My Life My Problem

My Life My Problem
Chapter 6 : Atap Sekolah



Hari yang cerah, istirahat makan siang sendirian di atap sekolah ternyata tidak terlalu buruk juga, menurutku.


Di sini ternyata boleh juga buat bolos lagian di sini lebih sejuk daripada di dalam kelas, gumamku dalam hati.


Sambil menyatap makan siang ku dengan tenang, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki.


Sambil membuka pintu


'Clikk


Orang yang keluar dari dalam pintu tersebut mengalihkanku dari bekal ku. Mata kami saling tatap menatap.


"Ehh Siji!!!"


"Maaf bisakah kau tidak berteriak seperti itu."


Balasku terhadap keterkejutannya itu.


"Ups!! maaf aku hanya kaget kalo ada orang di sini padahal atap sekolah pada jam segini biasanya di kunci."


"Begitu kahh."


Sambil menyantap bekal milikku.


"Tunggu dulu kenapa kau bisa ada di sini padahal aku membawa kunci pintunya?"


"Aa... ah kebetulan pintunya terbuka jadi aku langsung kemari."


Uwahh aku tidak bisa bilang kalo aku  membobol pintunya.


"Dan kau kenapa bisa ada disini?"


Aku mencoba mengalihkan perhatiannya.


"Aku kemari hanya mencari angin saja."


"Apa kau tidak ke kantin ini jam istirahat?"


"Aku tidak lapar dan bisakah kau tidak memanggilku dengan sebutan kau aku ini punya nama."


"Baiklah tuan putri."


"Sudah kubilang panggil aku dengan namaku."


"Oke oke aku harus memanggilmu dengan sebutan apa?"


"Panggil aku Sena saja."


Balasanya dengan agak malu-malu.


"Oke Sena."


Sambil melanjutkan makan siangku.


Saat perbincangan berakhir Sena duduk di sebelahku.


Aku merasakan situasi yang amat canggung dan kenapa dia duduk disebelahku kan masih ada tempat lain.


"Bagaimana dengan lukamu, apakah sudah baikan?"


"Ya lumayan, rasa sakitnya sudah hilang."


Setelah itu suasana menjadi canggung kembali.


'KRUYukk kruukk'


Sambil memikirkan hal itu, terdengar suara bunyi seperti seekor buaya sedang lapar, bunyi tersebut langsung memecahkan kecanggungan yang ada.


Aku langsung mencari asal bunyi tersebut dan aku melihat kearah Sena  yang sedang menutup mukannya yang kemerahan itu, karena satu hal yang pasti bunyi itu datang dari dia.


"Sena apa kau lap-."


"Tidak aku tidak lapar."


'Krukkk'


Kemudian bunyi hewan itu keluar lagi.


Wajah Sena semakin memerah, aku tidak tau kenapa dia tidak mau mengakuinya apakah semua perempuan seperti ini.


Apakah karna dia memiliki harga diri yang tinggi sebagai cucu pemilik sekolah ini.


"Kalo kau lapar apa mau makan bekal ku?."


"Sudah ku bilang aku tida-."


'KRUYUKKUK'


Bunyi itu semakin keras.


"Iya betul aku lapar memangnya kau ada masalah dengan hal itu."


Sena menjawab dengan wajahnya yang memerah bagaikan tomat.


"Tidak, wajar sajakan kalo ada orang lapar tapi tidak perlu sampai menyembunyikannya segala."


Balasku sambil tertawa kecil melihat tingkah laku sena yamg seperti anak kecil ini.


"Hmphh.."


Sena langsung mengembungkan pipinya bagai ikan buntal.


"Apa kau mau bekalku."


Tanyaku mencoba menawarkan


"Tidak aku tidak perlu itu."


"Ohh benarkah sayang sekali padahal ini enak lohh dan juga perutmu itu berisik sekali dari tadi."


Tanganku sambil mengarahkan makanan kedalam mulutku.


Glek'


"Bener nih kau tidak mau?"


Sena terdiam sesaat sambil menghadapkan wajahnya kebawah, kemudian dia langsung menghadap ke arahku dan berkata.


"Baiklah-baiklah akan kumakan, tinggal ku makan saja kan."


Langsung saja dia menerima tawaranku yang dari tadi dia tolak.


"Baguslah kalau begitu."


Aku pun menyerahkan bekal miliku ke Sena. Dan dia pun mulai memakan bekalku.


"Hmmm.."


Di lihat dari reaksinya sepertinya dia menikmati bekal buatanku.


"Bagamana enak kan?"


Tanyaku.


"Menurutku biasa saja."


Kata-kata dan ekspresinya sangat bertolak belakang saat ini dia memakan bekalku dengan lahapnya bagai anak kecil yang mendapatkan permen.


"Jadi kenapa kau bisa ada di sini?"


Tanyaku.


"Aku lupa membawa bekalku."


"Apa kau bangun kesiangan?"


"Tidak aku lupa meminta pelayanku membuatkannya."


Ehh pelayan apa aku tidak salah dengar? Pantaslah memang dia seorang tuan putri dan cucu dari pemilik sekolah ini.


"Pelayan ya."


Gumamku.


"Memangnya kenapa?"


"Tidak aku cuman berpikir ternyata kau memang tuan putri."


"Sekali lagi kukatakan aku bukan tuan putri."


"Bukankah kau bisa memasak bekalmu sendiri dari pada meminta pelayanmu, atau jangan-jangan kau tidak bisa memasak?"


"Uhuk-uhuk t-tentu saja aku bisa memasak apa kau mau mengejekku."


Sena langsung tersedak mendengar ucapanku.


"Santai-santai nona slow aja makannya tidak usah ngegas."


"Hmm... Akan kubuktikan kalau aku bisa memasak."


Dia mengucapkannya sambil mengembungkan pipinya, aku sampai tertawa kecil melihatnya.


"Apa ada yang lucu?"


"Tidak."


Aku masih tertawa kecil.


"Ohh iya kan ada kantin sekolah kenapa kau tidak kesana?"


"Aku lupa bawa dompetku."


Ya ampun kenapa bisa tuan putri ini  kelupaan dompetnya, lagipula ini sekolah kakeknya dia bisa meminta apa saja.


Dan sepertinya sena sudah menghabiskan makanannya sampai habis tidak tersisa dan meminum air meneral yang dia bawa.


"Terima kasih atas makanannya, lain kali aku akan menggantinya."


"Itu tidak perlu kok."


"Tidak bisa aku tidak suka berhutang budi pada orang lain."


"Baiklah kalau itu mau mu."


"Jam istirahat akan segera habis sebaiknya kita kembali kekelas."


Memang jam istirahat tersisa 5 menit lagi tapi aku masih mau bermalas malasan dan ngantuk.


"Sena kau duluan saja."


Jawabku agar dia cepat pergi supaya aku bisa tidur dengan nyaman.


"Baiklah, dan jangan sampai kau bolos pelajaran."


"Baiklah."


Sena langsung menuju pintu.


"Hoamm saatnya aku bisa istirahat."


Saat hendak berbaring tiba-tiba aku dikejutkan karena pintu yang tertutup itu sudah terbuka lagi.


"Ohh iya aku lupa satu hal, akan kubuktikan kalau aku bisa memasak liat saja nanti."


'Clikk


Bunyi pintu tertutup dan suasana menjadi tenang kembali.


"Hah bikin kaget aja tuh anak."


Aku langsung mengambil ancang-ancang mengangkat ke dua tangaku ke atas dan langsung merebahkan badanku kelantai.


"Akhirnya aku bisa menutup mata dengan tenang."