
"Yakin, gak mau Bunda suapin?" Ayudira menatap Arini yang kesulitan makan menggunakan tangan kiri.
Dari tadi telur ceplok yang coba dipotong menggunakan sendok sepertinya belum berhasil juga. Seolah telur itu bandel, menolak dipotong, selalu bergeser ke kiri-ke kanan.
Arini menggeleng. "Nggak. Bisa sendiri kok." Alih-alih menggunakan sendok, akhirnya ia meraih telur itu dengan tangan lalu memasukkannya ke dalam mulut.
"Ppfftt ... Uhuk!" Bundanya terbatuk menahan tawa. Antara lucu dan prihatin.
Arini cemberut.
Usai menghabiskan sarapannya, gadis itu bergegas menyiapkan buku-bukunya kemudian memakai sepatu. Tapi tetap saja gerakannya lambat karena hanya menggunakan satu tangan. Ayudira yang sudah siap dari tadi berdiri di belakangnya, berulang kali melihat jam tangan.
"Tumben gak pake ngomel," bisik Arini sambil berjalan mengikuti bundanya ke mobil. Sesekali gadis itu meringis pelan, lututnya masih terasa perih saat berjalan.
Tak ada obrolan penting yang terjadi selama perjalanan, Arini lebih banyak diam sambil menoleh keluar jendela, memandangi pepohonan berlari menjauh seiring mobil yang melaju kencang. Lagipula Ayudira terlalu sibuk meladeni telepon masuk. Sebentar-sebentar HP-nya berbunyi. Sudah banyak hal yang diurus wanita itu sepagi ini.
Mobil hitam metalik milik Ayudira merangkak pelan memasuki gerbang sekolah. Walaupun sebenarnya sedang terburu-buru, kali ini wanita itu tak mau membiarkan anak gadisnya berjalan ke dalam. Ia berhenti di halaman sekolah, hanya beberapa puluh meter dari pintu kelas Arini.
"Bunda bantu?" kata Ayudira melihat Arini sedikit meringis saat hendak turun.
"Nggak usah. Bisa kok." Gadis itu menjawab datar sebelum membanting pintu.
"Nanti Bunda jemput ya!" Ayudira setengah berteriak.
Arini menoleh sebentar. "Nggak usah, kan Bunda sibuk."
Ya, seperti itulah hubungan ibu dan anak tersebut. Kata-kata bundanya tempo hari masih terngiang-ngiang di telinga Arini.
"Bunda udah capek-capek kerja demi kita, kamu malah gitu! Bisanya ngelawan terus. Bisa gak sekali-kali jangan bikin Bunda repot? Jangan bikin Bunda susah ...."
Ia pun bertekad, sebisa mungkin untuk tidak merepotkan bundanya, tidak mengeluh, tidak banyak menuntut. Bahkan jika bundanya pulang tengah malam pun, ia tak permasalahkan lagi.
***
Kelas XII IPA 1 menjadi berisik saat Arini masuk. Mereka sudah mendengar tentang kecelakaan tersebut, namun sebagian besar belum tau bagaimana persis kejadiannya. Mereka berkerumun di dekat tempat duduk Arini, ketika gadis itu mencoba menjelaskan.
Vira yang baru mengetahui kecelakaan yang menimpa sahabatnya pagi ini juga tak kalah khawatir. Namun ia cukup tenang melihat kondisi Arini tak begitu buruk.
"... ya begitu deh," ucap Arini mengakhiri ceritanya. "Untungnya aku gak apa-apa, cuma lecet-lecet aja."
"Itu tangan kamu yang diperban kenapa? Patah, Rin?"
"Gak kok, cuma memar aja."
"Oohh." Mereka mengangguk-angguk.
"Kurang ajar itu yang nabrak," Kelvin bersuara. "Coba aku ada di sana waktu itu, pasti langsung aku kejar tuh."
"Huuuu... Gayanya."
"Bener! Berani-beraninya dia nabrak Nona Arini Manis." Laki-laki berkacamata itu mulai lagi.
Arini diam saja, tak berselera untuk menyahuti kata-kata Kelvin. Teman-teman yang lain sudah kembali ke bangku masing-masing.
"Denger-denger, kamu diantar pak Tara ya ke rumah sakit?" Vira menatap sahabatnya.
"Siapa yang bilang?"
Vira memonyongkan bibirnya ke arah Kelvin. "Bener?"
Arini mengangguk.
"Trus?"
Tok tok!
"Eh, Rin!" Vira berbisik ke telinga Arini sambil menunjuk ke arah pintu. "Panjang umur."
"Morning!" Suara itu mulai tidak asing bagi Arini.
"Morning, Mr. Tara." Beberapa orang menatap heran. Tentu saja tak ada pelajaran bahasa Inggris hari ini.
Sepasang sepatu pantofel itu berderap mantap di lantai marmer. Langkahnya sudah jelas menuju ke arah Arini.
"Arini," ia berkata pelan dengan senyum khas mengembang.
Vira mencolek lengan sahabatnya yang melongo.
"Eh, iya Pak."
Pak Tara merogoh tas hitamnya, mengeluarkan sebuah kantong plastik bening bermerk rumah sakit. "Ini obat oral yang diresepkan dokter kemaren. Tertinggal di mobil saya."
"O-ohh iya, terima kasih, Pak." Arini semakin canggung saat menyadari seisi kelas sedang memandang mereka.
"Gimana lengannya? Mendingan?"
"Iya, sudah gak begitu sakit, Pak."
"Ya sudah, cepat sembuh yaa. Jangan lupa dimakan obatnya," ucap pak Tara sambil mengusap puncak kepala Arini.
