
Selamat menikmati kisah kasih Kiara Randolph Abiansyah
.
Selamat Membaca
.
.
"Lagi liatin siapa sih?"
"Astaga, Alex, bikin gue spot jantung aja. Bisa nggak sih lo itu kalem dikit jadi manusia. Untung gue nggak punya riwayat sakit jantung."
"Sorry, Ra, kebiasan gue emang jelek banget.Btw, Ini es krim buat lo."
"Thanks. Lain kali diubah cara lo itu, coba bayangkan kalau orang yang lo kagetin punya sakit jantung, yang ada ntar lo bisa masuk penjara."
"Iya, maaf, gue janji ini yang terakhir kalinya, Ra. Udah jangan marah lagi, ya. Buruan makan gih es krimnya nanti keburu cair."
Cara Alex merajuk sangat lucu sekali, jadi pengen gue cubit ginjalnya pakai obeng.
"Iya, gue maafin. But thanks you buat es krimnya, tau aja lo kalau lagi panas terik gini makan es krim paling nikmat melepas dahaga."
"Siapa dulu dong, Alex gitu."
Tanpa sadar aku tertawa kecil melihat tingkah Alex yang mencoba keren tapi justru terlihat imut.
"Dasar, bisa aja lo."
Kamu terlalu baik, Alex. Mungkin banyak wanita yang akan salah paham jika kamu bersikap manis seperti ini. Termasuk aku juga salah satunya.
Tidak ada pembicaraan, kita berdua kini terlalu fokus dengan es krim masing-masing.
Nikmatnya.
"Tumben lo sendirian, biasanya bareng Vania terus."
"Bosen juga kali tiap hari bareng-bareng, sesekali gue juga butuh waktu sendiri. Serius amat, gue bercanda doang kali."
"Sekarang lo udah pinter ngelawak, ya, Ra."
Hatiku berdesir tidak karuan saat Alex tiba-tiba saja mengacak rambutku sejenak. Anehnya aku tidak bisa marah, justru menikmati momen itu.
Alex banyak bercerita mengenai klub basketnya yang sedang giat berlatih, karena sebentar lagi akan ada pertandingan basket antar kampus sekota Bandung.
Aku tidak menyangka sama sekali kalau obrolan kita berdua ini nyambung satu sama lain, tidak heran jika Alex punya banyak teman karena memang daya tarik dalam dirinya sangat positif dalam mencari seorang teman.
"Kiara."
Siapa sih ganggu orang lagi ngobrol santai.
Ternyata orang itu adalah Bang Alfred. Tapi kenapa raut wajahnya seperti orang sedang menahan marah.
"Bang Alfred, ada angin apa datang kesini?"
Tumben amat dia datang ke fakultas design fashion, biasanya Bang Alfred itu paling anti kalau aku minta kesini tapi ini tanpa disuruh malah datang sendiri.
"Kenapa Bang?"
"Nanti abang jelasin di rumah, pokoknya kamu mulai hari ini juga jangan ada interaksi dengan dia."
Tunjuk Bang Alfred tepat di wajah Alex.
"Hah? Memangnya kenapa sih bang. Toh Alex juga bukan orang jahat kok," ucapku membela Alex.
Sebenarnya apa yang sedang terjadi? mengapa Bang Alfred begitu keras kepala agar aku tidak dekat-dekat dengan Alex. Padahal keduanya itu berbeda fakultas, atau ada hal lain yang tidak aku ketahui sama sekali akan seluk beluk seorang Alex Demitri.
"Padahal tinggal sedikit lagi misi berhasil. Bangs*t."
"Bang Alfred!" teriakku khawatir.
Bang Alfred tersungkur ke tanah saat dengan cepat Alex melayangkan satu pukulan tepat di wajah bang Alfred.
Aku histeris melihat pemandangan yang tidak biasa ini, Bang Alfred yang tidak terima dengan sikap kasar Alex langsung menyerang balik, kini keduanya saling baku hantam.
"Halo, Kenzo. cepat kamu datang kesini, Bang Alfred berkelahi dengan Alex."
"Kalian ada di mana?"
"Fakultas design tempat parkir."
Aku mencoba melerai mereka namun tidak berhasil karena perbedaan tenaga yang sangat jauh.
"Abang sudah berhenti! aku mohon jangan seperti ini."
Lututku lemas bagaikan tidak bertulang sama sekali, menyaksikan dengan jelas bagaimana darah segar keluar dari wajah keduanya.
"Apa yang kalian lakukan!"
Akhirnya. Akhirnya. Ada orang lewat, kini keduanya berhasil dilerai, siapa pun kalian aku ucapkan terima kasih banyak.
