My Lecturer My Husband

My Lecturer My Husband
My Lecturer My Husband 01



Selamat menikmati kisah kasih Kiara Randolph Abiansyah


Selamat Membaca


.


.


Libur semester sudah berakhir kini statusku sudah menjadi mahasiswi tingkat tiga, tidak percaya akan secepat ini waktu berlalu dan juga persaingan antar mahasiswa/i pada jurusan design fashion semakin keras. Terlebih lagi kampusku Dirgantara Indonesia adalah Universitas swasta terbaik di Bandung, yang menghasilkan lulusan-lulusan terbaik dan kompeten dibidangnya sehingga begitu banyak perusahaan yang menginginkan jasa mereka untuk bekerja sama dan masih banyak lagi keunggulannya.


Sekarang sudah jam tujuh, masih ada waktu sekitar dua jam lagi untuk masuk kelas dan aku kini sudah memustuskan untuk pergi ke Mall terlebih dahulu.


Aku mengecek kembali penampilanku sebelum turun ke bawah untuk sarapan, setelah tidak ada yang aneh atau barang yang tertinggal lagi, aku segera turun ke bawah. Langkah kakiku terhenti di anak tangga akhir karena melihat pemandangan yang tidak biasa, siapa dua orang asing itu?


"Selamat pagi semuanya."


"Pagi juga," jawab semuanya kompak, terkecuali satu orang laki-laki yang senyum saja nggak.


Aku segera mengambil tempat duduk tepat berada disamping Kenzo yang kini sedang sibuk melahap sandwich.


Baru saja aku ingin menyiapkan sarapan milikku, kini aku dikagetkan oleh sesuatu yang tidak asing lagi.


Tanpa basa basi lagi aku langsung berdiri dan berlari kecil kearah sosok pria yang sudah berumur namun tidak hilang aura ketampanannya.


"Om Radit!" ucapku histeris.


Aku langsung saja memeluk beliau, sudah dua belas tahun lamanya aku tidak bertemu lagi sejak mereka semua memutuskan pindah ke Lampung karena Om Radit di mutasi, mau tidak mau Om Radit tidak bisa menolak karena hal itu juga demi menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia dan abdinya sebagai kapolda pada masa itu.


"Om, apa kabar? Kiara kangen banget sama Om dan juga Tante Melani."


Bagai anak Koala yang tidak ingin jauh dari induknya, aku tidak segan-segan bergelayut manja di tangan beliau.


"Tentu saja kabar Om dan yang lainnya juga baik-baik saja. Sekarang kamu tumbuh menjadi seorang gadis yang sangat cantik, pasti kak Neill kamu pangling."


"Siapa itu Kak Neill?" Om Radit hanya balas dengan tersenyum hangat.


Aku sangat merindukan kehangatan elusan tangan Om Radit, sejak kecil beliau sangat kebapakan sekali sifatnya hingga membuatku nyaman berada disisi beliau.


"Ngobrolnya nanti saja, sekarang sarapan dulu. Lihat itu Kenzo sudah macam Singa yang siap kapan saja menerkam mangsanya."


Papah memang paling bisa mengalihkan perhatian, padahal aku sendiri masih penasaran dengan sosok Kak Neill itu.


"Laki-laki disamping Om itu Kak Neill kamu, dulu kan sewaktu kamu masih kecil sering minta gedong buat keliling komplek."


Tanpa aku bertanya, Om Radit ternyata cukup peka.


Setelah tahu, siapa Kak Neill itu. No respon. Otakku ngeheng, lupa-lupa ingat dengan sosok yang satu itu.


Kok aku nggak inget sama sekali, diam-diam aku curi pandang pada seseorang yang sedang sibuk dengan dunianya sendiri. Gila tuh orang, apa iya dia nggak bisa senyum, dingin banget kesan pertama yang dia berikan.


Padahal aku berharap bukan dia sosok Kak Neill tapi apalah daya kenyataan itu jauh lebih menyakitkan.


Diem-diem bae macam patung Pancoran.


Dasar orang aneh, dia bahkan sama sekali tidak ada respon balik, apa susahnya untuk senyum sedikit, ini senyum saja nggak sama sekali. Pria dingin macam es di kutub selatan, tipe laki-laki seperti dia ini akan susah mencari jodoh.


"Masih banyak waktu untuk bernostalgia, Ra," tegur mamah akhirnya. Aku paling tidak bisa membantah ucapan mamah.


Mungkin saja bukan waktu yang tepat untuk diriku ini meminta Om Radit menceritakan itu, sekarang sudah jam tujuh lewat dua puluh dan aku juga tidak selera makan.


