
Demi hati yang terkunci mati...
Demi nama yang terukir indah...
Biar kurawat ragamu dari duka terluka
saat sirna
Jangan tinggalkan daku dengan duka yang sama,... terluka
Langit pagi ini cerah, tidak begitu berawan. Cahaya matahari pagi yang kuning keemasan mulai menyelimuti bumi. Pucuk-pucuk pohon pinus di halaman SMA Pelita yang basah oleh embun, perlahan mengering tersapu hangatnya. Satu-satu kicauan burung masih terdengar berlompatan di dahan.
Suasana kelas XII IPA 1 terlihat berbeda. Berbagai macam hiasan baru terpampang di dinding. Arini sesekali melihat ke atas, tersenyum. Hasil kerajinan tangannya memenuhi langit-langit, bergoyang-goyang saat angin bertiup. Kelvin dari tadi menyeringai bangga melihat hasil karyanya menempel di belakang kelas. Ia kebagian membuat kata-kata motivasi belajar di atas karton warna-warni. Berkali-kali laki-laki itu menunjuk-nunjuk dan membaca tulisannya keras-keras.
"Jika anda mendidik seorang pria, maka seorang pria akan terdidik. Tapi jika anda mendidik seorang wanita, sebuah generasi akan terdidik” – Brigham Young
“Berpikir adalah kegiatan tersulit yang pernah ada. Oleh karena itu hanya sedikit yang melakukannya” – Henry Ford
"Belajar adalah suatu ..."
"Ck!" Suara Arini memotong kata-katanya. "Vin, ayolah, kamu udah ngulang-ngulang membaca itu dua belas kali pagi ini. Aku sampai hapal, tau!" Gadis itu menekan keningnya dengan telapak tangan, seolah-olah pusing mendengar kata-kata itu.
"Loh, Nona Manis. Memang itu tujuan Kakanda, agar semuanya hapal dan termotivasi untuk semangat belajar. Ingat! Sebentar lagi kita ujian kelulusan loh, Teman-teman." Kelvin menatap sekeliling, meminta persetujuan.
"Gak ada korelasinya, Kelvin!" Vira yang sedari tadi diam tiba-tiba menyahut kesal.
"Loh, ada dong. Justru itu sebabnya bu Ratih nyuruh nulis kata-kata motivasi, biar kita semangat belajar. Benar kan Nona Manis?"
"Vin, emang susah ya nyebut namaku? Nona-nona mulu. A-r-i-n-i. Susah kah?" Arini mengeja namanya sendiri.
Kelvin terkekeh. "Baiklah Nona Arini Manis!" Ia meletakkan tangan di kening, bersikap hormat.
Arini memutar bola mata. Memang tak ada gunanya meladeni Kelvin. Vira menepuk-nepuk pundak sahabatnya itu. "Sabar, namanya juga Kelvin."
Suasana hati Arini sebenarnya sedang tidak baik. Pagi ini ia cekcok lagi dengan bundanya. Seperti biasa, sebabnya hanya hal sepele. Bundanya terburu-buru berangkat karena hendak menemui client di luar kota, sementara Arini masih belum siap dengan seragamnya. Arini merasa hal itu wajar karena memang jam masuk di sekolahnya masih lama. Sedangkan ibunya ngomel habis-habisan karena sejak malam Arini sudah diberitahu untuk bersiap lebih awal.
"Bisa gak sih, sekalian aja kamu nurut, dengarin kata Bunda!?" Wanita yang rambutnya tergerai sebahu itu berteriak.
Arini tak menyahut, hanya memonyongkan bibirnya.
"Bunda udah capek-capek kerja demi kita, kamu malah ... "
Arini sungguh-sungguh mengusap keningnya sekarang, benar-benar pusing mengingat omelan bundanya tadi pagi.
Percekcokan ibu-anak itu berakhir dengan berangkat sendiri-sendiri. Bundanya berangkat duluan meninggalkan Arini yang akhirnya ke sekolah dengan angkutan umum.
"Ah," gadis itu berdecak, teringat sesuatu. Arini sampai lupa permasalahan guru baru yang memenuhi kepalanya sejak kemarin. Ia belum sempat menemui pak Tara untuk bertanya. Pasalnya kemarin kegiatan mendekorasi kelas berlangsung lama hingga menjelang sore. Saat ia keluar kelas, mobil silver cerah itu sudah tidak ada lagi di parkiran.
Teng teng!
Bu Ratih sudah ada di depan kelas, ia tersenyum lebih lebar dari hari-hari biasanya. Matanya memandang puas seluruh penjuru kelas. Wajahnya menggambarkan kebanggaan atas jerih payah murid-muridnya mendekor ulang kelas mereka, menjadi semenyenangkan ini. "Selamat pagi, Anak-anak!"
"Pagi bu Ratih!"
"Pagi ini ada dua kabar gembira yang ingin saya sampaikan," kata bu Ratih sambil memperbaiki posisi kaca matanya.
