My Lecturer My Husband

My Lecturer My Husband
My Lecturer My Husband 03



Selamat Membaca


.


.


Hari ini kampus sedang mengadakan bazaar selama dua hari. Tahun ini bazaar jauh lebih ramai daripada tahun sebelumnya, sekarang stand produk yang jual lumayan banyak dan aku sama seperti biasa hanya menjadi tukang borong. Karena aku sendiri kurang pandai berjualan atau menawarkan barang seperti para sales.


Berbagai macam stand yang dijual, produk pakaian, makanan dan lainnya.


Bingung mau beli apa dulu, jadi aku asal aja masuk salah satu stand yang menjual minuman.


"Van, gue pesen es campur tanpa roti. Lo tunggu di sini bentar, gue mau beli camilan dulu."


"Sip, kalau ada yang jual cilok, beliin dua porsi buat gue terus sambal pisah."


"Beres."


Semuanya tampak menggugah selera, sampai rasa- rasanya aku ingin borong semua.


Hhm, wangi sekali aromanya, ayam goreng srundeng boleh juga sebagai teman minum es campur.


"Eh, Ra. Mau pesen apa?"


"Dua potong sayap sama paha satu, tahun ini jualan makanan lo, Rani."


"Siap, sesekali cari inovasi yang baru dong. Apalagi makanan begini paling disukai sama orang-orang. Mana Vania, biasanya nggak pernah pisah tuh anak."


Bukan lagi menjadi rahasia umum penghuni kampus, kebanyakan dari mereka yang kenal aku pasti hapal dengan keseharianku yang kemana-mana selalu saja dengan Vania. Kadang kala kami dipanggil Upin Ipin, emang ada-ada saja pikiran mereka.


"Ini, Ra. Semuanya jadi lima belas ribu."


"Rani, lo tahu nggak di mana stand yang jual cilok?"


"Bentar gue tanya dulu sama Nando."


Rani segera menghampiri partnernya yang sedang sibuk menggoreng ayam.


"Katanya lo lurus aja terus belok kiri, disekitar situ ada yang jual cilok."


"Oke, thanks."


"Sama-sama, Kiara."


Seperti yang Rani arahkan, ternyata memang benar adanya yang jualan cilok. Tidak ingin membuat Vania menunggu lama, aku segera memesan empat porsi cilok. Dua porsi cilok untuk Vania dan dua lagi untuk papah mamah aku.


Baru juga ditinggal beberapa menit, stand es campur sudah penuh saja, sampai pada antri. Untung aku gerak cepat tadi, jadi masih bisa kebagian tempat duduk.


"Pesenan lo dua porsi cilok."


"Thanks, Ra. Ini es campur punya lo, buruan disantap mumpung masih belum cair amat."


"Iya."


Nikmat sekali rasanya, es campur dan ayam goreng menambah nikmat suasana menjelang petang.


Matahari sudah mulai terbenam, lampu-lampu stand sudah menyala bergantian. Keadaan saat ini sudah mirip dengan pasar malam, semakin ramai suasana.


Sudah kenyang, saatnya berburu yang lain.


"Lima ribu tiga, lima ribu tiga. Dicoba, dicoba."


Akhirnya karena terpincut, aku beralih ke permaian air tembak. Yang mengenai target kaleng didepan akan mendapatkan satu boneka sebagai hadiahnya. Aku langsung saja membeli lima belas peluru sekaligus biar puas mainnya.


"Banyak amat lo beli pelurunya, Ra. Gue cuma bisa kasih lo semangat biar uang lo nggak kebuang sia-sia."


"Santai aja kali, Van. Itung-itung lagi latihan tembak aja biar sensasinya beda."


Dor..dor..


Sudah sepuluh tembakan namun tidak ada satu pun yang berhasil mengenai kalengnya, kini tinggal lima peluru lagi. Ternyata sedih juga sih kalau nggak bisa satu saja mengenai target.


Sekarang tinggal dua peluru lagi, semoga berhasil.


Fokus, harus fokus.


"Kalau seperti itu kuda-kudamu sampai kapan pun tidak akan mengenai target."


Dor..


Satu peluru tiba-tiba lepas kendali karena aku hilang kesadaran beberapa saat.


