My Life My Problem

My Life My Problem
Chapter 3 : Si anak Iblis



DORR!! DORR!!


Suara itu terdengar lagi, apa ini? Aku melihat kakeku tergeletak di lantai dengan bersimbah darah.


Kakeku meringis kesakitan tidak kuasa menahan sakit sambil mengucapkan sesuatu di mulutnya. Aku tidak bisa mendengar dengan jelas apa yang dikatakan kakeku, tapi aku mendengar namaku dipanggil oleh kakeku


"Ha-ruu."


"KAKEK!! KAKEK!!"


"Jangan menangis laki-laki itu harus kuat."


Kakeku mengatkannya sambil tersenyum.


"S-satu hal Haru, ada yang ingin kakek sampaikan padamu jadi dengarkan baik-baik."


"Jangan banyak biacara Kek, ini bukan waktunya kakek pergi. Kakek belum boleh pergi sebelum Haru menang melawan Kakek."


"Ohok-ohok."


Tiba-tiba kakeku batuk dan langsung muntah darah, air mataku terus terjatuh bagai air terjun.


Dengan senyuman di wajahnya kakekku menyampaikan kalimat terakhirnya.


"Masih terlalu cepat 100 tahun kau ingin mengalahkan ku. Kau harus meli--------_-_--_-_-_--_-_-_-_-_-_-_--_--_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-__-_-_-_-_-_-_-_-_. Haru kau mungkin masih kecil tapi suatu saat kau akan mengerti kenapa kakek melatihmu, yang terakhir Kakek titip harta kakek kepadamu kakek meletakanya di tempat rahasia di gudang ruang bawah tanah biar gak ketahuan nenek jadi jaga baik-baik harta itu."


****KRINGGG****


KRINGGG****KRINGGG****


Bunyi alarm membangunkanku dari alam bawah sadarku.


Aku langsung bangun dengan posisi duduk di atas tempat tidur tapi, tiba-tiba aku merasakan tetesan air menyentuh pipiku kucoba mengusap air mataku tetapi air mataku terus turun.


💦


💦


💦


Setelah beberapa saat aku menarik napasku mencoba memberhentikan air mataku kemudian aku turun dari tempat tidurku menuju kamar mandi lalu mencuci mukaku.


"Lagi, kenapa aku tidak bisa mengingat kata-kata terakhir kakeku? Kenapa hanya pertengahnya saja yang tidak bisa kuingat?"


****KRINGG****KRINGG****


"Sial aku lupa mematikan alarm."


Sambil berlari menuju kamarku.


●●●●


Jam sudah menunjukan pukul 6 pagi, sang mentari belum muncul dari timur tetapi aku bisa mendengar suara kicauan burung di keheningan rumah ini.


Aku tinggal di kota Mineral Town, sekolahku berada di dekat pinggiran kota atau di perbatasannya, jadi jarak antara sekolah dan rumahku tidak terlalu jauh.


Rumahku sendiri terletak agak jauh dari pemukiman manusia hanya saja rumahku dikelilingi pepohonan yang sejuk seperti di hutan.


Itu bukan hal biasa bagi orang yang tinggal sendiri, rumahku memiliki 2 lantai 1 untuk ruang tamu, ruang keluarga, dapur, dan kamar mandi sedangkan lantai 2 hanya ada kamar dan kamar mandi serta balkon di bagian belakang.


"Hmm, hari ini masak apa ya?"


Aku langsung menuju dapur.


Sesampainya di dapur aku langsung memakai apron dan mulai mengambil bahan-bahan yang ada di kulkas. Bawang putih, telur, merica, garam, lada hitam. Kemudian aku mulai memanaskan minyak dan mulai menyiapkan telurnya lalu mencampurkan semua bumbunya menjadi satu dan mulai memasaknya dengan nasi.


*TENG*TENG*TENG*


"Yohs, jadi juga Nasi goreng spesial buatan Siji Haru."


Akupun langsung menyatap nasi goreng tersebut sampai piringnya bersih sperti tanpa kaca.


Setelah makan aku langsung mencuci peralatan memasak serta makan yang kotor lalu bersiap untuk ke sekolah.


Tak lupa ku masaka untuk bekalku di sekolah nanti.


Udara pagi yang menyegarkan seperti biasa juga kicauan burung yang bernyanyi membuat suasana tenang.


Sambil berjalan aku menikmati pemandangan yang ada, aku selalu berangkat pagi karena suatu alasan.


Setelah setengah perjalanan aku terhenti.


"Hoi hoi, datang juga akhirnya si Siji."


Benar inilah salah satu alasan kenapa aku selalu berangkat pagi, terlihat 4 orang yang memakai seragam sekolah berbeda dariku.


Aku langsung berjalan seakan tidak peduli dengan orang tadi, tapi mereka sudah menyergapku dari depan.


"Ada apa dengan wajah manismu itu Siji? Apa kau habis di tolak?"


Seketika itu juga mereka semua tertawa bersama-sama, wajahku memang ada luka bekas cakaran karena kejadian kemarin malam.


"Apa mau kalian?"


Tanyaku dengan wajah merendahkan.


"Tidak ada kami datang kemari hanya untuk melihatmu babak belur."


Pria yang satunya menjawab dengan wajah tersenyum.


"Apa maksudnya ini? Kau membawa sekelompok marmut hanya untukku wah kau sungguh baik terima kasih banyak."


"Apa katamu? Kau tidak tau aku ini siapa?


Jawab seorang yang memakai topi merah.


"Hmm, setelah kalah dariku kau memanggil para ****** mu ehh seniormu, kau benar-benar pecundang Nico. Biar kutebak kemarin kau pasti menunggu ku kan?"


"Apa katamu?!"


Jawab si pecundang ini.


"Karena kemarin aku tidak datang kau memutuskan untuk datang hari ini, benar bukan?"


"Sialan!! Akan kubunuh kau."


Kerah bajuku langsung diremasnya dan tangannya sudah siap memukulku.


Dan terjadilah, pukulan langsung kewajahku. Rasanya memang sakit tapi tidak sesakit para jones-jones yang sedang baca tulisan ini.


(TL: Authornya jga jones :v)


"Apa cuman segitu saja kemampuanmu?"


Jawabku dengan tatapan tajam.


Seketika itu juga aku langsung diserang 3 orang yang langsung memukulku seperti semut yang mengerubungi makannya.


Aku dihajar habis-habisan, aku tidak berniat melawan. Sampai seorang dari mereka membuka mulut yang membuat emosiku memuncak.


"Hahaha, inikah dia yang dijuluki sang iblis pembunuh ternyata lemah begini."


***


Seketika itu juga 3 orang dari mereka terlempar jauh karenaku, tersisa 1 satu orang saja yang ada didepanku.


"Kau yang bilang iblis pembunuh tadi kan?"


Aku langsung berdiri dari posisi dilantai tadi karna habis dikeroyok, aku langsung meremas kerah bajunya lalu menariknya ke hadapanku.


Dengan mata tajam dan senyum iblis aku langsung mengatakan kalimat yang membuatnya diam.


"Jika kau katakan hal itu sekali kau akan tau akibatnya."


Aku langsung memukul wajahnya ke arah samping sampai terbang setelah itu dia tidak bangun bangun mungkin di pingsan.


3 orang yang lainnya langsung menopang orang yang pingsan itu kabur terbirit-birtit.


Aku langsung mengambil tasku yang ada di tanah dan berjalan seperti bisa menuju sekolah lalu meludahkan air liurku.


"Cih, keluar darah."