
Rumah Sakit memang tidak jauh dari yang namanya alat medis dan bau obat - obatan. Di salah satu ruangan berbaring seorang wanita cantik yang sedang menunggu takdirnya.
"Yah, apakah sudah ada yang bisa mendonorkan hati nya untukku?" Tanya gadis itu. Dia mengidap Kanker Hati, jika di biarkan dia akan mati. Tapi jika ada yang bisa mendonorkan Hati yang cocok buat nya, ada kemungkinan dia akan selamat.
"Maaf kan ayah Nadia, masih belum ada Pendonor yang cocok" Ayahnya menunduk tidak berani melihat wajah putri nya.
"Begitu ya?" Nadia menatap langit-langit ruangan nya dan tersenyum tipis.
"Mungkin Nadia memang harus menemani ibu disana yah" Nadia tersenyum menatap ayahnya yang sedari tadi duduk menemani nya.
"Kamu jangan ngomong begitu" Bantah nya.
Nadia hanya tersenyum bahagia bisa melihat ayahnya mengkhawatirkan dia. Dia tidak menyangka bahwa ayahnya akan menunjukkan kekhawatiran nya.
Nadia sudah lama di rawat di rumah sakit, sudah 6 bulan lamanya. Tapi masih belum juga ada donor yang tepat untuk nya.
Setelah menemani Nadia ayahnya kemudian pamit pergi kekantor dan tinggalah Nadia seorang diri. Kesepian tidak ada yang menemani. Biasanya ada Kak Dimas yang akan menemani nya, tapi hari ini di sangat sibuk sehingga tidak bisa menemani Nadia.
~Disisi Lain~
"Fajar aku jenguk adik ku dulu ya" Pamit Novi sambil mengambil tasnya.
"Apakah adik mu masih di Rumah Sakit? Tanya Fajar tanpa mengubah pandangan nya dari komputer yang ada di depan nya.
"Kamu kan tau penyakit adikku" Jawab Novi kakak tiri Nadia dan berjalan mendekati Fajar. Lalu mencium pipinya.
Kemudian Novi pergi dengan mobil sport mewah miliknya. Di perjalanan dia menelfon seseorang. Novi marah - marah di telfon sampai dia tidak sadar kalau sudah melewati lampu merah.
Karena kesalahan nya sendiri ia menabrak seorang pengemudi Truk. Kecelakaan nya cukup besar. Novi yang mengemudi seketika tidak sadarkan diri. Tubuh nya penuh dengan darah, bagian depan mobilnya sudah hancur.
Karena cukup parah, kecelakaan itu mengundang perhatian reporter. Saat melihat siapa yang tertabrak langsung menjadi berita panas. Tentu saja karena yang tertabrak adalah Novita Syahreza Tunangan dari penerus tunggal keluarga Adhitama, Fajar Adhitama.
Setelah itu Novi dilarikan ke rumah sakit, tapi karena sangat lama di bawa ke rumah sakit ia meninggal. Novi di bawa ke rumah sakit tempat Nadia di rawat yang berarti Kakaknya juga bekerja disana.
Entah takdir atau kebetulan Hati yang dimiliki Novi cocok dengan donor yang dibutuhkan Nadia. Karena Novi memang sudah meninggal bahkan sebelum dilakukannya pemeriksaan, Kakak nya Dimas langsung mengoperasi Nadia dengan Hati kakak nya.
Mungkin tindakan Dimas terdengar tidak punya hati tapi tetap saja kenyataan nya adalah Novi sudah meninggal, tidak di Ambil pun hatinya tidak mempengaruhi apa - apa.
...----------------...
Setelah 2 jam mengoperasi Nadia ia kembali di bawak ke ruang inap. Dimas juga duduk disamping nya menunggu Nadia sadar. Beberapa saat kemudian Nadia sadar, Dimas spontan berdiri.
"Nadia apa kamu merasa ada yang sakit?" Tanya Dimas yang masih memegang tangan Nadia.
"Kak apa operasi nya berhasil?" Nadia balik bertanya.
"Tentu saja berhasil, sangat berhasil" Jawab Dimas semangat
"Lalu dimana keluarga yang mendonorkan Hatinya untuk ku aku akan berterimakasih dengan mereka" Nadia sangat senang, dia harus menemukan keluarga yang rela mendonorkan Hati nya untuk Nadia. Tanpa Nadia tau kalau itu adalah Kakaknya sendiri.
