
Di sore hari menjelang malam dengan langit berwarna biru serta oranye kemerah-merahan.
Dengan pemandangan yang begitu indah disertai daun pohon yang berguguran, berdiri perempuan berambut coklat muda terang sambil menyilangkan kedua tangannya
(Note: ilustrasi ceweknya saya pake ini jadi silahkan berimajinasi.)
Aku terdiam sejenak seakan merasa deja vu.
Bukanya itu cewek yang kemarin, kenapa dia ada di sini?
Dengan perasaan yang tidak karuan aku hendak berlari tapi terhenti oleh suara yang tidak asing bagiku.
"Hei!!! kau yang kemarin kan?"
Ehh!! Kenapa gua dipanggil, pura-pura gak kenal dah, mending langsung cabut.
Batinku dalam hati.
"Hei!! Kau tidak dengar apa? Kau yang pakai seragam sekolah SMA Bintang."
Ehh!! Kenapa nih?
Dengan pasrah ku hentikan langkahku dan membalikan badanku secara perlahan.
Tapi saat aku membalikan badan.
Buggh!!!
Tiba-tiba sebuah batu seukuran kepalan tangan melayang ke arahku.
Batu itu mengenai kepalaku di bagian samping kiri.
"Awww!!!"
Rasanya sakit sekali tapi tidak mengeluarkan darah. Aku langsung memegang kepalaku dan berteriak.
"Oii!! Setan apa yang kau lakukan, mau buat aku ke rumah sakit?"
"Salahmu sendiri dari tadi aku memanggilmu tapi kau tidak menanggapinya."
Balasanya
"Mana aku tau tadi kalo di panggil!! Lagian di sini ada banyak orang."
Jawabku.
"Pikir aja sendiri!!"
"Ehh ...."
Ini bukan adegan film ataupun yang ada di manga tapi, kenapa jadi begini.
Sepertinya aku tidak akan meragukan buku legendaris pemberian kakekku.
Pintaku dalam hati.
"Jadi ada urusan apa kau memanggilku?"
"Haa ... Jangan pura-pura bodoh. APA KAU LUPA KEJADIAN KEMARIN MALAM??"
Seketika itu juga perhatian orang-orang mengarah pada kami.
"Apa yang kau bilang, jangan bikin orang lain salah paham."
"Salah paham apa? Memang kejadianya begitu, selain itu kau harus tanggung jawab."
"Tanggung jawab??" (•_•')
Tatapan panas orang-orang mengarah kepadaku.
"Benar, tanggung jawab tentang kejadian kemarin, kau ini kenapa tiba-tiba datang dan hilang begitu saja. Bagaimana aku menjelaskanya ke polisi dan orang tuaku?"
"Orang tua?? Polisi??"
"Soalnya kau tiba-tiba hilang, sehabis kejadian itu polisi datang dan meminta keterangan dariku lalu menelpon orang tuaku."
Entah kenapa masalah ini jadi ruwet begini, bikin pusing 7 keliling.
"Apa-apan nih lepasin!!"
"Diam dulu, ikut aja nanti kita bicara."
Tanpa pikir panjang aku langsung menarik tangannya dan menjauh dari tatapan orang-orang yang sedang panas melihat kami, aku langsung menuju ke tempat yang sepi.
Setelah sampai di tempat yang sepi aku melepaskan peganganku.
"Jadi apa tujuanmu membawaku kemari? Apa kau mau memperkosaku?"
Perempuan itu langsung memeluk badannya sendiri.
Dengan nada pasrah aku mencoba bertanya.
"Habis kejadian kemarin polisi langsung datang menangkap penjahat itu dan bertanya siapa yang mengalahkan orang itu."
"Jadi, kamu ada di sana dan langsung di tanya polisi."
"Gara-gara kau bodoh, tiba tiba lari sebelum polisi datang."
"Aku sudah mengerti sebagian besarnya. Kalo orang tuamu?"
"Orang tuaku mencarimu."
"Kenapa?"
"Tentu saja karna ingin bertemu denganmu bodoh."
Sambil memukul kepalaku.
"Woi ... Kau sakit tau."
Dengan perasaan lega akhirnya aku bisa menghela napas merasa masalah ini sudah selesai dan aku maunya langsung pulang tapi.
"Mau kemana kau?"
Tanya perempuan itu.
Sial!! Kenapa lagi? Udah lapar nih.
"Tentu saja mau pulang"
Aku terus berjalan.
"Tunggu ... Masalahnya belum selesai."
"Sudahlah aku mau pulang, aku lapar. Ngomong-ngomong kau murid SMA Bintang kan? Kelas berapa?"
"Ehh ...."
Perempuan itu tampak terkejut dengan pertanyaanku. Tentu saja aku bisa tau kalau dia sekolah disana karna dia memakai seragam sekolahku.
"Ya aku sekolah di sana, kelas 1."
"Ooh, satu angkatan denganku rupanya."
"Kau juga kelas 1?"
Tanya perempuan itu dan dia lebih terkejut lagi, entah kenapa dia bisa terkejut begitu aku tidak mengerti.
"Ya begitulah, namamu siapa?"
"Namaku Shelia Sena, namamu siapa?
"Siji Haru."
Shelia Sena rasanya aku pernah denger nama itu tapi dimana? Masa bodoh dah mending pulang.
"Tunggu dulu, satu pertanyaan lagi."
"Apa lagi ...."
Aku sudah tidak kuat jika berlama lama disini.
"Kenapa waktu itu kau menyelamatkanku?"
"Memangnya aku butuh alasan?"
"Tentu saja, tidak semua orang berani melakukan itu, ada orang lain waktu itu tapi mereka hanya melihat saja, kenapa kau mau menyelamatkanku?"
"Oi jangan mengulang pertanyaanmu itu membuatku pusing, waktu itu badanku gerak sendiri tapi, jika kau memang butuh alasan baiklah akan kuberi tau. Alasan-"
MEOWWWNG
Tiba-tiba muncul kucing mencakarku.
"Kucing sialan sakit tau."
Kucing itu terus mencakarku dan menggantung di bajuku sepertinya dia siap menerkam barang belanjaanku.
Aku pun langsung memutar mutar badanku dan kucing itu terjatuh tapi dia masih siaga mencoba menyergapku.
Dari pada kelamaan ditahan kucing aku langsung lari dengan kecepatan flash meninggalkan tempat itu.
"Waaa!! Buset kenapa masih dikejar, ehh ... kampret kucingnya malah nambah lagi."
Seketika itu juga aku langsung dikejar oleh segerombolan kucing yang sedang kelaparan.
"Sepertinya aku melupakan sesuatu, masa bodoh aku harus cari tempat aman dulu."