
Pagi hari, merupakan hari yang membutuhkan tenaga untuk membuka mata bagi para pekerja dan pelajar.
Pagi yang biasanya aku berangkat ke sekolah dengan mata yang masih terasa berat untuk dibuka.
Tapi mata ku langsung terbuka ketika melihat jam yang ada di layar hp ku.
"Sial aku terlambat!!!"
Jam sudah menunjukan pukul 7.19 aku berlari sekuat tenaga menuju sekolah. Jadwal masuk sekolah ku yaitu pukul 7.15, jika terlambat pasti ada sanksinya.
Hari ini hari senin, seperi biasa selalu ada upacara pagi di sekolah dan penjagaan digerbang saat hari senin sangat ketat.
"Kenapa harus ada upacara pagi sih? Bagaimana ini? Gerbang sekolah mungkin sudah di tutup, yang piket guru kilerr lagi."
"Ahh sial amat, aku benci hari senin, ini semua salahnya."
Gumamku dalam hati.
Semuanya terjadi kemarin malam saat aku baru pulang dari kerja part time, aku bertemu dengannya.
Ohh iya biasanya aku di panggil Siji atau Haru yahh!!! terserah kalian mau memanggilku apa.
Kilas balik.....
......................
"SERAHKAN SEMUA UANG DAN BARANG MILIKMU!!"
Seorang pria yang terlihat seperti paru baya menggunakan masker dan memegang senjata di tanganya dan mengarahkanya ke hadapan seorang perempuan di depannya.
Dan bodohnya lagi dia mengatakannya di depan umum begini tanpa dia sadari ada banyak orang di sekitarnya.
Aku sendiri mempertanyakan apakah dia memikirkan dengan matang tindakannya itu atau tidak.
Tapi biarlah kita kembali ke cerita.
Biasanya orang normal pasti ketakutan jika diperlakukan seperti itu apalagi di ancam menggunakan senjata dan senjata yang digunakan pria itu adalah pistol.
Tapi tidak dengan cewek yang satu ini.
"Apa maumu meminta uangku?"
Aku melihat hal itu dengan batang hidungku sendiri, tidak kusangka dia akan melawan balik.
Menurutku yang akan menang si cewek karena, menurut buku legendaris kakek legend yang pernah kubaca yaitu :
No 1. Cewek selalu benar.
No 2. Jika cewek salah kembali ke ......nomor 1.
Seperti itulah kira-kira.
"Itu bukan urusanmu!!"
Pria itu membalas perkataan perempuan itu lalu mengepalkan tinjunya seperti pokemon yang ingin me-rasengan goku, dan memukul bagian sisi kanan wajah perempuan itu.
Buakh!!!
Suara pukulan yang cukup kuat membuat cewek itu terjatuh, sebelum terjatuh cewek itu berhasil menangkis serangan pria itu dan hanya mengenai bahu kirinya.
"Cepat berikan uangmu dan yang ada di lehermu itu!!"
Sesaat sebelum perempuan itu terjatuh aku melihat sesuatu berwarna biru cerah yang terikat pada lehernya, mungkin itu sebuah liontin.
"TIDAK!!! Jangan ambil liontin ini."
Sepertinya perempuan itu tidak mau menyerahkan barangnya.
Tiba-tiba...
Keluar asap dari pistol pria itu. Suara tembakan yang begitu kuat membuat perhatian tertuju pada satu tempat.
Pria itu menembakan pistolnya dan mengenai aspal hanya beberapa centi meter dari gadis itu.
"CEPAT BERIKAN BARANG ITU ATAU KAU AKAN MATI!!"
Aku yang hanya menonton dan tidak peduli terdiam saat mendengar suara tembakan itu dan kata-kata yang di ucapkan pria itu.
Tubuhku langsung bergetar tidak karuan, kakiku seperti tidak kuat menopang tubuhku.
Tapi melihat kejadian yang akan terulang kembali itu membuatku tidak bisa berdiam diri saja, tanpa sadar tubuhku bergerak sendiri mendatangi kedua orang itu.
"Siapa kau? Dan mau apa?"
"Eng, a-a-anu om sa-"
"Anumu kenapa? Ha..."
Sialan, lu pikir gua siapa? Seenaknya main balas perkataanku. Aku juga gak mau kalah.
Dengan senyum kecut kubalas perkataanya.
"ANU saya lebih besar dari punya om!!"
"Kau mau mati di sini?"
Pria itu membalas sambil menodongkan senjatanya ke arahku dengan wajah kesal.
Melihat pistol itu membuat tubuhku tidak bergerak, keringat bercucuran keluar dari tubuhku.
Sial!! Kenapa tidak mau bergerak, bergeraklah-bergeraklah.
Aku terus berkata didalam hati tapi tubuhku tidak bisa bergerak.
"Tidak menjawab ya, artinya kau mau mati di sini."
Habislah aku padahal aku belum selesai menonton dan mengembalikan semua koleksi rahasia DVD Rey. Sial kenapa harus sekarang.
Pria itu sudah siap menarik pelatuk pistolnya itu dan
DOORRR!!
Tapi..
Sebuah tas tiba-tiba melayang dari arah belakangku dan membuat pria itu kehilangan keseimbangannya.
Kukira aku sudah mati ternyata tembakanya meleset mengenai tiang lampu yang ada di jalan.
Seketika itu juga aku sadar dan langsung memanfaatkan keadaan yang ada. Kutendang tangan pria itu sehingga dia melepaskan pistolnya.
Dari kecil aku sudah di ajari bela diri oleh kakekku jadi wajar jika aku bisa melawan orang ini.
Saat perhatian pria itu teralihkan oleh pistolnya yang jatuh aku langsung memukul wajahnya, kemudian perutnya dan terakhir tendangan menyamping ke arah kepala pria itu yang membuatnya terjatuh.
Setelah pria itu terjatuh, pertahanan bagian bawahnya terbuka lebar dan membuatku mengelurakan jurusku.
"Hah sudah lama aku tidak melakukan ini, jadi jangan salahkan aku ya.
Tendangan langsung menuju arah bagian bawahnya.
"AAAAWWWWW!!!!"
Pria itu langsung berteriak kencang sambil meringis kesakitan sambil memegang selangkanganya.
Bahaya nih!! Aku terlalu berlebihan sepertinya, mungkin dia bisa mati.
Tanpa kusadari di belakangku terlihat sosok yang mematung berdiri melihatku dari tadi, tanpa pikir panjang aku langsung menarik tangan perempuan itu dan berlari meninggalkan tempat itu.