My Lecturer My Husband

My Lecturer My Husband
My Lecturer My Husband 09



Selamat Membaca


.


.


.


Sudah dua hari ini aku tidak melihat batang hidung Kak Neill. Kira-kira dia pergi kemana?


"Mamah sama Papah pergi kemana, Ken?"


"Nggak tau."


"Mereka pergi ke rumah sakit."


Ahh, siapa yang sakit.


"Bang Alfred kenapa dibocorin sih, dasar kompor meleduk."


Sepertinya ada bau-bau konspirasi terus kenapa juga si Kenzo langsung menutup mulut Bang Alfred. Gerak tubuh mereka sangat mencurigakan.


Aku langsung saja mendorong tubuh Kenzo hingga ia terjungkal.


"Bang, siapa yang sakit?"


Kenzo dengan cepat kembali menutup mulut Bang Alfred, akhirnya terjadilah aksi dorong-dorongan. Hal itu sukses membuat Bang Alfred kesal, kalau sudah begini kita berdua hanya duduk diam. Bang Alfred itu kalau marah sangat menyeramkan.


"Kalian itu seperti anak kecil. Kiara juga berhak tahu apa yang sedang terjadi."


"Iya, Bang."


Rasain, memang enak kena omel.


"Bang Rasya yang sakit. Dia sekarang lagi dirawat karena babak belur."


Apa yang Bang Alfred sampaikan itu benar, Kak Neill masuk rumah sakit. Apa yang sebenarnya terjadi?


"Maksud Abang gimana? jelasin secara rinci dan detail, ada apa dengan Kak Neill?"


"Abang hanya dengar sedikit pembicaraan mereka. Jadi dengarkan dengan baik-baik."


"Iya."


Abang Alfred mulai bercerita mengenai kondisi Kak Neill saat ini kenapa bisa dirawat di rumah sakit. Aku hanya diam seribu bahasa setelah mendengarkan isi kalimat demi kalimat yang keluar dari mulut Abang Alfred. Air mataku jatuh membasahi pipi, aku tidak menyangka kalau Kak Neill berbuat sejauh ini demi melindungi aku. Dan sekarang dia sedang terbaring lemah di ranjang rumah sakit, semua ini karena ingin melindungi harkat dan martabat aku juga sahabatku.


"Sekarang Kak Neill dirawat di mana?"


"Rumah Sakit keluarga kita. Kamu mau jenguk dia?"


"Iya, ini juga karena dia mencoba melindungi aku."


"Nanti biar Abang antar kamu pergi kesana. Sudah jangan menangis lagi, dia pasti baik-baik saja."


Aku menggeleng kecil. Aku akan pergi dengan Vania saja, supaya aku bisa bersandar padanya jika tidak kuat melihat kondisi Kak Neill nanti.


"Ya sudah. Kalau ada apa-apa langsung saja telepon Abang. Lebih baik kamu tenangkan pikiran dulu, jika sudah lebih enakan baru boleh pergi."


"Iya, Bang."


Aku harus menyiapkan sesuatu untuk Kak Neill, toh bagaimanapun status dia adalah dosen ku terlepas dari perasaan pribadi. Aku membuat puding dan juga beberapa mini cake untuk Kak Neill, semoga saja dia suka sama pemberian aku.


Sebelum itu aku segera menghubungi Vania.


"Ada apa, Ra?"


"Nanti jam empat temenin gue ke RS."


"Hah? memangnya siapa yang sakit?"


"Nanti gue ceritain dalam perjalanan, hari ini pakai mobil aja naiknya."


"Iya, Ra. Kabari gue aja kalau lo udah beres."


"Siap."


Saatnya bertempur.


Aku segera mempersiapkan bahan-bahan dan mulai membuat puding dan mini cake.


 


^^^


 


Akhirnya aku sampai ke tempat tujuan, Vania saat ini sedang parkir mobil.


Kamar nomor tiga puluh. Itu dia kamar inapnya.


Tak menunggu lama lagi aku mengetuk pintu, dan hal yang tidak aku inginkan terjadi. Seseorang yang aku tidak harapkan kehadirannya.


