
Selamat Membaca
.
.
Kehidupan yang baru akan segera dimulai, semua kembali normal seperti sedia kala. Akhir dari kasus berdarah itu, pengadilan memutuskan bahwa Pak Bambang telah dinyatakan bersalah karena bekerja sama menyembunyikan kejahatan anaknya sendiri. Akibatnya beliau dijatuhi hukuman maksimal lima tahun penjara dan denda uang senilai seratus juta rupiah yang akan diserahkan kepada keluarga Sinta korban pemerkosaan dan pembunuhan disengaja.
"Kiara."
"Hoi, Van. Buruan kita berangkat, hari ini mata kuliah Kak Neill."
"Seriusan lo. Bukannya jadwal beliau nanti jam satu kenapa jadi pagi."
"Mana gue tahu, emangnya gue pacarnya apa."
"Ngarep banget lo, paling juga Pak Rasya diem-diem udah punya cewek."
"Sok tau banget lo, Van. Buruan naik, gue tinggal nih."
Ngaco banget sih Vania. Memang siapa perempuan yang mau sama Kak Neill. Pria dingin yang terkadang mendadak melankolis itu.
Aku dan Vania sudah kembali akur seperti dulu lagi, semua rasa kecewa dan marah sudah hilang bagai ditelan bumi.
"Van, lama amat bawa motornya?"
"Lo nggak liat apa didepan lagi macet gara-gara ada kecelakaan."
"Kalau kita berdua terlambat, pokoknya lo yang harus tanggung jawab."
"Enak aja lo, namanya musibah kan nggak ada yang tahu. Noh liat kan, jalanan baru bisa dibuka pas polisi dateng."
"Iya, bawel."
Akhirnya kita bisa lolos juga.
Sepuluh menit perjalanan menuju kampus, sekarang waktunya untuk masuk kelas. Baru saja aku dan Vania ingin masuk kelas tiba-tiba saja terdengar suara seseorang.
Hah? Aku melongo melihat Kak Neill tengah berjalan ke arah kita berdua.
"Siapa yang mengizinkan kalian masuk."
Apa? Kenapa Kak Neill sudah datang terlebih dahulu bukannya masih ada waktu dua menit lagi saat mata kuliahnya dimulai.
"Kenapa malah bengong, silakan kalian belajar diluar. Saya sudah pernah bilang tidak akan memberikan toleransi bagi siapa saja yang tidak patuh."
"Tapi, Pak, masih ada waktu sekitar dua menit lagi kelas bapak mulai?"
"Berani kamu membantah saya, belajar diluar atau saya kurangi poin kamu pada mata kuliah saya biar tidak lulus."
Dasar menyebalkan. Dia itu pasti sengaja melakukan ini, pengen aku smackdown tapi aku sadar dengan fisik sendiri. Mau tidak mau aku dan Vania keluar dan menunggu sampai mata kuliah berakhir.
"Sumpah ya, gue syok sama tingkat kedisiplinan Pak Rasya. Lebih killer daripada Ibu Anita."
"Apalagi gue."
"Bukannya merenungi kesalahan kalian malah enak bergosip, apa mau saya tambah hukuman kalian ini?"
"Maaf, Pak."
Asem bener dah. Itu telinga punya antena apa ya, tajam bener pendengarannya.
Malu banget jadi bahan tontonan anak-anak lain. Duh pengen aku jambak rasanya Kak Neill sampai botak.
Aku dan Vania tetap menyimak semua materi yang Kak Neill berikan tidak tertinggal satu pun. Akhirnya mata kuliah Kak Neill sudah selesai, kini aku bisa segera masuk kelas.
Terdengar jelas suara langkah kaki Kak Neill, berjalan keluar kelas.
"Masuk kalian berdua."
"Baik, Pak."
Firasat aku nggak enak.
"Perhatian untuk semuanya, jangan tiru sifat malas mereka berdua ini. Saya hari ini cukup baik kepada kalian berdua, Kiara dan Vania."
Baik pala bapakmu gundul.
"Kalian itu sudah harus ada di kelas lima menit lebih awal saat mata kuliah saya. Bisa dimengerti?"
"Mengerti, Pak."
"Ini juga peringatan terakhir untuk Kiara."
"Kok cuma saya sendiri, Pak. Kenapa Vania nggak ikut."
"Berani kamu membantah saya lagi, kamu itu paling sering membelot pelajaran saya. Jadi ini peringatan terakhir untuk kamu, jika masih saja seperti ini terus dikemudian hari. Kamu akan mengulang mata kuliah saya di semester depan."
Ingin ku sentil bibirnya pakai linggis.
"Baik, Pak. Saya berjanji tidak akan mengulangi lagi."
