My Cold Husband

My Cold Husband
Bab.16 Perasaan Aneh



Fajar sudah mulai menyingsing, udara diperbukitan semakin dingin dikarnakan kabut yang kian menebal. Udara yang sangat dingin itu pun menerpa dua orang manusia tengah bergelung dalam satu selimut yang sama.


Devan lebih dulu terbangun karna terusik oleh gerakan Tiara yang meringsek mendekatinya untuk mencari kehangatan.


Seakan memberi lampu hijau pada istrinya, Devan pun merentangkan tangan lalu meletakan dibawah kepalanya, dan membiarkan Tiara memeluk dirinya dengan nyaman.


"Hmmm nyaman sekali, tapi ko aku kaya hafal wanginya" racau Tiara sambil mengendus dada Devan dalam keadaan matanya yang masih terpejam.


Namun matanya langsung melotot kala teringat kejadian pagi kemarin, Ia ingat wangi itu dan langsung mendongak kearah Devan yang memang sejak tadi memerhatikan gerak gerik dirinya.


"Ma..maaf aku gak sengaja hehe" ucap Tiara malu, namun tangannya belum terlepas dari tubuh polos Devan.


Devan hanya mengernyitkan alisnya.


"Kamu ingat ucapan saya kemarin" ucap Devan menajamkan pandangannya kearah Tiara.


Tiara terdiam mencoba mengingat ingat ucapan suaminya kemarin.


"Kalau aku mengendus dada dia lagi dia akan....." belum juga melanjutkan ucapan dalam hatinya ia langsung menyadari kalau tangannya masih memeluk Devan. Sedangkan Devan hanya menatap datar dirinya. Buru buru ia tarik tangannya.


"Sepertinya aku mendapatkan panggilan alam" elak Tiara mengalihkan pembicaraan dan langsung kabur ke kamar mandi.


Devan hanya tersenyum melihat tingkah konyol istrinya.


Devan mengenakan kembali kaos yang ia buka semalam, tak mungkin lagi ia melanjutkan tidurnya karna hari telah berangsur pagi.


Namun ia masih duduk di ranjang, karna istrinya belum juga keluar dari kamar mandi.


Toktoktok


"Cepat keluar saya juga mau mandi" Devan menggedor pintu kamar mandi.


"Tidak" balas suara dibalik pintu.


Devan mengernyitkan dahinya


"Kenapa" tanya Devan


"Aku lupa membawa baju gantiku" ujar Tiara.


"Keluar sajalah!!! Jangan takut saya tidak bernafsu sama kamu" ucap Devan menjauh dari pintu.


Cklek!!!


Pintu kamar mandi terbuka


Glekk..


Devan menelan kasar ludahnya melihat Tiara keluar dari kamar mandi hanya menggunakan sehelai handuk saja, dengan rambut yang masih basah membuat Tiara terlihat lebih menggoda. Bohong kalau dia tidak bernafsu melihat pemandangan itu, dia pria normal apalagi itu halal baginya.


Buru buru Devan mengalihkan pandangannya ke arah lain setelah mendengar teriakan istrinya.


"Heyyy kenapa kau memandangku seperti itu!!! cepat keluar aku mau ganti baju" ucap Tiara dengan suara sedikit kencang, dan kedua tangannya menyilang dada setelah ia melihat tatapan aneh Devan.


Tanpa berkata apa apa Devan pun keluar dari kamar.


****************


Setelah seselai masak sarapan, Tiara langsung menyusun masakannya dimeja makan. Hari ini ia masak sendiri karna kemarin bi Esih izin untuk tidak masuk karna ada acara keluarga.


Matanya tertuju pada satu makhluk dingin yang melewati dirinya begitu saja.


"Mau kemana???" tanya Tiara.


"Joging" jawab Devan singkat.


"Aku ikut, tungguin aku ganti sepatu dulu" ucap Tiara tanpa persetujuan Devan ia langsung bergegas lari ke kamar.


.


Mereka joging kearah perkebunan teh milik Devan.


Tiara sangat senang melihat keindahan alam yang nampak didepan matanya.


Ia menoleh kearah suaminya karna mendengar suara wanita.


"Aa devan" ucap suara wanita itu sambil berjalan kearaha Devan.


"Oh hayy" balas Devan.


Tiara hanya memperhatikan interaksi kedua makhluk tersebut


"Aa udah lama engga pernah keliatan joging lewat sini lagi, Sinta jadi kangen" ucap perempuan yang bernama Sinta itu.


Tiara yang mendengar ucapan perempuan itu mengernyitkan dahinya.


Dipandangnya Devan yang masih sibuk dengan gawainya tanpa menghiraukan perempuan centil disampingnya itu.


"Ohiya aa jogingnya gk sendiri ternyata,perempuan itu siapa a??" telisik Sinta.


"Teman" jawab Devan sekenanya


Tiara kaget mendengar jawaban Devan, ada perasaan aneh yang mengusik hatinya kala Devan mengakui dirinya hanya teman pada perempuan lain.