Sejak kapan Kak Neill datang, aku sampai tidak sadar akan kehadirannya. Dengan santainya sudah berdiri dibelakangku sambil mengangkat pistol itu, tangan kekarnya sangat kuat sekali menyentuh pergelangan tanganku. Pantas saja dia tadi menegurku karena salah posisi, sejak kecil Kak Neill sudah mengetahui cara menembak yang baik dan benar sesuai dengan pengajaran yang Om Radit berikan.


"Fokus."


Mendengar suaranya bagaikan sebuah magnet, tidak bisa membantahnya sama sekali.


"Angkat sedikit tanganmu, lalu fokuslah pada target yang ingin kamu bidik."


Peluru air berhasil mengenai salah satu kaleng.


"Aku berhasil. Lihat, Kak, aku berhasil melakukannya."


"Iya."


Karena terlalu gembira dengan hasil yang baru saja aku dapatkan, aku seperti orang bodoh langsung memeluk tubuh Kak Neill refleks. Saat sadar dengan perbuatanku, aku langsung melepaskan pelukannya lalu kabur untuk mengambil hadiah.


"Selamat, ini hadiah atas kerja keras Anda."


Hamtaro? Entah sebuah kebetulan atau apa, aku mendapatkan boneka kecil karakter Hamtaro. Apa mungkin takdirku tidak jauh dengan hewan mungil pemakan biji-bijian itu.


"Gila, gue sampai speechless liat lo langsung peluk Pak Rasya. Ngomong-ngomong kenapa lo tadi panggilnya Kak Neill, sebenarnya siapa dia."


"Nanti pulang gue ceritain sama lo. Tadi banyak yang liat nggak sih gue peluk Kak Neill, gue takut bakal jadi gosip. Apalagi status Kak Neill kan dosen baru."


"Lo tenang aja, Kiara. Orang-orang nggak ada yang ngeh kalau itu Pak Rasya. Doi malam ini kelihatan lebih casual macan gaya anak muda apalagi pakai topi. Coba liat deh."


Si Vania sejak kapan ambil momen aku dan kak Neill tadi.


"Hapus dong, Van."


"Nggak mau, week."


Emang bangsul banget tuh anak satu, dia kabur saat aku minta untuk hapus itu foto. Aku takut foto itu jadi musibah dikemudian hari, yang bisa mengantarkan aku ke jurang yang tinggi.


Gila, ya, larinya cepet banget lagi. Lari kemana lagi tuh anak.


Karena terlalu fokus dengan Vania, aku sampai lupa akan keberadaan Kak Neill. Kak Neill sekarang ada di mana? Aku takut di sini sendirian, apalagi posisiku lumayan jauh dari stand bazaar.


"Siapa di sana!"


Aku tidak sedang berhalusinasi, aku tadi sekilas lihat sebuah bayangan lalu menghilang dibalik tembok itu, arah menuju laboratorium.


"Vania. Kak Neill. Sumpah ini nggak lucu sama sekali, keluar kalian semua. Vania. Kak Neill, kalian ada di mana? jangan menakuti aku seperti ini dong."


Suara ku mulai bergetar takut, ku percepat langkah kakiku menuju keramaian tapi rasanya berat sekali hanya untuk melangkah saja.


Aku harus menelpon seseorang, aku takut.


Vania, ku mohon angkat teleponnya. Sial, nggak ada jawaban. Aku beralih menelpon Kenzo tapi sama saja tidak ada jawaban.


Jantungku berdegup sangat cepat sekali saat suara langkah kaki itu berjalan semakin mendekat.


"Siapa kamu?!"


"Jangan mendekat atau aku teriak."


Aku tidak paham sama sekali akan situasi ini, kenapa banyak sekali orang-orang yang membenciku dan mencoba mencelakai aku.


Pencahayaan yang remang-remang membuat orang itu tidak terlihat begitu jelas, aku memberanikan diri menyalakan senter hp dan mengarahkan ponselnya tepat pada wajah orang itu. Gerakan tangannya saat merebut hp milikku sangat cepat sekali sehingga aku tidak sempat melihat wajahnya.


"Tolong, jangan sakiti aku. Aku mohon."


