kejadian kemarin terlintas lagi di benaknya. "Kenapa sepagi ini jadi pengen ketemu dia ya?"


Arini menghembuskan napas kencang-kencang, membuang pikiran anehnya. Wajah pak Tara tiba-tiba melintas di ingatan, senyum manis itu seolah hadir dengan sendirinya.


"Apa aku sedang rindu?"


***


Bundanya mengantarkan sampai halaman lagi, seperti kemarin. Kali ini Arini mencoba tersenyum dan melambaikan tangan saat meninggalkan pekarangan sekolah. Wajah Ayudira tampak senang sekali.


"Bunda jemput ya nanti," teriaknya.


"Eh, nggak usah Bun!" Arini menjawab cepat. Entah bagaimana, ia begitu berharap nanti pulang diantar pak Tara lagi.


"Loh kenapa?" Mobil hitam metalik itu berhenti.


"Nggak apa-apa Bunda!" Arini tersenyum. "Bunda kan sibuk."


"Ya udah. Hati-hati ya, Sayang." Mobil itu kembali maju.


Sepeninggalan bundanya, gadis itu langsung melangkah menuju kelas. Sahabatnya Vira sudah menanti dengan bertubi-tubi pertanyaan.


Teng teng!


Pelajaran pertama, Bahasa Inggris.


Benar kata orang bijak. Kalau seseorang sedang suka. Maka ketampanan atau kecantikan orang yang disukainya akan meningkat beberapa kali lipat di matanya. Begitu yang dirasakan Arini pagi ini. Entah bagaimana caranya, sosok pak Tara di matanya terlihat lebih menawan. Senyumnya tampak lebih manis, langkah kakinya lebih gagah, suaranya lebih merdu, gesturnya lebih bersahaja, lebih segala-galanya.


Arini tak sempat memalingkan wajahnya sedetik pun selama guru Bahasa Inggris tersebut menerangkan di depan kelas. Padahal tak ada yang ia tangkap dari pelajaran yang sedang dijelaskan pak Tara. Gadis itu sibuk dengan imajinasinya sendiri. Bayangan sosok pak Tara yang hadir dalam mimpinya semalam memenuhi ingatan.


Arini senyum-senyum sendiri.


"Hei. Rin!" Vira mencolek lengannya.


"Eh, iya?"


"Kamu ditanya tuh, kok bengong?"


"Arini. Are you ok?"


"Yes, Mister. I'm very well." Arini menjawab pelan. "But, my heart isn't fine," sambungnya dalam hati.


***


"Huh." Gadis berambut panjang yang kini dikuncir kuda itu mendengus. Ia sebenarnya malu pada diri sendiri. Tapi apa mau dikata, bagaimanapun ia tak bisa membohongi perasaannya. Sepertinya ia benar-benar suka pada gurunya.


Tapi sebenarnya itu normal, bukan? Ia seorang gadis, pak Tara juga laki-laki lajang. Beda umur enam belas tahun, bukanlah sebuah masalah. Toh, para pujangga bilang cinta itu tidak terbatas usia.


Jam pelajaran sudah usai tiga puluh menit yang lalu. Itu artinya sudah hampir setengah jam Arini berdiri bersandar di dinding, dekat pintu keluar ini. Mobil silver terang masih tampak terparkir manis di depan sana, namun si empunya belum juga keluar dari ruang guru. Apa mungkin ada rapat atau semacamnya?


Gadis itu melirik jam tangan untuk yang kesekian kalinya. Lima belas menit berlalu lagi. "Huuuft." Akhirnya ia memutuskan berjalan kaki menuju gerbang. Sebenarnya kondisi Arini sudah tidak begitu sakit dilangkahkan.


Sesampainya di gerbang, ia kembali berhenti sejenak, menoleh ke belakang. Belum ada tanda-tanda mobil silver itu keluar dari sana. "Ah sudahlah," ujarnya sebal.


Kali ini Arini benar-benar hati-hati saat menyeberangi jalanan yang ramai. Ia tak ingin tertabrak lagi. Rambut panjangnya bergoyang-goyang saat ia berlari-lari kecil menuju sisi lain jalan. Angkutan umum yang biasa ia naiki belum terlihat.


Sekitar lima menit kemudian, sebuah mobil hijau yang ditunggu-tunggu terlihat di kejauhan. Arini melambaikan tangan, menyetop. Namun tiba-tiba di saat bersamaan, terlihat sebuah mobil silver terang keluar dari gerbang sekolah. Mobil itu putar balik, lalu berhenti tepat di belakang angkutan umum yang hendak ia dinaiki.


