My Cold Husband

My Cold Husband
Bab.18 Dikomporin Bi Esih



Hari berganti, waktu pun berlalu.


Tak terasa dua bulan sudah Devan dan Tiara menjalani rumah tangga.


Devan yang selalu sibuk dengan pekerjaannya, karna sudah memasuki musim panen tak jarang mengharuskan Devan pulang larut. Dan Tiara yang makin betah meskipun hanya berdiam diri dirumah, karna dirinya bisa lebih intens belajar menjadi istri yang baik, dari memasak, mencuci dan membersihkan rumah kini lebih banyak ia yang mengerjakan, sedangkan Bi Esih hanya bantu bantu saja.


Kesibukan masing masing itu tidak menjadikan hubungan mereka meningkat, Devan masih dengan wajah datarnya yang dingin dan Tiara dia yang setiap hari menjalakan tugas sebagai istri yang baik, meskipun hanya sebatas kebutuhan lahir Devan saja, tanpa kontak fisik apalagi bersetubuh.


.


.


Pagi itu setelah selesai sarapan, seperti biasa Tiara mengantarkan Devan berangkat kerja hingga didepan pintu.


Tak lupa ia mencium tangan suaminya.


"Semangat kerjanya yaa, jangan sampai melewatkan makan siang!!" ucap Tiara.


"Ya" balas Devan singkat.


Tak lama mobil yang ditumpangi suaminya itu menjauh dari pekarangan rumah.


"Dasar laki laki itu, masih aja dingin seperti kulkas berjalan" Tiara merasa sebal dengan perilaku acuh suaminya.


"Mungkin memiliki suami romantis seperti dalam drama korea hanya dalam khayalanku saja" ucapnya lalu masuk kembali kedalam rumah.


*****


Lain halnya dengan Devan, didalam mobil bibirnya terus saja melengkung kan senyuman. Ucapan semangat dari istrinya tadi seakan menjadi booster dari kepenatannya akhir akhir ini.


"Ternyata bos aku bisa tersenyum juga" ucap Riki seraya melirik kearah bosnya.


"Kenapa kamu melirik saya terus" tanya Devan yang telah kembali dengan wajah datar dan tatapan tajam nya.


"Tidak bos, saya hanya aneh saja jarang jarang bos saya nampak tersenyum" jawab Riki.


Devan tak menjawab, ia hanya memfokuskan pandangannya kedepan.


"Oiya bos jangan lupa hari ini kita ada meeting dengan pemilik perusahaan minuman teh, tapi dia ingin kita yang mendatangi kantornya" ucap Riki.


"Oke, kamu siapkan saja semuanya" jawab Devan.


Mereka pun melanjutkan perjalanan tanpa obrolan lagi.


Devan bingung dengan fikiran nya, kenapa akhir akhir ini sering sekali dipenuhi oleh wajah teman tidurnya dirumah, siapa lagi kalau bukan Tiara. Ia selalu terbayang dengan senyumannya, cara dia melayani Devan, apalagi kalau istrinya itu sedang ngambek, terkadang Devan merasa gemas. Tapi ia tidak tau harus bagaimana cara mengeskspresikannya, sampai sering Tiara sembuh sendiri dari ngambeknya karna tidak pernah Devan bujuk, bukan tak mau, sekali lagi Devan tidak tau caranya.


.


.


Dirumah Tiara sedang sibuk memetik sayuran dibelakang rumah bersama bi Esih. Ada cabe, tomat, kangkung, dan masih banyak lagi. Tanah di pedesaan ini memang terbilang subur, apa saja yang ditanam pasti akan tumbuh dengan baik.


"Non gimana udah ada tanda tanda belum??" tanya bi Esih.


"Tanda tanda apa bi??" Tiara mengerutkan keningnya penasaran dengan pertanyaan bi Esih.


"Maksud bibi non Tiara sudah ada tanda tanda hamil apa belum??" jelas bi Esih.


Seketika tawa Tiara pecah, namun tak lama kembali hening.


"Boro boro hamil bi" jawab Tiara.


"Ko boro boro sih non? Atau jangan bilang enon sama den Devan belum pernah ..????" telisik bi Esih.


"Ya belum lah bi, bibi tau sendiri kan aku sama si kulkas itu menikah tanpa cinta"


Memang selama ini bi Esih sudah tau alasan majikannya menikah, karna Tiara pernah mencertiakannya dulu. Namun ia tak menyangka jika sudah selama ini mereka belum pernah bersentuhan secara int!m.


"Non saran bibi jangan lama lama ditunda, laki laki itu gampang tergoda loh, bagaimana kalau suami enon tergoda sama perempuan lain diluaran sana" ucap bi Esih, mereka sudah selesai memetik sayuran dan kini sedang terduduk dibangku taman yang masih diarea belakang rumah.


Tiara langsung melotot ke arah asisten yang sudah dianggapnya ibu itu.


"Sebenarnya aku masih belum siap kalau harus melakukan itu, tapi kalau sampai Devan tergoda oleh wanita lain diluaran sana aku juga gk rela" batin Tiara.


"Tapi bi aku kan sudah mencoba untuk melayani segala keperluan dia, lagipula dia pernah berkata tidak berna*su melihat tubuhku bi" ucap Tiara menunduk.


