
[]
Pukul 9 malam Pratama baru tiba di rumah sakit. Setelah melewati segala aktifitasnya hari ini. Ia melangkah maju menuju ruang VIP nomer 6. Tempat dimana Ran di rawat di dalamnya.
~ceklek~
Mendorong pintu dengan pelan. Berharap seseorang yang sedang tertidur di sana tidak terbangun karna seseorang telah memasuki ruangannya. Pratama ke rumah sakit sambil membawa roti, selai, susu, dan buah. Juga ada makanan ringan sebagai cemilan untuk Ran agar dia tak merasa bosan. Pratama meletakkan 1 kantong plastik berisi full itu di atas meja di samping tempat Ran terbaring.
Ia melihat wajah polos Ran tertidur dengan damai disana. Pratama memerhatikan wajah Ran yang bulu matanya lentik, bibir nya indah namun tidak hari ini sedikit pucat. Pratama menatap dengan tatapan sendu. Kemarin Ia memiliki perasaan cinta terhadap Ran. Namun, sekarang Ia hanya bisa memberikan cinta sebatas seorang kakak saja. Kenapa perasaannya selalu plin plan seperti ini.
"Kenapa mencintaimu terasa sulit. Kenapa saat dekat seperti ini tidak ada rasa seperti kemarin? Apa aku hanya bisa menganggap kita benar-benar kakak beradik saja."
Kata Pratama halus sampai hanya dia sendiri mungkin yang akan mendengarnya.
"Aku benar-benar ingin jadi kakak kandungmu Ran. Seandainya jika aku bukan jodohmu." Katanya lagi.
Malam semakin larut. Ran juga tidak kunjung bangun dari tidurnya. Pratama merasa lelah dengan harinya. Semenjak hilangnya Ran dan segala aktifitasnya membuat Ia tidak istirahat sedikit pun. Jujur Ia merasa lelah sekarang. Tidak ada tempat yang nyaman untuk tidur di rumah sakit ini. Apa lagi di ruang tempat dimana Ran di rawat. Jika saja ruangan ini VVIP pasti ada sedikit tempat untuk tidur contohnya sofa. Sayangnya Ia hanya bisa memesan ruang VIP saja.
Akhirnya Pratama tertidur dengan posisi duduk. Dan meletakkan kepalanya di samping Ran. Malam ini sudah cukup larut mungkin waktu telah menunjukkan pukul setengah sebelas mungkin.
****
Open pov Ran
'Haaah...Hoaamm...'
Sepertinya aku tertidur jam 7 dan sudah jam brapa ini? Apa sudah sangat malam. Aku menengok kanan dan kiri dengan mata yang masih sedikit buram khas orang bangun tidur. Rasanya tidak bisa bergerak karna badanku terasa sakit semua.
Aku menengok ke arah kanan di situ ada meja. Aku melihat 1 kantong plastik full makanan. Rasanya aku benar-benar lapar. Tapi saat aku ingin berusaha duduk dari tidurku. Tanganku tak sengaja menyentuh kepala seseorang.
'Siapa ini?' Kerutku heran.
'Rambutnya cepak. Ini kak Pratama kah?'
'Sepertinya Kak Pratama masa iya teman-temannya yang tadi.'
'Hah tidak mungkin orang lain Ran, tentu itu kakak mu.' Aku terus membatin dalam hatiku.
Aku melihat Kak Pratama yang tertidur seperti itu sangat lelap tidak berani untuk membangunkannya. Tapi jika tidak di bangunkan kasihan posisi yang seperti itu pasti tidak nyaman.
Namun, setelah berpikir panjang aku akhirnya mengelus kepalanya halus. Ngak sopan memang, tapi itu agar kakak bisa bangun dari tidurnya dan pindah tidur di sebelahku. Toh kasur ini cukup besar untuk badan ku yang kecilnya. Setidaknya muat lah untuk tidur dua orang seranjang untuk sementara. Lagian juga aku tidak bisa tidur lagi karna sudah bangun. Aku juga akan minta kak Pratama mengambilkan ku makanan di kantong plastik itu.