"Tidak. Tidak. Jangan mendekat. Aakhh.."


Aku tidak tahu apa yang akan terjadi nanti, karena tiba-tiba saja kesadaranku mulai hilang saat orang itu membekap mulutku dengan sapu tangan.


Apa ini akan menjadi akhir hidupku?


^^^


Apa yang sebenarnya terjadi, kenapa kedua tangan dan kakiku terikat seperti ini, apakah sekarang ini aku menjadi korban penculikan atau bisa jadi ini sindikat perdagangan manusia. Tidak. Itu tidak mungkin.


Papah, Mamah, Kenzo, tolong selamatkan aku. Aku takut di sini.


Aku terus mencoba untuk membuka ikatan tanganku tapi tidak berhasil, cara penjahat itu mengikat kedua tanganku cukup rumit dan sangat kencang. Tapi aku tidak boleh menyerah begitu saja, aku telah berusaha sebisa mungkin melepaskan semua ini. Tetap saja ini tidak berhasil, bahkan gigiku rasanya mau copot saat mencoba membuka ikatan talinya.


Di saat aku sudah berputus asa akan usahaku untuk melepaskan ini, tiba-tiba saja telingaku menangkap sebuah suara langkah kaki. Aku memfokuskan arah pandanganku kedepan, namun yang terlihat hanya siluet bayangan hitam. Semakin dekat langkah kaki itu menujuku, semakin jelas pula siapa rupa penjahat itu.


"Siapa kamu!?"


"Siapa aku? Itu semua tidak penting."


Aku tidak tahu siapa orang dibalik topeng monyet itu.


"Jangan mendekat."


Aku menjerit sangat keras sekali, saat tangan kotor miliknya menyentuh rambutku lalu turun ke leher. Aku terus meronta sekuat tenaga, aku merasa sangat jijik sekali. Aku jijik ketika tangannya itu kembali berulah. Kali ini dia mengangkat sedikit baju yang aku pakai, hingga perut rataku terekspos dan dia dengan begitu santainya mengelus perutku sensual. Batinku terus berontak tapi aku tidak bisa menahan desahanku.


Aku benar-benar sudah kotor.


"Suaramu membuatku semakin liar, aroma tubuhmu bagaikan candu yang memabukkan."


Tidak. Jangan lakukan itu, aku mohon hentikan.


Otakku kembali berontak saat dia mulai melancarkan aksinya yang ingin mencoba menyentuh kedua bukit milikku. Aku sangat frustasi dan bingung tahu harus berbuat apalagi, dengan sisa keberanian yang ada, aku langsung membenturkan kepalaku cukup keras. Akhirnya usahaku tidak sia-sia, dia menghentikan aksinya.


"Jangan coba sentuh aku dengan tangan kotormu itu, dasar bajing*n!!"


"Lumayan sakit juga," paparnya sambil mengelus pipi aku, "jangan takut, aku akan membalas kesakitan ini dengan kenikmatan yang tidak pernah kamu alami sebelumnya. Bersiaplah, sayang."


Cuuhh..


Aku meludahinya walaupun caraku tidak berhasil mengenai wajahnya langsung karena topeng sialan itu.


Dengan kasar dia mencengkeram wajahku, saat aku diambang kesakitan yang luar biasa. Ekor mataku tidak sengaja melihat sebuah gambar tato di lengan kirinya yang berbentuk seekor kera dalam lingkaran.


Siapa dia sebenarnya, lalu apa motifnya melakukan ini semua padaku. Apakah dia itu psikopat stadium akhir yang terobsesi pada hal-hal yang berbau sex.


"Huaa."


Aku histeris ketakutan karena dia mulai melancarkan aksinya lagi, kini aku tidak bisa lagi berteriak karena orang itu langsung membekap mulutku pakai lakban.


Dengan kasar dia membaringkan tubuhku keatas tanah dan mengunci kedua kakiku dengan cara ditindih, kini kedua tanganku diangkat keatas kepala.


Aku menangis membayangkan nasibku kini dan juga nasib para wanita yang menjadi satu dari banyaknya korban pemerkosaan diluar sana. Siapa pun mereka pastinya tidak ingin menjadi korban bejat kejahatan seksual. Jika ada pilihan lain, mungkin kematian jadi pilihan terakhirku daripada kesucian direbut dengan cara yang menghinakan seperti ini.


