My Lecturer My Husband

My Lecturer My Husband
My Lecturer My Husband 07



Selamat Membaca


.


.


Semenjak pertengkaran kecil diantara aku dan Kak Neill beberapa hari yang lalu, saat ini keadaan sangat canggung sekali. Bukan hanya terasa canggung saja bahkan Kak Neill juga berubah menjadi lebih dingin. Seolah menganggap kehadiranku itu hanya sebuah bayangan cermin yang tidak penting akan wujudnya.


Ahh, aku jadi teringat kembali ucapan Tante Melani malam itu.


*Flasback


"Memang Tante tidak salah pilih kali ini, Susan Aditya sangatlah cocok untuk menjadi menantu di keluarga Joseph. Bukan begitu, Kiara?"


"Maaf, Tan. Tadi tante bicara apa?"


"Kamu ini lagi ngelamunin apa toh? Tadi tante tanya, Susan bukankah cocok dengan Rasya?"


"Aku no komen untuk masalah ini."


"Kamu ini, padahal Tante berharap kamu bisa kasih pendapat. Tapi ya sudahlah, diliat-liat juga Rasya ada ketertarikan dengan Susan. Jadi nggak sabar kalau mereka memutuskan untuk menikah nanti."


"Semoga saja impian Tante Melani bisa terwujud.''


Kenapa nada bicaraku seakan tersirat sebuah rasa tidak suka akan ungkapan manis Tante Melani untuk si Susan itu. Kenapa? Rasanya mau marah tapi aku ini siapa. Hanya orang lain di keluarga Joseph.


"Apa mereka sudah lama saling kenal, Tan?"


"Sudah lama banget itu sih, mereka dulunya teman satu kampus. Tiap ada tugas kampus Susan selalu datang ke rumah Tante, tapi semenjak mereka lulus kuliah, semakin jarang bertemu satu sama lain."


"Oh, begitu."


Begitu apanya, Kiara.


Kamu persis keledai bodoh yang tersesat ditengah gurun pasir karena tertinggal dengan rombongan.


Aku yang sedang berbincang-bincang santai dengan Tante Melani tidak sengaja melihat mereka berjalan ke arah kami lalu mereka berdua mengobrol tepat di hadapanku. Ahh, sengaja sekali mereka melakukan semua sandiwara ini.


"Rasya, ini puding Mangga buat kamu. Ini aku buat sendiri lho, rasa kesukaan kamu."


"Terima kasih, San. Kamu memang paling mengerti tentang aku."


"Apaan sih, bikin aku ge'er aja."


Huek. Sok cantik banget sih jadi orang, pakai acara malu-malu kucing segala lagi.


"Maaf, semuanya. Tba-tiba saja aku mules. Selamat bersenang-senang."


Padahal ini cuma alasan aku saja, habis aku males banget liat kemesraan mereka. Bikin orang pengen maki-maki rasanya. Mana Kak Neill kelihatan nyaman banget tadi.


Wake up, Kiara. Lupakan sosok Rasya O'Neill Joseph, perjalanan hidupmu masih panjang untuk digapai. Jangan terlalu pusing memikirkan laki-laki yang sebentar lagi akan berkepala tiga itu.


Si Vania ada apa malam-malam telepon.


"Apa?"


"Malam ini lo nginep sini dong, Ra. Gue sendirian di rumah nih."


"Bodo amat."


"Iih, lo mah emang suka gitu deh. Ayo dong, Ra. Atau gue yang nginep di rumah lo aja, gimana?"


"Terserah lo aja deh, Van. Lewat pintu belakang kalau bisa soalnya para tamu masih belum pada pulang."


"Oke, Tuan Putri."


"Preet."


Setelah sambungan telepon terputus, aku langsung saja keluar dari kamar dan pergi ke taman belakang menunggu kedatangan Vania.


Jaket Kak Neill.


Ternyata Kak Neill benar-benar tidak peduli dengan jaketnya, lebih baik aku simpan dulu, nanti biar aku suruh Kenzo kembalikan pada pemiliknya.


"Kiara?"


Bikin merinding saja si Vania, sudah begitu cara dia panggil namaku terasa horor sekali, apalagi posisiku sekarang sedang sendirian di taman belakang.


"Jangan bisik-bisik dong, gue pikir tadi itu suara nyai kunti."


"Hehe, sorry," mau marah tapi aku coba tahan, "Jaket siapa tuh, Ra?"


