
Mari ke sekolahnya. Kendaraan mu tinggalkan saja di Bataliyon. Ayok pakai mobilku saja."
Mereka pun akhirnya menuju Parkiran dan melajukan mobil untuk menuju Sekolah Ran.
25 menit akhirnya sampai juga mereka di depan sekolah Ran yang besar dan sepi sekali. Harap maklum ini sudah larut malam dan tidak ada aktifitas di dalam sana.
Akhirnya keduanya memutuskan untuk masuk ke dalam sekolah karna aneh nya gerbang tidak di kunci. Keanehan terjadi saat ada cahaya seperti sorot lampu senter di sekolah yang minim pencahayaan itu.
Namun, tak menyangka sekolah yang dianggap sepi saat malam hari tidak berlaku untuk sekolah disini. Walau malam, ternyata masih ada saja Satpam yang berjaga.
Akhirnya, mereka berdua memutuskan masuk lebih dalam. Langkah di pimpin oleh Sang Sertu yang baru saja menjadi Danru. Ia berjalan begitu cepat dan hanya di ikuti oleh Andrian di belakangnya.
Kedua manusia bujang ini akhirnya bertatapan langsung dengan 1 orang pria berumur sekitar 1/4 abad dengan berpakaian satpam.
"Eh Mas. Ngagetin saya aja." Sambil mengelus dada nya karna secara tiba-tiba di depan nya ada 2 lelaki yang memakai baju loreng.
"Maaf. Mas-mas tentara ini ada perlu apa ya, datang ke sekolah ini malem-malem gini?" Kata Satpam itu langsung to the point.
Pratama dan Andrian hanya bisa saling menatap. Sang bapak pun bingung dengan kedua tentara ini. Akhirnya beberapa detik kemudian. Pratama angkat bicara terlebih dahulu.
"Anu, itu Pak (Canggung) kami kesini untuk mencari adik saya yang dari pulang sekolah belum pulang juga." -Pratama
"Dan kami sudah cari kemana-mana tidak ketemu. Kami memutuskan datang kesekolah ini untuk mencari Ran. Siapa tau dia masih ada disini." Kata Andrian Ngawur dan tak masuk akal melanjutkan kata-kata Pratama tadi. Pratama sudah tidak bisa berbicara, Dia hanya mengiyakan saja kata Sahabat nya ini.
"Gini mas ya. Biasanya siswa/siswi yang tidak pulang ke rumah itu biasanya mereka main kerumah temen, atau ikut pacarlah dll. Jadi sepertinya ngak mungkin sekali mas kalau mereka di sekolah kayak gini."
"Saya juga sering kok nemuin kasus kayak gini. Sampai pihak sekolah ikut andil untuk mencari siswa-siswi nya yang ngak pulang bahkan berhari-hari." Imbuh pak Satpam lagi.
"Tapi pak Kit...."
"Aduh mas ngak mungkin sekali. Udah mas nya pulang aja sekarang nama adik mas siapa biar besok saya lapor ke Waka kesiswaan." Kata Pratama yang langsung di Potong si Satpam.
"Tap... "
"Saya sudah katakan tadi mas. Itu musta..."
/Tap...Tap...Tap (seseorang berlari dari arah belakang)
//Berteriak
"HEI BUD (Nama satpam Budi) . AYOK IKUT AKU KE GUDANG LANTAI 2." Seorang yang berpakaian satpam yang sama berteriak sambil berlari dengan nafas yang sudah tidak lagi beraturan.
"Loh..loh ada apa??" Tanya satpam yang bernama Budi itu bingung karna tangannya langsung di tarik oleh temannya yang berlari tadi.
"Ada apa??" Tanya Andrian yang tak di gubris oleh satpam itu. Karna pernasaran. Akhirnya, 2 tentara ini memutuskan untuk berlari dan mengikuti 2 satpam itu dengan tergesa-gesa.
》Skip Lantai 2 , Gudang.
Pratama dan Andrian mengikuti 2 satpam itu yang ternyata berhenti di depan pintu gudang. Dan sumpah nya lagi di lantai 2 ini lampunya juga redup. Jadi, Pratama dan Andrian tidak bisa melihat dengan jelas kalau tidak mendekat. Saat mereka sama-sama mengatur nafas yang tak teratur, tiba-tiba satpam yang bernama pak Budi yang mereka temui tadi berteriak antara histeris dan kaget.
"ASTAGA.." Dengan raut wajah satpam itu yang syok. Akhirnya, Pratama dan Andrian saling pandang dan segera mendekati gudang tersebut.
Saat Pratama yang lebih dulu melangkah mendahului Andrian. Pratama sempat berpikir 'ada apa??'