"Mah, Pah, semuanya. Kiara berangkat dulu."


Aku menyalami kedua orang tuaku bergantian dan juga Om Radit tersayang.


Tiba-tiba saja sekujur tubuhku merinding ketika mata kami saling bertemu satu sama lain. Aku tidak tahu kesalahan apa yang sudah aku perbuat dimasa lalu sehingga dia terus menerus menekuk wajahnya bete.


"Aneh," lirihku.


Dia melihatku?


Aku langsung membekap mulutku, apakah sepeka itu radar pendengarnya. Sepertinya diriku ini harus cepat pergi dari sini, sebelum pangeran es itu mengutukku menjadi butiran es serut.


Tenang Kiara, tenang. Tapi jujur saja aku tidak begitu nyaman berada didekatnya, Ya Tuhan semoga hari ini menjadi pertemuan pertama dan terakhir dengannya.


Aku melambaikan tangan kepada Vania yang sedang sibuk mengikat tali sepatu, aku bersyukur karena dia yang Tuhan takdir kan untuk menjadi sahabat baikku sedari kita kecil hingga dewasa tidak pernah terpisah oleh apapun.


"Jadi kita ke Mall?" Tanya Vania ketika aku baru saja duduk.


"Jadi dong, gue juga nggak bakalan lama kok cuma mau beli kemeja sama jaket doang."


"Oke, nanti lo yang bawa motornya. Soalnya hari ini motor gue dipakai sama bokap."


Mendengar ucapan Vania wajahku langsung berubah tidak bertenaga karena kalah start dengannya. Hal ini juga kan karena aku yang minta tolong jadi mau tidak mau aku menerimanya.


"Iya, deh. Tapi pulang nanti, lo yang nyetir."


"Iya, bawel."


Dengan semangat aku mencium pipinya lalu kabur sebelum kena omelan mautnya.


Aku yang terlalu bersemangat sampai tidak sadarkan diri, ada undakan batu kecil didepan sampai akhirnya aku tersandung jatuh saat itu keseimbangan tubuhku hilang kendali. Aku pasrah tapi takut terbentuk aspal.


Siapa pun tolong aku.


Eh? Kok nggak jatuh?


Jantungku berdetak lebih cepat dari normal, saat aku tahu siapakah orang sudah menolongku dari insiden memalukan hari ini. Bahkan untuk menelan ludah pun rasanya susah sekali, saat bola mata hitam miliknya menatap mataku dengan ekspresi dinginnya itu.


"Makasih."


"Dasar ceroboh."


"Tadi itu kecelakaan tahu, siapa juga yang mau minta tolong sama kamu."


Apaan sih, jadi orang kok jutek banget. Aku sendiri nggak berharap ditolong sama kamu. Rese emang.


"Ice prince, ntar jodohnya pada kabur, wee."


Setelah puas meledeknya, aku langsung saja pergi ke garasi mengambil motor.


Dasar orang aneh, bukannya marah setelah aku ejek tapi dia justru tersenyum padaku. Ganteng banget.


Sial. Sial. Hanya karena dia tersenyum lantas kamu itu terpikat? jangan sampai hal itu terjadi.


^^^


"Ra, kantin bentar yuk."


"Mau beli apaan?"


"Gue bocor, ayo buruan ntar keburu dosen dateng."


Mau tidak mau aku harus temani Vania pergi, baru beberapa langkah kami jalan, hal tak terduga pun tejadi, kami tidak sengaja berpapasan dengan geng famous kampus.


Jujur aku paling males kalau sudah bertemu dengan mereka, si pembuat onar kampus dan juga kumpulan para playboy cap Badak. Apa yang cewek-cewek lihat dari mereka itu? karena wajahnya yang tampan atau anak orang kaya? itu semua akan tetap tidak bernilai kalau attitude dan akhlak nol besar.


"Pagi, Kiara."


"Pagi, Kak Candra."


Sebisa mungkin aku harus tetap menghormatinya.


"Eits, kenapa buru-buru sekali. Udah lama juga kan kita nggak ngobrol begini?"


Aku kaget setengah mati saat tiba-tiba saja dia main pegang tanganku. Terlebih lagi cengkeraman tangan Kak Candra kuat sekali, membuatku sedikit meringis. Jika mereka sudah beraksi tidak ada satu orang pun yang berani melerai atau sekedar menegurnya.


"Maaf, Kak Candra. Tolong, lepasin tangan Kiara, saat ini kita berdua lagi buru-buru."


"Benarkah?"