"Lo nggak perlu tau ini jaket punya siapa. Van, buruan masuk gih, banyak nyamuk soalnya."


"Iya."


Ini anak kenapa lagi dah, disuruh masuk kedalam, dia malah bengong. Lagi lihatin apa sih. Bikin penasaran saja.


"Jangan liat!"


Ada apa sih, kenapa Vania sampai menutup mataku.


"Apaan sih, gue penasaran tau."


Kakiku rasanya mati rasa, apa aku tidak salah lihat?


Kak Neill dan Susan sedang berciuman? Setelah dia gagal menciumku, sekarang melampiaskannya pada orang lain. Dadar brengs*k.


"*Are you oke, Ra?"


"I'm oke*."


Maaf, aku nggak jujur sama kamu Vania. Pikiranku ruwet, tidak sanggup melihat semua ini.


Flasback off*


"Kiaraaa."


"Berisik, woi."


"Habisnya lo dari tadi gue panggil kagak nyaut-nyaut. Jangan bilang lo masih kepikiran malam itu, saat Pak Rasya bercumbu mesra."


"Sok tau, lo."


Masa bodo dengan teriakan Vania, aku segera pergi meninggalkan kelas.


Berhubung hari ini ada seminar, jadi aku ikut serta menghadiri seminar Bu Anita, membahas tentang seluk beluk dunia design fashion.


Saat dalam perjalanan menuju tempat seminar, aku lagi-lagi dikagetkan oleh sebuah pemandangan yang bikin jantungku berdebar sangat kencang. Aku sudah berniat untuk kabur, tapi tanganku ditahan oleh salah satu dari dua orang itu.


"Sumpah, gue tadi nggak sengaja liat kok. Bye."


"Jangan kabur lo, Kiara."


"Woi, Kiara!!" suara teriakan Manda keras banget.


Kabur adalah jalan ninjaku.


Mataku masih sangatlah normal dan sehat, baru saja aku melihat dengan kedua mataku sendiri, panasnya cumbuan Manda dan Brandon. Mereka bercumbu di lorong kampus, memang lorong itu jarang dilalui oleh anak-anak, tapi bukan berarti mereka bisa seenaknya sendiri bercumbu. Apa mereka tidak takut jika dosen atau mahasiswa/i melihatnya dan menjadi tontonan gratis.


Selamet. Bisa lolos dari kejaran mereka adalah rekor bagiku saat ini.


Pertemuan seminar sudah hampir penuh, karena aku datang sedikit terlambat akhirnya terpaksa duduk di kursi paling belakang.


^^^


Hari ini tidak ada jadwal kuliah alias kosong jadi aku memilih untuk pergi jalan-jalan ke Pantai bersama si Vania dan juga Joana sahabat baruku.


"Pakai sunblock dulu biar nggak item, guys."


"Okay."


"Okay."


Vania memang paling top markotop kalau masalah bepergian, detail banget apa saja yang harus dibawa kalau pergi liburan. Jadi aku tidak perlu khawatir lagi karena sudah ada si kantong ajaib Vania.


"Foto dulu gengs."


"Biar gue yang take."


Aku mengambil ahli kamera ponsel Vania.


Menikmati waktu kosong dengan pergi ke pantai itu ternyata seru juga.


"Kok gue ngerasa dari tadi kayak ada orang ngikutin kita deh."


"Jangan nakut-nakutin dong, Ra."


Joana langsung merapat karena takut.


"Lebih baik kita kembali ke Resort aja, gue jadi horor sendiri."


"Sorry, ya. Jadi nggak bisa menikmati liburan dengan baik karena gue terlalu parno."


"Santai aja kali, Kiara. Gue sama Joana sih nggak ada masalah. Yuk, kita balik."


"Betul itu," timpal Joana setuju.


"Oke."


Apa aku memang terlalu parno sampai-sampai panik berlebihan seperti ini hingga hampir mengacaukan kenangan indah bersama sahabat.


Akhirnya kita bertiga kembali ke Resort menunggu matahari terbenam. Obrolan semakin asyik hingga lupa waktu kalau hari sudah mulai gelap. Tidak ingin pulang terlalu malam, setelah selesai makan malam kita memutuskan untuk pulang. Joana pulang sendiri karena berbeda arah, karena hari juga sudah begitu gelap alhasil aku menyuruh Joana agar tidak pulang sendirian.