Dia memandangku penuh rasa kebencian, sepertinya aku paham kenapa dia terlihat tidak suka akan hadir ku saat ini. Belum sempat aku ingin masuk kedalam, Susan langsung menutup pintunya dan menghalau aku agar tidak bisa masuk


"Untuk apa kamu datang kemari. Rasya, dia baru saja istirahat, lebih baik kamu pulang saja."


"Begitu ya. Kalau begitu aku titip ini untuk Kak Neill, bilang padanya kalau aku sangat khawatir padanya."


"Kamu bilang khawatir? Simpan saja kata dustamu itu, Rasya akan baik-baik saja tanpa kamu merasa khawatir sekalipun. Ada aku yang akan selalu setia merawatnya, lebih baik kamu pulang. Kuliah yang rajin biar cepet lulus."


Sabar, Kiara. Tahan emosi kamu, jangan sampai hal konyol ini menimbulkan keributan.


Belum sempat aku berbicara, Susan dengan sangat arogan menutup pintu kamar Kak Neill. Aku hanya diam mematung menyaksikan sikapnya yang kasar itu.


"*Siapa yang datang, San? itu bingkisan dari siapa?"


"Bukan siapa-siapa kok, cuma salah masuk ruangan saja. Apa kamu lapar, ini bingkisan kiriman dari adik aku. Kamu mau?"


"Iya, boleh. Kebetulan aku juga lapar. Maaf ya, aku selalu merepotkan kamu, San."


"Tidak masalah, selama orang itu adalah kamu, Sya. Biar aku bantu"


Jahat banget. Kenapa dia harus berbohong.


Padahal aku sangat ingin melihat kondisi Kak Neill. Dia terluka seperti itu juga karena aku. Aku ini sudah menjadi pemicu dia babak belur seperti sekarang.


Kalau aku mau, aku bisa saja mendorong pintunya lalu menampar pipi Susan saat itu juga. Tapi aku juga masih punya otak.


"Kiara, kenapa kamu menangis? Sudah liat Kak Neill?"


Astaga, sejak kapan aku menangis.


"Aku sibuk, Tante. Tolong sampaikan pada Kak Neill untuk jaga diri baik-baik. Ini ada sedikit bingkisan dari aku untuk Kak Neill. Aku pulang dulu."


Untung saja puding yang aku buat, belum aku kasih ke Susan. Untungnya Tante Melani datang, jadi pasti Kak Neill tahu kalau aku datang menjenguknya.


"Kenapa tidak ikut masuk saja, nanti biar Kak Marsha yang antar kamu pulang."


"Tidak, terima kasih, Tante. Aku bawa mobil sendiri kok, Tan. Dah, sampai jumpa nanti."


"Iya, hati-hati jangan ngebut."


"Iya."


Aku hanya tersenyum kecil membalas rasa perhatian Tante Melani.


Akhir-akhir ini aku cengeng sekali.


Tante Melani terlihat sangat menyukai kepribadian Susan, seakan dia sudah memasang tembok agar aku tidak terlalu berharap pada Kak Neill.


Apa yang kamu sesali sekarang, Kiara. Bukankah ini yang kamu inginkan, semua ini sudah sesuai dengan keinginan kamu sendiri.


Sekarang yang aku rasakan hanya rasa sakit di dada. Aku sudah terlambat jatuh cinta pada Kak Neill, yang sekarang sudah akan menjadi milik orang lain. Diriku bingung harus berbuat apalagi, jika aku mengatakan sejujurnya pada Kak Neill bahwa aku sudah jatuh hati padanya, akankah perasaannya padaku tetap sama atau sudah terkikis oleh kehadiran Susan.


"Kiara."


"Gue terlambat, Van. Gue udah kalah sebelum perang dimulai. Kenapa nasib gue begini amat."


"Gue bingung harus kasih saran seperti apalagi, gue hanya bisa support lo agar tetap semangat. Ya, hati orang siapa yang tau, mungkin akan ada jalan terbaik yang menanti lo di ujung sana."


"Iya. Semoga saja."


Entah sudah berapa banyak aku menyusahkan Vania dalam masalah kehidupan percintaanku yang begitu membosankan ini.


"Biar lo semangat lagi, gimana kalau kita pergi beli es krim?"


"Tapi kan udah malem, Van. Mending kita pergi ke karaoke aja sekalian buang uneg-uneg."


