My Brother is Army, I love Him

My Brother is Army, I love Him
Chapter 2



¤Chapter Mengalami Revisi¤



Setelah selesai dengan burung milik Bima. Mereka berdua pun masuk kedalam rumah. Pratama di persilahkan duduk di ruang tamu. Lalu ditinggal sebentar masuk oleh Bima ke ruang tv. Lalu datanglah ibu Bima. Tak lama disusul juga Bima di belakang ibunya.



"Wah, Nak Pratama. Kok lama udah ngak main kesini?" Kata ibu Bima sambil tersenyum hangat yang di balas senyum hangat juga oleh Pratama.



"Iya bu, saya baru pulang dinas kemarin. Maklum tentara lama kerjanya." Sambil mencium punggung tangan ibunya Bima.



Mereka pun saat ini sedang duduk sambil berbincang-bincang. Membicarakan banyak hal. Terutama Pratama yang telah menganggap Ibu Bima seperti ibunya sendiri. Entah, dia merasa lebih nyaman dengan sifat keibuan yang melekat pada Ibu Bima yang lemah-lembut, penyayang dan juga hangat peringainya. Sangat jauh sekali dengan mama nya yang ada di rumah.



"Jadi, Nak Pratama udah punya pacar saat ini?" Dari perbincangan itu, Pratama sedikit diam melamun sekejap.



"Emm... A..nuu.. bu, " kata Pratama terbata-bata.



"Anu...Anu apa kau ini?!" Kata Bima sambil terkekeh menirukan kata Pratama.



"Ada apa Nak Pratama?" Tanya Ibu Bima heran.



"Saya belum punya pacar." Kata ini memiliki kesan tersendiri bagi seorang Jomblo seperti Pratama. Namun, bagi Bima ini adalah sebuah kata yang begitu membuat dirinya tertawa terbahak-bahak.



"Hahahahahahah...." Tawa Bima yang menggema terkesan mengejek Pratama yang jomblo itu.



"Aish, kau ini Bima. Apa kau sendiri juga sudah punya pacar?! HUH?" Kata Ibu Bima yang membalik kan fakta itu kepada anaknya sendiri.



"Lah itu..!! Apa kau juga punya pacar huh?" Yang langsung di saut oleh Pratama yang tak terima atas tertawa menjengkelkan dari Bima tadi.



"Aku ini cukup tampan untuk sekedar wanita di luar sana. Dan aku, juga merasa belum ada yang cocok. Hanya itu saja yang membuat ku tidak memiliki pasangan." Kata Bima dengan percaya dirinya yang tinggi.



"Halah alasan!"



"Dulu waktu SMA kau nembak Fisca saja tidak berhasil. Akhirnya kau malah di tampar oleh nya." Seketika Bima terSKAK .



Pernyataan Pratama adalah poin unggul


2 : 1. Dan itu seketika membuat 2 orang yaitu, ibu Bima dan Pratama terbahak-bahak ngak karuan. Namun, Bima seketika memasang muka musam.



Dan tak ingin kalah dia pun membalas tak kalah keji. "Dan bagaimana adik tirimu yang bernama Ran itu. Kau malah inces. Suka saudara sendiri. "



Seketika ruangan yang menggema itu pun senyap sekejap. Rasanya hati Pratama tertusuk dengan kata Bima. Namun, apa yang di katakan Bima memang benar. Dia mungkin telah suka dan bahkan mencintai adik tirinya itu sejak lama.



Karena suasana yang canggung dan diam ini, membuat Ibu Bima berdeham. "Eeheemm...." untuk mencairkan suasana ini.



"Aku bercanda. Jangan di ambil hati." Kata Bima memintak maaf.



"Kau ngak salah. Kau benar."



"Aku tidak tau harus berbuat apa? Andai dia bukan adik tiriku mungkin sudah ku lamar saat pulang dinas kemarin."



Bima mendekati temannya ini yang sedang di landa rasa galau dalam hatinya. Ia menepuk-nepuk punggung Pratama. Lalu ibu Bima bersuara, "Kalau dia hanya saudara tiri yang tidak satu asi dengan ibumu. Seperti nya tidak papa." Kata ibu Bima meyakin kan.



****























Di sekolah pelajaran telah usai dan waktu istirahat tiba. Ran adalah tipe gadis pendiam dan tidak banyak omong. Pada saat jam istirahat dia lebih memilih membaca buku di kelas atau perpustakaan. Jarang sekali pergi ke kantin untuk makan dengan teman-temannya.



Ran masih duduk di bangkunya dan masih setia membaca buku. Mood nya hari ini sungguh bahagia. Entah kenapa? Raut wajahnya pun nampak cerah dari biasanya.



Namun, di sisi lain ada 5 gadis yaitu, Amera, Naila , Ayu, Feni, dan Nana nampak membicarakan kejadian Ran soal tadi pagi.


