
Bagaimana nasibku setelah ini? berduaan dengan seorang perempuan yang kuanggap malaikat ternyata seorang manusia.
Kami terus berjalan di lorong sekolah keadaan di sekolah masih sepi aku beruntung tidak ada yang melihat hal ini, coba bayangkan si anak bermasalah ini bergandengan tangan dengan perempuan cantik menuju ruang UKS. Apa yang akan mereka katakan kepadaku?
Memikirkannya sudah membuatku pusing, tanpa kusadari kami sudah sampai di depan ruang UKS.
"Permisi bu guru ada orang yang butuh perawatan."
Sambil mengetuk pintu lalu masuk ke dalam ruang UKS.
Hening tidak ada jawaban dari dalam ruang UKS.
"Sepertinya tidak ada ibu guru, jadi tidak perlu, aku sudah baik-baik saja."
Jawabku.
"Benarkah itu?"
"Ya."
"Baiklah kalau begitu tapi.."
Di berjalan mendekatiku, kami berdua saling berhadap-hadapan, kukira di memperbolehkanku pergi.
Tiba-tiba tanganya mengarah ke wajahku menyentuh bagian luka, dan rasanya sedikit perih.
"Ternyata benar itu masih sakit kan, sebaiknya jangan melawan dan biarkan aku mengobati lukamu."
"Baik."
Kemudian dia menyuruhku duduk di kursi, perempuan itu sendiri mengambil barang-barang yang ada di lemari obat.
Kemudian dia menuju kearahku membawa kotak P3K lalu duduk di depanku.
Perempuan itu mulai mengobati lukaku, pertama dia menghilangkan darah yang ada di kepalaku dan mulai mengobatinya.
"Wajahmu ini kenapa ada luka lebam di pipi kirimu dan bibirmu berdarah? Sepertinya ini bukan luka dari jatuh tadi."
"Aku hanya menabrak tiang listrik tadi."
Jawabku
"Hm... Tiang yang menarik rupanya."
Dia juga mengobati lukaku yang dikeroyok 4 tiang saat perjalanan ke sekolah tadi.
"Jadi siapa tiang yang menabrakmu?"
"Ehh?"
"Jangan pura-pura bodoh, aku tau tidak ada tiang yang bisa membuat luka seperti ini, jangan-jangan kau habis berkelahi ya?"
Dia bisa tau kalau aku habis berkelahi memanganya dia esper apa? Aku hanya diam saja tidak menjawab pertanyaannya.
Tapi dia terus mengobati lukaku seakan dia tidak peduli jika aku tidak menjawab.
"Baiklah sudah selesai."
"Makasih."
"Kalau begitu aku kembali ke kelas dulu masih ada yang harus kukerjakan dan juga terima kasih buat minggu lalu, sampai nanti."
"Minggu lalu?"
Aku lupa soal minggu lalu, soalnya aku langsung lari sehabis dikejar kucing.
****
Setelah itu aku langsung pergi menuju kelas, sesampainya di kelas aku melihat Rey yang tersenyum seperti orang bodoh di bangkunya melihat aku kembali dari ruang UKS.
"Yo, Haru bagaimana keadaanmu? Apa tadi berjalan lancar?"
"Apanya?"
Sambil berjalan menuju kursiku yang berada di pojok kiri bagian belakang di dekat jendela, Rey duduk di sebelah kananku.
Eiji melanjutkan pertanyaannya dengan wajah penasaran.
"Jangan berbohong padaku, apa kau tidak melakukan itu?"
Rey mengerakan kedua tanganya dengan memberi isyarat, aku tau apa yang tangannya isyaratkan itu.
"Aku tidak mungkin melakukan hal itu mesum."
"Dasar payah dasar lemah oh yeah."
"Diam kau dasar plagiat."
"Biar saja dari pada kau yang tidak pernah dekat dengan perempuan sama sekali dasar jones."
Lama-lama ini anak bikin kesel juga, anaknya siapa sih ini?💢
"Rey apa kau percaya dengan takdir?"
"Ngg, kenapa tiba-tiba? Yah soal takdir aku tidak begitu percaya."
"Baiklah kalau begitu..."
PLAKK!!!
"Adaww, kenapa kau menamparku? sakit tau."
"Apa kau kemarin bermimpi aku akan menamparmu?"
"Tidak."
"Itu yang namanya TAKDIR BODOH!!!."
Percakapan kami terus berlanjut hingga seorang datang menyapa kami.
"Selamat Pagi Siji, Rey seperti biasa kalian selalu akrab ya."
"Pagi Ketua." Sapa Rey
"Pagi Serah." Sapaku
Gadis dengan rambut hitam panjang terurai itu Ketua kelas kami namanya Serah , dia orang yang cukup tegas sampai-sampai tidak ada laki-laki di kelas kami yang berani melawanya.
Pak jo dipanggil begitu karena kekuatanya yang bukan main serta otot-otonya yang terlihat jelas, jadi orang-orang selalu melihat pak jo sebagi hulk karena kebiasaan akhirnya dipanggil pak jo.