Seluruh penghuni kelas XII IPA 1 menjadi begitu antusias mendengar kata "Kabar gembira" itu. "Kabar apa Buu?" Mereka serentak bertanya. Arini yang sedari tadi banyak melamun, ikut memerhatikan.
"Yang pertama, kelas kita mendapatkan two thumbs up dari bu Kepala Sekolah, sebagai kelas dengan dekorasi paling bagus dan kreatif. Selamat buat kita semua!"
"Yeaaay!"
Prok prok prok! Seisi kelas menjadi riuh karena suara tepuk tangan dan teriakan kemenangan. Kelvin yang begitu heboh mendapat teguran karena terlalu berlebihan sampai memukul-mukul meja.
"Oke-oke, tenang. Masih ada satu kabar lagi."
"Mulai pagi ini, kalian belajar Bahasa Inggris dengan guru baru seperti yang sudah saya sampaikan kemarin." Bu Ratih diam sejenak, kemudian menoleh ke arah pintu. "Silakan masuk pak Guntara."
"Waaaahh!" Suasana kelas kembali riuh, terlebih-lebih para murid wanita.
Sosok itu melangkah masuk dengan gagahnya. Tubuh tinggi dengan langkah besar-besar, derap sepatu pantofel menambah tingkat kegagahannya. Sebuah tas berwarna hitam bergelayut di lengan kiri, sementara tangan kanannya memegang beberapa buah buku. Ia tersenyum, menampakkan dua buah lesung pipit. Arini dan Vira saling lirik demi melihat dua lubang di pipinya itu.
"Good morning, Class!" Pak Guntara yang saat ini menjadi pusat perhatian mulai menyapa.
"Morning, Sir!"
"Hello, I'm Guntara. You guys can call me Mr. Tara."
"Hello Mr. Tara!"
Seisi kelas sumringah, hanya Arini yang tampak mengurut kening. Entah apa yang dipikirkan gadis itu.
***
Teng teng!
"Yaaahhh!" Sebagian besar murid terdengar mengeluh. Pasalnya mereka berada di tengah-tengah sebuah game.
Dua jam pelajaran terasa begitu cepat berlalu. Pak Tara memiliki strategi yang bagus dalam mengajar. Ia membuat sebuah game dan meminta seisi kelas untuk aktif dalam game itu. Hal tersebut membuat pelajaran jadi terasa menyenangkan dan jauh dari kata membosankan.
"Okay. Our time's over. We're done for today. See you next time, Class!"
"See ya, Mr. Tara!"
Saat teman-temannya bersiap untuk pelajaran berikutnya, Arini melangkah cepat, setengah berlari menuju pintu keluar kelas. Rambut panjangnya yang sebagian dikucir melambai-lambai seiring langkah kaki. "Pak! Pak Tara!"
Laki-laki itu menghentikan langkahnya, menoleh. "Iya. Loh Arini? Ada apa?" Wajah hitam manis pak Tara penuh tanda tanya.
"Eh, anu ... Pak... " Entah bagaimana gadis itu menjadi gagap seketika.
Pak Tara menaikkan alisnya. "Kenapa Arini? Ada yang mau ditanyakan tentang Narrative Text?" Ia menyebutkan pelajaran mereka barusan.
"Bukan, Pak ..."
"Lalu?"
"Itu ... Anu. Kan kemarin waktu saya numpang mobil bapak dari gerbang ke dalam, bapak sudah tau nama saya? Bapak tau dari mana? Apa bapak sudah tau saya sebelumnya?" Pertanyaan bertubi-tubi terlontar dari bibir mungil Arini.
Pak Tara menutup mulutnya, menahan tawa.
Arini salah tingkah, "Apa yang lucu?"
"Arini... Arini... Saya kira mau nanya apa, sampai gugup begitu." Ia mengusap kening. "Memang benar, saya sudah tau kamu sebelumnya."
"Tau dari mana, Pak?"
"Dari ... seseorang." Pak Tara mengedipkan sebelah matanya sebelum melangkah pergi.
Arini melotot tak menduga. Guru yang begitu berwibawa di depan semua orang, mengapa jadi genit di hadapannya. "T-tunggu Pak... " Arini ingin menyusul tapi urung saat melihat bu Dinda guru mata pelajaran berikutnya di kejauhan. Ia memutar badan kembali ke kelas.
"Eh... " Arini terkejut, hampir menabrak Kelvin yang berdiri di balik pintu. Mata laki-laki itu menatapnya tajam, seolah mempertanyakan sesuatu.
Arini mendengus, melangkah cepat kembali ke tempat duduknya. Percakapan dengan pak Tara, bukannya menjawab pertanyaan, malah menambah pertanyaan-pertanyaan baru benaknya.
"Siapa seseorang yang dimaksud pak Tara?"
Arini tak menyadari, sepasang mata terus menatap tajam ke arahnya saat ini.
***