"Kak." Sambil mengelus pelan tangannya yang di gunakan sebagai sendekap.
"Kak...kakak..." Ulang ku lagi.
"Ehmmm...."
"Kakak.."
Akhirnya Ia bangun dengan khas orang bangun tidur. Sangat lucu tapi bisa ku lihat wajah yang begitu sangat lelah. Aku jadi meraaa bersalah telah membuat Ia terbebanni seperti ini.
"Kamu udah bangun Ran, apa mau makan sesuatu?"
Tanya nya padaku. Aku pun mengangguki dengan senyum.
"Aku lapar kak. Bisa kah memakan sesuatu?" Kata ku
"Ini kakak tadi beli beberapa makanan. Kamu mau makan apa? Roti? Snake? Buah?"
"Aku pertama mau makan Roti, Ke dua makan buah, ke tiga makan snake, terus minum itu yang kotak?"
"Ini?"
"Iyaps." 1 kotak susu original. Aku suka banget susu yang berwarna putih.
"Astaga malam-malam banyak sekali makannya. Biasanya orang sakit tidak doyan makan." Kata kakak ku.
"Aku belum makan kakak." Jawab ku memelas padanya.
Akhirnya kakak ku mengambilkan 2 slice roti dan mengolesnya dengan selai. Memberikan padaku dan tentu aku makan. Namun, sebelum aku makan aku harus mengatakan sesuatu.
"Kak, kak Pratama ngantuk dan capek. Tidur aja di sebelah Ran toh ini terlalu besar untuk Ran." Kata ku padanya.
"Ngawur saja ini kan untuk pasien. Habis ini kamu istirahat jangan capek-capek."
"Aku udah tidur ngak bakalan bisa tidur lagi. Jadi gak papa kakak di sebelah ku aja." Kata ku memaksa lagi.
Sebenarnya kakak Pratama tidak cukup menanggapi perkataanku. Hanya saja dia menatapku dengan tatapan yang tidak bisa ku mengerti.
'Tuhan malu sendiri aku jika salah bicara' Batin ku menahan rasa malu.
"Kakak ambilkan susu tolong. Sepertinya aku makan dan minum ini aja udah kenyang." Sambil tersenyum.
"Ini."
Katanya memberikan padaku. Aku meminum susu itu dan menyelesaikan makan malam sederhana ini. Ternyata perutku sudah meraaa cukup kenyang.
"Aku tidak bisa tidur kak kalau habis makan. Jadi kakak tidur saja sekarang."
"Hmm."
Kak Pratama hanya menjawab sedikit cuek saja. Entah kenapa lagi-lagi tatapan yang tidak dapat ku artikan. Apa mungkin karna dia mengantuk dan aku malah membangunkanya. Tapi aku niat membangunkan untuk dia pindah dari posisi tidurnya itu. Lah malah aku terbuai dengan makanan.
"Kak Pratama tidur di sebelah Ran. Bukankah kita harus jiwa Korsa. Kalau 1 tidur di kasur maka yang lain harus tidur di kasur juga."
"Hmm.."
"Kakak kenapa? Kakak marah ya sama aku?"
"Ini anak ya! Kamu itu lagi sakit malah jiwa korsa, jiwa korsa. Beda kondisi lah."
Wah sungguh tampan sekali kalau sudah seperti ini ekspresi wajahnya. Aku suka kak Pratama kalau sudah agak tegas gini. Keren. Tapi juga menakutkan sih. Aku memutuskan memasang wajah polos dan sok imut. Biar kakak ku ngak marah-marah lagi.
"Ran kamu udah gede. Kok ngak paham aja sih?" Jawab Kak Pratama frustasi.
"Ya iya maap. Tapi aku ngak ada niatan nularin penyakit ke kakak. Ngak usah takut karna sakitku."
"Hah bukan itu Ran. Tapi..."
"Padahal niat baik loo." Potongku sambil melas.
