
Ran Prov On
Hari ini, penat yang terselimuti tawa. Membawa berjuta pertanyaan dan kesedihan. Waktu yang terus berputar sampai sang Fajar berganti malam.
Usai pulang sekolah dengan semangat yang tersisa, dan sebintik ketakutan dalam tubuh saat melangkah menuju gerbang sekolah.
"NAH. ITU ANAK NYA!" Suara lelaki dengan pakaian satpam. 'Plaak!!' Tamparan keras yang kurasakan datang dari tangan wanita yaitu mama tiri ku.
"NGAK TAU KAMU, SEKARANG JAM BERAPA, JAM SEGINI KEGIATAN BARU SELESAI. MANA PEMBINA EKSTRA MU ITU!" Nada yang begitu keras, terdengar oleh kawan-kawan ku. Sungguh malu aku. Aku sudah SMA dan masih saja aku selalu senasib dengan masa lalu ku.
Perih mendengar nya, juga menahan rasa malu. 'Tuhan sampai kapan hidup ini seperti ini. Tak ada lagi tempat aku curhat. Tak ada lagi yg ingin mendengar derita ini.' Batin ku sakit da juga menahan air mata. Berusaha untuk tetap bertidak baik-baik saja.
....
Kulangkah kan kaki ku menuju ke depan gerbang dan menaiki mobil berwarna hitam. Dan mendengar omelan mama tiri ku. Tak hanya 1 omelan nya, tapi aku juga panas mendengar perkataan Saudara tiri ku.
"Anak ngak tau di untung! Pulang magrib, bego amat sih! Ngk bisa apa-apa aja pakai acara sekolah segala!!" Kata Amera, dia saudara tiriku.
Batin ku hanya menyuruhku sabar. Kadang aku berfikir siapa benalu disini?! Mereka hanya orang luar yang di nikahi ayahku. 'Aku harap tuhan masih menguatkan hatiku.'
Huh, ya itu lah setidak nya yang selalu aku dengar setiap hari. Kadang, aku pun tak paham, mengapa mama ku selalu kasar padaku, mencintai anaknya dan ayahku saja. Ia hanya baik pada ku, jika sedang bersama ayahku.
Ayah ku adalah seorang Pelayaran. Semenjak ayahku menikah dengan mama tiriku. Aku pikir hidupku akan bahagia seperi di drama-drama. Namun, kenyataan nya adalah 'Bullshit' hidup sinetron yang tak pernah aku bayangan. Disini, di hidupku. Benar-benar terjadi.
Memikir kan ini membuat aku tak sadar sudah sampai di depan rumah ku. Aku turun membawa tas ku yang beratnya hampir 20 kg. Aku langkah kan kaki ku masuk kedalam kamar dan mengunci pintu kamarku. Kamar ini setidaknya dapat membuatku tenang. Ku lempar semua yg ku bawa ke lantai, dan terjun diatas kasur yg empuk ini. Menuliskan semua pada buku diaryku. Tentang curahan hatiku, dan meluapkan semua nya disini.
....
Aku sudah mulai tenang dengan keadaan yang kacau seperti ini. Di tengah ketenangan ku. Aku jengah dengan seorang wanita yang begitu membuat kepala ku pecah.
"RAN! KELUAR LU SEKARANG!!" dengan malas aku melangkah ke depan pintu dan membuka pintu kamarku.
"SIAPA SURUH TIDUR?!! SINI LU! KERJAIN TUGAS PR KU! SEMUANYA HARUS SELESAI SEKARANG!" sambil memberikan buku-buku nya kepadaku.
"Ngk bisa!! Aku banyak tugas. Dan besok harus di kumpulin!" tolak ku padanya.
"KALAU KAMU NGAK MAU, AKU CUBIT NI!"
"Ahh..ahh.aahhhduuuh sakit." ringis ku.
"MAKANYA KERJAIN!! AWAS AJA KALAU BESOK AKU AMBIL BUKUNYA BELUM SELESAI!!" dengan nadanya yang tinggi. Amera tidak pernah berbicara baik-baik kepadaku. Selalu menggunakan nada tinggi dan seolah-olah aku adalah pembantu di rumah ini.
....