Hatiku meringis kesakitan, saat keduanya tergeletak di tanah. Tenaga keduanya sudah habis, Bang Alfred bahkan sudah tidak sadarkan diri sedangkan si Alex samar-samar masih bisa bicara.
"Aku minta maaf," ucap Alex lirih terdengar seperti gumaman.
Kini keduanya akhirnya dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan yang lebih baik.
"Kenzo."
Air mataku tumpah tidak terbendung lagi, saat Kenzo tiba. Kenzo dengan sigap langsung memapahku lalu menggendong tubuh mungilku yang sudah merosot ke tanah. Ku peluk Kenzo dengan begitu erat sekali, ada ketakutan dalam hatiku yang tidak bisa terucap.
Jujur saja aku itu paling takut dan lemas jika melihat sebuah perkelahian sengit seperti ini, andai saja tidak ada orang yang datang mungkin saja salah satu dari mereka akan koma atau bahkan lebih buruknya lagi ada yang mati.
"Kenzo, Bang Alfred pasti baik-baik saja kan?"
Tidak ada jawaban.
Kenzo hanya diam seribu bahasa. Diamnya Kenzo ini membuatku semakin khawatir, aku sendiri tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi tante Cathy jika tahu keadaan Bang Alfred saat ini.
^^^
Beberapa waktu yang lalu saat mereka semua sudah mendengar kabar berita tentang Bang Alfred masuk Rumah Sakit, seluruh keluarga besarku panik semua. Apalagi tante Cathy katanya sempat pingsan setelah mendengar kabar itu, dan aku juga baru tahu kalau es krim yang Alex berikan sudah dimasukkan obat bius. Memang biadab si Alex, bagaimana bisa dia punya pikiran selicik dan sekotor itu padaku. Aku pikir dia baik karena memang tulus tapi ternyata semua itu hanya dusta yang dia mainkan.
Kini kondisi Bang Alfred sudah sangat sehat dan dia sudah kembali masuk kuliah, padahal kalau dia izin juga tidak masalah.
Akibat perkelahian tempo hari yang lalu, Alex harus menerima hukuman. Dia diskors selama satu minggu lamanya dan wajib lapor ke kantor polisi setempat, karena aku tidak ingin memperpanjang masalah ini dan juga membuat malu keluarga Alex.
"Masih belum move on, kalau gue jadi lo. Gue pasti bakal jeblosin Alex ke jeruji besi penjara yang dingin."
"Awalnya juga gue berpikir seperti itu, Van. Tapi entah kenapa gue nggak bisa, terlebih lagi sebelum si Alex pingsan dia ngomong gini 'aku minta maaf' dan jujur tidak ada kebohongan yang terucap dari bibirnya."
"Bisa jadi itu cuma fake, toh kita sendiri juga paham. Manusia itu adalah makhluk yang paling susah untuk diterka."
"Aku tahu, apa yang aku lakukan saat ini."
"Tetep aja gue nggak rela, Kiara.Sahabat baik gue ini hampir jadi korban kejahatan."
Vania masih bersikukuh tidak bisa menerima semua ini dengan damai.
Tapi hati kecil ini tidak bisa berbohong. Hanya ada rasa bersalah dalam wajah Alex, aku sendiri mulai bimbang. Apakah yang Alex lakukan ini adalah murni keinginan dia atau ada ancaman dibelakangnya.
Satu pesan masuk dan ternyata itu dari Alex.
Alex : Gue ada di Kafe Amanda, samping kompleks rumah lo. Ada hal penting yang ingin gue katakan
Hal penting apa yang ingin dia katakan, jujur saja ada perasaan takut yang kini menyelimutiku.
Sebelum aku pergi kesana, aku langsung saja kirim pesan balasan, kalau aku akan pergi bersama Vania. Dan Alex menyetujui itu.
Vania terlihat bingung karena aku tiba-tiba menarik tangannya.
"Hei, Ra. Kita mau kemana?"
"Nanti juga lo tahu."
Langkah kakiku terhenti sejenak, mencari di manakah keberadaan Alex. Sebuah tangan melambai di udara, sepertinya itu Alex. Saat ini dia berpenampilan cukup mencolok, memakai masker hitam dan topi putih.
Vania yang sudah mengetahui, alasan kenapa aku mengajaknya keluar.
Tiba-tiba saja Vania berjalan mendekat ke arah Alex lalu dengan cepat menampar pipinya.
"Vania, apa yang barusan lo lakukan!"
Karena aksi Vania itu membuat kami jadi pusat perhatian pengunjung kafe.
"Tentu saja itu balasan untuk perbuatannya."
"Ya, gue memang pantas mendapatkan ini semua."
Aku coba menenangkan Vania agar lebih tenang dulu dan mendengarkan semua alasan aksi Alex padaku.