Malam ini sudah semakin larut. Tidak ada yang bisa tidur di antara kami. Karna kak Pratama menjadi cuek dan malah bermain ponselnya. Aku juga tidak bisa tidur lagi. Jadi ku putuskan untuk terus menjailinya. Namun, di jawab dengan cuek.
'Kenapa orang ini?' Batin ku menerka.
"Kakak Capek?"
"Hmm."
"Kakak udah makan?"
"Hm."
"Temen kakak ngak kesini?"
"Siapa?"
"Siapa?"
"Kak Andrian sama Bima."
"Ngak lah."
"Padahal ganteng lo."
"Maksudnya?" Sambil noleh ke aku.
"Kak Andrian ganteng, Kak Bima juga lumayan." Kak Pratama hanya memutar bola matanya jengah.
"Kak."
"Hm."
"Kapan Ran boleh pulang."
"Oh iya ntar kalo kamu sekolah pulang nya ke rumah Kak Bima. Tadi kakak udah kerumah nya Bima, ibu nya malah seneng."
"Eh kok ke rumahnya kak Bima?"
"Disana lebih aman dari pada di rumah."
"Tapi.."
"Ngak usah tapi-tapian. 2 minggu lagi kakak bakal dinas di Biak."
"Astaga!"
"Kenapa?"
"Lama ya?
"Iya lah. Namanya dinas."
"Terus aku gimana?"
"Selama kakak dinas di Biak kamu tinggal sama Ibunya Bima. Awas ya kalau males, harus bantu-bantu disana. Yang akrab sama ibunya."
"Berasa calon mertua!"
Deg.. Pratama melirik ke arah Ran.
"Ngak usah Ngawur kalo ngomong."
"Habisnya!"
"Ngak usah lebay."
"Hm."
"..."
"Kak."
"Udah makan? Udah mandi? Udah ngak capek?"
"Ran tidur udah malem."
"Udah punya Pacar?"
"Ya allah... punyak adek gini amat."
Close Pov Ran
Akhirnya Pratama mematikan ponselnya dan berjalan mengitari tempat tidur pasien itu lalu memposisikan badannya untuk tidur di sampin Ran.
"Kakak beneran tidur disini."
"Tadi kamu yang mintak. Ya allah."
"Oh iya-iya. Canda."
Open Prov Pratama
Aku tidur di sebelah Ran. Sumpah ini anak ngak tau diri kalau sudah Remaja. Seharusnya jangan sepolos ini.
"Dek tidur."
Karna Ran kebanyakan tingkah jadi aku memutuskan untuk memeluknya dari belakang. Tidak papa kan kakak sendiri peluk adik sendiri. Sumpah hatiku berdetak tidak menentu. Posisi yang begitu dekat seperti ini. Aku yakin Ran juga tidak bisa tenang dengan dekapan ku dari belakang. Aku bisa mendengar detak jantung antara aku dan dia yang terdengar jelas. Tapi lebih memilih mengabaikannya.
'Semoga tidak ada setan yang mengganggu.'
'Tuhan Lindungi kami.'
"Kak."
"Tidur Ran."
"Iya, tapi Ran tidak bisa tidur."
"Ya udah diem aja sampai tidur."
"Kak."
"Apa sih Ran? Di bilang suruh tidur kok."
"Ngak bisa gerak kak."
"Suruh siapa banyak tingkah. Udah tidur."
"Jahat!!!"
"Hm."
Akhirnya aku tidak menggubris perkataan Ran. Aku lebih memilih tidur dan kuharap Pagi segera tiba.
Close Prov Pratama
Akhirnya ke dua kakak beradik itu telah terlelap dalam mimpi masing-masing setelah sekian menit berdebat.
Ran tertidur di dalam dekapan sang Kakak. Seandainya mereka sepasang kekasih mungkin saja mereka akan cocok. Terlihat serasi sekali malam ini.
¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤
Apa masih ada yang menunggu untuk part selanjutnya?
Tolong Komen ya?
~SEE YOU