》Skip Pagi harinya《
'ALLAH HUAKBAR ....... ALLAH HUAKBAR'
Terdengar suara adzan. Terbangun dengan wajah tertutup buku, jemari memegang pena. Tidur di meja belajarku dengan tumpukan buku-buku.
"Ini sudah subuh, Ya allah aku bisa kesiangan ini." Akhirnya aku berlari ke kamar mandi untuk mandi dan wudhu. Aku lakukan cuman 10 menit.
Usai mandi dan wudhu aku menggunakan seragam ku. Usai berseragam ku ambil mukena dan sholat subuh. Setelah itu aku mengecek tas sekolah ku. Tak ada yang kurang. Akhirnya aku turun kebawah. Namun, di depan pintu sudah berdiri seorang wanita paruh baya.
Ia mengatakan, "non sudah bibi masakan semur ayam. Dan sudah bibi siapkan bekal untuk non. Sarapan ya non bibi tinggal dulu ke dapur." Aku senyum dan menggangguk.
Sambil tersenyum simpul menatap kepergiannya. Menurutku bibi adalah ibu kedua yang sangat aku sayangi. Beliau yang merawatku dan selalu bercerita dongeng saat aku masih kecil. Cinta dan kasih sayang nya melebihi kasih sayang mama tiri ku sendiri.
....
Flashback On
Jadi begini, Aku memiliki 2 saudara tiri. Amera sebagai adik tiriku dan ada seorang kakak laki-laki. Namun, condong ke arah cuek, pendiam, dan tidak pernah mau tau soal kondisi rumah. Dia sibuk dengan dirinya sendiri.
Amera berbeda sekali sifat nya dengan kakak laki-laki nya. Amera selalu manja, sombong, dan hanya memikirkan dirinya sendiri. Sedangkan kakak laki-laki yang juga sekarang menjadi kakak tiriku. Dia tipe lelaki yang cuek, dingin, bodo amat, tapi dia sesosok yang bertanggung jawab, pekerja keras, dan mandiri.
Kakak tiri ku ini adalah seorang tentara Angkatan Udara. Di berpangkatkan Sertu saat ini. Dan sekarang sudah berumur 20 tahun. Tergolong masih sangat muda di bandingkan teman seangkatannya. Maklum dia mendaftar pada umur 17 tahun yang saat itu telah lulus SMA. Dan langsung mencoba mendaftar ke Bintara dan langsung lulus seleksi dan melanjutkan pendidikan ke Bintara.
Awal mulanya hidupku seperti neraka, di saat ayah ku menikahi mama tiriku saat ini. Itu karna mama ku telah meninggal di saat usiaku kecil. Dan saat aku baru masuk SMP barulah ayah ku menikah. Dia ingin aku tidak sendiri di rumah saat ayah sedang berlayar. Namun, apa yang di fikirkan ayahku berbanding terbalik.
Dulu awal masuk SMP semua berjalan lancar selama 3 bulan. Sampai ayah harus dinas berlayar lagi selama berbulan-bulan. Disitu sikap mama tiri dan saudara tiriku (Amera) mulai berubah. Aku seperti pembantu dirumah ku sendiri. Demi menyiksaku mereka lebih menyuruh ku di bandingkan pembantu dirumah.
Pernah suatu hari aku sedang mencuci piring dan disitu aku tak sengaja menjatuhkan piring. Sehingga membuat beling-beling nya pecah kemana-mana. Waktu itu dirumah hanya ada aku dan Pratama (Kakak tiriku). Mendengar ada suara pecahan dia langsung menuju dapur dan membantuku.
Aku sempat kaget dengan apa yang dia lakukan. Ternyata sesosok cuek dan dingin sepertinya juga bisa memiliki sikap seperti ini.
Sejujurnya kakak tiriku jarang sekali mengajak bicara orang-orang di rumah. Dia lebih sering berbicara denganku. Karna sikapnya yang baik itu membuat aku menjadi agak betah ada dirumah ini. Karna siapa lagi yang baik selain ayahku yang harus berlayar berbulan-bulan dan juga pembantu di rumah.
Dekat dengan kakak tiriku membuat aku lebih nyaman karna dia satu-satunya yang baik padaku dan lumayan dekat, disaat ayah jauh disana. Namun, ini semua berjalan sebentar. Karna kakak tiri ku lebih memilih menjadi seorang tentara.