Satpam bernama pak Budi itu tidak berbuat apa pun. Dia hanya diam membeku seperti sebuah patung sama halnya dengan Pratama yang pandangan nya lurus kedepan. Setelah tau apa yang dia lihat. Matanya memandang Lurus mengamati seorang gadis yang dia sayang dan dari lubuk hatinya dia cintai dengan kondisi yang mengenaskan.
"Siapa yang melakukan itu padanya?! Aku benar-benar akan membalasnya!!" Suara Pratama parau dengan detak jantung yang berdetak kencang, keras, sesak, membuat kedua matanya tak sanggup lagi menahan air bening yang tumpah tampa Ia sadari.
Andrian yang merasa situasi sedang tidak baik. Langsung melangkah cepat ke depan pintu gudang. Ia bisa melihat wanita berbaju SMA putih abu-abu yang lusuh serta dirinya yang entah? Bagaikan tak bernyawa.
Andrian merasa iba dengan sahabatnya. Yang begitu terpukul melihat gadis di hadapannya itu. Namun, tubuh gadis SMA itu harus segera di selamatkan pikir Andrian. Akhirnya, Andrian mendekati Ran yang tak sadarkan diri dengan tanda-tanda jantung berdetak lemah.
"Kita harus segera membawa dia ke rumah sakit." Kata Andrian sambil menggendong tubuh Ran ala bridal Style.
"Besok, InsyakAllah kami urus kasus ini ke pihak sekolah. Beri tau pihak sekolah. Dan kalian bertiga menjadi saksinya." Kata Andrian berkata ke pada 3 satpam yang dia angguki kepala.
"Baik, mas." Kata salah satu dari satpam itu.
"Hei ayok cepat kita berangkat ke RS sekarang juga." Kata Andrian yang masih setia menggendong tubuh Ran dan berjalan dengan hati-hati. Namun, juga tergesa-gesa. Di belakang Andrian hanya di ikuti Pratama yang hanya bisa diam dengan raut muka sedih terukir jelas di wajahnya.
》Di dalam mobil.
Di dalam mobil Pratama duduk di bagian belakang sambil mengelus kepala Ran yang berada di pakuannya. Mobil di kendarai oleh Andrian dengan cepat.
》SKIP RS
Kedua tentara itu kini dengan cepat-cepat turun dari mobil dan membawa Ran cepat masuk ke dalam rumah sakit.
"Sus, Dok, tolong cepat! Tolong adik saya!" Kata Pratama bernada tinggi. Sontak 3 suster yang berjaga malam itu langsung mendorong Brankar dorong (Kasur dorong Pasien) menuju 2 tentara yang sedang menggedong seorang gadis berpakaian SMA itu.
Tubuh Ran akhirnya di letakkan di Brankar dorong itu. Lalu, 2 Suster segera membawa Ran ke dalam ruang pemeriksaan, sedang kan 1 suster lagi menuju ruang dokter.
/Tap...Tap...Tap....
"Maaf Mas, dilarang masuk. Tunggu di luar ya. Kami akan berusaha memeriksa pasien."
"Tolong lakukan yang terbaik." Kata Pratama penuh pasrah.
"Iya mas." Suster itu akhirnya menutup pintu ruang periksa. Tak lama kemudian seorang dokter berjalan tergesa-gesa memasuki ruang periksa dengan di ikuti seorang suster di belakangnya yang sedang membawa beberapa alat kesehatan yang tak di mengerti kedua pria militer itu.
Kini, Pratama dan Andrian hanya bisa duduk di kursi tunggu.
//Hooamm ... (Andrian Menguap)
Pratama menatap ke arah temanya itu. "Dri kalau kamu ngantuk kamu bisa pulang aja sekarang. Ini juga sudah pukul 1 pagi. Aku berterima kasih kamu sudah bantu aku dan maaf merepotkan mu." Kata Pratama pada Andrian sungkan.
"Bicara apa kamu itu Pratama. Aku akan tetap disini menunggu mu dengan adikmu itu." Sambil menepuk punggung atas Pratama.
"Ini sudah Jam 1. Dan kau juga sudah ngantuk. Jadi tidak papa kalau pulang duluan. Aku mintak maaf karna merepotkan mu." Kata Pratama yang tidak enak kepada Andrian karna merasa sangat merepotkan Andrian
"Jangan bicara gitu. Kita harus Jiwa Korsa." Pratama hanya tersenyum simpul. Tidak bisa mengalahkan prinsip teguh sahabat nya ini.
"Huh, terserah kau saja."
"Tapi besok kita kan ke kantor?! Kamu ngak ke kantor besok?" Tanya Pratama.
