My heart is not mine

My heart is not mine
Menjadi Novi



Suasana di ruangan ini masih tidak dapat dijelaskan. Nadia masih kaget atas pernyataan Fajar, bagaimana bisa pria ini meminta hal yang sangat tidak masuk akal.


"Nadia jangan di terima, kakak tidak apa - apa masuk penjara. Tapi jangan sampai mengikuti kemauannya" Dimas menyuruh Nadia menolak permintaan Fajar itu. Tapi sikap Nadia yang keras kepala tidak akan berguna.


"Tidak kak, kakak melakukan ini semua demi aku. Biarkan aku membalasnya" Nadia tersenyum seolah itu bukan masalah baginya. Nadia tau dia bisa melewati itu semua. Nadia juga tau kalau dia tidak akan disambut baik oleh Fajar.


"Nadia pikirkan sekali lagi, apa kau mau hidup sebagai Novi? Dia sudah sering menyakiti mu" Dimas masih bersikeras agar Nadia menolak nya, tapi lagi - lagi Nadia tetap dengan kata-kata nya.


"Tidak masalah kak, walaupun kak Novi sering menyakiti ku. Tapi disaat terakhir dia memberikanku hati miliknya" Jawaban Nadia sudah tidak bisa dibantah dengan apapun. Dia sudah bertekad. Toh jika berita ini tersebar orang akan mengenal dia sebagai Novi bukan lagi sebagai Nadia.


"Baiklah Tuan, aku menerima nya. Tapi aku mohon jangan ganggu Kak Dimas, biarkan dia hidup seperti dulu lagi" Permintaan Nadia membuat Dimas menangis, tapi Fajar hanya tersenyum licik.


"Terserah kau saja" Fajar kemudian berbalik dan pergi sebelum sampai di ambang pintu ia mengucapkan sesuatu.


"Malam ini kau sudah harus berada di tempat ku. Supir ku akan menjemput mu" Fajar kemudian pergi dan menghilang begitu juga dengan orang kepercayaan.


Sebenarnya di hati kecil Nadia yang paling dalam dia merasa senang. Akhirnya dia bisa mendapatkan pria yang ia cintai walaupun bukan dengan identitasnya sebagai Nadia tapi sebagai Novi.


"Kak sudah ya jangan menangis lagi" Nadia turun dari tempat ia baring dan menghampiri Dimas yang sudah terduduk lemas.


"Nadia kakak mohon tolak saja permintaannya, tidak masalah bagi kakak untuk masuk penjara" Dimas masih juga tidak berhenti membujuk Nadia.


"Kak aku tidak apa - apa, jangan hanya memikirkan aku. Setidaknya pikirkan ayah, bagaimana jika tersebar keluar sana kalau putra dari keluarga Syahreza masuk penjara. Ayah pasti akan mengalami kesulitan" Nadia mencoba meyakinkan kakaknya.


"Bagaimana jika dia menyakiti mu?" Dimas memegang pipi Nadia dan menatap dengan dalam.


"Kak, dia tidak akan pernah menyakiti ku. Jika pun ia aku cukup kuat untuk menghadapi nua, aku bukan perempuan yang lemah" Nadia juga meletakkan tangannya di atas tangan Dimas yang memegang pipinya dan tersenyum.


PLAK!!


Satu tamparan mendarat di pipi Nadia yang membuat nya terjatuh kesamping.


Dimas dan Nadia kaget karena tamparan mendadak itu.


"Dasar anak kurang ajar!! Kau membunuh kakakmu sendiri!!" Bentak seorang wanita yang tidak lain adalah ibu tiri Nadia.


"Ibu Nadia tidak salah, ini salah ku karena sudah mengambil Hati Novi tanpa izin" Dimas membela Nadia yang sudah tersungkur ke lantai yang dingin.


"Kenapa kau selalu saja membela Nadia!! Kau bahkan tidak perduli dengan adik mu sendiri!!" Bukannya tenang ibu tiri nya yang bernama Mirna ini malah balik memarahi Dimas.


"Apa kau tega adik mu mati dalam keadaan tidak utuh? " Ibu Mirna menatap dengan sedih.


"Ibu aku tau aku salah, tapi Novi memang sudah mati sebelum dibawa ke sini. Hati Novi itu kebetulan cocok dengan Nadia" Dimas mencoba menjelaskan segalanya. Tapi itu tidak cukup untuk membuat ibunya tenang, ia malas semakin marah.


