
Author POV
Dimas dan juga Karin sama sama terkejut setelah mendengar perjodohan ini, dan lebih parah nya adalah ini adalah cita cita mama mereka sejak mereka kecil sedari tadi mereka berdua lebih memilih untuk terdiam dan tenggelam dalam pikirannya masing masing.
"Sejak kecil sejak kapan perasaan gue ketemu aja baru sma, dan tapi kenapa harus Dimas??."batin Karin yang masih tak percaya dengan apa yang terjadi hari ini , mendengar kabar pernikahan saja membuat nya sudah cukup terkejut ditambah lagi ini dengan Dimas seketika itu juga membuat nya merinding setiap kali mengingat perkataan mamanya.
"Dari sekian banyak cewe kenapa harus ini sih, ya tuhan mending jomblo deh mama juga kenapa pake acara jodoh jodohan sih!!!."gerutu Dimas sedangkan orang tua mereka malah sibuk menata masa depan mereka.
"Mah cukup ini yang nikah siapa sih!!! Karin kan udah bilang Karin masih 19 tahun, aku belum mau nikah dulu."teriak Karin kemudian meninggalkan keempat orang dewasa itu dengan Dimas,gadis itu kemudian masuk kedalam kamar tanpa mengunci pintu Sebelum nya ia bahkan menutup wajahnya dengan bantal.
"Ahhh kenapa harus Dimas sih!!!."teriak Karin dan refleks meremas tangan nya dan untung saja rumahnya memiliki pengedap suara yang otomatis suara dari dalam tidak terdengar dari luar.
"Diem berisik."ucap Dimas sambil membuka pintunya mendengar itu seketika Karin pun terbangun kemudian menghadap kearah Dimas.
"Ketok pintu dulu kek baru masuk."sindir Karin yang melihat wajah Dimas lagi.
"Iya iya maaf , dasar bawel."ucap dimas sambil masuk kedalam kamar gadis itu yang bernuansa pink pastel.
"Lu juga kenapa gak inisiatif nolak sih!!! Jadi cowo harus tegas dong."cibir Karin
"Kampret!! Gue aja baru tau sekarang boro boro mau nolak rin."ucap Dimas tak mau kalah, hingga beberapa saat mereka hanya terdiam tak ada pembicaraan hingga karena tak lama kemudian Dimas pun membuka pembicaraan.
"Udah lah kita ikutin aja kemauan mereka."ujar Dimas yang sudah tak mendapatkan ide lain, posisi nya serba salah ia bukanlah anak pembangkang tapi kali ini terus terang ia kurang setuju dengan keputusan kedua orang tuanya.
"Idih , ogah."ucap Karin mendengar perkataan Dimas seolah-olah membuat bulu kuduk nya langsung berdiri.
"Gue juga ogah kali, udahlah kita cuman setuju pas didepan mereka aja."usul Dimas yang menurut nya tak ada cara lain selain ini
"Maksudnya???."tanya Karin belum paham
"Jadi kita iya in aja permintaan kedua orang tua kita , lebih tepatnya nya kita akrab nya pas didepan mereka doang gitu loh. Lebih tepatnya kek drama full house."ucap dimas sembari menaikkan sebelah alisnya.
"Terus ntar kalau ketahuan gimana??."tanya Karin balik , pasalnya itu juga beresiko.
"Kita omongin baik baik aja, kalau sekarang belum cocok waktu nya toh kita kan gak langsung nikah cuman rencana doang."setelah memikirkan matang matang rencana Dimas akhirnya Karin pun mengangguk setuju,toh tidak ada cara lain selain menurut i kedua orang tua mereka.
"Oke deh gak ada cara lain juga."batin Karin , dan semenjak kejadian ini mereka berdua sepakat untuk pura pura menyetujui orang tua mereka, dan setelah selesai Dimas dan juga Karin kemudian turun kebawah sambil berpegangan tangan meskipun sebenarnya mereka berdua sama sama geli melakukan nya.
"Ma , pa."sapa mereka berdua dengan sopan sambil turun kearah anak tangga.
