My heart is not mine

My heart is not mine
Fajar Yang Berbeda



Nadia melamun sangat lama, sehingga dia tidak sadar kalau sudah sampai di tempat tujuan.


"Mbak kita sudah sampai" Driver itu memecahkan lamunan Nadia.


"Eh, Iya mas" Nadia yang kaget langsung turun dari motor dan melepaskan helm.


Nadia memberikan selembar uang sepuluh ribu dan satu lembar lima ribu. Setelah menerima uangnya driver online itu pergi menjemput penumpang berikutnya.


Nadia kemudian masuk ke dalam, belum sempat ia bertanya di mana Dimas. Dimas sudah berdiri di hadapan Nadia. Nadia yang melihat nya langsung berhenti, Dimas yang berjalan maju mendekati Nadia.


"Nadia?"


"Kak, bisa bicara sebentar?"


Dimas mengangguk lalu menggandeng tangan Nadia dan membawanya ke taman yang ada di belakang rumah sakit. Mereka duduk di kursi besi warna hitam, dibelakang nya ada pohon lebat yang membuat tempat duduk itu teduh, dan di depan kursi ada taman bunga yang sangat indah.


"Kak, aku minta maaf karena tidak bisa datang ke pemakaman kak Novi" Nadia menunduk sedih tidak berani melihat wajah kakak kandung dari Novi.


"Tidak apa - apa Nadia, kakak tau ini bukan keinginan mu. Pasti dia kan yang melarang mu pergi?"


Dimas memegang kedua bahu Nadia lalu menghadapkan nya ke samping. Sekarang posisi mereka sedang berhadapan dengan Nadia yang masih menunduk.


"Sudah lah jangan mempermasalahkan hal itu lagi. Semua sudah berlalu, kita do'akan saja semoa Novi tenang disana" Dimas tersenyum tipis menenangkan Nadia yang selalu saja merasa bersalah.


"Bagaimana dia bisa tenang kak. Dia sangat mencintai Fajar, tapi aku tiba-tiba datang dan menggantikan posisi nya" Nadia masih tetap dengan perasaan yang ia rasakan.


Dimas hanya diam, di juga tidak mau Nadia pergi menggantikan Novi. Tapi sifat Nadia yang keras kepala sangat susah di bujuk.


"Sudahlah, lebih baik kamu memikirkan bagaimana selanjutnya"


"Aku tidak tahu harus seperti apa, aku hanya bisa berhati - hati di rumah itu"


Nadia menatap langit dengan lesu. Kenapa dia harus melewati ini semua? Mungkin jika disuruh memilih ia akan lebih memilih menemani ibunya. Tapi takdir berkata lain, Nadia masih belum diizinkan pergi. Nadia masih harus tetap hidup.


Dimas dan Nadia mengubah topik pembicaraan mereka, dari yang semula nya sedih menjadi cerita yang menyenangkan. Tidak terasa mereka sudah lama cerita - cerita, Nadia pamit ingin pergi melihat kuburan kakaknya.


Ia sekarang sedang menunggu halte bus yang tidak jauh dari Rumah Sakit. Cukup lama menunggu, bus pun akhirnya datang. Banyak orang yang keluar berdesakan dari bus. Tidak sedikit juga orang yang masuk.


Dengan susah payah akhirnya Nadia berhasil masuk. Tapi dia disambut dengan keadaan bus yang sangat padat, sempit, panas, dan sesak. Nadia bahkan tidak dapat tempat duduk, ia terpaksa harus berdiri dan berpegangan dengan alat yang sudah disediakan.


Bus berhenti di setiap halte yang ia lewati, halte berikut nya adalah tempat pemberhentian Nadia.


Nadia kemudian turun dengan berdesakan lagi. Benar - benar sangat padat. Sebelum menuju kuburan Nadia pergi ke toko bunga terlebih dahulu.


Setelah nya Nadia berjalan menuju kuburan. Kuburan ini cukup tersembunyi dari jalanan. Harus masuk kedalam terlebih dahulu. Jalan menuju kuburan itu dikelilingi oleh hutan.


Seperti apapun ia dikasih tahu, jika sudah bertekad dia akan melakukan nya.


Nadia berjalan melewati setapak demi setapak, cukup seram sebenarnya harus masuk kesana sendirian. Entah kenapa mereka memilih untuk dikuburkan di sini.


5 menit menyusuri jalan Nadia sampai di kuburan. Ada banyak batu nisan bertuliskan nama orang yang telah wafat. Nadia berhenti di salah satu batu nisan yang bertuliskan nama kakaknya Novita Syahreza.