Semenjak itu, dan semenjak menjadi tentara dia menjadi pribadi yang tambah dingin dan sudah lama tidak berkomunikasi lagi dengan ku.
Flashback Off
.....
Aku sudah selesai dengan aktifitasku di kamar. Aku pun turun kebawah untuk sarapan. Di sana sudah ada mama dan Amera. Namun, ada sedikit keterkejutan.
Ada seorang lelaki dengan potongan rambut sangat pendek, sedikit kurus dan tegap.
Aku berjalan sambil mendekat ke meja makan. Sambil menarik kursi sesekali aku lirik dia. 'Ini beneran kak Pratama?' Batin ku bertanya dan hatiku pun ikut bahagia.
Aku duduk dan mengambil roti dan mengolesinya dengan selai. Aku ingin menyapa kak Pratama. Tapi, apa lah dayaku yang bukan siapa-siapa sidisini.
Mau menyapa karna hubungan saudara tiri tapi untuk apa. Gak jelas bakalan cerita nya ini.
Aku pun cuek dengan ekspresi datar sambil menikmati sarapan pagiku. Aku juga bisa melihat sedikit kak Pratama sesekali melirikku. Kebetulan juga dia duduk tepat di depan ku.
Selesai makan dan memasukkan bekal makan siangku. Aku pun pamitan dan salaman ke mama ku. Lalu Amera menyaut, "PR ku mana?! SUDAH KAU KERJAKAN, KAN!!!" Aku pun langsung menberikan bukunya. Setelah langkah ku sedikit menjauh dari meja makan. Amera berkata lagi, "Baguslah kalau kau mau jalan kaki. Itu pantas buat orang sepertimu." Aku pun tidak peduli dengan perkataan nya dan meneruskan langkah kakiku.
'Aku harap aku segera lulus SMA dan kuliah sambil kerja serta punya rumah sendiri.' Batin ku kesal.
Kini aku sudah ada di pinggir jalan depan gerbang rumahku. Menunggu angkot lewat. Tiba-tiba ada suara montor berhenti di belakangku.
"Dek.." suara terkesan tegas namun kalem sedang memanggilku. Aku pun menoleh kemana-mana.
"Dek ayok kakak antar...."
Ran Prov Off
....
Pratama Prov On
Aku kira dia akan menyapaku saat hendak duduk. Ternyata dia hanya sekilas menatapku dan kembali mengambil sarapan paginya. Aku pikir ada yang salah dengan anak ini.
Sampai kami selesai makan. Tidak ada yang bersuara sedikit pun disini. Sampai Ran berpamitan kepada mama dan memasukkan kotak bekal nya ke dalam tas.
Aku pun cukup lama menatapinya. Ada dengan Ran saat aku tidak di rumah, di tambah lagi saat amera meminta buku PR nya.
"PR ku mana?! SUDAH KAU KERJAKAN, KAN!!!"
Sungguh dalam ekspresi Ran sedikit jengkel namun dia seperti lemah tidak bisa berbuat apa pun. Sampai pada akhirnya Amera yang terus mengejeknya. Membuat Ran acuh dan tetap ingin berangkat ke sekolah tidak di antar sopir.
....
Setelah ku rasa Ran sudah agak menjauh dari rumah. Aku bergegas menyelesaikan makan siang ku. Lalu aku pun tergesa-gesa berdiri dan berjalan mengambil kontak montorku.
"Pratama mau kemana kamu?" Tanya mama ku yang ku balas seadanya, "Ada urusan bentar."
Aku pun berlari dan cepat-cepat mengendarai montorku. Melajukan motor ku sampai depan gerbang. Lalu aku sedikit mendekat di belakang Ran. Aku bersyukur dia masih ada.
Aku pun berkata padanya, "Dek....."
Dia nampak kebingungan. Aku pun berkata lagi, "dek Ayo kaka antar...."
Dia pun menoleh ke belakang dan sedikit terkejut. Namun dia berusaha menyembunyikan dari raut wajahnya.
"Kak kok ada disini?" Suara nya yang lembut membuat ku rindu saat-saat dulu.
"Udah dek langsung duduk di belakang. Kakak antar." Kataku padanya. Dia pun langsung naik di belakang dan duduk menyamping.
"Dek pegangan yang kuat." Kata ku padanya. Dan aku pun melajukan kencang sepeda montor ku.