Dasar psikopat gila, senyum-senyum sendiri nggak jelas. Aku pun meringis kesakitan karena pegangan tangannya semakin erat dan kuat, tubuhku merinding ketika dia tersenyum aneh dengan mata kosongnya itu.


"Lepasin tangan kotor lo dari kakak gue!"


Akhirnya aku bisa bernafas dengan tenang, karena Kenzo datang tepat waktu. Mungkin Ikatan batin kita memang tidak bisa berbohong.


Aku menepis dengan kasar pergelangan tangan Kak Candra saat hendak menyentuh wajahku.


Vania datang menghampiri dan memapah tubuhku yang hampir merosot karena shock.


"Pahlawan bertopeng sudah datang. Kita cabut!"


Bagai para budak yang setia, mereka semua akhirnya pergi setelah mendapat perintah dari sang majikan.


Setelah biang pembuat onar itu pergi, aku langsung memeluk Kenzo dan menangis tersendu, tidak peduli dengan bisik-bisikan para penghuni kampus. Dengan lembut Kenzo menenangkan suasana hatiku, ku akui dia memang yang terbaik. Saat seperti ini, aku rindu papah.


"Kalian tidak kenapa-napa kan?"


Walau aku dan Kenzo berbeda Fakultas, dia itu setiap hari akan datang ke fakultasku, entah sekedar makan di kantin atau melihat-lihat kondisi aku selama jauh darinya.


"Iya, untung kamu cepat datang. Berhubung kamu ada di sini, sekalian aja antar kita ke kantin," papar Vania cepat, aku mengangguk setuju.


Aku memutar bola mataku kesal, melihat Kenzo anak itu arah pandangnya begitu fokus hanya pada Vania. Memang kalau sudah cinta buta itu susah, walaupun kenyataan pahitnya cinta Kenzo itu bertepuk sebelah tangan, sad boy.


Karena perbedaan jam mata kuliah, Kenzo kembali ke fakultasnya. Sambil menunggu Vania yang sedang di toilet, aku berjalan-jalan sejenak di taman yang tidak jauh dari toilet.


Baru saja aku duduk dibangku taman, tiba-tiba saja ada seseorang duduk disampingku.


"Pagi, Kiara."


"Pagi, Lex."


Ternyata orang itu adalah si Alexander Demitri salah satu cowok famous di kampus juga. Dia itu memang tidak begitu tampan dibandingkan dengan si Candra, tapi wajahnya yang berkarisma dipadu dengan kulit coklatnya yang eksotik menjadikan itu nilai plus.


Aku sendiri juga bingung, akhir-akhir ini dia gencar sekali mendekatiku.


"Lo lagi nungguin siapa, Ra?"


"Vania. Lo sendiri kenapa keringetan begitu?"


"Biasa habis main basket tadi, btw gue boleh nggak nih minta nomor handphone lo?"


Mencurigakan? biasanya kalau basa basi begini ada modus penipuan perasaan hati.


"Mana handphone lo," paparku cepat.


Aku dengan cekatan mengetik nomor ponselku di hp Alex.


"Itu nomor gue, awas aja lo sebar ke orang lain."


"Curigaan amat jadi orang. Gue mau mandi dulu, mau ikut nggak?"


"Nggak!"


Kok bisa ada orang yang macam Alex, enak bener dia mandi di Kampus berasa rumah sendiri.


Ini sudah lewat sepuluh menit tapi Vania nggak juga keluar dari toilet, perasaan aku jadi nggak enak.


"Lo jadi orang nggak usah sok cantik, maksud lo apa tebar pesona sama Brandon."


"Siapa juga yang tebar pesona, emang si Brandon aja playboy pada dasarnya. Lihat cewek cantik dikit aja langsung pepet. Sorry aja nih, si Brandon bukan tipe gue."


"Dasar jal*ng."


Mendengar suara adu mulut antara Vania dan Manda yang menggelar, aku langsung saja masuk ke dalam agar tidak terjadi keributan yang lebih besar lagi. Hari pertama masuk kuliah sudah pada ribut, heran aku.


"Nggak usah diladeni, Van. Kita balik ke kelas aja."


Anj*ng, bab*, aku hampir saja terpeleset karena ulah Manda yang tiba-tiba saja menarik rambutku.


"Lo duluan yang mulai, lebih baik lo siapin pempres biar nggak bocor ke lantai."


"Dasar brengs*k!"


Tidak ingin membuang waktu, aku segera meringkus kedua tangan Manda kebelakang lalu memojokkan dirinya ke tembok.


"Jangan lo pikir gue itu lemah dan tidak berani serang balik. Gue bisa aja patahin kedua tangan lo sekarang juga kalau gue mau. Ngerti lo!"


