
Pagi ini hari yang sial, seumur hidupku aku belum pernah terlambat datang ke sekolah.
Pulang sekolah aku harus membersihkan toilet, itu hukumanku.
"Kenapa aku harus membersihkan toilet?"
Gumamku dalam hati
"Oi lagi ngapain kamu?"
Tiba tiba terdengar suara dari belakangku.
"Di lihat juga pasti tau kan!"
Jawab ku dengan kesal.
"Ahaha, sorry aku cuma mau lihat bagaimana keadaanmu?"
"Masih hidup!!"
"Ayolah jangan cemberut seperti itu."
"Bisakah kau tidak menggangguku Rey."
"Ya maaf, melihatmu begitu rasanya ingin membuatku menjahilimu."
"Terus"
"Jadi apa yang membuatmu terlambat?"
"Hoo ...."
Kataku dengan malas.
"Aku bertanya padamu mata ikan."
"Lama-lama ku tabok muak mu pake pentungan nih."
Namanya Maldini Rey biasa dipanggil Rey atau Aldi, dia berada di kelas yang sama denganku di kelas 1-E dia sahabatku dan juga dia orang yang tahu masa laluku.
Aku berteman dengan Rey sejak aku masih duduk di sekolah dasar sampai aku masuk sma kami selalu berada di kelas yang sama bisa dibilang kami teman yang akrab.
"Maaf, jadi kenapa tuan yang rajin ini bisa terlambat datang ke sekolah?"
Rey bertanya dengan nada menyindir, tentu saja itu membuatku kesal.
"Apa kau mau menyindirku?"
"Aku cuman bertanya saja kenapa kau begitu kesal."
"Dari pada kau cuma berdiri di situ kenapa kau tidak membantuku?"
"Oke oke, tapi ceritakan apa yang membuatmu terlambat."
Akhirnya aku menceritakan ke Rey penyebab aku terlambat karena kemarin malam aku terjebak dalam hal yang paling tidak ku inginkan.
Hasilnya Rey pun tertawa terbahak-bahak mendengar ceritaku, sebenarnya aku cukup kesal dengan sifatnya itu tapi di orang yang baik.
Jam sudah menunjukan pukul 15.45 sudah tidak ada lagi murid murid yang terlihat di sekolah kecuali aktivitas klub-klub olahraga yang ada seperti sepak bola, baseball, dan basket.
"Oi Siji bagianku sudah kubersihkan bagaimana dengan punyamu?"
"Bagianku juga sudah."
"Pulang yuk ini sudah sore."
"Baiklah ayo pulang."
Saat perjalan pulang kami mampir ke supermarket untuk membeli bahan makan malamku, Rey tinggal di rumah keluarganya. Orang tuaku bekerja di luar negeri mereka jarang pulang dan aku anak tunggal jadi, hanya aku sendiri yang ada di rumah.
"Hati hati saat pulang ya siapa tau orang yang kamu ceritakan muncul lagi."
"Saat itu terjadi aku akan lari sekencang kencangnya."
"Bagaimana dengan perempuan itu?"
Rey menambahkan pertanyaannya
"Aku tidak tau dan tidak ada hubunganya denganku, lagi pula dia sudah aman jadi tidak masalah."
"Lagi-lagi begitu, sebenarnya kau malu kan ketemu cewek cakep hahaha."
"Haaa."
Setelah itu Aku dan Rey berpisah di persimpangan jalan. Dan aku melanjutkan perjalanan menuju rumah, dalam perjalanan pulang aku melewati taman yang ada di dekat rumahku, sembari berjalan menyusuri jalan taman tersebut aku terhenti oleh sesuatu.
Aku melihat seseorang di taman itu, dia berada di sebelah pohon dengan banyak bunga bermekaran di pohon itu. Seketika hembusan angin yang begitu kuat membuat bunga pohon itu berterbangan.
Aku melihat ada malaikat.
"Bukan bukan malaikat ."
kataku dalam hati.
Kilauan sinar matahari di kala senja itu membuat pantulan di rambutnya yang kecoklatan dan panjang sehingga berkilauan ditambah dengan angin yang berhembus membuat daun dan bunga pohon berjatuhan dikala senja itu dapat memanjakan setiap mata yang melihat.
Membuatku diam sejenak dan mematung melihat keindahan pemandangan itu.
Setelah mematung sesaat aku sadar akan sesuatu dan segera berlari menuju rumah.
Tiba tiba terdengar suara dari belakangku.
"Hei!!! kau yang kemarin kan?"