Uhuk uhuk! Ada suara batuk yang dibuat-buat.
Cuit... Cuit... Anak-anak kelas XII IPA 1 jadi ribut seketika melihat kejadian itu.
Muka Arini bersemu merah. Ia menunduk malu. Kenapa juga pak Tara harus memperlakukannya begitu.
"See you, Class!"
"Ciyeee!" Teman-teman sekelasnya masih meledek bahkan setelah pak Tara berlalu.
"Pak Tara yang segitu cool-nya bisa jadi perhatian banget ya sama Arini."
"Jangan-jangan dia beneran suka sama kamu, Rin," ucap Vira sambil menutup mulutnya.
"Ngaco kamu, Vir." Arini mendengus.
"Eh, denger-denger. Pak Tara itu bujang lapuk ya?" Salah seorang murid berkata pada teman sebangkunya.
"Iya, udah umur 34 tahun belum merid, sih. Hihi."
"Ada juga yang bilang Mr. Tara itu ... "
"Heh! Gosip aja terus!" Kelvin menghardik kesal. Entah kenapa laki-laki itu jadi begitu sensitif mendengar nama Mr.Tara saat ini.
***
Arini bersandar di dinding sekolah, dekat pintu keluar ke arah gerbang. Dalam kondisi seperti ini, ia merasa jarak antara kelasnya dan gerbang itu jauh sekali. Luka di lututnya berdenyut-denyut.
"Ah, nyesel tadi gak nerima tawaran Vira," umpatnya pelan.
Bundanya benar-benar tidak datang menjemput. Arini jadi semakin merasa kalau bundanya itu sungguh tak peduli padanya. Ya, walaupun memang tadi ia sendiri yang bilang tidak usah jemput, tapi seharusnya bundanya paham kondisinya saat ini yang sulit berjalan jauh. Dari sini ke gerbang saja sulit, apalagi nanti dari gerbang ke perhentian angkutan umum.
"Hahhh... " Arini menghembuskan napas berat.
Di saat-saat seperti ini, ia jadi merindukan ayahnya. Sosok penyayang yang suaranya tak pernah tinggi. Kata-katanya lembut dan menenangkan. Pandai menghibur dengan lawakan-lawakannya yang mengocok perut saat Arini bersedih. Andaikan ayahnya ada di sini. Andaikan ayahnya tak pergi secepat itu.
Mata gadis itu memanas, bulir-bulir bening menumpuk di kelopak matanya, memaksa turun. Cepat-cepat Arini mengusapnya agar tak sampai membasahi pipi. "Jangan cengeng, Arini!" bisiknya.
Ia kembali melangkah pelan, namun beberapa detik kemudian sebuah suara yang ia kenal terdengar memanggil. "Arini!"
Arini menoleh. "Pak Tara?"
"Mau pulang?"
"Iya Pak."
"Tunggu di situ." Sedetik kemudian, laki-laki hitam manis itu menghilang ke dalam ruang guru, lalu keluar lagi dengan menyandang tas hitamnya. Setengah berlari ia bergerak cepat menuju parkiran, mengeluarkan mobil silver terang miliknya.
"Ayo naik. Saya antar."
"Eh... " Arini bimbang. "Tidak usah Pak, ngerepotin."
"Kita searah kok. Ayo." Pak Tara menatap lembut. Arini tak dapat menolak lagi demi melihat tatapan itu.
"Loh, kamu habis nangis?"
"Eh, enggak kok, Pak." Arini buru-buru mengusap kedua matanya.
"Apa lukanya masih sakit banget? Kalau iya, sebaiknya kita periksakan lagi." Pak Tara menatap gadis itu sejenak.
Arini menggeleng cepat. "Enggak Pak. Nggak perlu. Udah gak begitu sakit kok."
"Terus kenapa nangis?"
Arini terdiam. "Hanya sedang teringat sesuatu aja Pak," katanya kemudian.
"Teringat sesuatu? ... Atau teringat seseorang?"
Arini mengangguk samar.
"Ohh seseorang? Pacar?"
Ia menggeleng.
"Hm... Orang tua?"
Mengangguk pelan lagi.
"Teringat mendiang ayah?"
Kali ini Arini menoleh, menatap gurunya itu, lalu kembali memandang ke luar jendela. "Iya. Saya teringat ayah."
Tiba-tiba mobil silver terang itu menepi, lalu berbelok memasuki pekarangan sebuah cafe.
Kening Arini berkerut heran. "Kok berhenti di sini Pak?"
"Di rumah gak ada orang kan?"
Arini mengangguk.
"Kalau kamu pulang, nanti di rumah sepi, kamu bakal sedih lagi. Teringat ayah, akhirnya kamu nangis sendiri. Mending kita berhenti di sini dulu, kamu boleh cerita atau nangis sepuasnya." Pak Tara tersenyum tulus.
"Eh... "
"Menangis bukan hal buruk kok. Itu manusiawi. Kamu boleh nangis ketika sedih, lepaskan semuanya. Dengan begitu, setelahnya kamu bakal ngerasa lebih baik."
Arini begitu terenyuh mendengar kata-kata pak Tara. "Tapi, Pak. Saya gak lagi sedih kok, gak lagi pengen nangis." Arini memaksakan bibirnya tersenyum lebar-lebar.
Pak Tara menggeleng, ia tersenyum lagi, penuh arti. "Saya benar-benar salut sama kamu, Arini. Kamu kuat banget. Bisa menyembunyikan kesedihan sedalam itu."
Arini terdiam mendengar kata-kata itu. Air matanya benar-benar tak lagi dapat dibendung sekarang. Tangisnya meledak saat itu juga.
...