"Gue sih ngikut aja. Sini biar gue yang bawa mobilnya kan bahaya kalau orang lagi galau bawa kendaraan, bisa-bisa oleng kapten."


"Dasar. Masih sempet-sempetnya lo ngelawak."


"Nah gitu dong, kalau gini kan gue jadi semangat. Lo sedih,.gue ikut sedih begitupun sebaliknya."


"Yoi."


Dia yang terbaik dan akan terus menjadi yang terbaik, sahabatku, keluargaku dan salah satu inspirator bagi hidupku Vania Cynthia Ferdian. Semoga kelak semua kebaikan kamu akan berbuah nikmat dimasa yang akan datang.


 


^^^


 


Ini sudah lewat dari empat hari bahkan Kak Neill juga tidak kunjung masuk mengajar, padahal aku sangat ingin melihat wajahnya itu, meski kini hatinya sudah milik orang lain. Selama aku tidak melihat wajahnya, saat itu juga hari-hariku mulai terasa hampa.


"Mah, apa sesakit ini rasanya terlambat jatuh cinta?"


"Iya, memang. Kamu itu sama persis seperti mamah waktu muda dulu. Waktu dulu hampir saja mamah itu kehilangan cinta Papah kamu kalau saja tidak segera menyadari perasaan mamah pada Papah. Lebih baik terlambat menyatakannya walaupun kamu sudah tau endingya, agar tidak menjadi beban dikemudian hari. Katakan saja apa yang ada di hati kamu pada Rasya, keputusan akhir ada padanya. Memulai kembali dari nol atau berhenti akan perasaanmu."


"Tapi aku takut, Mah. Takut hasilnya itu tidak sesuai akan keinginanku."


"Kalau kamu takut seperti ini, mamah lebih takut lagi jika kamu menikah nanti dengan orang lain namun bayangan Rasya belum hilang dari pandangan kamu. Semua pilihan ada di tangan kamu, Ra. Mamah pasti akan selalu mendukung apapun keputusan kamu, Ra. Selama itu bisa membuat hatimu bahagia."


"Terima kasih, Mah. Terima kasih karena sudah mau menjadi pendengar yang baik akan keluh kesah anak kamu ini."


"Sudah seharusnya mamah mendukung kamu. Kamu anak mamah jadi jangan ragu untuk cerita."


"Iya. Mah, *i love you so much."


"Love you too*."


Pelukan mamah begitu hangat, sehangat mentari di pagi hari. Suatu hari nanti aku pasti akan merindukan momen seperti ini, jika kelak aku menikah nanti.


Setelah batinku cukup tenang, aku memutuskan ini akan menjadi akhir dari perjalanan hidupku. Menang atau kalah itu masalah belakangan, yang terpenting aku sudah mencobanya.


"Mamah mau ke kantor papah dulu, kalau kamu lapar delevery saja."


"Yes, Mom."


"Besok kita ziarah ke makam kakek nenek kalian."


"Iya, Mah."


Tidak terasa sudah lima tahun lamanya kakek dan nenek pergi, orang tua dari pihak mamah. Sedangkan opah dan omah dari pihak Papah mereka semua kini masih sehat sampai sekarang.


"Kak, sibuk nggak?"


"Ada apa. Langsung to the point aja."


"Aku laper nih, buatin nasi goreng seafood dong."


Kalau merajuk seperti ini Kenzo sangat imut sekali. Tidak menyangka tahun ini dia akan genap berusia dua puluh tahun, hanya berbeda satu setengah tahun denganku.


"Bahan-bahannya emang ada?"


"Ini aku udah belanja tadi, aku juga beli puding favorit kakak."


"Uh, baik ya adik aku yang satu ini. Sini-sini kak Kiara cium dulu."


"Ogah."


Macam anak tuyul saja langsung kabur begitu saja, apa aku terlalu agresif sama adik sendiri. Aku masih normal kok, mana mungkin aku jatuh cinta sama adik sendiri. Ini efek kelamaan galau gara-gara cowok kali ya jadinya oleng begini otaknya.


Taruh di mana tuh anak barang belanjaan.


"Kenzo, kamu taruh di mana bahan-bahannya?"


"Di kulkas, kak. Kalau udah jadi nasi gorengnya cepet panggil aku ya. Aku mau mandi dulu."