"Kembali ke tempat duduk kalian, mata kuliah hari ini cukup sampai di sini."
Terima kasih Tuhan, akhirnya dosen killer itu pergi juga.
Vania bahkan tidak mampu berkata apa-apa lagi padahal Kak Neill sudah pergi jauh.
"Si Kiara langganan amat kena omel Pak Rasya."
"Jodoh kali."
"Sembarangan lo berdua kalau ngomong, lo sendiri betah nggak kalau nikah sama Pak Rasya nanti?"
"Gila aja lo, Ra. Pak Rasya emang ganteng maksimal tapi dia itu ggs."
Istilah apalagi itu.
"Maksud lo apaan ggs?" Tanya Dewi yang duduk didepan.
"Ganteng-ganteng sangar, coy."
"Hahaha.."
Aku dan seluruh isi kelas tertawa mendengar istilah panggilan dari Farah. Itu anak emang paling bisa bikin ungkapan-ungkapan aneh. Harusnya dia itu masuk jurusan Sastra bukan Fashion.
"Woi, Van. Pucet amat muka lo."
"Nahan boker kali, Far."
"Berisik ya lo pada. Gue masih syok ini."
Si Vania apa nggak berlebihan, aku saja yang sudah terbiasa sama sikap tengil Kak Neill biasa-biasa saja tuh.
"Si Kiara langganan amat kena omel Pak Rasya." "Jodoh kali."
Kenapa tiba-tiba aku teringat ucapan mereka berdua, tidak mungkin aku jatuh hati pada Kak Neill. Aku kan sudah berikrar kalau hubunganku dengan Kak Neill itu tidak lebih dari kakak adik. Iya, tidak lebih dari itu.
^^^
Kuliah hari ini lebih cepat selesai dari hari biasanya karena seluruh dosen sedang rapat dadakan. Karena masih terlalu siang pulang ke rumah, ku memutuskan untuk pergi ke Fakultas Ekonomi tempat Bang Alfred. Saat menuju perjalanan kesana, diriku tidak sengaja melihat Kak Neill sedang ngobrol begitu akrab sekali dengan seorang wanita yang aku prediksi, dia sebaya dengan Kak Neill. Atau mungkin bisa jadi wanita itu adalah kekasih Kak Neill.
Akrab banget, pakai acara elus-elus rambut segala, mereka itu apa nggak malu melakukan hal romantis di area Kampus.
Mood aku tiba-tiba anjlok, aku tidak jadi ke Fakultas Ekonomi lebih baik aku pulang saja tidur siang.
Baru saja aku hendak pergi meninggalkan tempat, seseorang dari kejauhan memanggil namaku begitu lantang. Siapa dia?
"Ini beneran Kak Kiara kan, anak Fashion?"
"Iya, ada apa ya?"
Lucunya, jadi gemes pengen cubit pipi chubby dia.
"Salam kenal, Kak. Namaku Ailanna anak Kedokteran, aku ini fans kakak."
Hah?
Ini anak pasti lagi ngelantur ya, apa coba yang buat dia nge-fans sama aku. Bahkan ini pertama kalinya aku melihat batang hidungnya. Terlebih lagi jarak antar fakultas lumayan jauh sekitar lima puluh meter, dia malah nyasar ke fakultas ekonomi.
"Kamu ada-ada aja, dek. Kakak bukan artis, lebih baik kamu belajar dengan rajin."
"Aku berkata jujur kok, aku memang fans kakak."
"Oke, kalau bener kamu itu fans aku. Hal apa yang membuat kamu suka dari aku?"
"Karena kakak cantik dan baik hati, mungkin saja Kak Kiara sudah lupa. Waktu itu, saat aku masih menjadi maba pernah kena omel senior buat keliling lapangan sampai sepuluh kali putaran, tiba-tiba kakak datang terus adu mulut sama itu senior, akhirnya aku hanya mendapat hukuman lari satu putaran. Inget nggak?"
Bentar, deh. Kayaknya aku sudah inget siapa bocah ini.
"Kamu yang waktu itu dihukum lari keliling lapangan, gara-gara kamu sengaja menumpahkan minuman pada Manda."
"Waktu itu kecelakaan, bukan aku sengaja melakukan itu. Tapi senior Manda justru marah-marah, padahal aku sudah bilang akan ganti rugi."
"Begitu toh. Tapi aku hargai pilihan kamu menjadikan aku idolamu. Ngomong-ngomong kamu kenapa bisa ada di area Fakultas Ekonomi?"
"Oh, itu. Aku kesini mau ketemu sama kakak aku."
Ternyata dia punya kakak toh, tak kirain aku dia ada gebetan di sini. Pikiranku sudah berburuk sangka saja.
"Itu kakak aku, namanya Susan."
