My Lecturer My Husband

My Lecturer My Husband
My Lecturer My Husband 05



Selamat Membaca


.


.


 


^^^


 


Kak Candra. Apa yang ingin dia coba lakukan padaku, kenapa dia selalu mentargetkan aku sebagai tikus percobaannya.


"Diam atau gue gorok leher lo ini!!"


Aku takut sekali. Vania bahkan masih tergeletak tidak sadarkan di tanah. Apa yang ada dijalan pikiran Kak Candra. Kenapa dia menjadikan aku sandera, kenapa.


Benda tajam itu kini sudah menyentuh kulitku, sedikit saja aku bergerak mungkin saja ini menjadi kematian hidupku di dunia.


"Andai aja si brengs*k Rasya tidak datang waktu itu, mungkin malam itu kita sudah bersenang-senang."


Apa!! Jadi memang benar si bajing*n ini yang sudah menodai aku. Dasar biad*b kepar*t kau Candra Arya Kusuma.


Air mataku kembali berderai tak beraturan, tak kala tangan kotornya kembali menyentuh kulitku.


"Kenapa tidak dari dulu aku melakukannya, kulitmu yang putih mulus membuatku mabuk bagai terbang di angkasa. Aroma tubuhmu sangat menggodaku."


"Dasar sinting!!"


Karena suara teriakanku yang menggelar membuat Kak Candra mengayunkan benda tajam itu ke udara, menghalangi orang-orang yang mencoba menolong.


"Jangan mendekat!! Berani kalian mendekat, saya tidak segan-segan untuk membunuhnya."


Jalan pikiran mulai kacau, dia benar-benar psikopat gila.


Aku melihat sekeliling, ekspresi wajah para penghuni kampus sangat tegang bahkan ada yang menitikkan air mata.


Bisik-bisik tetangga mulai terdengar.


"Beni, lo masih inget nggak sama kasus Sinta anak Fakultas Kedokteran?"


"Inget bangetlah, Vin. Doi kan ditemukan meninggal di rumahnya karena bunuh diri."


"Gue menduga kalau kasus ini ada kaitannya sama Candra."


"Jangan asal tuduh geblek!"


Benarkah? Sinta anak Fakultas Kedokteran yang paling populer itu. Bagaimana mungkin?


"Emang bangs*t sih Candra sama bokapnya," sela seseorang yang ikut nimbrung.


Kenapa mereka membawa nama ketua Rektor?


"Maksud lo apa, bro?"


"Gue tadi nguping pembicaraan beliau dengan aparat kepolisian, kalau si Candra dan kawannya sudah dua bulan belakangan ini menjadi pencandu obat-obatan terlarang. Dan untuk kasus Sinta, gue denger-denger kalau dia itu hamil karena diperkosa sama Candra."


"Anj*ng. Biad*b banget si Candra!!"


"Dasar lakn*t!!"


"Dan juga kematian Sinta bukanlah bunuh diri biasa tapi dibuat seolah-olah bunuh diri. Brengs*k banget kan?"


"Kalau gue jadi bapaknya si Candra, anak kayak gitu udah gue bunuh saat itu juga. Ini justru menutupi bau busuk anaknya sendiri, mereka harus mendapatkan hukuman yang paling berat."


"Iya, betul."


Suasana kampus mulai tidak kondusif, semua orang sibuk membicarakan kejahatan Kak Candra mulut ke mulut.


"Aahhkk.."


Rasanya menyakitkan sekali saat benda tajam mulai menggores kulit leherku. Kini darah segar menetes hingga mengotori bajuku. Keadaan tiba-tiba menjadi sunyi, tidak ada lagi yang berani bersuara.


"Candra, Ayah mohon lepaskan Kiara. Kamu jangan seperti ini, Nak. Menyerah saja begitupun Ayah. Ayah akan menerima semua konsekuensi dari perbuatan Ayah. Ayah mohon, Candra."


"Diam kau tua bangka! Maju satu langkah lagi maka tamatlah riwayatnya. Jatuhkan senjata kalian semua dasar cecung*k!!" Teriak Kak Candra memerintah.


Kemana lagi Kak Candra akan membawaku pergi, dia tanpa ada rasa kasihan terus menyeretku menjauh.


Dengan sangat arogan, Kak Candra mengayunkan kembali benda tajam itu berulang kali. Tujuannya dia melakuan itu agar orang-orang berhenti mencoba menyerangnya.