"Aissh."


"Udah, Ra, lepasin si Manda. Gue jadi ngeri sendiri, lo kalau lagi marah serem banget gila."


Benar-benar menyebalkan sekali hari ini, ada saja hal bikin jengkel, kesel dan marah.


Karena permintaan Vania, hari ini dengan berbaik hati aku lepaskan si Manda, wajahnya juga sudah merah padam menahan sakit karena tangannya masih aku kunci.


"Hari ini lo selamat, Man. Ayo, Van, kita masuk kelas."


"Lo sejak kapan bisa intimidasi orang lain sampe gue sendiri takjub liatnya."


"Nggak usah berisik deh, lo juga dilabrak begitu diem aja. Emang si Brandon itu muka polos tapi hati Buaya darat."


Kita berdua tertawa lepas dengan kebodohan hari ini yang diluar jangkauan manusia normal.


Sesaat setelah meninggalkan toilet, entah perasaan aku saja atau bukan, aku merasakan sedang diawasi oleh seseorang.


Bodoh amatlah, mood-ku tiba-tiba anjlok. Mungkin jika masuk kelas pikiran jauh lebih rileks.


^^^


"Hei, gue denger-denger bakal ada dosen baru yang gantiin Bu Ratih cuti melahirkan."


"Cowok atau cewek penggantinya?"


"Cowok. Dan lo semua bakal terpesona sama wajah tampan nan rupawannya yang bagaikan Zeus tokoh mitologi Yunani."


"Seriusan lo, Nadia."


"Demi Tuhan, ngapain juga gue boong."


"Gila, kelas kita jadi yang pertama dong."


"Yoi, girls."


Mereka lagi ngomongin siapa sih, kaya belum pernah lihat orang ganteng saja. Hebohnya minta ampun.


Daripada ngurusin hal yang tidak penting, lebih baik aku fokus meneruskan pekerjaanku yang tertunda saat membuat sketsa desain baju untuk produk butik nenek aku tercinta.


Sumpah ini kenapa kelas berisik banget sih, bikin aku nggak fokus.


"Tenang semuanya, harap duduk di tempat kalian."


Ini jelas suara dosen jurusan kami Bu Anita, sekarang aku tahu kenapa tadi kelas berisik banget. Tapi bodo amatlah, aku tetap fokus dengan pekerjaanku tidak tertarik sama sekali dengan apa yang terjadi saat ini.


"Seperti yang sudah kalian tahu, Bu Ratih dosen mata kuliah Bahasa Indonesia sedang cuti melahirkan dan hari ini akan digantikan sementara oleh beliau. Mari Pak silakan perkenalkan diri Anda."


"Terima kasih banyak, Bu Anita."


"Huuaa."


Norak. Itu penilaian aku kepada teman kelas, tambah berisik dari sebelumnya.


"Selamat pagi semuanya."


"Pagi."


"Perkenalkan saya Rasya O'Neill Joseph dosen baru kalian untuk sementara."


Aku tersedak air liur sendiri setelah mendengar nama dosen itu. Rasya O'Neill Joseph, apakah Rasya anak Om Radit itu ya.


Tarik nafas, buang. Tarik nafas, buang. Akhirnya aku berani kan diri untuk melihat ke depan.


"Apaa?!"


Akibat teriakanku yang menggelar seorang diri, kini aku menjadi pusat perhatian semua orang. Aku tidak bisa menghilangkan rasa terkejutku dengan semua ini.


Senyuman itu adalah mimpi buruk bagiku.


Kenapa harus dia dosen barunya, luasnya Indonesia dari Sabang sampai Merauke kenapa harus kampus aku yang menjadi pilihannya. Hariku yang indah akan tergantikan oleh mimpi buruk setiap harinya.


"Ra."


"Please, Van. Gue paham apa yang mau lo tanya."


"Bukan itu, Ra. Tapi sekarang Dosen itu lagi jalan ke arah kita."


"Hah?"


Belum hilang rasa terkejutku kini sebuah bayangan hitam sudah berada disisi kananku.


"Padahal ada tamu datang, tapi kenapa kamu sibuk sendiri?"


"Eh? Maaf."


Mana Bu Anita, sejak kapan beliau pergi. Mati aku.


"Hari ini saya maafkan kamu, ini juga perhatian untuk kalian semuanya, kalau saya tidak akan segan untuk menegur kalian jika tidak fokus dengan materi yang saya bawakan. Bisa dimengerti?"


"Iya, Pak."


"Siapa nama kamu?"


"Kiara, Pak."