Bukankah dia itu yang beberapa waktu lalu sedang asyik mengobrol dengan Kak Neill.
Siapa dia sebenarnya, sosoknya tidak begitu familiar.
"Mba Susan, ini kak Kiara."
"Susan."
"Kiara."
Lembut banget kulit tangannya, selembut pantat bayi.
Karena hari ini Vania ada seminar, alhasil aku pulang sendirian. Kantin dulu aja deh, perutku tiba-tiba saja pengen makan mie ayam Mang Said.
Kantin lumayan rame sampai aku harus antri untuk dapat giliran. Hampir sepuluh menit lamanya diriku ini menunggu giliran, kini mie ayam Mang Said sudah ada di tangan. Belum juga sempat aku mencicipi mie ayamnya, ponselku berdering.
Nomor tidak dikenal. Nomor siapa sih padahal sudah aku reject sampai tiga kali tetap saja miscall.
"Maaf, ini siapa?"
"Ke ruangan saya sekarang."
Dari suaranya kayaknya aku kenal.
"Nggak mau, aku udah pulang ke rumah tuh. Ngapain juga aku kesana."
"Pinter bohong ya sekarang, selesai makan mie ayam segera ke ruanganku."
Kok Kak Neill tahu aku lagi makan mie ayam di kantin kampus. Masa iya, dia sampai sedetail itu diam-diam memperhatikan gerak gerikku. Macam aku ini maling ayam yang tertangkap basah kamera cctv.
"Iya. Bye."
Bodo amatlah kalau nggak sopan, siapa suruh dia menganggu aku yang sedang menikmati indahnya hidup. Padahal tadi pagi bikin orang jengkel setengah mati, sekarang tiba-tiba menyuruh aku untuk datang ke ruangannya.
Aku lama-lamain saja makan mie ayamnya, biar tahu rasa tuh kak Neill.
"Diberitahukan bagi mahasiswi yang bernama Kiara Randolph Abiansyah agar segera menemui saya di ruangan. Saya beri waktu lima menit untuk segera datang kemari, jika tidak muncul batang hidungnya akan saya beri hukuman."
Dasar sinting. Kak Neill memang sudah gila, kenapa harus pakai acara penyiaran segala sih. Bikin malu saja, mana pada liatin aku lagi. Tentu saja mereka tahu siapa aku, sejak kasus penyanderaan itu aku mendadak populer.
"Kiara Randolph Abiansyah segera ke ruangan saya."
"Berisik!!!" Teriakku emosi.
Harusnya aku tidak cari gara-gara sama Kak Neill, dia itu kalau sudah bilang A tetap A nggak bisa diganggu gugat lagi. Tidak ingin menjadi bulan-bulanan, aku langsung saja menghabiskan mie ayamnya, macam orang nggak makan dua hari lamanya. Masa bodo sama namanya menjaga image, orang image aku saja sudah tercoreng gara-gara mulut mercon Kak Neill.
^^^
Makan malam untuk syukuran Kenzo sudah selesai, semuanya terlihat senang dan bahagia. Anak-anak panti juga terlihat senang sekali saat mereka makan pizza, ada perasaan sedih melihat keadaan mereka yang baru pertama kali mencoba makan pizza. Di sisi lain aku merasa sangat bersyukur terlahir dari kedua orang tua yang berkecukupan.
Sedangkan Om Radit masih di sini, beliau masih ingin mengobrol banyak dengan Papah dan yang lainnya.
"Kiara, toilet sebelah mana?"
"Kak Marsha lurus aja terus belok kanan, kalau ada orang didalamnya pakai toilet kamar aku juga nggak apa-apa kok."
"Oke, Ra.
Masih saja tidak pernah berubah sejak dulu, dia suka sekali mencium pipiku. Memangnya pipi aku permen yupi apa.
Aku yang sedang fokus menyiapkan buah-buahan untuk pencuci mulut, dikagetkan oleh kehadiran seseorang.
"Ada yang bisa aku bantu?"
"Kalau tidak keberatan, tolong bawakan buah ini ke depan, aku mau potong-potong Semangka dulu."
"Iya."
Pribadinya yang lembut memang sangatlah cocok dengan Kak Neill, saling melengkapi satu sama lain. Jika mereka menikah nanti, anak keturunannya pasti serbuk berlian. Tidak ada kecacatan pada wajahnya, asal sifat jelek bapaknya itu tidak menurun kepada anak-anaknya.
Berat juga ini Semangka.
"Aw.." lirihku tidak sengaja tergores pisau buah.
Jari telunjuk aku tergores cukup dalam hingga darah bercucuran mengotori lantai dapur.
"Dasar ceroboh."
"Kak Neill?"
Aku hanya diam membisu, tidak memberontak atau membantah ucapan Kak Neill.