"Maaf yaa ganggu, saya cuma mau bilang sama aa kamu ini kalau saya pulang duluan" ucap Tiara matanya menatap tajam kearah Devan. Namun Devan masih cuek dengan wajah tanpa ekspresinya, yang semakin membuat Tiara geram.


"Oh silahkan mbak, kebetulan sinta sedang kangen sama aa Devan gk mau ada yang ganggu" ucap Sinta sensual.


Tiara pun lari sekencang mungkin untuk meredakan kekesalanya.


"Dasar orang orang menyebalkan!! perempuan gatal bertemu sama buaya cap kulkas, kenapa gk menikah saja kalian berdua" umpat Tiara dalam hatinya seraya mempercepat langkahnya.


Tiara hampir saja ketabrak mobil, pria si pengemudi itu pun keluar dari mobilnya.


"Mbak gak kenapa napa" tanya si pria itu menghampiri Tiara.


"Oh gak papa ko, maaf yaa aku kurang hati hati tadi" ucap Tiara.


"Yaudah bang saya permisi dulu yaa" Tiara pun langsung pergi dari tempat itu dengan berlari.


"Sepertinya ada gadis baru didesa ini, aku baru melihatnya. Hmmm lumayan cantik" ucap pria yang bernama Riki itu, yang tak lain asistennya sekaligus orang kepercayaan Devan.


"Rik ngapain kamu bengong disini" ucap Devan membuyarkan lamunan Riki.


"Ehh bos, ko sendiri tadi minta dijemput sama istri katanya, lah istrinya mana kan saya juga mau kenalan" ucap Riki.


"Dia pulang duluan tadi" ucap Devan lalu memasuki mobil.


"Waduh, jangan jangan perempuan cantik tadi istrinya bos Devan" rutuk Riki dalam hati


"Riki ayo, Kita harus mengejar istri saya jangan sampai dia tersesat" Riki pun langsung mengemudikan mobilnya.


Tak berselang lama, dari kejauhan terlihat seorang perempuan sedang berjalan gontai.


"Nah itu dia" ucap Devan setelah melihat punggung istrinya dari jauh.


"Wahh benar saja dugaan ku, untung saja tadi belum sempat aku godain" gumam Riki dalam hati. Ia merasa lega, coba saja tadi ia sempat godain istri bosnya itu tamat sudah riwayatnya.


Setelah mobilnya sejajar dengan tubuh Tiara, Devan membuka kaca mobilnya.


"Ayo masuk" ucap Devan dingin


"Tidak!!" tolak Tiara, ia masih sebal pada suaminya itu.


"Masuk!!"


"Tidak"


"Saya tidak suka dibantah!! Kau dengar tidak???" suara Devan meninggi membuat Tiara terlonjak.


"Dia membentakku" lirih Tiara air matanya hampir saja jatuh namun ia tahan.


Ia pun menuruti perintah suaminya untuk memasuki mobil.


Brugggh


Tiara membanting pintu mobil dengan kasar.


Devan hanya meliriknya sekilas, lalu kembali fokus pada gawai ditangannya.


****


Sesampainya dirumah, Tiara langsung naik ke kamar tanpa menghiraukan suaminya. Ia menumpahkan air matanya setelah tiba dikamar sampai ia lelah.


"Aneh sekali, kenapa hatiku seperti dicubit saat sikulkas itu bilang aku hanya teman pada perempuan lain, sedangkan dulu aja sama kak David aku kuat backstreet selama setahun, dan gak pernah keberatan ketika kak David bilang ia masih single pada orang orang orang" ucap Tiara.


"Ahh ngapain juga difikirin, gak penting juga. Lebih baik aku makan, gara gara manusia kulkas itu aku sampai lupa sarapan pagi ku" Tiara pun turun dari kamarnya.


"Ooh jadi si manusia kulkas itu udah makan" ucap Tiara melihat masakannya tinggal separuh.


"Baguslah, jadi tidak mubazir masakanku. Tapi kemana orang itu???" tatapannya mengelilingi setiap ruangan dan tidak ada tanda tanda kehidupan, eh maksudnya tanda keberadaan suaminya.


"Halaah bodoamat, ngapain juga aku nyariin dia, mungkin saja dia sedang bermesra mesraan sama gadis tadi, dah lah lebih baik aku makan" Tiara pun makan dengan lahap seolah ia melampiaskan kekesalanya itu pada makanan didalam piring nya.


.


Sementara beberapa waktu sebelumnya.


Saat Tiara buru buru keluar dari mobil dan lari ke kamarnya, ternyata Devan mengikutinya sampai kamar.


Namun baru saja sampai pintu, Devan mendengar isakan dari dalam kamarnya, siapa lagi kalau bukan istrinya Tiara.


"Apa aku menyakitinya" tanya Devan pada dirinya sendiri.


Ia pun meng urungkan langkahnya dan kembali kebawah.


Sebelum berangkat bekerja, ia sempatkan untuk makan masakan Tiara, agar istrinya itu tidak tambah kecewa.


.


.


.


Bersambung....


...Jangan Lupa...


...LIKE...


...KOMEN...


...VOTE...


...Terimaksih :)...


.


.


.