My Brother is Army, I love Him

My Brother is Army, I love Him
Chapter 7



[]


Waktu menunjukkan pukul 4 pagi. Waktu yang harus digunakan untuk umat muslim mejalankan ibadah subuhnya. Pagi ini enggan sekali untuk membuka mata karna rasa kantuk yang masih menjalar. Baru saja tidur sudah benar-benar pagi menjelang. Dua kakak beradik itu masih di kasur yang sama. Pratama mulai bangun sedikit mengerjapkan kedua matanya. Namun, Ran masih tidak bergerak sama sekali dari tidurnya.


Akhirnya Pratama memilih untuk duduk sambil sedikit menggerak-gerakkan badannya. Hari nya lelah sekali. Namun, pagi ini dia juga harus kembali ke kantor. Akhirnya dia turun dari kasur itu dan segera mempersiapkan segalanya untuk di bawa pulang. Tas, ponsel, jaket, baju ganti untuk sholat. Pratama masuk kedalam toilet yang berada di ruangan tersebut. Membersihkan dirinya dengan mandi agar lebih fresh dan tidak mengantuk saat menjalankan ibadah subuhnya dan juga saat memulai aktifitas paginya di kantor.


Setiap hari Ia akan rutin bangun pagi.  Maklum disiplin sejak pendidikan itu wajib. Agar hidup senantiasa mudah dan rapi. Setelah selesai dari acara mandi paginya. Ia keluar dari kamar mandi lengkap menggunakan pakaian untuk sholatnya. Ia mendekati meja dan mengemas semua barangnya ke  dalam tas sambil menoleh ke arah Ran yang masih terlelap. Ia tak ingin menggagu gadis kecilnya jadi Ia memilih untuk meninggalkan Ran untuk pergi kerumah dan berangkat ke kantor. Ia akan kembali nanti Siang saat jam istirahat kantor kalau tidak sekitar jam 9 pagi lah dia bakal kembali lagi. Setelah selesai Sholat di ruangan tersebut. Pratama langsung saja mengambil kontak motornya. Sesekali menengok ke arah Ran. Dia masih nyenyal dalam tidurnya membuat Pratama tersenyum kecil.


Waktu sekitar Jam 5 pagi Pratama akhirnya Cabut dari rumah sakit. Ia berjalan menuju Parkiran motor. Sepertinya malam begitu dingin. Tempat duduk di motornya berembun begitu banyak. Ia mengelap dengan tangannya. Lalu segera menaiki Motornya dan menyalakan mesinnya. Ia mengendarai motornya di tengah pagi yang masih belum nampak sinar mentari tentu juga masih sangat dingi. Menerobos jalannan yang sedikit sepi dari biasanya. Maklum masih pagi pukul 5 an lah intinya.


[]


[]


Pratama telah tiba di depan rumahnya dengan mentari yang sudah terbit. Ia langsung buru-buru masuk ke dalam rumah yang masih terkunci. Sudah bisa Ia tebak penghuni di dalamnya pasti masih tidur atau tidak masih santai-santai. Untung saja Pratama membawa kunci cadangan dan langsung saja membuka pintu rumahnya cepat. Berlari ke arah kamar guna untuk segera berganti baju dinas. Cukup 5 menit ganti Ia keluar dari kamar dengan keadaan yang fresh dan cool.


Ia langsung menuju meja makan ternyata tidak ada makanan apa pun disana. Bibi juga belum masak rupanya. Biasanya di rumah ini sarapan akan di adakan jam setengah tujuh Ini saja masih jam enam kurang.


Akhirnya Pratama memutuskan untuk segera keluar dari rumahnya. Ia ingin menuju pasar saja. Disana biasanya sudah banyak masakkan matang, murah meriah dan rasanya enak. Seperti makanan rumahan. Sepertinya sarapan di luar lebih enak. Ia akhirnya melajukan motornya ke arah pasar dimana jalurnya searah dengan Ia akan berangkat ke kantor.


[]


[]


[]


Pratama Sudah sampai di pasar. Ia memakirkan motornya di pakiran. Memandang begitu banyak orang berlalu lalang guna melakukan jual-beli. Pratama melihat di sekitar parkiran, sudah dapat Ia tebak jika banyak sekali orang berjualan masakan matang. Ada yang umum seperti Bakso, Mie Ayam, Bubur ayam, Soto, Nasi Pecel, dll. Rasanya ingin mencoba semuanya.


