My heart is not mine

My heart is not mine
Pria Iblis



15 menit kemudian Nadia sampai di rumah Fajar. Nadia terkejut melihat betapa besar dan mewah nya rumah ini. Bahkan mengalahkan rumah nya.


Budi membukan pintu untuk Nadia, lalu ia turun dan masih kagum dengan rumah besar di hadapan nya. Sementara Budi sedang mengeluarkan kopernya.


"Nona mari silahkan masuk" Budi berjalan di belakang sambil membawa koper milik Nadia. Lagi - lagi Nadia di buat terpesona oleh isi dalamnya, semuanya barang - barang mewah.


"Tidak usah melongo seperti itu, seperti tidak pernah lihat saja" Fajar yang sedang berjalan turun dari tangga memperhatikan Nadia yang kagum akan rumahnya.


Nadia yang di tegur itu merasa malu diluar tapi mengomel di dalam.


Jangan sama kan aku dengan dirimu, aku tahu kau kaya. Berhenti lah bersikap sombong. Semoga kau kena omongan mu sendiri. Hmp!


"Maaf tuan saya hanya kagum melihat rumah ini" Nadia dengan sangat terpaksa menunjukkan sisi lain yang ia rasakan. Padahal ia sebenarnya ingin mengomel tapi dia tidak bisa melakukan nya.


"Dasar gadis kampungan" Fajar kemudian pergi ke dapur setelah menghina Nadia.


Sampai kapan aku harus hidup dengannya, perlahan rasa cinta yang kumiliki bisa hancur karena ulahnya sendiri. Lihat saja aku akan membuat kau mengemis padaku. Hahaha.


"Nona mari saya antarkan ke kamar Nona" Budi lalu berjalan didepan Nadia mengikuti Budi di belakang. Kamar Nadia berada di lantai satu. Sebenarnya lantai satu ini kamar para pelayan.


Tapi kamarnya Nadia berbeda dengan pelayan lainnya


Budi membuka pintu kamar, Nadia kemudian masuk dan sekali lagi terpesona. Bahkan kamarnya dulu tidak sebagus kamar ini.


"Nona silahkan istirahat, saya pamit dulu" Budi membungkuk sopan dan pergi. Setelah Budi pergi Nadia kemudian menutup rapat pintu kamarnya. Dan langsung berlari ke kasur empuk yang sudah lama menunggu.


Nadia berbaring di atas kasur dan mulai memikirkan lagi kehidupan nya di rumah yang sangat menakutkan ini. Dia harus bisa menahan setiap perkataan pedas dari Fajar. Semakin lama memikirkan nya Nadia semakin terlelap dan akhirnya tidur.


...****************...


Jam sudah menunjukkan pukul 6 pagi. Nadia terlambat bangun satu jam. Dia biasanya bangun jam 5 atau bahkan jam 4. Nadia mendapatkan kebiasaan itu dari ibunya.


Nadia yang tidur dengan sangat nyenyak itu akhirnya bangun, lalu ia segera bersih - bersih. 15 menit kemudian Nadia sudah rapi, bersih, cantik dan wangi. Sudah sangat sempurna.


Nadia kemudian turun melihat apakah ada yang bisa di bantu. Nadia hobi memasak ia memutuskan untuk pergi kedapur dan membantu para pelayan.


"Apa ada yang bisa ku bantu" Nadia bertanya kepada salah satu pelayan yang sedang memasak. Para pelayan di buat kaget oleh Nadia. Tentu saja mana ada seorang Nona Muda masak, tapi Nadia berbeda. Semenjak ibu nya meninggal gelar Nona Muda nya itu sudah menghilang.


"Nona, apa yang nona katakan?" Pelayan itu menjawab dengan penuh tanda tanya.


"Apa ada yang bisa kubantu?" Nadia mengulang kembali pertanyaan.


"Nona, dapur ini tempat yang kotor. Sebaiknya nona duduk saja sambil minum teh" Nadia tidak menyangka di bisa kembali menjadi seorang yang di hormati. Di rumahnya bahkan pelayan pun sangat lancang padanya.


"Tidak, tidak. Aku ingin membantu kalian" Nadia masih saja bersikeras ingin membantu. Dasar Nadia, hilang kan saja sikap keras kepala mu itu.


"Tapi bagaimana jika Tuan memarahi kami? Nona adalah tunangan nya" Jawab pelayan itu yang memperjelas status Nadia.


