
Setelah beberapa jam menunggu akhirnya jarum panjang menunjukkan pukul 02.00. Nadia beranjak turun dari kasur dan segera menuju dapur.
Kamarnya tidak terlalu jauh dari dapur sehingga cepat untuk bisa sampai kesana. Nadia mulai membuat kan kopi, tapi dia tidak tahu kopi seperti apa yang di sukai oleh Fajar.
Berpikir dan berpikir akhirnya Nadia tahu kopi yang cocok saat bergadang.
Semoga saja seleranya sama dengan ku.
Tidak butuh waktu lama kopi yang di buat oleh Nadia selesai, langsung ia bawa ke ruang kerja pribadi Fajar yang ada di lantai dua.
Tok... tok
Setelah mengetuk pintu Nadia masuk ke dalam dan melihat Fajar masih duduk di depan komputer dan mengetik dengan sangat cepat.
"Tuan ini kopi yang tuan minta" Nadia meletakkan kopi di samping Fajar.
"Letakkan saja di situ" Fajar masih fokus dengan komputer nya. Tanpa memperdulikan Nadia yang tidak tidur hanya untuk menunggu jam 2 pagi.
"Kalau begitu saya permisi tuan" Nadia membungkuk lalu berjalan keluar kemudian ia menutup rapat pintu itu.
Sedangkan Fajar yang masih saja fokus dengan komputer nya, mencoba kopi yang di buat oleh Nadia.
Boleh juga kopi buatan nya.
Tanpa Fajar sadari ia tersenyum saat menikmati kopi hitam itu. Dan melanjutkan pekerjaan nya.
Nadia yang sudah sangat mengantuk mungkin sekarang sudah di alam mimpi. Entah jam berapa dia akan bangun mengingat dia tidur dari jam 2.
Masa bodo dengan itu, Nadia tidak lagi memikirkan nya. Mata Nadia sudah sangat berat, mungkin besok pagi akan ada lingkaran hitam di matanya.
......................
Di dalam kamar bewarna biru langit, kasur yang empuk dan selimut yang nyaman tidur seorang gadis cantik dengan sangat nyenyak. Sangking nyenyak nya ia tertidur sampai lupa kalau para pelayan sedang menunggu nya.
Karena Fajar sudah sangat suka dengan masakan buatan Nadia, tidak ada pelayan yang berani membuat nya selain Nadia. Walaupun Nadia telah mengajar kan cara membuat nya. Tapi tetap saja seakurat apapun resep dan cara membuat nya, tidak akan pernah menghasilkan rasa yang sama karena orang yang buatnya berbeda.
Dibawah selimut Nadia berguling-guling dari kanan ke kiri dari kiri ke kanan. Entah apa yang dia rasakan.
Karena merasa tidak nyaman Nadia membuka berat matanya dan langsung terduduk mencari sebuah benda.
Oh tidak! Sudah jam berapa ini?
Nadia mencari HP untuk melihat jam. Untung saja masih jam tujuh kurang seperempat. Masih ada waktu untuk membuat kan sarapan.
Akhirnya Nadia segara berlari ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Nadia mandi dengan sangat cepat karena takut tidak sempat membuat sarapan. Nadia hanya mandi kurang lebih 7 menitan.
Setelah nya ia langsung berlari ke dapur dan melihat para pelayan telah menunggu nya. Para pelayan bernafas lega melihat Nadia sudah berada di dapur. Akhirnya mereka mulai memasak dan selesai sebelum Fajar turun.
Salah satu pelayan menarik kursi sedikit kebelakang, lalu Fajar duduk di kursi itu. Nadia yang sedari tadi menunggu akhirnya di suruh duduk oleh Fajar.
Setelah sarapan seperti biasa para pelayan membersihkan meja makan.
"Tuan hari ini saya izin keluar" Nadia meminta izin lagi kepada Fajar karena takut Fajar lupa.