Saat semua orang tengah sibuk berpikir bagaimana cara untuk menyelamatkan aku, Kenzo entah datang dari mana. Dia tengah mengendap-endap mencari celah untuk membekuk Kak Candra. Aku bersyukur karena Vania sudah ditolong oleh tim tenaga medis, mungkin dia akan dilarikan ke Rumah Sakit. Semoga kamu baik-baik saja Vania.


"Kak Candra, aku mohon lepaskan aku."


"Tidak semudah itu. Kamu dengar baik-baik, ya, Kiara. Kalau aku mati, kamu juga harus mati. Dan kita akan hidup selamanya berdua, hahaha."


Aku harus tenang meski jiwa terguncang.


Kenzo memberikan aku sinyal agar dalam hitungan ketiga menunduk kebawah.


"Satu, dua, tiga."


Aku berhasil melakukannya, Kenzo segera meringkus Kak Candra. Dengan cepat Kenzo melintir tangan Kak Candra hingga benda tajam itu jatuh dari genggaman tangannya.


"Om Radit," teriakku cepat.


Mendengar suara teriakan aku, Om Radit segera saja memerintahkan anak buahnya untuk mengevakuasi aku dari tkp.


"Lepas. Dasar brengs*k kalian semua, lepaskan."


Kak Candra terus saja memberontak, karena terus saja mencoba melawan akhirnya kedua tangannya segera diborgol.


"Sudah jangan takut, Ra. Sekarang pelakunya sudah kami amankan. Pak Adi, tolong antar korban ke mobil ambulans untuk mendapatkan perawatan."


"Siap, Komandan."


"Satu lagi, Pak Adi. Tolong, peringatkan untuk seluruh mahasiswa/i agar mereka menahan diri untuk tidak memviralkan peristiwa hari ini."


"Baik, Pak. Ayo, dek, lewat sini."


"Iya."


Baru saja aku merasa tenang dan damai karena kini pelakunya sudah tertangkap, tapi apalah daya, Kak Candra masih saja berulah.


"Mati kau bajing*n!!"


"Kak Kiara awas!!"


Dor..


Dor..


Dor..


"Aaakkkhhhh.."


Bunyi timah panas berulang-ulang hingga tiga kali tembakan. Darah segar membanjiri area lantai luar ruang psikologi.


"Aaakkhh.." suara teriakan seluruh penghuni kampus sesaat setelah polisi menembakkan timah panas itu.


"Candraaaa!!!" teriak Pak Bambang histeris melihat anaknya sendiri tertembak dengan begitu sadis.


"Kenzooo..."


Aku berlari cepat menuju Kenzo yang sudah terkapar tidak berdaya, perut sebelah kanan tertikam oleh Kak Candra karena hendak menolongku. Entah setan apa yang merasukinya hingga berani melakukan semua ini. Karena tindakannya itu, aparat kepolisian harus melepaskan tembakan, akhirnya Kak Candra tewas di tempat karena peluru itu tepat mengenai jantung dan juga perut sebelah kirinya.


"Amankan korban jiwa, bawa segera ke rumah sakit."


"Baik, Pak."


Anggota tenaga medis sudah tiba, mereka langsung membawa Kenzo menuju mobil ambulans.


"Kenzo, bangun."


Darah. Banyak sekali darah yang keluar dari tubuh Kenzo.


Kak Neill langsung menghampiri aku dan ikut masuk ke dalam mobil ambulans.


"Kenzo, bangun. Kenapa kamu lakukan semua ini?"


Kedua mata Kenzo sedikit terbuka, bibirnya sudah membiru akibat kehilangan banyak darah.


"Syukurlah kakak baik-baik saja."


"Dasar adik bodoh!!"


Hooekk..


Kenzo muntah darah. Aku dengan cepat mencoba untuk membersihkannya tapi seseorang tiba-tiba saja menghentikan aku.


"Kiara, kamu harus tenang. Biar tim tenaga medis yang menangani Kenzo."


"Bagaimana bisa aku harus tetap tenang, Kak. Kenzo terluka karena aku. Dia.."


"Kita berdoa saja, semoga Kenzo bisa melewati ini semua."


Hanya suara tangisan yang keluar dari bibirku.


Kak Neill langsung merengkuh tubuhku ke dalam pelukannya. Kenzo sudah hilang kesadarannya.


Entah kenapa perjalanan menuju Rumah Sakit terasa begitu lama sekali, membuatku dirundung cemas.


Satu pesan masuk.