"Kalian tunggu di sini sebentar."


"Iya."


Berhubung Kenzo masih belum sembuh total, aku akhirnya meminta tolong sama Bang Alfred untuk menjemput kami di sini.


Tentu saja aku takut, apalagi kita semua perempuan lemah. Tidak tahu apa yang akan terjadi nanti dalam perjalanan pulang.


"Lagi di rumah saja, kenapa?"


"Jemput kita pulang dong, Bang. Nanti alamatnya aku kirim."


"Kalian tunggu didalam saja, Abang ganti baju dulu. Jangan kemana-mana sebelum Abang sampai."


"Makasih ya, Abang Alfred. Maaf, udah bikin repot abang."


"Iya, sama-sama."


Aku itu termasuk wanita paling beruntung di dunia ini hidupku dikelilingi oleh laki-laki hebat yang siap siaga menjagaku dari segala mara bahaya.


Karena lokasi yang lumayan jauh, Bang Alfred butuh waktu setengah jam agar sampai tujuan itupun kalau tidak macet.


Akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga.


"Ayok, kita pulang. Bang Alfred udah datang tuh."


"Terus motor kita gimana, Ra?"


"Lo tenang aja, Jo. Masalah itu bang Alfred yang urus yang penting kita pulang aja dulu."


"Santai aja, Jo. Motor lo pasti akan pulang dengan selamat kok."


"Baiklah, gue mah nurut aja."


Badan udah capek pakai banget, duduk dibelakang kayaknya lebih nyaman bisa sambil tiduran cantik.


"Lo duduk didepan, Jo. Gue sama Vania dibelakang, Oke."


"Nggak mau lah, Ra. Ogah gue deket-deket sama tuh orang."


Lah?


Mereka saling kenal? Rasa-rasanya dari nada suara Joana, mereka terlihat seperti Tom and Jerry.


"Kalau tau ada lo di sini, mending gue tidur di rumah. Buruan naik atau lo pilih pulang sendirian."


"Abang, jangan galak-galak dong nanti naksir lho."


"Mustahil!!"


Kompak amat ngomongnya.


Karena tidak ada pilihan lain, Joana terpaksa duduk di kursi depan.


"Di mana rumah lo?"


"Hei, gue ini senior lo. Yang sopan dong kalau panggil nama orang lain."


"Kalau mau berantem , sana di ring tinju. Aku udah nggak betah ini, lengket gatel-gatel."


"Gue tidur duluan, ngantuk."


Apa sih penyebab mereka berdua bisa musuhan gini, padahal fakultas saja sudah beda. Ya, hanya mereka berdua dan Tuhan yang tahu, apa yang sudah terjadi antara keduanya.


Setelah mengantarkan Joana pulang, kini giliran kami untuk pulang ke rumah dan mandi bersih. Si Vania dari masuk mobil sampai depan komplek kerjaannya molor terus. Ini anak kayaknya capek banget apa ya.


"Van, bangun."


"Udah nyampe ya?"


"Iya. Buruan turun gih, Bang Alfred juga butuh istirahat tau."


"Thanks, ya, Al."


"Sama-sama, Kak."


Aku pindah duduk ke depan setelah Vania turun dari mobil.


"Abang kenal Joana di mana deh. Ketemu langsung berantem macam pasangan kekasih beda prinsip hidup."


"Kamu itu jangan terlalu kepo, Ra. Itu penyakit nggak baik. Pokoknya kesan pertama abang ketemu sama dia itu kurang baik. Mandi sana, bau asem matahari."


"Enak aja bau asem. Makasih ya, Bang. Bang Alfred emang yang terbaik. Selamat malam."


"Malam."


Kini bayangan mobil bang Alfred sudah menghilang tanpa jejak.


Tidak terasa sekarang sudah jam setengah sembilan malam saja, aku segera bergegas pergi mandi lalu tidur yang nyenyak.


^^^


"Selamat pagi, Pak."


"Pagi."


Kak Neill berjalan begitu saja setelah dia membalas sapaan para mahasiswi, melirik padaku saja tidak sama sekali.


Kenapa harus mencampur adukkan antara perasaan pribadi dan hubungan antara dosen mahasiswa.


"Ra, Pak Rasya kok tumben amat jutek gitu."


"Mana gue tau, Vania. Masih pagi gini, ngapain juga ngurusin kehidupan orang lain, lebih baik kita segera gabung. Sebentar lagi pertandingan Basket segera dimulai."