"Kenapa kau meminta izin lagi? Bukankah kemarin aku sudah mengizinkan?" Jawaban Fajar membuat Nadia megomel didalam tapi tetap tersenyum diluar.
"Baik tuan terimakasih"
Hey aku meminta izin karena takut kau lupa. Untung saja otak mu itu bagus, benar-benar sangat menyebalkan.
Tanpa berlama-lama lagi Fajar kemudian pergi di ikuti Budi dari belakang. Nadia menunggu Fajar pergi baru ia pergi ke kamarnya.
Nadia hari ini berencana mengunjungi Dimas di rumah sakit. Ia masih merasa tidak enak karena tidak datang ke pemakaman Novi. Dia juga sudah menebak ibu tiri nya pasti akan mencari masalah jika mereka bertemu.
Nadia segera bersiap - siap mengganti baju nya dan memesan ojek online. Sebenarnya sih dia mau saja pergi dengan mobil tapi dia tidak mendapatkan izin untuk membawanya, Fajar juga tidak bilang dia bisa menggunakan mobil.
Selama Nadia bersiap - siap ojek online yang di pesannya juga lagi dalam perjalanan menuju rumah Fajar.
Nadia siap lebih dulu sebelum ojek onlinenya tiba, sekarang ia sedang bersandar di sebuah pagar menunggu ojek online nya datang.
"Maaf mbak, apa mbak yang mesan ojek onlinenya" Akhirnya ojek online ini datang. Nadia mendonggak kan kepala melihat orang yang berbicara padanya.
"Iya mas saya yang memesannya" Nadia segera bangkit dari tempat ia bersandar. Driver itu lalu memberikan Nadia helm untuk dikenakan di kepala nya.
Driver online melihat rumah yang ada di depannya, ia merasa heran. Rumah sebesar ini kenapa masih pakai ojek online. Driver itu bertanya kepada Nadia.
"Maaf mbak sebelumnya, mbak kenapa masih pesan ojek online? rumah mbak aja segede ini" Pelayan ini bertanya sambil menatap kagum rumah di depan nya. Nadia hanya tersenyum dan naik ke motor setelah memasang helm.
" Saya cuma pembantu mas" Entah apa maksud Nadia dengan mengatakan hanya pembantu. Tapi tidak salah dengan apa yang ia katakan.
Nadia lebih terlihat seperti seorang pembantu yang berstatus kan tunangan. Walaupun status nya saat ini adalah tunangan dari Fajar tetap saja yang bertunangan itu kakaknya, bukan dirinya. Dia hanya menggantikan kakaknya yang mungkin jika Fajar menemukan orang lain yang disukai nya Nadia akan di campakkan begitu saja.
Mendengar jawaban Nadia driver itu tidak bertanya apa - apa lagi dan segera melanjutkan perjalanan ke tempat yang telah di tentukan. Rumah Fajar cukup jauh dari rumah sakit tempat Nadia di rawat dulu.
Nadia menikmati sinar matahari yang terang, angin sejuk yang menyelimuti jalan. Selama perjalanan Nadia hanya termenung.
*Sampai kapan ini semua berakhir, aku juga manusia. Mana bisa tahan jika disiksa seperti ini terus. Aku ingin hidup ku yang dulu saat aku hanya bertiga dengan ayah dan ibu. Aku merindukan belaian ibu di malam hari. Dongeng yang ayah cerita kan padaku. Aku merindukan itu semua.
Andai waktu bisa dibutar aku akan memilih menjadi seorang pembantu dibanding kan seseorang yang tidak punya status saat ini. Apa status ku sekarang? Tunangan? aku bahkan belum menggunakan cincinnya. Atau putri dari keluarga Syahreza? tapi kenapa ayah tidak menanyakan kabarku*?
Nadia hanya melamun memikirkan semua hal yang selama ini ia rasakan, sampai mutiara bening keluar dari pelupuk matanya dan terbang bersama angin sejuk dipagi hari.
~Bersambung~