Abang Al : Kiara bagaimana kondisi Kenzo? balas pesan abang jika kalian sudah sampai Rumah Sakit. Saat ini abang sedang menjaga Tante Maura yang pingsan. Jaga diri kamu baik-baik.


Me : Aku baik-baik saja, Bang. Tolong jaga mamah untuk sementara, aku pasti secepatnya memberitahu kalian di mana Kenzo akan dirawat.


"Bagaimana dengan luka kamu, Ra?"


"Ini semua tidak ada apa-apanya, Kak. Kenzo yang jauh lebih terluka parah."


"Berhenti menjadi egois. Suster, tolong obati dia juga. Sepertinya lehernya terluka."


"Baik, Pak."


Batinku entah harus merasa bahagia atau bersedih mengetahui penjahat itu mati. Bisa saja ini yang terbaik agar tidak ada lagi korban selanjutnya.


 


^^^


 


Sudah satu minggu kampus Dirgantara Indonesia diliburkan semenjak peristiwa berdarah terjadi. Dan kasus ini benar-benar bagaikan ditelan bumi, tidak muncul dalam berita media televisi ataupun cetak. Ini semua karena perintah Papah untuk menutup rapat kasus ini agar tidak terekspos keluar, dan bagi siapa yang sengaja menyebar luaskan akan berurusan dengan hukum.


Selama satu minggu lamanya Kenzo hanya terbaring di tempat tidur Rumah Sakit, itu karena luka jahitan pada perutnya belum kering. Takutnya luka jahitan kembali terbuka.


"Aku baik-baik aja, Kak."


"Sudah, kamu diam aja, Kakak sudah buatkan bubur sumsum biar kamu tidak mati bosan karena menu makanan Rumah Sakit."


"Terima kasih banyak, Kak."


"Sudah semestinya Kakak melakukan semua ini, jadi kamu nggak perlu berterima kasih. Di sini yang harus bilang terima kasih itu adalah kakak."


Memang sudah seharusnya aku seperti ini, seorang kakak yang bertugas menjaga dan merawat adiknya yang sakit.


Dengan penuh rasa kesabaran aku membantu Kenzo menghangatkan bubur kemudian menyuapinya. Pada awalnya Kenzo menolak untuk aku suapi, dia merasa bukan lagi anak kecil. Memang benar apa yang telah Kenzo katakan, akan tetapi di mataku dia itu tetaplah sosok adik kecil yang bandel.


"Kamu berbaring saja tidak boleh banyak bergerak."


"Aku mau buang air kecil, Kak. Kakak juga janganlah terlalu berlebihan seperti ini, aku malu jika ada teman kampus yang datang menjenguk melihatku dimanja oleh kakak perempuannya bagaikan anak balita."


"Dasar kamu itu lagi sakit saja masih bisa ngeles. Ya sudah, biar kakak bantu papah kamu sampai pintu toilet."


"Iya, terserah."


Aku memastikan lagi pada Kenzo, apakah dia benar tidak membutuhkan bantuan aku atau tidak. Tetapi jawabannya tetap sama, dia tidak ingin merepotkan orang lain.


"Kiara, mana Kenzo?"


"Kenzo lagi di kamar mandi. Mamah bawa apa?"


"Ini kue sus rasa Vanila sama coklat, cobain gih, ini tante Melani yang buat lho."


Wow.


Sudah pasti rasanya juara, Tante Melani itu memang paling jago kalau membuat jenis kue.


Lupakan saja untuk diet hari ini, besok masih bisa dilanjutkan lagi dietnya. Itu juga kalau nggak khilaf.


"Mah, kapan datang?"


"Baru saja, sayang. Pelan-pelan jalannya."


Mamah dengan hati-hati menuntun Kenzo menuju tempat tidurnya.


"Obatnya sudah kamu minum belum?"


"Sudah kok, Mah. Kak, bagi dong kue sus-nya."


"Iya, itu sudah kakak pisahin. Kamu kan paling suka rasa Vanila."


Seperti anak kecil, Kenzo begitu lucu sekali saat kue sus sudah berada di tangannya. Terkadang aku juga masih belum siap kalau Kenzo begitu cepat tumbuh menjadi pria dewasa. Tapi mau bagaimana lagi, toh kedewasaan seseorang itu sudah pasti akan datang masanya.


"Besok lusa mamah akan mengadakan pesta makan malam besar untuk penyambutan Kenzo pulang dari Rumah Sakit."


"Apa tidak berlebihan, Mah?"