"Wahh berati itu mah harus enon yang memancing" ujar bi Esih.


Sepertinya bi Esih ini sangat berpengalaman yaa guys. Pandai kali dia ngomporin Tiara wkwkwk


"Tapi aku takut bi" lirihnya.


"Jangan takut non, takut itu kalau suami pindah ke lain hati" ucap bi Esih.


Tiara hanya menanggapinya dengan senyuman tapi dalam hatinya ia membenarkan juga apa yang asistennya itu bilang.


Mereka pun masuk kembali kedalam rumah, untuk melanjutkan kegiatan mereka yaitu memasak.


.


.


********


Dikantor Devan.


Riki baru saja memasuki ruangan bosnya,


"Ada apa bos?" tanya Riki.


"Riki sepertinya ada masalah dikebun sayur, hari ini kamu tidak perlu menemani saya meeting, kamu periksa saja kebun sayur yang bermasalah itu" ucap Devan.


"Biar saya naik motor aja" jawab Devan.


"Baik bos, bahan meeting sudah saya kirim lewat email, waktu meeting satu jam lagi, saya permisi"


Riki pun meninggalkan ruangan Devan.


.


.


Motor sport Devan memasuki area gedung milik PT. Rasarisi sejahtera.


Perusahaan itu sudah hampir dua tahun bekerja sama dengannya dalam produksi minuman teh dalam botol.


"Atas nama tuan Devano sudah ditunggu diruangan direktur dilantai 5" ucap resepsionis.


Devan pun langsung menuju ruangan yang ditunjukan pegawai tadi.


Biasanya jika ada pertemuan penting, Devan hanya akan bertemu dengan manager perusahaan ini saja,kalau dengan direkturnya hanya pernah dua kali bertemu, ketiga kali sama sekarang.


Setelah sampai dilantai lima.


"Silahkan tuan, tuan Baskara sudah menunggu didalam" ucap sekretaris seraya menunjuk kearah pintu ruangan di sebelahnya.


Devan tak menjawab, dan langsung masuk ke ruangan yang dimaksud


.


Disana terlihat dua orang yang sudah menunggunya, tuan Baskara dan satu lagi wanita cantik yang menggunakan baju tidak sopan menurut Devan.


"Selamat datang tuan Devano, lama tidak berjumpa" sambut tuan Baskara, selaku direktur di perusahaan ini.


Devan hanya tersenyum samar.


"Mari silahkan duduk, perkenalkan ini putri saya namanya Jelita" ucap Baskara.


"Hayy namaku Jelita" ucap perempuan itu dengan suara dimanja manjain, malah membuat Devan geli. Namun seperti biasa Devan selalu menunjukan wajah datarnya.


"Langsung ke intinya saja" ucap Devan to the point.


Untuk beberapa saat, mereka pun larut dalam obrolan bisnis. Lalu Jelita membawakan minuman untuk Devan dan ayahnya.


Meeting tentang pekerjaan pun selesai.


"Tuan Devan sebenarnya ada hal lain yang ingin saya bahas" ucap tuan Baskara.


Devan hanya mengernyit kan sebelah alisnya, sedangkan perempuan disamping tuan Baskara mulai salting seperti cacing kepanasan.


"Langsung ke intinya saja" ucap Devan.


"Jadi begini, untuk mempererat hubungan bisnis kita, bagaimana kalau saya nikahkan anak saja Jelita dengan tuan Devano" ucap tuan Baskara.


Sontak saja Devan terlonjak.


"Apa apaan mau ngasih barang rongsok! lebih berharga lagi istri saya" batin Devan ia tersenyum samar seketika jadi teringat pada istrinya dirumah.


"Sebaiknya tuan minum dulu" ucap Jelita.


Devan menuruti ucapan gadis itu, karna sejujurnya memang dia sedang haus.


"Maaf tuan Baskara, tapi saya sudah menikah" ujar devan.


"Tidak apa apa tuan, saya rela menjadi yang kedua" ucap Jelita dengan tanpa malu.


Namun tiba tiba perasaan Devan menjadi tidak enak, badannya terasa panas, ada sesuatu yang bergejolak dalam dirinya.


"Tuan Devano anda baik baik saja???" tanya tuan baskara.


Devan tak bergeming, ia menatap tajam pada perempuan yang dihadapannya.


"Tuan sebaiknya anda istirahat dulu, kebetulan dilantai enam ada hotel, biar Jelita yang menemani" ucap tuan Baskara.


"Tidak perlu!!" ucap Devan kasar.


Ia meninggalkan ruangan itu begitu saja, tanpa menghiraukan panggilan dari tuan Baskara dan anaknya.


"Papii, pokonya Jelita mau tuan tampan itu" rengek Jelita pada ayahnya.


"Sebaiknya kamu persiapkan diri, karna sebentar lagi perusahaan kita akan bangkrut, papi menyesal mengikuti ide gilamu itu jelita" murka tuan Baskara.


.


.


Bersambung....


...Wahh si Devan kenapa yaa???...


...Jangan Lupa...


...LIKE...


...KOMEN...


...VOTE...


...Terimaksih :)...