Akhirnya Pratama memilih makan di warung yang di tutupi oleh terpal. Warung itu menjual nasi Pecel. Di lihat dari kondisinya sepertinya Nasi Pecel di sana sangat enak buktinya banyak pelanggan yang mengantri disana. Namun, tak butuh waktu lama Pratama langsung memesan saat giliran dirinya. Ada 2 gadis remaja dan 1 ibu yang sudah tua. Mungkin 2 gadis remaja adalah anak ibu tersebut jadi mereka membantu sang ibu sehingga bisa melayani pembeli secara cepat.


"Mau Pesen Pecel brapa mas?"


Pratama yang di layani pun lantas segera menjawab.


"Saya pesen 1 pecel."


"Mau di bungkus atau di makan disini?"


"Mau makan sini, sama tolong mbak ada teh hangat manis 1 gelas ada?" Tanya Pratama.


"Ada mas. Tunggu bentar ya."


"Iya mbak saya. Nanti antarkan kesana ya. Saya duduk disana." Sambil menunjuk ke arah dimana Ia akan duduk nanti.


"Baik mas."


Pratama masih setia menunggu pesanannya. Ia memainkan ponselnya melihat whatsapp, Line, Instagram, Twitter, intinya lagi bosan jadi dia melihat-lihat semua akunnya. Di tengah-tengah aktifitas bermain handphone miliknya Pratama sedikit risih dengan tatapan para ibu-ibu atau wanita yang masih mudah. Menatap dengan tatapan yang tidak disukai oleh Pratama. Oke dia mulai panam, kalau dia...


'Aku tampan, gagah, cool apa lagi di balut baju dinasnya yang terkenal kacang ijo. Tapi please lah ya kayak tidak pernah melihat tentara saja.' PD nya pada diri sendiri.


Namun, Pratama harus jaga image. Harus cool dan pura-pura cuek dengan sekitar. Sedikit menunggu cukup lama akhirnya pesanan yang Ia tunggu telah datang.


"Makasih mbak." Kata Pratama.


Pratama memakann Nasi pecelnya dengan lahap. Sedikit celat sih kara Ia terburu-buru akan segera berangkat ke kantor di asramanya. Walau Ia takut telat tapi dia masih santai. Dia percaya kalau manusia suka tergesa-gesa termasuk teman setan. Dia tidak mau tergesa-gesa jadi sedikit cepat namun santai.


Setelah makanan itu habis Ia segera membayar semuanya. Lalu Ia segera ke parkiran dan segera melajukan motornya setelah bayar pakir.


[]


[]


[]


Ia sekarang sudah sampai di dalam asrama. Tempat markas Paskhas tidak jauh dari provos depan Ia masuk. Jadi sedikit harus mengurangi kecepatan. Setelah berada pada tempat parkir kantornya. Ia bertemu juga dengan beberapa reka selettingnya. Mereka saling bertegur sapa dan memutuskan untuk bersama memasuki kantor. Banyak hal yang mereka ceritakan.


Dari mulai urusan kantor bahkan sampai soal hal pribadi.


"Gila banget. Aku di jodohin sama anak SMA sama orang tua ku." Kata salah satu teman nya yang bernama Ferri.


"Cantik ngak?" Sahut yang lainnya.


"Lumayan sih. Dia anak pondok." -Ferri.


"Weh cewek lu alim dong. Terus lu model nya kayak gini. Huawahahaha.." sahut si Dani.


"Wah penghinaan lu. Gini-gini juga alim gua anak baek-baek." Kata di Ferri membela diri.


"Btw, kalau lu gimana Prat? Udah dapet gebetan kah lu? Gw liat seluruh akun lo banyak fans nya." Kata salah satu dari mereka kini menanyai Pratama.


"Menurutku sih udah punya. Secara beberapa hari ini dia aja ngak ada du barak." Sahut Dani.


"Belum punya gua." Kata Pratama sedikit kaku.


"Bohong lu. Cewek yang kemaren lu kejar-kejar??" Kata si Ferri kini mulai menggoda dengan senyum khasnya dan ke dua alis yang di angkat kebawah dan keatas.


"Ngak ada." Jawab Pratama cuek.


"Masah sih bang... abang.." kata Ferri dan Dani barengan.


"Jijik, Homo lu." Sambil gidik-gidik geli menatap ke dua temannya.


Ferri dan Dani memang selalu saja menggodai bahkan mengerjai Pratama. Yah mereka itu bisa kenal dan akrab sampai sekarang karna bertemu di Pendidikan militer dan juga hidup 1 barak saat pendidikan. Segalanya mereka lalui bersama. Susah, senang, selalu bersama. Sampai sekarang juga hobi mereka berdua yang suka mengganggui Pratama juga tidak pernah hilang.


¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤


Jangan Lupa tinggalkan Komentar :)


~SEE YOU