"Tentu saja tidak, Sayang. Semua ini mamah lakukan sebagai bentuk rasa syukur atas kesembuhan kamu, dan mamah juga akan mengundang sebagian besar anak yatim piatu."


"Pasti rame banget, jadi nggak sabar besok lusa."


Aku paling suka dengan anak kecil, tidak sabar untuk melihat tingkah lucu mereka datang nanti besok lusa.


Saat kami sedang bercengkrama, dua orang suster datang untuk memasang cairan infus yang baru.


"Bagaimana kondisi Anda, tuan? Apakah ada keluhan saat buang air?"


"Jauh lebih baik, Suster. Tidak ada masalah apapun, semuanya berjalan dengan normal."


"Syukurlah, saya ikut bahagia mendengar nya. Tolong untuk berbaring sebentar, sebentat lagi Suster Sheila akan menggantikan kain kasa yang baru pada luka Anda."


"Iya."


Aku penasaran bagaimana bentuk luka jahitan Kenzo, ternyata sangat mengerikan juga. Panjang jahitan itu sekitar tujuh centimeter, pasti itu menyakitkan sekali rasanya.


"Luka Anda sudah sedikit kering dan menutup rapat, mungkin besok Dokter akan datang mengecek untuk melepaskan jahitannya. Jika jahitannya sudah lepas nanti, Anda masih tidak boleh banyak bergerak."


Penjelasan Suster Alena sangatlah jelas dan akurat sekali, jadi pengen ngerasain punya adik ipar seorang perawat. Kalau aku jodohkan dia dengan Kenzo, apa Suster Alena mau ya? Usia mereka mungkin jaraknya sekitar lima atau bahkan lebih dari itu. Kalaupun dia tidak berjodoh dengan Kenzo, setidaknya jodohnya Kenzo itu tidak jauh-jauh dari berbau medis.


"Kak, lagi mikirin apa sih? Dari tadi mamah panggil kamu."


"Suster Alena sudah punya pacar belum?"


"Kak."


Duh, Kiara. Bagaiman bisa kamu dengan percaya diri mengatakan hal yang begitu tabu.


"Maaf, Mba. Saya sudah berkeluarga."


"Hehe.."


Mirip kambing conge, aku cuma bisa cengengesan nggak jelas. Malu banget rasanya.


"Kain kasa sudah diganti, kalau begitu kami undur diri. Selamat sore."


"Sore."


Setelah kedua suster itu pergi, mamah dan Kenzo menatapku penuh tanda tanya.


"Hari ini kamu kenapa sih, Ra."


"Nggak kenapa-napa kok, Mah."


"Mencurigakan sekali."


"Diem kamu, Kenzo. Kalau lagi nggak sakit, kakak cubit kamu."


Padahal tadi aku cuma bercanda doang, tapi mamah langsung jewer telingaku. Nggak sakit kok, rasanya kayak digigit semut.


Hari sudah mulai sore, waktunya Kenzo untuk mandi.


Berhubung baru ganti kasa dan juga lukanya tidak boleh terkena air, setiap harinya Kenzo hanya di lap dengan handuk dengan air hangat. Kenzo baru boleh mandi seperti biasa jika sudah satu bulan lima hari selama masa pemulihan.


"Mamah sama Kiara pulang dulu ya, sayang. Nanti malam papah sama Om Lucky yang jagain kamu."


"Iya, Mah. Sampai rumah mamah langsung istirahat biar tubuh tetap sehat dan bugar."


"Mah, Abang Alfred udah sampai. Katanya nunggu di parkiran depan."


"Iya."


Sebelum kami meninggalkan Rumah Sakit, aku dan mamah bergantian mencium kening Kenzo.


"Istirahatlah, Papah sama Om Lucky mungkin baru sampai agak malam. Dah."


"Iya, Kak. Kalian hati-hati, salam buat bang Alfred, bilang padanya jangan ngebut bawa mobilnya."


"Oke."


Padahal aku masih ingin di sini menjaga Kenzo, tapi sama papah tidak boleh. Aku harus tidur di rumah menemani mamah. Sebagai anak yang berbakti pada orang tuanya, tentu aku mematuhi semua perintah mereka.


 


^^^


 


Jangan lupa untuk komen, like dan follow


New Taipe


.


.


Kenzo Randolph Abiansyah



.


.


Alfred Ridho Haki



.


.


Vania Cynthia Ferdian



.


.


Candra Arya Kusuma