"Orange jus sama Lemon tea."
Alex bangkit dari tempat duduknya lalu memesankan minuman kami. Tidak butuh waktu lama, cukup lima menit minuman sudah jadi.
Aku sudah siap apapun yang akan keluar dari mulut Alex.
"Gue minta maaf dengan tulus atas apa yang sudah gue lakukan sama lo, Ra."
"Jangan berbelit-belit dong, langsung intinya saja."
"Van," aku menegurnya agar diam.
Beberapa kali Alex menghela nafasnya berat sampai akhirnya dia menceritakan semuanya.
Tubuhku gemetar takut karena penjelasan yang Alex berikan tidak masuk akal bagiku.
Ternyata semua ini adalah perintah langsung dari kak Candra, dia sengaja menyuruh Alex untuk melakukan aksi bejatnya itu, karena Alex mempunyai utang pada Kak Candra. Dan untuk bisa melunasi utangnya, Kak Candra menyuruh Alex memasukkan obat tidur pada es krim yang dia berikan waktu itu, setelah misinya berhasil, dia akan membawaku ke hotel yang sudah dijanjikan oleh kak Candra. Manusia terkutuk.
"Lo nggak boong kan?"
"Demi Tuhan, Van."
"Lalu dari mana Bang Alfred tahu tentang rencana lo itu?"
"Ah, waktu itu gue berpura-pura menelpon seseorang untuk melancarkan aksi bejat gue tapi jujur loh gue sangat bersyukur Alfred datang cepat sebelum obat itu bereaksi. Gue bener-bener minta maaf sama lo, Ra. Gue terlalu pengecut sampai-sampai menjadikan lo tumbal."
"Kok ada manusia sebejat itu."
Air mataku tidak bisa terbendung lagi, aku tidak tahu kesalahan apa yang sudah menyinggung hati Kak Candra. Dari mana dia mempunyai niat jahat seperti ini, padahal aku juga jarang berinteraksi dengan dia.
Vania segera merengkuh tubuhku yang bergetar.
Ini bisa menjadi pembelajaran untuk diriku, agar lebih berhati-hati dalam mencari teman.
"Gue mau pulang, Van."
"Iya, Ra."
Akhirnya aku memutuskan untuk pulang, kini tubuhku tiba-tiba saja drop.
Saat ini aku butuh ketenangan, agar imun tubuhku ini kembali normal.
^^^
Cita rasa menu restoran milik Om Radit sangat enak sekali, bahkan tidak bisa diungkapkan hanya dengan kata-kata karena enaknya benar-benar luar biasa.
Jadi pengen belajar masak langsung sama chef di sini.
Bukankah itu Kak Neill? Tapi siapa perempuan itu, dia terlihat sangat cantik sekali bak dewi-dewi, membuat siapa pun yang melihatnya akan jatuh hati dibuatnya.
Aku tersedak minumanku saat tidak sengaja melihat sebuah pemandangan bagus. Wanita cantik tersebut dengan begitu santainya memegang kedua tangan Kak Neill. lalu tiba-tiba saja mimik wajahnya berubah menjadi senduh. Kira-kira apa yang sedang mereka bicarakan. Karena terlalu penasaran, aku bagai orang idiot langsung saja pindah tempat duduk. Aku duduk tepat dibelakang mereka, untung saja posisi kak Neill tidak mengarah padaku.
"Sampai kapan kamu akan bersikap dingin seperti ini padaku, Rasya?"
"Aku akan antar kamu pulang, tidak ada hal perlu kita bicarakan lagi. Keputusanku sudah bulat tidak bisa diganggu gugat lagi."
Kak Neill kenapa deh jadi orang kok jahat kali, orang itu tanya malah jawab apa. Nggak nyambung sama sekali.
"Apa alasanmu menolakku, Rasya? Sudah lama aku menyukai dirimu tapi respon kamu biasa-biasa saja."
Kasian. Kayaknya si perempuan itu cinta mati banget sama Kak Neill. Kalau aku jadi tuh cewek, lebih baik mundur teratur deh. Toh masih banyak laki-laki diluar sana yang mungkin lebih baik dari Kak Neill.
"Dari awal aku tidak pernah menganggapmu itu lebih dari teman, Clara. Maaf, jika perlakuanku padamu membuat salah paham selama ini."
Astaga, sakit banget tuh pasti. Doi cuma dianggap friendzone doang.
"Dasar brengs*k."
Suara tamparannya keras banget. Itu pastnyai sakit banget sampai. Seperti apa ekspresi kak Neill saat ini, aku jadi sedikit khawatir.