Aku hanya pengganti kakak, apa yang kuharap kan darinya. Dia tidak akan mempermasalahkan hal ini. Bahkan jika aku terluka ketika memasak untuknya, dia tidak akan peduli.


"Makanan apa yang disukai Tuan Muda" Nadia bertanya sambil memakai apron ungu bermotif bunga. Pelayan manatap heran. Apa benar wanita ini tunangan Fajar, masa makanan kesukaan nya saja tidak tahu. Begitu lah kira-kira maksud dari tatapan pelayan itu.


"Tuan tidak pemilih, dia selalu memakan apa yang kami masak untuk nya"


"Lalu apakah dia alergi sesuatu?" Tanya Nadia lagi. Sekali lagi pelayan di buat heran dengan Nadia. Tapi mereka tetap menjawab.


"Tuan Muda alergi dengan kuning telur, udang, dan makanan pedas" Pelayan itu memberitahu kan alergi yang di derita Fajar. Mendengar itu Nadia tertawa geli di dalam hati.


Yang benar saja, kenapa dia menyebutnya alergi? Tinggal bilang tidak bisa makan makanan pedas susah sekali ya? hihihi...


Setelah puas mengejek Fajar, Nadia lalu mulai memasak. Ia memasak dengan sangat hati - hati alasan dia memasak adalah untuk membuat kesan yang baik di mata Fajar.


Sudah jam 07.30 waktunya Fajar untuk mulai sarapan. Makanan juga sudah dihidangkan diatas meja dengan rapi. Hanya tinggal menunggu tuan rumahnya saja.


Terdengar suara langkah kaki menuju ruang makan semua pelayan langsung bersiap - siap menyambut Fajar. Nadia juga mengikuti mereka.


"Selamat Pagi Tuan" Para pelayan termasuk Nadia membungkuk hormat mengucapkan selamat pagi. Tapi Fajar hanya diam tidak memperdulikan ucapan selamat pagi itu.


Fajar kemudian duduk dan mulai makan. Tapi Nadia hanya diam dia bahkan masih berdiri.


"Untuk apa kau berdiri seperti patung disitu. Kemarilah dan sarapan" Tidak disangka Fajar mengajak makan bersama. Nadia langsung duduk tapi jaraknya cukup jauh dari Fajar.


Fajar mulai memakan sarapan yang telah di buat oleh Nadia. Nadia yang dari tadi memperhatikan mulai senyum - senyum sendiri.


"Siapa yang memasak makanan ini?" Tanya Fajar yang membuat semua pelayan menjadi ketakutan. Jawaban yang diberikan oleh Nadia membuat nyawa semua pelayan seakan terbang meninggal tubuh mereka.


"Maaf Tuan, tentu saja para pelayan yang memasaknya" Nadia menjawab nya dengan sedikit menunduk.


"Kenapa baru sekarang kalian memasak makanan enak ini, mulai besok aku hanya akan sarapan ini saja" Fajar memuji sarapan yang dibuat oleh Nadia. Nadia sengaja tidak memberitahu kalau itu buatan nya. Karena Nadia menebak kalau Fajar tidak akan mengaku.


Yes! Bagaimana enakkan makanan buatan ku? . Huh! akan kubuat kau terus memakannya.


Senyuman di wajah para pelayan kembali, Fajar menikmati sarapan yang ia anggap enak. Nadia juga ikut makan.


Setelah itu tidak ada suara hanya ada gesekan garpu dan sendok.


Fajar dan Nadia telah selesai sarapan, kemudian para pelayan membereskan meja makan. Setelah itu Fajar memberikan sebuah kertas untuk Nadia.


"Ini kau baca dan di hafal, batas waktunya sampai malam" Fajar benar-benar seorang iblis dia menyuruh Nadia membaca kertas setebal itu lalu menghafalnya? Tapi bukan Nadia namanya kalau gk bisa.


"Maaf Tuan apakah boleh sampai besok siang? Aku ingin ke pergi ke makam kakakku". Benar sekali. Hari ini Novi dimakamkan, tapi Nadia masih terkurung di penjara es ini.


"Kau tidak boleh kemana-mana selama aku keluar. Jika aku mendengar kau membantah atau melanggar peraturan. Kakak mu yang akan mendapatkan hukumnya" Fajar mengancam Nadia kemudian pergi diikuti oleh supir pribadi nya Paman Budi.


Fajar apa kau iblis? Aku hanya ingin mengunjungi kakakku, kau bahkan melarangku untuk itu. Aku benar-benar buta dulu bisa mencintai pria iblis seperti mu!!


~Bersambung~