Amera berpikir pasti dia di antar oleh kakaknya, yaitu Pratama. Seumur-umur kakanya tidak pernah mengantar sekolah Amera sama sekali atau bahkan bersikap manis. Memiliki hati yang Iri dan dengki membuat Amera lantas berjalan mendekati Ran dengan langkah cepat.











'BRAK













Ran kaget atas gebrakan meja yang di lakukan Amera padanya. Namun, Ran bersikap acuh dan terus melanjutkan membaca bukunya.



"WOY, RAN!! DASAR LU CABE YA!!"



"MURAHAN LU, GODAIN KAKAK GW." Sambil ngejambak Rambut Ran dengan kuat.



"Aa..au."



"Lepasin Ra, Gw salah apa sama lo." Tanya Ran sambil memegangi rambutnya yang di jambak kuat itu.



"Jadi belum tau salah lu." Amera narik rambut Ran lebih kuat lagi sambil membawa Ran ke gudang yang tak jauh dari kelasnya. Di ikuti belakangnya ada Naila, Ayu, Feni, dan Nana.




......




Hari ini adalah hari penyiksaan untuk Ran. Tangan dan kaki Ran di ikat sambil duduk di sebuah kursi. Pakaian Ran pun compang-camping. Keadaan Ran memburuk. Dia pun tidak bisa berteriak karna mulut nya juga di tutup dengan Lakban hitam.



Rambut di jambak dan sudah tak tertata rapi. Amera dan ke 3 temannya menampar pipi Ran berkali-kali sampai memerah dan 1 temannga lagi menvidio adegan kekerasan. Kondisi Ran saat ini benar-benar sudah tak terkondisikan.



Setelah menyiksa Ran. Naila mengambil buku dan pelaratan tulis Ran juga tasnya untuk di lempar ke gudang. Cara ini untuk membohongi guru bahwa Ran sedang bolos. Jadi tidak ada kecurigaan dari siapa pun.



"Mungkin aku akan lepaskan kamu 2-3 harian yang mendatang."



"Ini semua karna kamu terlalu murahan untuk menggoda kakak ku." Kata Amera terakhir. Lalu berjalan ke arah pintu gudang dan selanjutnya menutup pintu gudang yang di dalamnya terdapat Ran.



Saat ini sakit dan takut sendiri di dalam gudang yang pengap, kotor dan juga tampa cahaya. Yang hanya remang-remang sepertu ini. Ran hanya bisa menangis sambil menunggu siapa pun bisa menolongnya. Selalu berdoa kepada tuhan atas apa yang terjadi untuknya saat ini.



'Siapa pun tolong aku.' Kata hati Ran yang tak dapat Ia keluarkan dari bibirnya saat ini.



'Hiks....hiks.....hiks....' Ran hanya bisa menangis sampai dia lelah dan pingsan.



*****



























Kini Jam pulang sekolah sudah tiba. Sekitar Jam 3 lebih. Pratama sudah siaga di depan gerbang dengan montor lelakinya itu. Terlihat gagah dan tampan. Tidak hanya para siswi yang kagum tapi para guru-guru dari yang muda sampai tua juga kesemsem dengan paras wajah dan tubuh Pratama.



Pratama tidak peduli dengan itu. Dia terus saja melihat di dalam tidak nampak ada Ran disana. Sampai waktu menunjukkan setengah 4. Ran masih belum kunjung datang sampai sekolah sudah mulai sepi.



'Tidak seperti biasa Ran terlambat seperti ini. Kalau pun lupa juga itu tidak akan mungkin.'



'Apa dia sudah pulang ya?'



Pikiran Pratama yang sedari tadi membuat argumen demi argumen.



"Mas cari siapa?" Kata seorang lelaki paruh baya sambil menepuk pundak Pratama. Lelaki itu menggunakan pakaian satpam berwarna hitam.



"Eh pak.." sedikit kaget.



"Saya lagi nunggu adek saya pak."



"Apa di dalam masih ada orang?" Tanya Pratama.



"Didalam sudah tidak ada. Karna hari ini tidak ada ekstrakulikuler. Memangnya nama adek mas nya siapa?"



"Namanya Ran."



"Ran Almeriska." Jawab Pratama.



"Ouh anak itu. Saya kenal tapi tidak tau kelasnya mana." Kata satpam itu.



"Mungkin dia sudah di jemput. Karna tadi nona Amera juga sudah pulang."



"Apa bapak tadi melihatnya?"



"Ngak mas. Seharian ini ngak lihat. Tapi kan nak Ran juga berangkat-pulang bareng sama nak Amera." Jawab satpam itu.



"Apa ada sesuatu mas?" Tanya Satpam itu lagi.