Pratama Prov off
.....
Author Prov
Ran yang baru saja menyesuaikan duduk nya. Terkejut dan resflek langsung memeluk pinggang kakaknya itu. Dia lupa kalau kakaknya ini adalah tipe-tipe pembalap kalau membawa sepeda montor.
Dia memeluk erat Pratama sampai pada akhirnya sampai di sekolahan. Banyak siswa-siswi yang melihat Ran dan pratama. Terlebih para Siswi-siswi. Mereka benar-benar iri dengan Ran yang bisa memeluk dan di bonceng oleh pria tampan seperti Pratama.
Namun, di tempat lain. 4 siswi, meraka adalah teman Amera. Nampak tidak suka dengan adegan yang mereka liat saat ini.
....
"Dek sampai mau kapan gini?" Kata Pratama menyadarkan Ran.
Ran pun dengan wajah malu langsung melepas spontan pelukannya. "Maaf kak."
Kata Ran sambil turun dari sepeda montor.
Lalu Ran memajukan tangannya untuk meminta salim, maklum pratama walaupun seperti itu tetaplah seorang kakak.
Saat hendak pergi, tangan Ran masih bersalaman dengan pratama langsunh di tarik.
"Dek nanti kakak jemput ya?"
"Tapi kak...."
"Ngak ada tapi-tapian dek. Nanti pulang jam brapa??"
"Jam 3 an kak." Lalu Ran menarik lagi tanganya. Setelah setengah jalan, Ran berkata lagi ke pada Kakak nya itu. "Jangan ngebut-ngebut, kalau kayak tadi aku ngak bakal mau di bonceng." Kata Ran sambil memberi senyum manis.
Deg
Rasanya hati Pratama di panah begitu dalam oleh senyuman manis Ran. Dia benar-benar merindukan senyum, tingkah, dan semua dari Ran.
Melihat langkah Ran yang sudah menjauh membuat Pratama sadar diri dia siapa? Dan,,, huh....!!
'Sadar Pratama, Ran adek tirimu. Jangan inces kamu Pratama.' Batin Pratama untuk menyadarkan diri nya.
.....
Setelah Ran sudah agak menjauh, akhirnya Pratama melajukan montor. Dia tidak pulang saat ini. Namun, dia pergi ke rumah teman SMA nya dulu. Yang juga teman seangkatan di militer dulu.
Setengah jam kemudia Pratama sudah sampai di depan rumah temannya itu. Bima (nama temanya) saat ini sedang membersihkan kandang burung dan memberikan makan.
Melihat sepeda montor berhenti awalnya bima acuh. Namun saat Pratama melepaskan helmnya Bima lantas menoleh lagi dan tersenyum yang juga di balas senyum dari Pratama yang turun dari montornya.
"Hei kau, Ngak kasih tau mau main kesini." Kata Bima sambil melangkah maju ke Pratama.
"Alah, biasanya langsung main. Pakek acara ngasih tau segala. Gayaan lo." Sambil berjabat tangan.
"Ya udah sana masuk. --
-- tapi bentaran, aku masih mau ngurus ini." Sambil membawa sangkar burung yang dalamnya ada burung jenis 'kenari' yang akan di jemur di sinar matahari pagi.
Setelah selesai dengan burung-burung milik Bima. Mereka berdua pun masuk kedalam rumah.
...
..
.
___________________________________________
Ran Almeriska =
"Walau dari kecil di tinggal mati ibu dan selalu di tinggal ayah berbulan-bulan. Tidak menjadikan ku putus semangat. Bersykurlah karna aku masih hidup dan masih layak untuk berjuang. Setidaknya bisa sekolah, makan nasi, dan merasakan rumah yang bisa menjadi sadaran ku. Sudah lebih cukup.
Aku belajar bersyukur. Aku menikmati setiap cobaan dan ujian yang Tuhan berikan. Karna aku yakin tuhan memiliki rencana yang jauh lebih indah di bandingkan rencanaku sendiri.
~~Aku harap setiap manusia bisa berpikir positif. Dan lebih dalam memaknai hidup ini. Bunuh diri itu bukan solusi. Manusia di beri otak untuk memiliki akal. Jika manusia berakal maka pikirkan dulu sebelum melangkah~~"
___________________________________________