Aish, kalau bukan di kampus. Masa depannya sudah aku tendang biar tidak bisa beranak pinak.


"Istirahat nanti temui saya di ruangan."


Kelas mulai gaduh.


"Dasar caper."


"Si Kiara sengaja kali biar Pak Rasya notice dia."


"Tau tuh, sok banget jadi orang."


"Apaan sih lo semua. Siapa juga yang caper.," elakku tidak terima dengan tuduhan mereka.


Bagai ubur-ubur dalam baskom, kita semua terdiam saat suara baritone Kak Neill menggelar melerai kita semua agar diam.


"Berhubung hari pertama masuk kuliah setelah libur semester, pelajaran hari ini dikosongkan. Kita isi hari ini dengan perkenalan nama kalian dan juga motivasi kalian memilih jurusan fashion."


Pulang nanti aku bakal aduin sama Om Radit, kalau kak Neill itu orangnya jahat dan kejam, khususnya sama aku seorang.


Akhirnya sesi perkenalan sudah berakhir, kini acara dilanjutkan dengan obrolan santai.


"Pak Rasya umur berapa?"


"Tahun ini genap dua puluh tujuh."


"Masih single atau sudah ada cem-ceman, Pak."


"Pass."


Entah kenapa aku tertawa mendengar dia tidak bisa menjawab satu pertanyaan itu. Dari bentuk visualnya, sepertinya dia itu jomblo sejak dalam kandungan.


"Pak Rasya suka daun muda atau daun tua?"


"Tergantung situasi dan kondisi. Sesi bertanya cukup sampai di sini saja. Kalian sejak awal hanya bertanya yang tidak penting. Kalau begitu sampai bertemu lagi minggu depan, dan kamu Kiara Randolph Abiansyah jangan lupa menghadap saya nanti."


"Baik, Pak."


Sama seperti sebelumnya, mata kuliah kedua hanya berisi kultum dan nasehat bijak saja.


Rasanya aku mau kabur saja dari kenyataan hidup ini yang serasa semua beban berkumpul menjadi satu.


"Semangat."


"Hhmm."


Memang sahabat sejati itu benar adanya, Vania terus memberiku motivasi agar tetap strong. Hanya karena masalah sepele aku harus masuk ke ruangan dosen, seumur hidupku belum pernah masuk ruangan dosen karena sebuah kesalahan.


"Permisi, Bu. Kalau ruangan Pak Rasya sebelah mana ya?"


"Kamu lurus saja, pintu cat warna hitam itu ruangan Pak Rasya."


"Baik, Bu. Terima kasih."


Ada yang aneh, bukannya itu ruangan khusus untuk pemilik kampus ini?


"Permisi."


"Masuk."


Ini terlalu mewah untuk ruangan seorang dosen baru, sangat rapih bagaikan kamar hotel bintang lima.


"Duduk."


Aku sebenarnya kenapa sih, manut saja saat disuruh duduk.


"Tangan."


"Siapa? maksud Pak Rasya tangan saya?"


Sumpah deh ini orang, irit sekali bicaranya. Aku mana paham yang dia pikirkan, cuma ada satu kata doang, orang lain juga pasti bingung.


"Pelan-pelan, sakit tahu."


Sejak kapan pergelangan tanganku memar, apakah ini perbuatan Kak Candra pagi tadi. Tapi kenapa aku baru tahu kalau akan jadi seperti ini.


"Kompres sebentar supaya tidak bengkak."


"Tapi dari mana Pak Rasya tahu tentang luka saya ini, bahkan saya sendiri baru tahu."


"Panggil aku seperti biasanya selama hanya ada kita berdua, Kenzo yang memberi tahu."


"Iya. Sejak kapan kalian berdua begitu akrab sampai bertukar nomor telepon segala."


"Sejak kamu masih dalam kandungan."


"Hahaha."


Sebenarnya tidak ada yang lucu hanya saja karena mimik wajahnya yang datar membuat itu terdengar lucu.


"Hari ini Bunda masak banyak, aku sengaja menyuruh kamu datang kemari karena tidak mungkin aku bisa menghabiskan ini semua sendirian."


"Kenapa nggak dikasih ke dosen yang lain aja, aku takut akan ada desas desus yang kurang baik."


"Jangan berpikiran terlalu jauh, cepat makan."


"Iya, iya."


Obrolan kita berdua mengalir begitu saja seolah tidak terjadi apa-apa, bahkan Kak Neill menyuruhku untuk makan siang bersama. Untung saja aku nggak baper.


^^^


Jangan lupa untuk komen dan like


New Taipei, 20 April 2020