Tin tin! Arini menoleh saat kaca mobil diturunkan.


"Mau naik angkutan umum, apa sama saya?" tanyanya dengan senyuman khas.


"Jadi naik gak, Neng!?" Sopir mobil hijau itu berteriak.


"Maaf, Kang. Nggak jadi."


"Owalah, Neng." Ia terlihat sedikit sebal karena sudah menunggu.


"Bareng Bapak aja deh," ujar gadis itu sambil menghempaskan tubuh ke jok mobil yang empuk.


Pak Tara terkekeh. Arini jadi malu sendiri. Entah kemana perginya sikap basa-basinya kemarin.


"Pak, saya udah tau "Seseorang" yang pak Tara maksud. Seseorang yang ngasih tau nama saya, dan di mana rumah saya."


Laki-laki itu menatap sejenak sebelum kembali fokus ke jalan. "Hah? Siapa emang?"


"Bunda," jawabnya pendek.


"Hahaha. Ketahuan deh saya." Pak Tara menggaruk kepalanya seolah malu.


"Saya juga tau, rumah kita sebenarnya nggak searah kan? Pak Tara sengaja lewat sini buat nganterin saya."


Kali ini guru Bahasa Inggris tersebut sedikit kaget. "Loh kok kamu tau?"


"Tau dong." Kali ini Arini yang tertawa.


Berbagai macam obrolan santai berlanjut selama perjalanan. Mulai dari urusan sekolah, hobby, keadaan jalanan di kota mereka, dan banyak lainnya. Sesekali Arini tampak tertawa renyah. Sudah lama sekali keceriaan seperti ini tidak muncul di wajah cantiknya.


"Pak."


"Iya."


"Bapak sudah tua kok belum nikah sih?"


"Hahaha. Memangnya saya udah kelihatan tua banget ya?"


"Ya, enggak sih. Cuma kan umur Bapak udah masuk kategori matang. Bahkan bisa dibilang hampir busuk malah. Haha." Arini tertawa, menutup mulutnya dengan tangan.


"Hmm. Umur dua puluh lima tahun dulu sebenarnya saya hampir menikah." Wajah pak Tara berubah serius, mengenang kejadian di masa lalu. "Cuma, ada hal-hal yang terjadi di luar kendali kita kan. Calon istri saya meninggal, tepat seminggu sebelum hari pernikahan kami."


Arini terkejut. Terlihat menyesal telah menanyakan hal itu, dengan candaan pula. "Maaf, Pak. Saya udah bikin Bapak mengingat hal itu."


"Tidak apa-apa. Gantian saya yang curhat," katanya sambil tersenyum menampakkan barisan gigi-gigi putihnya.


"Sejak hari itu, saya menutup hati. Trauma. Rasanya sulit untuk menemukan orang yang benar-benar bisa bikin saya jatuh cinta seperti dia. Lima tahun lamanya saya terpuruk, gak bisa move-on dari dia."


Arini mendengarkan takzim.


"Lima tahun kemudian, saya berhasil menata hati kembali. Mencoba melupakan dan meneruskan hidup. Saya mulai membuka hati, mengenal wanita lain, namun tetap saja sulit. Menemukan yang benar-benar cocok, yang bikin saya jatuh hati ternyata gak semudah itu," sambungnya melirik Arini sejenak.


"Sampai sekarang masih belum nemu, Pak?" Gadis itu memancing.


Pak Tara tertawa lebar, menyadari arah pertanyaan muridnya. "Sekarang sih udah." Ia melirik lagi. "Orangnya cantik," sambungnya.


"Siapa Pak?"


"Ada deh. Nanti kamu juga tau."


"Orang mana?" Gadis itu mendekatkan duduknya, penasaran.


"Hmm. Kasih tau gak yaa?" Ia terkekeh lagi.


"Kasih tau dong." Arini mendesak.


"Orang dekat sini kok. Rumahnya di Perumahan Air Tiris Residence."


Arini terdiam demi mendengar jawaban itu. Pipinya memerah. Itu nama perumahan tempat ia tinggal.


"Orang yang dimaksud pak Tara itu aku kan?" batinnya.


Tak ada yang tau betapa senangnya hati gadis itu sekarang.


Aduhai, tak ada juga yang tau betapa remuk hatinya nanti, saat kenyataan itu terungkap.