"Nah kek gini kan enak dilihat nya."ucap mama Dimas yang tak kalah bahagia.
"Kapal baru saya lebih romantis."tambah mama Karin yang terlihat tak kalah antusias.
"Ya Allah sampe kapan harus kek gini."batin Karin
"Sabar sabar."batin dimas dan tak ada bedanya dengan kedua anaknya , kedua papa mereka juga hanya terdiam sambil sesekali tersenyum ringan kearah istri mereka.
*****
Keesokan harinya Aldo menjemput Karin dirumahnya dengan menggunakan motor yang bisa dibilang jarang sekali ia pakai.
"Ini helm nya."ucap Aldo sambil menyerahkan helm yang sudah ia bawa dari rumah.
"Tumben bawa motor??."tanya Karin penasaran sambil mengenakan helm yang Aldo berikan untuk nya.
"Alah cuman 2 orang aja kalau pake mobil ntar bikin macet."ucap Aldo dan Karin pun tak mencurigai apapun, setelah selesai Aldo pun melajukan motornya melewati hirup pikuk kota maklum semakin sore semakin ramai orang wara Sesampainya di bioskop buru buru mereka ke tempat kasir untuk membeli tiket sekaligus camilan dan setelah selesai kemudian masuk kedalam.
"Gimana filmnya??."bisik Aldo tepat ditelinga karin
"Ehhmmm lumayan seperti film romantis pada umumnya."ungkap Karin sambil Asik memakan popcorn yang ada di tangan Aldo.
"Tapi kek nya endingnya kurang bagus deh."ucap Aldo yang memang sedari tadi sudah fokus dengan karakter sacond lead yang diperankan oleh aktor favoritnya meskipun awalnya menurut nya menyebalkan tetapi lama kelamaan ia ikut terhanyut suasan juga.
"Ya kan disini Bryan cuman jadi sacond lead doang."balas Karin tanpa melepaskan pandangannya kearah layar lebar.
"Gak enak ya harus suka sama seseorang diem diem."celetuk Aldo kemudian menatap kearah Karin
"Tergantung sih , kalau cowo mah enak tinggal ngungkapin giliran cewe ntar dikira murahan lagi."ucap Karin dengan santainya meskipun sebenarnya untuk generasi nya baik perempuan maupun laki-laki bisa mengungkapkan perasaan nya terlebih dahulu tapi namanya juga gadis itu memang masih memegang teguh prinsip dari mamanya.
"Tapi gak semua cowo berani ngungkapin kok , bukti nya gue."ucap Bayu , Karin yang sebelumnya sedang asik menonton kemudian mengalihkan perhatian nya kearah Bayu.
"Jadi lu beneran suka sama Rini."goda Karin , mengingat akhir akhir ini Aldo lumayan lebih sering bersama Rini dan semenjak itu lah ia berfikir kalau mereka jadian.
"Hah!! Apaan gak lah mana mungkin gue suka sama cewe sejudes dia."ucap Aldo tak terima ia hanya memandang gadis itu sebagai sahabat tidak lebih dan kurang.
"Tapi ngomong-ngomong sebenarnya kalian cocok kok, btw kalau jadian beneran jangan lupa traktir."bisik karin tepat di telinga Aldo , sedangkan yang dibisikkan hanya bisa menarik nafas panjang sambil tersenyum kecut sedangkan Karin lebih memilih untuk diam dan fokus menikmati film.
"Astaga Karin Gimana gue mau suka yang lain, kalau orang yang gue suka ada disamping gue sendiri saat ini."batin Aldo sambil menatap kearah gadis yang ia sukai sejak awal Maba, fikiran nya kemudian mengingat kejadian saat awal awal mereka bertemu.
Flashback
"Hai aku Aldo."Ucap nya memperkenalkan dirinya dan semenjak kejadian itu ia mulai terpikat oleh senyuman Karin, dan beberapa saat terakhir ini bersama dengan Rini karena ia bingung dengan perasaan nya sendiri.
Tebece