"Oh. . A .emm.. Tidak ada pak. Ya udah saya pulang dulu." Kata Pratama sambil menjabat tangan pak Satpam.



"Ya udah pak, Mari.." katanya sambil melajukan montornya.



"Iya mas." Kata satpam itu sambil kembali masuk ke dalam sekolah menuju pos Satpam.




****



























Suasana di rumah yang panas karna sedari tadi nyonya besar marah-marah karna Ran belum pulang sama sekali.



"Dasar anak itu ngak tau di untung! Sampek pulang aku hajar habis-habis san dia." Hal itu di dengar Pratama yang baru saja membuka pintu ruang tamu dan melangkah masuk.



"Ran belum pulang ma?" Tanya Pratama dengan raut wajah datar khasnya.



"Belum. Anak itu memang kurang ajar." Sebenarnya dalam hati Pratama cemas namun, dia tutupi dengan raut wajahnya yang datar dan dingin itu.



Saat Pratama akan pergi ke arah kamarnya. Dia melihat Amera sedang menonton TV.



"He Ra. Lu tadi pulang ngak bareng Ran?" Tanya Pratama menatap adik kandungnya tajam.



Si empu yang di tatap agak gugup namun di sembunyikan. "Ngak. -- Dia bolos waktu pelajaran selesai istirahat 1 sampai pulang."



Awalnya Pratama kaget namun dia bersikap biasa-biasa saja. "Tau kemana dia pergi?" Tanya Pratama lagi.



"Ngak."



"Ngak tau bukan urusan ku!" Seketika, Pratama pergi dengan langkah cepat ke arah kamarnya. Karna percuma menanyai Amera. Itu hanya akan membuang-buang waktu.



*****



























Mereka makan dengan lahap tampa mempedulikan apa pun. Sedangkan Pratama, dia hanya memikirkan Ran sedari tadi.



'Kenapa belum pulang sampai sekarang????'



"Bi, nanti kalau Ran pulang jangan kasih makan malam." Kata nyonya besar di rumah itu.



"Kalau misal nya papa tau Ran belum pulang dan kalian selalu bersikap seperti ini pada Ran. Papa pasti sangat marah!" Kata Pratama berkata sedikit tajam.



"Ran itu memang anak yang nakal." Kata mamanya berusaha untuk mengelak.



Pratama langsung tidak nafsu makan. Dia akhirnya meninggalkan adik dan mamanya yang belum selesai makan. Dia menglangkah masuk kedalam kamar mengambil kontak sepeda montor. Lalu pergi ke luar rumah.




*****
























******



Di dalam ruang yang gelap dan pengap. Ran baru saja sadar dari pingsan nya. Sakit, lelah, lapar, perih yang dia rasakan saat ini. Begitu cepat waktu penyiksaan itu terjadi. Baru saja, tadi pagi dia sudah sangat senang. Belum lama dia harus menerima hal yang tak terduga seperti ini.



Ran selalu berpikir positif kepada Tuhan. Dia selalu memikirkan di setiap badai pasti ada pelangi yang datang. Di sebuah penderitaan pasti akan ada kebahagiaan. Entah tuhan akan merencanakan apa di masa depan yang indah untuk dirinya.



Walau tububnya seakan remuk. Yang dia pikirkan bukan tubuhnya saat ini. Tapi rasa bersalah karna dia tidak bisa menjalankan sholat. Dia menangis dengan mulut yang masih di tutup lakban hitam.



'Maafkan aku tuhan.'



Hiks....hiks....hiks.....



'Tolong maafkan aku. Mohon ampun ya Allah ya Rahim.'



Dia hanya bisa terkulai lemas dan memohon pertolongan. Namun, apalah daya tubuh ini yang tak bisa di ajak kompromi. Ran lebih memilih menutup matanya berharap hari esok cepat datang.




*****



























******



Pratama melajukan montor nya ke arah yang entah tidak dia ketahui harus kemana. Huh, jujur saja kalau dia benar-benar jadi kakak kandung Ran pasti dia juga akan cemas seperti saat ini. Apa lagi jika Ran seandainya adalah kekasihnya lebih cemas lagi dirinya.



'Aku harus mencarinya kemana?' Runtuk Pratama dalam pikirannya.



Sungguh malam yang sangat sesak untuk sekedar bersantai. Pratama sudah tidak bisa menahan dirinya. Dia benar-benar akan langsung mengungkapkan perasaan nya kepada Ran. Malam ini juga.



Waktu untuk cuti di rumah juga tinggal 2 minggu lagi. Ini sudah hari ke 2 dia cuti sejak kepulangan nya kemarin. Seakan waktu ini benar-benar cepat.



Drrtt...drrtt...drrtt....