Pak jo merupakan alumni sekolah ini dan masuk kedalam legenda SMA Sigwald, konon katanya dia pernah melawan 50+ preman sendirian hasilnya semua preman itu dikirim ke rumah sakit.
Mungkin ini alasanya kenapa banyak dari mereka yang tidak pernah datang melawanku di sekolah.
"Yo Eiji kau bawa barang yang kuminta?"
Seorang anak berkacamata menghampiri Rey namanya Henri.
"Tentu saja."
Lalu Rey mengeluarkan sebuah buku dengan dilapisi koran lalu memberikanya kepada Henri sambi menaikan tangan kirinya dan kelima jarinya.
"25.000 Rupiah."
Lalu Henri memberikan uang 25.000Â tersebut kepada Rey.
"Deal."
Jawab Rey kemudian mereka berdua tertawa bersama-sama.
"Rey sebaiknya kau tidak melakukan itu."
"Kenapa? Ini bisnis yang menguntungkan hahaha."
Bisa kutebak apa isi dari koran itu, jika sampai ketahuan bisa gawat tuh.
(TL Author : Jangan pernah meniru perilaku kedua orang bodoh di atas ya)
"Kukatakan ini demi kebaikanmu bodoh."
"Aku tidak perlu nasihatmu."
.
Ting-Tong-Tang
.
Bel sekolah sudah berbunyi menandakan di mulainya proses belajar, guru kami sudah masuk kelas dan memulai pelajaran sementara itu Rey tertidur pulas dengan air liur menetes di mejanya.
Sementara aku sendiri hanya menatap keluar jendela berharap segera pulang, selama jam pelajaran aku hanya mendengarkan apa yang guru sampaikan tidak ada hal lain yang aku lakukan selain mencoret-coret buku kosong yang ada d ihadapanku. Sedangkan si bodoh satu ini maksudku Rey, belum sampai 5 menit matanya sudah sayu-sayu menunggu matahari terbenam.
****
Ting-Tong-Ting
Bel istirahat sudah berbunyi tiba saatnya bagi para Omnivora beraksi, banyak murid yang sudah berhamburan menuju kantin.
Rey datang menghampiriku.
"Maaf Siji hari ini aku makan di kantin kau tidak apa-apa kan?"
"Ya aku baik-baik saja lagian aku bawa bekal, sebaiknya kau pergi nanti keburu habis makananya."
"Baiklah, sampai nanti."
Rey berlari meninggalkan kelas.
"Baiklah sekarang aku harus pergi juga."
Aku pun keluar meninggalkan kelas, karena aku di cap sebagai anak bermasalah banyak murid yang menjauhiku, jika aku makan di kelas mungkin akan ada yang menatapku untuk menghindari itu sebaiknya aku pergi.
Aku pergi menuju atap sekolah tempat yang cocok untuk orang sepertiku, jam istirahat seperti ini biasanya atap sekolah dikunci tapi bagiku mudah untuk membuka ointu kunci tersebut.
Saat melewati lorong sekolah aku melihat kumpulan manusia.
Hmm.. sebaiknya aku ambil jalan memutar.
"Nona Shelia bagaimana kalau kita makan siang sama-sama."
"Shelia Sena kami selalu setia terhadapmu."
Aku mendengar suara dari kerumunan itu, ternyata dia lumayan terkenal juga, masa bodoh dengan itu toh aku juga gk mungkin bisa terkenal.
Aku pergi meninggalkan para manusia itu dan berjalan menuju atap, sesaat sebelum pergi aku merasakan tatapan gelap disekitarku.
***
*Sudut pandang Sena*
Akhirnya bel istirahat sudah tiba, tiba saatnya untuk mengisi kekosongan yang ada didalam perut ini.
Kemudian aku membuka tasku mencara kotak makanku tapi..
Ahh... aku lupa meminta pelayanku untuk membuatkanya.
Sebaiknya aku pergi ke kantin, saat aku keluar kelas tiba-tiba banyak orang datang mengerumuniku.
Kenapa ini? Kalau begini aku tidak bisa pergi ke kantin.
"Permisi, Sena maukah kau makan bersamaku?"
Datang seorang anak perempuan menghampiriku.
"Tuan Putri Sena kami akan selalu setia melayanimu."
Ehh.. belum selesai aku menjawab pertanyaan, datang lagi pertanyaan yang lain, kalian bukan anjing jadi tidak perlu melayaniku.
jika begini terus waktu istirahatku bisa habis, sebaiknya aku pergi.
"Maaf ya, masih ada urusan osis yang harus aku selesaikan, jadi permisi."
Fuhh..
Aku menghela napas akhirnya bisa terbebas dari mereka, sekarang aku harus mencari tempat aman, ohh iya ada atap sekolah.
Aku pun berlari menaiki tangga menuju atap sekolah.
Â
Akhirnya sampai juga, sekarang tinggal membuka pintunya dan...
"Ehh Siji Haru!!!"