My Mother's Husband

My Mother's Husband
Kecelakaan



Jalanan ramai. Memang selalu begini di jam-jam pulang sekolah. Hiruk pikuk terdengar dari segala penjuru. Berbagai macam suara bersahutan, mulai dari suara deru kendaraan, suara klakson, hingga suara para sopir angkutan umum yang berteriak-teriak memanggil calon penumpang. Asap dan debu beterbangan, bercampur menambah gerahnya udara.


"Daahhh!" Vira melambaikan tangan. "Aku duluan. Kamu hati-hati ya."


Arini tersenyum, ikut melambaikan tangan. "Daah!"


Vira dijemput ayahnya. Sebenarnya ia ingin sekali mengajak sahabatnya pulang bareng, tapi sayang arah rumah mereka berbeda. Ia harus memutar terlalu jauh, nyaris dua kali lipa jarak sebenarnya. Lagipula, Arini tak akan mau terlalu merepotkan orang lain.


Fyuuuh! Arini menghela napas sambil mengusap dahinya yang berkeringat. Udara siang ini panas sekali. Matahari bersinar begitu garang. Yang ada di benak gadis itu sekarang hanyalah cepat-cepat pulang, lalu duduk di depan kipas angin sambil mengulum ice cream kesukaannya.


Angkutan umum berwarna hijau yang biasa ia naiki terlihat mangkal di seberang jalan, menunggu penumpang. Kepala sopirnya menyembul di jendela, berteriak-teriak menyebutkan tujuan. Arini melangkah cepat menuruni trotoar dan menyebrang.


Tiiin tiiin! Namun nahas, ia tak awas.


Sebuah sepeda motor melaju kencang dari arah kanan. Mesinnya menderu-deru dengan knalpot berisik, pengendara ugal-ugalan.


Ciiittt! Suara decit roda belakang yang bergesekan dengan aspal terdengar nyaring. Orang-orang menatap jeri. Arini menyadari situasi, mencoba menghindar, tapi terlambat.


Bruk! Setang motor itu membentur lengannya.


Arini jatuh terguling. "Aduuhh!" Gadis malang itu meringis. Buku-buku yang dipeluknya bertebaran di tepi jalan.


Sepeda motor itu sempat oleng, namun pengendaranya bisa mengendalikan dengan baik sehingga tidak tumbang. Pria berhelm itu berhenti sejenak dan menoleh ke belakang, lalu kemudian memutuskan menarik gas kencang. Ia kabur. Bruummm!


"Woooi! Jangan kabur!"


"Berhenti woii!!!" Para pejalan kaki yang melihat hal itu berteriak.


Ada yang coba menyusul. Namun pengendara itu terlanjur hilang di tikungan. Ia memilih menjadi pengecut, lari dari tanggung jawab.


Beberapa orang mendekat, membantu Arini yang tertatih-tatih bangkit. Lengannya terlihat memar, kedua lututnya berdarah, baju dan tasnya juga robek. "Ahh... " Ia meringis lagi saat mencoba menggerakkan tangan kanan. Air mata gadis itu mulai keluar, sepertinya sangat sakit.


Orang-orang mulai berkerumun, sebagian menolong tapi lebih banyak yang mendekat untuk sekedar melihat, penasaran. Bahkan beberapa orang ada yang terlihat mulai membuka kamera telepon genggam, merekam.


"Minum dulu, Neng." Seorang bapak-bapak pemilik warung yang ada di pinggir jalan itu menuntunnya ke tempat duduk, dan memberikan segelas air hangat. Arini menurut, meminum beberapa teguk.


Suara derap langkah terdengar mendekat. "Arini. Ya ampun, kenapa?" Kelvin yang mendengar ada kecelakaan bergegas menepikan sepeda motornya dan berlari mendekat. Ia tak menyangka kalau ternyata korbannya adalah Sang Nona Manis-nya.


"Mana aja yang sakit, Rin?" Ternyata laki-laki berkacamata itu bisa juga menyebutkan nama Arini dengan benar. Wajahnya terlihat benar-benar khawatir kali ini.


Arini masih meringis memegang lengannya. Matanya basah.


"Ayo aku antar ke klinik. Naik motorku aja." Kelvin mendekat, menyentuh bahu Arini.


"Kayaknya dia susah jalan, Dik." Bapak pemilik warung buka suara. "Tadi waktu jalan dari sana ke sini aja kayak kesakitan."


Kelvin ikut meringis melihat kaki Arini yang semakin banyak mengeluarkan darah. Ia juga bingung harus apa.


Tin tin! Sebuah mobil berwarna silver terang mendekat.


"Astaga, Arini!" Pak Tara langsung berlari keluar dari mobilnya. Tak banyak bicara ia langsung menggendong tubuh Arini. "Tolong, Pak." Ia memberi kode pada pemilik warung untuk membawakan barang-barang gadis itu yang tergeletak di trotoar ke atas mobil.


Arini sedikit kaget dengan apa yang dilakukan pak Tara, namun ia hanya diam tanpa komentar, rasa sakit di tubuhnya semakin menjadi-jadi.


"Terima kasih, Pak. Biar saya yang bawa ke rumah sakit."


Pemilik warung itu mengangguk. "Iya, sama-sama."


Kelvin berdiri mematung di atas trotoar. Matanya terus mengikuti mobil silver itu hingga menghilang di tikungan.


***


"Gimana? Mendingan?" Pak Tara menatap Arini yang duduk di atas bed putih. Tangan kanan dan kedua lututnya sudah dibalut kain kasa ber-antiseptik.


Arini mengangguk samar. Memang sudah tak sesakit tadi, tapi tetap saja sulit digerakkan.