Aku langsung saja pura-pura membaca menu, saat wanita itu pergi meninggalkan meja, toh jelas sekali kalau dia sakit hati begitu dalam. Tapi terkadang ada banyak manusia yang suka salah paham, orang baik sedikit kadang dianggap ada perasaan lebih padahal pada dasarnya memang orang yang bersangkutan itu baik kepada siapa pun.
Aku yang terlalu fokus dengan jalan pikiranku sampai tidak menyadari bahwa Kak Neill sudah beranjak dari tempat duduknya. Dan benar saja, kedua kalinya aku tertangkap basah olehnya.
"Sepertinya hari ini kamu mendapatkan berita besar, tidak baik menguping pembicaraan orang lain."
"Enak aja. Aku tidak ada niatan tuh buat menguping pembicaraan kalian, hanya saja nada bicara kalian terlalu keras mau tidak mau telingaku merespon."
"Benarkah? Bukan, ya, kamu sengaja pindah tempat duduk dari ujung ke ujung lagi."
Kok dia tahu, perasaan daritadi kak Neill tidak pernah melihat kebelakang.
Aku malu banget karena sudah ketahuan menguping pembicaraan orang lain, aku mencoba mengalihkan perhatian Kak Neill agar tidak menginterogasi diriku.
"Astaga, Kak Neill itu ada darah."
Karena terlalu panik melihat bercak darah di pipi Kak Neill, aku sampai hilang keseimbangan dan jatuh tepat di dada bidang kak Neill.
"Hanya luka kecil, kamu tidak perlu khawatir."
Bohong kalau aku tidak khawatir.
"Jangan menganggap hal ini sepele Kak Neill, kalau infeksi bagaimana coba. Lebih baik kita obati luka kakak sekarang. Kotak P3K ada di mana?"
Bukannya memberi tahu di mana letak P3k, Kak Neill justru membawaku entah kemana. Aku mengikutinya dengan tenang tanpa mencoba membantah.
Ternyata telapak tanganya besar dan juga hangat.
"Kamu tunggu di sini sebentar, Kakak akan ambilkan obatnya."
"Baiklah."
Sambil menunggu Kak Neill, aku melihat-lihat sejenak isi ruangan ini.
Langkah kakiku terhenti saat melihat satu frame foto yang tidak asing. Aku ingat sekarang kalau itu adalah fotoku waktu masih kecil saat umur tujuh tahun, dan seorang anak laki-laki dengan seragam SMP yang sedang menggendongku, wajahnya sekilas mirip Kak Neill. Memang sudah tampan sejak dini, kalau tidak salah foto ini diambil saat aku terus merengek minta digendong Kak Neill yang saat itu baru saja pulang dari sekolah.
"Aku tahu, kalau aku tampan."
"Huaa."
Kenapa selalu ngagetin sih, aku sampai jantungan dibuatnya.
"Issh, kenapa sih kakak hobi sekali bikin jantungan."
"Kamu itu lucu kalau lagi marah seperti Hamtaro."
Hamtaro? Sepertinya tidak asing nama itu. Astaga, itukan panggilan nama kecilku. Ternyata Kak Neill masih mengingatnya.
"Apaan sih," ucapku malu, "mana kotak P3Knya."
"Ini."
Kak Neill dengan tenang duduk diam saat aku coba membersihkan lukanya dengan alkohol.
"Siapa perempuan tadi."
"Dia Clara, salah satu wanita yang Bunda jodohkan denganku."
"Oh."
"Kamu tidak cemburu?"
"Buat apa aku cemburu, memangnya aku ini siapa. Lagipula aku sudah menganggap Kak Neill seperti kakak kandung sendiri jadi..,"
Belum selesai aku mengobati lukanya itu, Kak Neill tiba-tiba beranjak berdiri.
Ada apa dengannya?
"Terima kasih karena sudah mengobati lukaku, lebih baik kamu pulang."
"Tapi aku belum selesai," Kak Neill kenapa sih, buat aku bingung dengan sikapnya.
"Aku bisa sendiri."
Tuh kan, memang ada sesuatu yang aneh. Tapi aku tidak tahu, perkataan atau perbuatan apa yang sudah menyinggung hatinya. Aku diusir dengan tidak penuh perasaan, bahkan Kak Neill tidak mengucapkan satu patah pun.
Menyebalkan.
"Kak Neill kenapa sih?" teriakku dari balik pintu tapi tidak ada jawaban sama sekali.
Kok kesel sendiri jadinya, berasa pasangan kekasih yang lagi berantem gara-gara orang ketiga.
Ya sudahlah, mungkin Kak Neill lagi banyak pikiran jadi emosian begitu, lebih baik aku pulang sekarang.
^^^
Jangan lupa untuk komen dan like
New Taipei, 21 April 2020