"Iya."


Hari ini akan ada pertandingan antara mahasiswa tingkat satu dan dua, seluruh stadion hampir penuh karena banyaknya antusias yang ingin mendukung jagoannya masing-masing.


"Lah, sejak kapan Alfred ikut ukm basket?"


"Kayaknya baru-baru ini deh, padahal bang Alfred itu paling males ikut begian."


"Udah ah, gue mau fokus sama pertandingannya."


Giliran aku jawab malah dicuekin, emang dasar anak satu ini.


Eh, yang duduk di seberang bukannya Joana? kenapa dia duduk bareng sama si Manda bukannya gabung sama kita berdua di sini. Sudahlah lebih baik fokus sama pertandingan basketnya.


Kedua tim sudah memasuki lapangan, dan tim bang Alfred mendapatkan bola pertama.


Aku speechless dengan setiap gerakan Bang Alfred dalam memainkan bola basket. Tidak menyangka kalau dia sehebat itu mainnya, kapan-kapan kalau ada waktu luang aku minta Bang Alfred ajari main.


"Santai aja dong. Nggak usah dorong-dorong."


Kenapa malah ribut sih, lagian itu adek tingkat nomor punggung sebelas emang sengaja banget ngincer bang Alfred mulu. Terus karena nggak berhasil blok jalan Bang Alfred, eh malah main dorong saja.


Untung wasit cepet gerak cepat sebelum mereka baku hantam.


Akhirnya adek tingkat itu diganti juga oleh pelatihnya, takut mengacaukan pertandingan pagi ini.


Babak kelima semakin sengit poin angka tidak terlalu jauh selisihnya.


"Gila, gue kagum banget sama cara Alfred. Tipe yang tenang jarang sekali terprovokasi orang lain, coba aja kalau orang lain yang digituin sama tuh adek tingkat, mungkin di lapangan sudah saling baku hantam kali."


"Bener banget. Bang Alfred lebih condong mewarisi sifat Tante Cathy, nggak kebayang kalau bang Alfred mirip kelakuan Om Lucky yang absurd itu."


"Hahaha."


Kita berdua tertawa terbahak karena merasa lucu.


Kedua tim istirahat sebentar.


Ku tajamkan lagi penglihatanku kedepan, melihat dengan kedua mataku sendiri Joana memberikan botol minum pada Bang Alfred.


Wah, sepertinya ada sesuatu diantar dua insan itu. Aku harus menyelidikinya. Kan jarang-jarang lihat Bang Alfred deket sama perempuan, bukan berarti dia belok. Hanya saja bang Alfred tipe orang yang sedikit berbicara masalah perempuan.


"Aahh.."


Teriakku gembira karena tim bang Alfred menang tipis dari adik tingkat. Sorak gembira tak terelakkan lagi, meski hanya sebuah pertandingan kampus tetap saja hal ini sangat mendebarkan.


"Mau kemana lo, Ra?"


"Mau samperin Bang Alfred."


"Ikut," ujar Vania begitu semangat, lalu menggandeng tanganku.


Padahal aku ingin kasih selamat sama Bang Alfred tapi tidak bisa sama sekali, karena para mahasiswi sudah mengelilingi para tim pemenang. Berasa lihat artis lagi meet and greet, penuh banget sampai aku harus mengalah.


"Aw.."


"Jo, lo nggak kenapa-napa kan?"


"Gue baik-baik aja kok. Brutal banget mereka padahal cuma pertandingan kampus biasa, tapi seramai itu."


Aku dan Vania segera membantu Joana berdiri, dia baru saja terjatuh karena terdorong orang-orang yang berebut minta foto.


"Btw, ada hubungan apa lo sama Bang Alfred?"


"Sorry, nggak level."


"Jangan bilang lo ada something sama sepupu gue, yang sengaja lo berdua sembunyikan?"


"Jangan ngarang deh lo, Ra. Mending kita cari tempat duduk daripada kena baku hantam mereka."


Ngeles mulu kayak bajai.


"Kantin aja yuk," Vania hobi banget deh, apa-apa pergi ke kantin. Bikin orang mau diet susah buat move on.


Akhirnya keputusan akhir kita semua pergi ke kantin.


^^^


Jangan lupa untuk komen, like dan follow


New Taipei, 30 April 2020