"Kata Dokternya, kamu sudah bisa langsung pulang. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Hanya memar di lengan yang sedikit parah, tapi tidak sampai retak juga kok tulangnya. Satu dua minggu lagi juga udah sembuh." Wajah tampan itu tersenyum manis. Arini jadi merasa jadi lebih mendingan demi melihatnya. Ia menunduk.


"Bentar ya, saya pinjamkan kursi roda."


"Eh, nggak usah, Pak. Saya bisa jalan sendiri. Lagian ini cuma lecet aja kan."


"Yang bener?"


"Iya," jawabnya sambil mencoba berdiri membuktikan kata-katanya. "Ah... "


Sedikit ngilu di lututnya, namun ia yakin bisa. "Bisa Pak."


Setelah menyelesaikan administrasi, pak Tara menuntun Arini kembali ke mobilnya. Gadis itu menurut saja, tanpa komentar.


"Saya antar pulang ya, ibumu pasti sudah khawatir," katanya sambil mengeluarkan mobil dari parkiran.


Arini melirik sejenak, tangan kirinya masih terus mengusap-usap lengan. "Cih, dia bahkan tak akan peduli," gumamnya lirih.


Guru bahasa Inggris itu tersenyum tipis. "Mana ada ibu yang tak khawatir pada anaknya, Arini. Saat tau kabar ini, saya yakin ibumu adalah orang yang paling khawatir." Ia berkata tanpa menoleh, fokus ke jalanan yang mulai gelap.


"Mungkin ibu-ibu yang lain begitu. Tapi tidak ibu saya ... Bapak kan gak tau ibu saya," ucapnya kesal.


Pak Tara tersenyum lebih lebar. "Percayalah, semua ibu begitu. Mungkin caranya saja yang berbeda-beda." Ia menoleh sedetik, kemudian kembali menatap ke depan.


Arini tak berkomentar lagi, ia menyandarkan kepala dan memejamkan mata. Ia tak mengerti juga mengapa jadi seakrab ini dengan guru yang baru dua hari yang lalu dikenalnya. "Eh!" Ia membuka mata, menatap jalanan. Ini benar jalan menuju rumahnya.


Arini membuka mulut ingin bertanya, tapi urung. Anggap saja "seseorang" itu juga memberitahu di mana rumahnya.


Pak Tara tersenyum lagi, seolah-olah paham apa yang sedang ada di benak gadis muda di sampingnya.


***


Saat mereka sampai di depan rumah, seorang wanita dengan rambut tergerai sudah menunggu di teras. Wanita itu terlihat cantik dengan piyama merah marun membalut tubuhnya yang sedikit berisi. Ia yang tengah duduk di kursi rotan langsung berdiri melihat mobil silver terang itu merangkak masuk halaman.


"Tumben Bunda udah di rumah," bisik Arini.


"Kamu gak apa-apa, Sayang?" Wanita yang selalu tampil modis itu langsung menyambut saat Arini turun dari mobil. "Gimana lukanya? Masih sakit ya?"


"Bunda tau dari mana?" Arini menatap datar. Ia tak pernah melihat bundanya begitu khawatir, namun gadis itu juga tak mau melunak terbawa suasana. Hubungan mereka sedang tidak baik saat ini.


"Ya tau lah Sayang. Ayo masuk. Kuat jalan?" Ayudira memapah anak gadis semata wayangnya itu masuk. "Ayo Mas ... eh, Pak Tara. Masuk dulu."


Mereka bertiga melangkah pelan masuk ke dalam rumah. Arini diantar bundanya ke dalam kamar, sementara guru bahasa Inggrisnya itu duduk di sofa ruang tamu.


Arini memang dari tadi diam, namun ia tidak bodoh. "Mereka sudah saling kenal?" batinnya. Sudut matanya memerhatikan gelagat aneh sang bunda, menyelidiki. Namun ia gengsi jika harus bertanya.


"Istirahat ya. Bunda keluar dulu."


Arini diam tak menggubris. Ia memejamkan mata, mencoba tidur di antara rasa perih yang masih terasa.


Esok-esok, ada hal mengejutkan yang akan ia dengar.


***


Guntara mengusap-usap rambut kekasihnya yang saat ini bersandar di pundaknya. "Dia sudah tidur?" bisiknya pelan.


Ayudira mengangguk samar. "Sudah."


Angin malam berembus, menghadirkan sensasi dingin menggelitik kulit.


"Mas Gun... "


"Hm?"


"Sedikit banyaknya, mas Gun udah tau kan gimana hubungan aku dan Arini sampai saat ini."


Guntara menoleh, memperhatikan wajah Ayudira yang sedang bercerita, kemudian mengangguk pelan.


Wanita itu menghela napas sejenak. "Sejujurnya semenjak kematian ayahnya, hubungan kami tak pernah seperti dulu lagi. Lebih banyak cekcok dari pada akurnya. Aku sulit memahami apa maunya, dia juga tak pernah mau menuruti apa kata-kataku."


"Aku rasa, kalian hanya kurang komunikasi saja, Honey." Guntara meraih tengan wanita yang sebentar lagi menjadi istrinya itu, lalu menciumnya lembut. "Aku yakin, sebenarnya dia sangat menyayangimu, seperti kamu sayang padanya."


"Tolong ya, Mas," Ayudira menatap lembut. "Perihal rencana kita, aku percayakan semuanya sama mas Gun."


"Pasti."


"Setidaknya, awal bulan depan. Seminggu sebelum hari H, Arini harus tau."


"Okey, Honey. Kamu gak usah khawatir tentang itu."


***