"Emm itu pikirkan nanti saja." Jawab Andrian santai.
Dokter keluar dari ruang pemeriksaan sesaat setelah 2 tentara ini bercakap-cakap. Pratama berdiri dan langsung berjalan ke arah dokter pria itu. Di ikuti Andrian di belakangnya.
"Dok, bagaimana kondisi adik saya?"
"OH. baik mas saya akan jelaskan. -- "
"Kondisi adik mas benar-benar memprihatinkan. Di ruang periksa suster sedang memberi infus dan rupanya lambung nya juga terkena Maag yang kronis karna terlihat terlambat makan. Serta dia mengalami dehidrasi dan terdapat banyak luka memar pada tubuhnya. Apa dia habis di pukuli? " kata dokter itu dengan serius menjelaskan dan bertanya langsung.
"Apa dok di pukul??"
"Saya tidak pernah memukul adik saya. Dia sudah hilang sekitar 11 jam yang lalu di sekolahnya dan baru kami temukan sekitar jam setengah 12 / 12 tepat." Jawab Pratama detail dengan kejadian saat dia tidak menemukan Ran saat pulang sekolah sampai dia kembali menemukan Ran.
Dokter itu sempat berpikir luka memar itu berasal dari 2 militer itu atau si kakak yang seorang militer. Karna biasanya kan ada juga yang berbuat kasar untuk mendidik seorang anak / seorang adik. Namun, Sang dokter kembali berpikir dan berkata.
"Em baiklah. Kita bisa bicarakan ini di ruangan saya. Karna ada banyak hal yang harus saya beri taukan." Kata dokter itu yang hanya di tatap 2 orang militer itu iya-iya namun tidak nyambung. Mereka hanya menganggukkan kepala saja.
Dokter pun berjalan ke ruangannya sambil di ikuti belakangnya 2 orang tentara itu.
》Skip, ruang dokter.
"Baiklah. silahkan duduk disini." Kata dokter itu. Adrian dan Pratama langsung duduk. Dokter itu mula-mula memperkenalkan diri untuk mengawali pembicaraannya.
"Sebelum saya jelaskan, saya akan memperkenalkan diri. Nama saya adalah Rahmat Fendi, bisa di panggil dokter Fendi. Dan kalian?" Sambil mengajukan 1 tangan kanan nya untuk bersalaman dengan 2 tentara itu.
"Saya Sertu Pratama."
"Saya Sertu Andrian. Kami berdua teman dan yang gadis SMA itu adalah adik teman saya Pratama."
"Baiklah kalau begitu. Begini mas Pratama, Setelah saya memeriksa pasien bernama Ran dan bertemu dengan kalian berdua, saya sempat berpikir aneh. Saya pikir dia mendapat didik keras dari seorang militer atau apa gitu. Tapi, itu mustahil. Jika saya liat dengan luka dan seragam sekolahnya sepertinya pemikiran saya berunjuk dari pembulian disekolahnya. Karena ada luka pukul, dan bekas merah seperti habis di tali. Dan saya ingin bertanya kondisinya bagaimana saat kalian meneman pasien Ran ini?"
Penjelasan dokter itu benar-benar panjang sekali. Pajang seperti argumen-argumen yang terbentuk di dalam otak Pratama. Akhirnya Pratama pun menjawab pertanyaan dokter itu.
"Jadi begini dokter, -- (Pratama mulai menjelaskan) ....
......
......
......
......
......
......
.....
.....
......
Ia menjelaskan panjang-lebar dari awal masalah sampai awal bertemu dengan Ran dan membawanya ke RS. Semua di jelaskan Pratama tampa terkecuali.
"Sepertinya ini benar-benar kasus pembulian yang kejam." Kata dokter Fendi menggelengkan kepalanya.
"Benar. Dan untung saja kami cepat menemukan Ran." Kata Andrian langsung bicara dengan memajukan badannya membenarkan apa yang di katakan oleh sang dokter.
"Kondisi Pasien bernama Ran ini tidak bisa di anggap enteng. Bisa saya katakan bahwa tubuhnya lemah dan harus di rawat beberapa hari di rumah sakit ini sampai kondisinya benar-benar pulih. Dan rupanya dia juga mengalami trauma atas kejadian yang dia alami di sekolahnya."
"Kejadian ini cukup sampai di sini atau harus di laporkan kepada polisi." Kata Pratama yang berbicara serius dengan mengkerutkan dahinya tanda dia emosi namun tidak tau harus berbuat apa.