Kak Neill dengan sigap mengisap jari telujukku yang terluka.
"Cuci bersih dulu setelah itu obati dengan betadine."
"Rasya, tadi aku dengar teriakan. Apa yang terjadi?"
Kok nyebelin sih, tiba-tiba dateng padahal aku teriak juga nggak kenceng.
"Kiara terluka, tolong kamu obati dia. Biar aku yang potong Semangka itu."
"Iya. Kiara, di mana kotak P3K?"
Kesal dengan sikap Kak Neill, aku jadinya males mau ngapa-ngapain.
"Ini hanya luka kecil, biar aku sendiri yang obati."
Dasar Kak Neill jahat, aku benci dia. Dasar om-om genit. Menyebalkan.
Kiara, kamu itu nggak ada hak untuk marah. Toh dari awal kamu sendiri yang sudah mencampakkan Neill, kenapa sekarang merasa kesal padahal tidak ada hubungan yang spesial diantara kalian.
Aku langsung kabur begitu saja, bodo amat kalau ini nggak sopan.
"Menyebalkan. Dasar jahat, jahat."
"Berisik. Kakak kalau lagi galau, sana masuk kamar sendiri jangan di kamar Kenzo. Aku itu mau istirahat, capek tau."
"Iya, iya. Selamat malam adikku tercinta."
"Stop."
Kenzo dengan sigap langsung menahanku yang ingin mencium keningnya seperti biasa. Kenapa semua orang akhir-akhir ini bikin emosi jiwa.
Ada apa dengan hari Rabu? Kenapa nasibku terasa terombang ambing bagai bui di lautan yang luas.
Awalnya aku ingin masuk ke kamar untuk istirahat tapi tidak jadi, akhirnya aku lebih memilih jalan-jalan di sekitar taman belakang. Baru aku sadari, ternyata taman belakang rumah kalau malam hari sangatlah indah sekali apalagi sinar lampu yang warna-warni. Aku begitu menikmati semilir angin malam, rasanya pikiranku lebih rileks dan tenang. Jadi ngantuk, tidur bentar di ayunan kayaknya enak.
"Angin malam tidak baik untuk tubuh."
"Kak Neill."
Kak Neill tanpa permisi padaku langsung saja duduk disampingku lalu melepaskan jaketnya lalu menutupi tubuhku agar tidak masuk angin.
"Ngapain kakak di sini, nanti ada yang salah paham lagi."
"Kenapa? Kamu cemburu?"
"Siapa juga yang cembu.."
"Apaan sih!" dengan kasar aku mendorong tubuh Kak Neill.
Lagi-lagi Kak Neill bertindak sesuka hatinya sendiri. Dia tiba-tiba saja mencium bibirku kilat.
"Apa yang baru aja Kakak lakukan, aku nggak suka."
"Apa kamu yakin dengan kata-katamu itu?"
Aku berdiri dihadapannya dengan sombong.
"Please, stop, Kak. Jangan buang waktu Kakak untuk memikirkan perasaanku kalau aku sendiri pun tidak pernah memikirkan perasaan Kakak."
"Jika itu yang terucap dari lubuk hatimu, mulai detik ini aku tidak akan memikirkan kamu ataupun peduli dengan kehadiranmu. Anggap saja tidak pernah ada pertemuan antara kita berdua. Lakukan semuanya sesuai keinginan hatimu. Aku pergi, benar-benar akan pergi. Selamat malam."
Tanpa aku sadari, air mataku menetes tanpa bisa ku tahan.
"Jika kamu tidak mau, buang saja jaket itu atau kamu berikan saja pada Kenzo."
Kini sosoknya benar-benar pergi dari hadapanku, Kak Neill menengok ke belakang pun tidak. Ini akhir dari kisah kita berdua. Sudah berakhir.
Mengucapkan kata-kata memanglah mudah namun prakteknya nol besar, dan dusta akan diri sendiri agar terlihat baik-baik saja di mata orang lain adalah ciri kemunafikan.
Peribahasa itu saat cocok untukku saat ini.
Akhirnya aku kembali masuk ke dalam, angin malam mulai terasa dingin menusuk tulang. Saat aku ingin bergabung dengan yang lain, tiba-tiba saja Tante Melani menarik tanganku.
Detak jantungku rasanya tidak beraturan saat melihat gambar foto Kak Neill dengan wanita itu yang terlihat sangat cocok sekali.
"Memang Tante tidak salah pilih kali ini, bukankah Susan terlihat sangat cocok untuk menjadi menantu di keluarga Joseph. Bukan begitu, Kiara?"
^^^
Jangan lupa untuk komen, like dan follow
New Taipei, 30 April 2020
.
.
Alexander Demitri
.
.
Manda
.
.
Susan