Hp pratama bergetar, ada telfon masuk dengan nama Bima sebagai seorang penelepon. Pratama lantas langsung menggeser ke arah atas pada layar hp nya.



"Ada apa Bim??"



....



"Apa harus sekarang berkumpul?"



....



"Tidak bisa Izin?"



....



"Aku lagi susah sekarang."



"Aku sedang mencari adik ku Ran. Dia belum pulang sampai sekarang."



....



"Tapi....'Tut'...."



Sambungan telpon sudah di tutup dari Bima. Terlihat Bima memang tergesa-gesa. Sudah di pastikan pasti ada sesuatu yang penting sedang terjadi. Pratama harus mengesampingkan urusan hatinya saat ini. Dan melajukan montor ke arah rumah untuk segera mengganti pakaian nya dengan pakaian Dinas loreng.



Butuh waktu setengah jam untuk sampai rumah. Pratama saat ini pikirannya begitu sangat kacau. Mungkin saja dia akan telat dan di hukum dan semua teman-teman nya juga akan di hukum karna dia.




****



























"Arrrghhh... Sial." Sambil melangkah masuk ke dalam rumah dan cepat melangkah masuk kamar. Berganti pakaian loreng tidak membutuhkan waktu 5 menit sudah selesai. Dengan pakaian lengkap dia langsung keluar lagi tampa berpamit pada mamanya.



"Pratama bukan nya ada cuti?" Yang tadi nya tidak ingin berpamitan akhirnya Pratama berbalik badan dan menuju arah mamanya.



"Ada rapat atau apalah." Jawa Pratama sambil mencium tangan mamanya.



"Ya udah ma, aku berangkat dulu."



"Hati-hati."



Pratama tidak menjawab karna dia sudah berjalan cepat keluar rumah. Dia langsung memakai helm dan melajukan montornya cepat. Dia bersepeda montor begitu kencang agar tidak memolorkan waktu.



Biasanya waktu yang di tempuh 1 jam kini bisa di lalui hanya 45 menit. Karna tergesa-gesanya.




*****































Pratama sudah sampai di Batalion Halim Perdana Kusuma. Setelah sampai di Provost depan dia mengendarai montor dengan kecepatan sedikit pelan sambil membunyikan bel sepeda montornya. Tentara Provost yang berjaga mengangguk karna si pengendara sudah menunjukkan identitas yaitu baju loreng. Jadi sudah di anggap orang dalam dan langsung masuk tampa harus melapor.















》Skip lapangan



Para tentara sudah berbaris rapi. Pratama waktu itu langsung berlari dan ikut baris di barisan yang kosong. Alhamdulillah nya pas dengan tinggi badan nya dan tata barisannya. Jadi tidak ketahuan atasan dan senior saat terlambat datang dan masuk barisan.



Di lapangan malam itu juga sedikit remang karna lampu yang belum di ganti. Jadi masih bisa kebobolan untuk kedisplinan.



Para lelaki yang gagah menatap kedepan lurus dengan tatapan tajam, dada yang di bidangkan, sertap ketegapan tubuh dan baju yang rapi. Telah di bariskan begitu sempurna.



Beberapa menit setelah itu datanglah sesosok orang yang begitu di hormati dan di segani. Dia adalah Komandan Batalion 467 .



"SELAMAT MALAM SEMUANYA!" Sapa sang Komandan.



"MALAM...MALAM... LUAR BIASA!" Di jawab dengan semangat 467 Paskhas HPK.



"MALAM INI MASIH BERSEMANGAT?!" Tanya sang komandan lagi.



"SIAP BERSEMANGAT!" Teriak seluruh Prajurit.



Karna tampa adanya sound atau alat bantu suara. Akhirnya sang Komandan harus bernada tinggi dalam menyampaikan kalimatnya.



"Malam ini saya selaku Komandan Batalion akan mengumum kan perihal soal dinas pertama kalian setelah pendidikan Sertu kemarin."



"Saya mendapat tugas dari atasan langsung. Untuk mengirim kalian ke ...."



....




"Siap selamat malam. Izin" kata Salah seorang Prajurit yang memutuskan kalimat Komandannya dan sedang hormat



"Izin di persilahkan." Sambil membalas balik hormat anak buahnya.



Lalu Prajurit itu maju dan membisikan sesuatu yang begitu rahasia untuk di dengar oleh semua Prajurit yang hadir saat ini.



"Baiklah kalau begitu siapkan semuanya."




...




..




.






***********************************



Ran 》


~Di setiap badai pasti akan ada pelangi atau sinar matahari yang datang. Di setiap itu juga setiap masalah yang muncul akan ada hikmah dan buah manisnya.~



_________________________________




Pratama》


~Aku bisa menjadi penjaga Langit NKRI & hatimu. Namun, Aku juga bisa menjagamu segenap Jiwa dan Ragaku.~




*************************************