"Saya pikir Mas Pratama ini harus ke sekolahan Pasien Ran dan mengatakannya pada Pihak atau Waka yang ada di sekolahan. Kalau soal lapor tidaknya ke Polisi itu tergantung mas nya sendiri. Tapi bagi saya ini adalah kasus Kriminal di lingkungan Sekolah."
"Kami memang akan ke sekolahnya besok (Kata Andrian langsung) . Namun, jika ingin lapor polisi kita juga tidak tau siapa pelakunya dan pasti ini sangat sulit karna ini tersangka yang masih pelajar."
"Kita cari dulu saja lewat rekaman CCTV dengan bantuan dari pihak sekolah." Kata Andrian melanjutkan. Yang di angguki pasrah dari teman di sampingnya.
"Ohiya mas. Ini adalah resep obat dan catatan infus untuk pasien dalam menjalani perawatan." Pratama mengambil kertas itu sambil mengangguk bertanda paham. Dia juga belum membayar biaya rawat dan pemeriksaan.
"Terima kasih, dok. Saya keluar dulu." Yang di balas anggukan dan senyum dari sang dokter.
Pratama dan Andrian pun keluar dari ruang dokter. Pratama langsung melangkah menuju locket administrasi yang tak jauh dari tempatnya Ia berdiri. Dan ada yang bertanya Andrian bagaimana? Dia hanya mengikuti saja tampa bertanya apa pun kepada Pratama.
》SKIP ADMINISTRASI
》SKIP KE ESOKAN HARINYA
》SKIP 2 HARI KEMUDIAN.
.
.
.
// Mengerjap
(Silau, dan kembali mengerjapkan matanya)
Terlihat tempat yang buram dan seorang laki-laki yang masih belum jelas untuk dia lihat. Setelah benar-benar melebarkan matanya baru terlihat jelas.
1
2
3
"Kak Pratama??!" Kaget gadis itu.
"Kau sudah bangun." Kata Pratama sambil ******** senyum manis pada gadis itu.
"Kak ..."
"Tolong panggilkan dokter." Kata Pratama meminta bantuan temannya.
"Kau sudah baikkan, huh?? Mana yang sakit?" Kata Pratama senang sekaligus khawatir sengan kondisi adiknya ini.
"Em mungkin sedikit. Tapi lupakan itu kak. Aku ada dimana." (Sambil berusaha duduk)
"Tiduran saja. Kamu sekarang di rumah sakit." Kata Pratama sambil menahan Adiknya agar tidak duduk. Takut kenapa-kenapa mungkin pikiran Pratama.
"Aku di rumah sakit??! Kok bisa?" Tanya Ran heran karna yang dia ingat adalah kejadian yang menimpanya beberapa jam tempo lalu.
Ups!!! Bukan tempo lalu tapi sudah 2 hari setengah, dia tertidur. 24 jam × 2 = 48 jam. Ditambah 12 jam.
~48 jam + 12 Jam = 60 Jam. Kurang lebih seperti itu.
》》SKIP
Dokter yang di nanti-nanti dari tadi akhirnya masuk juga ke dalam ruangan Ran.
"Maaf sedikit terlambat. Ada pasien lain yang harus saya tangani." Kata dokter Fendi sambil tersenyum lembut.
"Saya Periksa dulu." Di angguki oleh Ran.
.....
( Proses Pemeriksaan )
.....
"Kondisinya sangat membaik. Namun, belum bisa pulang. Mungkin 2 hari yang akan datang baru bisa pulang. Dan jangan lupa minum vitamin dan obat nya juga makan yang teratur." Kata dokter Fendi yang berkata pada Pratama.
"Baiklah saya keluar dulu masih ada pasien yang harus saya periksa. Jangan lupa resep saya tadi."
"Baik dok. Terima kasih." Dokter itu tersenyum sambil melangkah pergi menuju pintu dan hilang juga di balik pintu yang terbuka itu.
.....
"Kak..." kata Ran.
"Kenapa bisa ada disini?" Tanya nya lagi.
"Lupakan dulu soal itu. Sekarang istirahatlah dulu. Nanti saja kakak cerita. Kakak juga butuh tanya." Ran langsung mengkerutkan dahinya heran.
'Emm....' guman Ran
'Sepertinya ada yang aneh'
#Apa yang aneh??
#Bisa menebak?
#Ini tidak sulit. Hanya butuh konsentrasi rendah saja :)
TBC.
{Benar-benar mintak maaf sama pembaca yang masih setia untuk menunggu. Doakan saja setiap hari ada waktu luang jadi bisa nulis dengan banyak chapter ;) }
So, Thanks you to Readers.
Love Readers All
Jangan bosen-bosen menanti :)
INI UJIAN !!! :)
UNTUK KITA SEMUA !! 😅