
Cuaca yang cukup menyegarkan di pagi hari dengan sinar mentari yang belum terlalu tinggi. Terlihat 2 orang perempuan berjalan berdampingan di lorong sekolah.
"Apakah mereka sudah menerima surat pembatalan menaikan anggaran klub?"
"Sudah, mereka menerimanya dengan perasaan frustasi."
"Memang harus begitu, klub yang kegiatannya hanya main-main, tidak perlu di naikan anggaranya."
"Kau tidak perlu bersikap tegas begitu, kau mungkin terlalu banyak bekerja Sena, sudah 5 bulan sejak kau menjabat sebagai ketua osis."
"Tidak bisa begitu, ini merupakan tanggung jawabku sebagai Ketua Osis Kak Karin."
"Sudah kubilang jangan memanggilku Kak panggil Karin saja,.... Ah biarlah siapa sangka kau bisa menjadi Ketua osis saat kelas 1 itu terlalu mengejutkan bagiku."
"Aku juga tidak tahu kenapa aku bisa mendapat suara terbanyak diantara anak kelas 2, dan juga aku harus bekerja keras karena sebentar lagi Kak Karin dan anak kelas 3 akan lulus aku tidak ingin bersantai-santai."
Mereka terus berbincang-bincang sampai mereka masuk ke dalam ruang osis yang sudah tertata dengan rapi.
"Kak Karin kenapa ada satu kotak yang dibiarkan di sini?"
"Oh.. Itu hanya laporan tentang anak bermasalah, isinya lumayan banyak dan sebagian sudah terselesaikan."
"Tapi kenapa ada satu lembar yang di pisahkan dari sini?"
"Ohh kalo itu yahh kau baca saja sendiri."
Perempuan itu mengambil kertas yang ada didalam kardus tersebut dan membacanya.
Dia sedikit terkejut dengan apa yang dia baca dari lembaran tersebut.
"Siji Haru kelas 1-E, anak bermasalah yang selalu berkelahi, rumornya dia pernah hampir membunuh orang... itu hanya rumor saja jadi jangan dianggap terlalu serius."
"Tunggu dulu kenapa Kak Karin tidak menyelesaikan masalah ini, bukanya itu pekerjaan Ketua sebelumnya?"
"Memang itu pekerjaanku dan Ketua, kami sudah mendatanginya dan mencoba membantunya tapi dia menolak sambil bicara begini -ini masalahku jadi tidak perlu ikut campur aku tidak mau ada yang terlibat dalam masalahku- seperti itulah."
"Jika dia berbuat masalah terus bukanya dia akan dikeluarkan dari sekolah?"
"Apa kau penasaran?,.. jadi begini aku dan ketua sudah berbicara dengan kepala sekolah, ternyata kepala sekolah sudah berbicara dengan anak itu dan setuju dengan yang dikatakan anak itu jadi kami hanya menuruti kata kepsek, jika kau ingin tau lebih lanjut tanyakan saja ke anak itu.... kalau begitu dah Sena aku harus kembali ke kelas kuserahkan anak bermasalah itu kepadamu."
Sambil mengacungkan jempolnya lalu pergi.
Suara pintu ditutup terdengar, tersisa satu orang saja didalam ruang osis.
Beberapa menit saat pintu ditutup seseorang keluar dari ruang osis dengan berjalan sedikit cepat.
****
"Pagi, Siji"
Terdengar suara yang kukenal dari belakangku.
"Hm... Pagi Rey"
Dia berlari kecil mendekatiku dengan wajah cemas dan mulai mengucapkan sesuatu dari mulutnya.
"Apa mereka melakukanya lagi?"
"Mmm, begitulah."
Jawabku sambil menggangukan kepala.
"Ini sudah yang ke-48 kali sejak kau masuk SMA."
"Begitu ya, berikutnya akan jadi yang ke-50."
Jawabku dengan antusias.
"Kau begitu lagi, sebaiknya kau obati lukamu saat sampai di sekolah."
"Memangnya kau Ibuku!"
"Hei aku menghawatirkanmu tau, ayahmu menyuruhku mengawasimu."
"Hei mereka itu orang tuamu bodoh, sebaiknya kita bergegas atau kita akan terlambat mencatat pr."
Sambil mempercepat langkah kakinya.
"Yang kau maksud itu kau sendiri karena tidak mengerjakan pr."
Tidak terasa waktu sudah berlalu kami sudah sampai di gerbang sekolah.
Kami pun segera berjalan masuk ke dalam sekolah dan langsung berjalan menuju kelas, kelas kami berada di lantai 2 jadi kami harus berjalan melewati tangga.
"Hari ini ada tugas apa?"
Tanya Rey
"Matematika."
"Begitu ya, bukannya gawat aku belum kerja."
Perbincangan terus berlanjut hingga kami sampai di tangga, aku yang paling depan berjalan menaiki 1 anak tangga tapi....
Tiba-tiba
Brukkkk!!!
Ada malaikat yang mendarat diwajahku dan membuatku terdorong jatuh kebelakang bersamaan dengan malaikat tersebut.
Malaikat itu menabrakku dari depan dengan posisi terjatuh dan dadanya mengarah kewajahku, aku bisa merasakan sensasi surga yang belum pernah kurasakan sebelumnya menyentuh wajahku.
"Aduh... Hei kau tidak apa-apa?"
Tanya malaikat itu mencoba berdiri kemudian memberikan tanganya untuk membantuku berdiri.
"Ya aku baik-baik saja bagaimana denga-"
Belum selesai berbicara aku terkejut melihat sosok yang kukira malaikat, ternyata bukan malaikat.
"Siji."
Aku terkejut saat dia menyebut namaku, aku mencoba berdiri tapi, aku merasakan ada sensasi aneh dikepalaku saat kucoba menyentuhnya kepalaku ternyata mengeluarkan darah.
"Aa. . . Ada darah keluar."
Jawabku dengan enteng sambil mengusapnya dengan tanganku.
Saat aku mencoba mengusap kepalaku tanganku ditahan.
"Jangan menyentuhnya dengan tanganmu, itu kotor, sebaiknya kita segera ke UKS."
*Jleeb saat dia mengatakan "ituu kotor" entah kenapa aku merasakan ada sesuatu yang menusuku.
Dia meraih tanganku dan menarik ku sampai berdiri, untuk seorang perempuan dia lumayan kuat juga.
"Ini tidak apa-apa disiram air saja sudah sembuh."
"Tidak bisa, ini salahku karena menabrakmu, sebaiknya kau ikut aku ke UKS sekarang jika tidak akan kubuat darah yang ada dikepalamu bertambah."
Seketika itu juga cengkraman tanganya menguat soalah bisa meremukan tulangku.
"B-baik."
Aku pun pergi dengan perempuan ini menuju tempat sakral ehh... ruang UKS
Aku mengikuti perempuan itu meninggalkan Eiji yang tersenyum bahagia dibelakangku sambil melambaikan tanganya dengan isyrat soalah-olah dia ingin mengatakan ..jangan berlebihan ya Siji nikmati saja waktumu semoga beruntung...
Eiji pergi menaiki tangga dan tidak terlihat lagi.
'Glek'
Seketika itu juga aku menelan ludahku membayangkan apa yang akan terjadi padaku, membayangkan orang yang memegang tanganku adalah malaikat ternyata salah besar.