"Pantesan dari tadi kakak cium bau asem, ternyata kamu toh biang keroknya. Habis dari mana sih, di toko swalayan kan ada ac."


"Tadi habis maen basket bentar sebelum belanja."


"Dosa apa aku punya adik seperti kamu ini. Sudah sana mandi ntar keburu sore."


"Iya, bawel."


Ada saja kelakuan itu anak. Sempat-sempatnya dia main basket sebelum belanja.


 


^^^


 


Rasya Pov


Hari ini aku sudah boleh pulang, luka di wajahku juga perlahan mulai sembuh. Hanya di bagian pipi kanan yang terlihat masih bengkak. Selama di rumah sakit juga, aku masih berharap dia datang menjengukku tapi batang hidungnya tidak terlihat sama sekali.


"Marsha bahagia banget kakak sudah sehat gini, lain kali jangan gegabah dong, Kak. Wajah tampan nan rupawan kakak jadi ancur gini, kan kasihan jadi jelek."


"Kamu ini niat muji atau ngeledek kakak sih."


"Dua-duanya. Kak, beneran kakak mau lamar Susan?"


"Gosip dari mana lagi."


"Bunda yang bilang kok. Oh, iya, aku lupa. Waktu Kak Rasya dirawat, si Kiara datang jenguk lho."


Kiara datang jenguk? Tapi kenapa aku tidak melihat batang hidungnya sama sekali. Pasti ini anak bohong biar aku tidak sedih.


"Kamu serius?"


"Sumpah, ngapain juga aku boong. Aku kira kakak itu sudah tahu, kan puding yang Kak Rasya makan saat itu buatan tangan Kiara langsung. Ternyata si Kiara pinter juga buat begituan, kapan-kapan aku belajar sama dia."


Jangan bilang, orang Susan katakan salah masuk ruangan sebenarnya itu adalah Kiara. Jika benar itu Kiara, kenapa Susan harus berbohong. Apa tujuannya melakukan semua ini?


"Sekarang Bunda ada di mana?"


"Lagi di taman sama bunga-bunga kesayangannya. Memang ada apa, Kak?"


"Anak kecil tidak perlu tahu."


"Siapa yang kakak maksud anak kecil. Aku sudah dua puluh dua tahun tau, kakak aja yang ketuaan."


"Kamu ini."


Aku mengusap rambutnya asal.


Bunda masih sibuk dengan taman mini buatannya itu yang tidak pernah lelah untuk merawatnya.


"Bunda, Rasya ingin bicara sesuatu yang penting."


"Bicara saja, Bunda pasti dengerin."


"Aku menolak lamaran itu."


Reaksi Bunda setelah mendengar penuturanku begitu kaget sampai gunting taman terjatuh.


Bunda berjalan ke arahku lalu duduk disampingku, tatapan mata senduhnya terkadang membuat diriku tidak tega mengatakan kebenarannya.


"Kenapa kamu secepat ini menolak Susan? kalian itu sudah lama saling kenal, pasti sudah tahu sifat dari kalian masing-masing."


"Karena aku tidak mencintainya, Bun."


"Berjalannya waktu rasa cinta itu pasti akan tumbuh dengan sendirinya. Padahal Susan adalah pilihan pas untuk kamu jadi istrinya."


"Maafkan aku, Bun. Aku tidak bisa hidup satu atap dengan wanita yang tidak aku cintai. Aku akan bicara baik-baik dengan Susan mengenai hal ini."


Bunda meraih tanganku dan mengelusnya lembut.


"Apa kamu sudah ada calon sendiri?"


"Saat ini masih belum pasti, tapi aku sudah ada calon sendiri."


"Siapa wanita itu?"


"Kiara. Aku sudah lama menyukainya dan berharap dia yang akan menjadi istriku kelak. Maka dari itu aku minta bantuan Bunda. Jika dia kembali menolak, aku akan menuruti semua keinginan Bunda termasuk aku harus menikah dengan Susan."


"Bunda tidak akan memaksa, selama kamu bahagia Bunda akan merestui itu."


Aku dengan hati-hati membicarakan ide konyolku pada Bunda. Dan beliau setuju.


 


^^^


 


Jangan lupa untuk komen, like dan follow


New Taipei, 2 Mei 2020