Tanah kuburan nya masih basah, terlihat jelas tanah itu baru digali. Nadia terduduk, melihat batu nisan kakaknya. Sekali lagi dia merasa bersalah.


Sebenarnya rasa bersalah apa yang ia rasakan? Novi kecelakaan juga bukan karena Nadia, tapi karena kesalahannya sendiri. Apa mungkin Nadia merasa bersalah karena harus menggantikan posisi nya? Mungkin itu memang sudah takdir, siapa yang bisa merubahnya?.


Kak, maaf kan Nadia. Kakak pasti sedih berada disana. Kakak pasti sedih harus meninggalkan orang yang kakak cintai. Maaf kan Nadia yang tiba-tiba datang dan merebut posisi kakak. Maafkan Nadia yang telah mengambil hati kakak.


Andai saja kita akur walaupun saudara tiri. Kakak tahu, aku selalu iri melihat kakak adik yang selalu bercanda dan tertawa bersama. Aku juga ingin seperti mereka, bisa dekat dengan mu, menceritakan semua yang kurasakan padamu. Aku ingin seperti itu.


Aku benar-benar tersiksa tinggal di rumahnya, apa kakak juga di perlakukan sama dengan ku? Seperti nya tidak, Fajar juga menyukai mu. Mana mungkin dia akan bersikap kasar padamu.


Kak, apa jika suatu saat aku mencintai Fajar dengan tulus kau membenci ku? Aku tahu memang tidak pantas mencintai nya, apa lagi hati yang ada di dalam tubuhku adalah punya mu.


Jika aku mencintainya apakah hatiku yang merasa senang atau hati mu kak?Jika itu memang terjadi kumohon maafkanlah aku. Tapi apa aku bisa menyukainya? Fajar itu seperti iblis berwajah manusia dia sangat kejam. Aku salut padamu karena bisa menyukainya.


Banyak hal yang di cerita kan Nadia di depan makam kakaknya. Semua yang ia pendam ia cerita kan. Mungkin itu bisa sedikit melegakan perasaan nya, mungkin bisa juga menemani kakaknya yang sendirian.


Sekali - sekali Nadia tertawa kecil saat bercerita hal yang lucu, dia juga marah saat menceritakan hal yang menyebalkan. Nadia bercerita hampir 2 jam, dia sudah duduk selama 2 jam di depan makam kakaknya.


Sebelum pulang Nadia berdoa terlebih dahulu untuk kakaknya.Saat hendak berdiri Nadia merasakan sakit di kakinya. Tentu saja sakit, dia sudah duduk 2 jam lamanya.


Kaki Nadia keram, dia kesulitan untuk berjalan. Tapi tetap ia paksakan sampai kembali ke halte tempat dia turun tadi. Nadia benar - benar memaksakan nya, sekarang kaki Nadia sudah sangat bengkak.


Berapa lama lagi aku harus berjalan, kaki sudah sangat sakit.


Untung saja ketika di bus dia bisa mendapatkan tempat duduk, Nadia melihat HP nya ternyata sudah jam 3 sore. Sangat lama untuk bisa segera sampai di rumah Fajar.


Karena tempat tinggal Fajar itu berada di pusat kota, perumahan - perumahan elit, tidak sembarangan orang mampu tinggal disana. Nadia selalu berhenti di halte dan naik bus lagi. Begitu terus karena setiap bus punya jalur nya masing-masing.


Sudah 4 kali Nadia berganti bus, setelah 4 kali akhirnya ia sampai di halte terakhir. Nadia lalu berjalan menuju rumah Fajar. Lagi - lagi ia harus berjalan agar bisa sampai, tapi itu malah memperburuk kondisi kakinya.


Yang benar saja aku harus berjalan lagi? Jika begini terus apa aku minta izin saja ya padanya untuk membawa mobil keluar? Huh! dia sangat kejam mana mungkin dia akan mengizinkan ku.


Fajar kenapa kau berbeda dengan nama mu? Fajar yang aku tau tidak seperti mu, Fajar yang ku kenal sangat hangat, selalu membuat ku tersenyum ketika melihat nya tiba. Tapi kau memberi kan semua orang perasaan takut ketika melihat mu.


Kau salah menggunakan nama yang diberikan orang tua mu. Mereka pasti ingin kau menjadi pria yang lembut. Tapi kau malah menjadi seorang Iblis.


~Bersambung~