"Tapi aku ingin berterimakasih secara langsung, rumah sakit pasti punya nomor HP mereka biarkan aku menelpon oke?" Nadia tidak juga berhenti membujuk kakaknya. Dimas semakin bingung mencari alasan lain.
"Nanti saja ya setelah kamu pilih total, jika kamu sudah sembuh sepenuhnya kakak akan membawa mu menemui mereka" Ini benar-benar alasan terakhir yang Dimas punya. Jika Nadia masih bersikeras dia sudah tidak tau akan mengatakan apa lagi.
"Huft... baiklah tapi kakak harus berjanji padaku. Jika aku sudah sembuh bawa aku menemui mereka" Nadia memberikan jadi kelingking untuk membuat janji dengan Dimas. Dimas hanya menurut dan melingkar kan kelilingking mereka.
"Untuk apa kau berjanji pada nya? " Seorang pria gagah masuk, disamping nya berdiri seorang pria yang kelihatannya orang terpercaya nya.
BUGHH!!
Ia langsung meninju Dimas yang membuat Nadia kaget bukan main.
"Apa yang kau lakukan? Kenapa memukul kak Dimas?" Tanya Nadia kesal.
"Kenapa tidak kau tanya saja pada kakak kau yang kejam ini" Jawabnya sambil memegang dagu Nadia lalu menghempas nya. Nadia kaget ternyata pria yang ia cintai bisa sekasar ini.
"Apa maksud perkataan nya kak? Kenapa dia mengatai kakak kejam?" Nadia masih tidak mengerti maksud pria ini. Dia tiba-tiba datang dan langsung memukul Dimas.
"Nadia sebenarnya hati yang ada didalam tubuh mu itu milik Novi" Dimas bangkit dari posisinya yang tadi terjatuh karena pukulan.
"APA!?" Nadia Terbelalak kaget, tidak pernah ia bayangkan kalau hal ini akan terjadi.
"Kenapa bisa begitu kak? Apa yang terjadi?" Air mata Nadia perlahan turun, disatu sisi ia merasa bersalah tapi disisi lain ia merasa takut. Takut karena harus hidup dengan bayang - bayang kakaknya.
"Novi terlibat kecelakaan, dia sudah meninggal sebelum di bawa kesini. Dan kebetulan Hatinya cocok dengan punya mu" Jelas Dimas yang semakin membuat Nadia tambah kaget. Sekarang bukan karena kaget melainkan soal kecelakaan.
"Kau sudah dengar itu, kau dan kakak mu sudah membunuh tunangan ku" Tambah Fajar yang membuat Nadia semakin merasa bersalah.
"Maaf sebelumnya Tuan Syahreza, perbuatan mu ini bisa membuat mu terjerumus kedalam penjara" Pengikut yang ada di belakang Fajar juga ikut menambah rasa bersalah Nadia.
"Apa maksud mu, Novi itu adik kandung ku. Dia juga sudah meninggal bahkan sebelum di lakukan pemeriksaan" Dimas pembantah perkataan orang kepercayaan Fajar. Memang tidak salah apa yang dikatakan Dimas, Novi memang sudah meninggal dan Dimas juga kakak kandung nya. Dua hal tersebut sebenarnya bisa menyelamatkan Dimas dari penjara.
Tapi Fajar begitu berkuasa, dia bisa mengendalikan semuanya. Termasuk membawa Dimas ke penjara.
"Kumohon hentikan ini semua, jangan membuat diriku semakin merasa bersalah" Tangis Nadia pecah karena sudah tahan lagi.
Fajar menatap Nadia penuh benci dan memegang dagu Nadia kuat.
"Kau memang salah, jangan sok drama seperti itu" Fajar kembali menghempaskannya. Nadia tidak bisa berkata apa - apa lagi. Pria yang ia cintai sudah membenci nya.
"Aku tidak akan menjerumuskan kakak tercinta mu itu kepenjara jika kau bersedia hidup sebagai Novi dan menjadi tunangan ku" Kalimat yang dilontarkan Fajar sukses membuat Nadia dan Dimas terkejut bahkan orang kepercayaan nya juga ikut terkejut.
~Bersambung~
Likee, coment, vote, favorit
Semoga suka ya😘