"Ini semua karena kau, pasti kau kan yang merencanakan kecelakaan ini. Karena kau tau Novi memiliki hati yang cocok dengan mu" Ibu tiri nya menjambak rambut Nadia dengan sangat kuat.


"Awww.. ibu aku tidak merencanakan apapun. Kumohon lepaskan, ini sangat sakit" Nadia meringis kesakitan.


"Rasa sakit ini bahkan tidak sesuai dengan yang di rasakan Novi" Mirna semakin menarik kuat rambut Novi, seolah ia ingin rambut itu lepas dari kepala nya.


"Awww... hikss... ibu ini sangat sakit... hiks... kumohon lepaskan" Air mata Nadia kembali tumpah karena rasa sakit yang ia rasakan.


Mendengar ucapan Dimas ia langsung melepaskan jambakan nya. Untung ia masih memiliki sedikit belas kasihan.


"Bela saja terus adik kesayanganmu itu!" Mirna pergi dengan amarah, Nadia masih duduk dan nangis. Melihat itu Dimas langsung memeluk Nadia.


......................


Malam pun tiba, sekarang saatnya bagi Nadia untuk mengucapkan selamat tinggal pada namanya dan harus siap ketika dipanggil Novi.


Sekarang Nadia berada di rumahnya. Ayah dan Ibu tirinya sudah tau mengenai persyaratan yang diberikan oleh Fajar. Setelah mendengar persyaratan itu Mirna semakin tidak suka dengan Nadia. Menurut nya jika bukan karena Nadia Novi lah yang akan menjadi Nyonya Muda Keluar Adhitama.


Nadia hanya menunggu sendirian di ruang tamu, ibu tirinya melarang ayah dan Kak Dimas untuk mengantar Nadia pergi. Padahal Dimas sangat ingin mengucapkan perpisahan terakhir dengan Nadia.


Ting.. Tong


Suara bell sudah berbunyi. Seperti nya supir itu sudah datang. Nadia langsung pergi membawa koper di belakang nya menuju pintu.


Saat membuka pintu berdiri seorang pria, dengan pakaian hitam. Dia adalah supir pribadi Fajar.


"Selamat malam nona, saya Budi supir pribadi Tuan Muda. Saya di perintahkan untuk menjemput nona" Supir yang bernama Budi itu membungkuk sopan.


"Baiklah paman Budi ayo kita berangkat" Nadia mengeluarkan kopernya dari ambang pintu lalu menutup rapat pintu rumahnya.


Budi menatap heran, sepertinya ia berpikir apa tidak ada yang mengantarkan Nadia. Nadia yang paham maksud tatapan supir itu langsung berkata...


"Tadi aku sudah pamitan dengan keluarga ku paman" Budi terkejut bagaimana bisa Nadia mengetahuinya yang ia pikirkan.


"Maaf nona" Ia membungkuk karena merasa perilaku nya kurang sopan.


"Tidak apa paman, aku yakin semua orang juga akan berpikiran sama" Nadia menjawab dengan tersenyum, menyembunyikan luka nya. Padahal dia belum pamit satu kata lun.


Kemudian Budi membukan pintu belakang untuk Nadia dan mempersilahkan nya masuk. Setelah Nadia masuk kemudian dia meletakkan koper Nadia ke bagasi mobil.


Setelah nya ia berjalan dan membuka pintu depan dan menghidupkan mesin mobil lalu mulai menjalankan mobilnya.


Diperjalanan Nadia hanya menatap jalan yang disinari cahaya bulan dan lampu malam. Menatap sedih keluar jendela memikirkan bagaimana kehidupannya di rumah Fajar. Ya, Fajar tinggal sendiri dia tidak bersama dengan keluarga nya.


"Paman apa kau bisa bercerita sedikit tentang Tuan Adhitama" Nadia memulai pembicaraan, ia harus tau seperti apa seorang Fajar itu.


"Tuan adalah orang yang sangat perfeksionis, mungkin dia terlihat kejam di luar. Tapi menurut saya dia sangat baik" Budi menjelaskan kepada Nadia pendapatnya mengenai Fajar.


Benar kah itu, tapi kenapa aku tidak merasakan nya


Nadia tidak bertanya apa - apa lagi, ia kembali menatap jalanan dengan tatapan penuh kesedihan.


~Bersambung~


Sekedar info kalau kalimat nya di miring kan tandanya lagi nge-batin ya.


Jangan lupa di Likee, coment, vote, favorit 😍💕