Tuhan, tolong selamatkan aku dari penderitaan ini. Ini benar-benar menyakitkan batin.


Kak Neill, kamu di mana? aku takut, sangat takut. Kak Neill.


Air mataku jatuh tak tertahan lagi, ketika bedebah itu berhasil membuka besi pengkait pakaian dalamku.


Rasanya mau mati saja, jika akhir dari hidupku begitu memilukan seperti ini.


Aku sudah pasrah lahir batin jika ini jalan takdir yang Tuhan berikan, terhina dalam sebuah kesalahan yang tidak pernah aku lakukan.


Di saat aku sudah tidak berdaya lagi, tiba-tiba saja penjahat itu menghentikan aksinya lalu kabur begitu saja bagaikan anak panah yang melesat dari busur.


"Kiara, kamu di mana? Kiara."


Aku ingat pemilik suara ini. Sangat jelas sekali kalau itu suara Kak Neill. Akhirnya Sang Pencipta Alam kini mengabulkan doaku.


"Kiara, Kiara, jawab aku. Kamu ada di mana?"


Aku di sini, Kak. Aku di sini dibalik tembok.


Aku memberikan kode kepada Kak Neill dengan cara menghentakkan kakiku ke tembok, semoga saja ini berhasil.


"Kiara," teriak Kak Neill setelah menangkap kode yang aku berikan.


Kak Neill dengan cepat membuka semua ikatan tali dan pelan-pelan melepaskan lakban. Aku langsung saja memeluknya begitu erat, seolah dunia ini akan hancur jika aku tidak segera memeluknya.


"Huaa, aku takut, Kak. Sangat takut."


"Kamu aman sekarang, ada Kakak di sini."


Tangisanku pecah juga, aku tidak bisa berkata-kata apalagi selain menangis dan terus menangis selama Kak Neill mencoba menenangkan aku.


Dengan gentle Kak Neill memberikan jaketnya lalu menutupi tubuhku yang sebagian pakaiannya sudah terkoyak.


"Jangan takut. Kakak sudah ada di sini, semua akan baik-baik saja."


Kak Neill segera menggedongku ala bridal style, aku eratkan pegangan tanganku pada lehernya.


Rasa ketakutan itu belum juga hilang, tapi satu yang pasti hatiku mulai sedikit tenang dan merasa aman jika sudah di dekat Kak Neill.


Aroma wangi parfum mint membuatku lebih tenang dan rileks.


"Untuk malam ini, kamu sementara menginap dulu di apartemen kakak. Maafkan Kakak, Ra. Maaf, karena kakak sudah datang terlambat. Seumur hidup kakak tidak akan memaafkan diri ini yang sudah teledor meninggalkan kamu sendiri."


"Jangan bicara seperti, Kak. Aku bersyukur Kak Neill datang dengan cepat, aku tidak akan memaafkan dia jika aku tahu siapa pelakunya."


"Kamu tidak perlu khawatir, Kiara. Aku pastikan akan menangkap pelakunya. Istirahatlah, aku tidak ingin kamu sakit."


"Iya."


Mataku perlahan mulai terpejam, tapi aku masih bisa merasakan sentuhan kulit lembut bibir Kak Neill saat mencium keningku.


Akhirnya kita sampai di tempat parkir, aku beruntung karena tidak ada orang di sini.


Kak Neill menyuruhku untuk duduk di depan supaya bisa setiap saat mengecek kondisiku selama dalam perjalanan.


"Tidurlah, nanti aku akan bangunkan jika kita sudah sampai."


"Iya. Terima kasih karena sudah menjadi penyelamat hidupku."


"Sama-sama. Bagiku kamu adalah hidupku dan juga nafasku."


Aku tidak mendengar begitu jelas apa yang Kak Neill katakan, mataku sudah lelah sekali terlebih fisik dan batinku masih terguncang.


Aku berharap ini adalah terakhir kalinya penderitaan yang ku alami. Semoga saja.


^^^


Jangan lupa untuk komen, like dan follow


New Taipei, 22 April 2020


Kiara Randolph Abiansyah