
"Kak..." kata Ran.
"Kenapa bisa ada disini?" Tanya nya lagi.
"Lupakan dulu soal itu. Sekarang istirahatlah dulu. Nanti saja kakak cerita. Kakak juga butuh tanya." Ran langsung mengkerutkan dahinya heran.
'Emm....' guman Ran
'Sepertinya ada yang aneh' pikir Ran.
Seluas mata memandang. Dia tidak sedang berdua dengan kakaknya saja. Ternyata di ruangan ini ada lebih dari 2 manusia. Mereka memakai pakaian loreng yang sama persis dengan Sang kakak pakai. Dan ada mama dan adik nya juga.
'Petaka!'
Ran memutuskan untuk pura-pura tidak mengetahui keberadaan Mama dan juga adik tirinya.
"Kak kok ada tentara sih?" tanya Ran. Sambil pura-pura tak mengetahui keberadaan 2 wanita itu.
"Itu temen kakak." 2 tentara itu mendekat ke arah mereka berdua.
Ran hanya sekedar menyapa dengan tersenyum tipis. dua tentara itu adalah Bima dan Andrian. Saat mendengar kabar buruk tentang hal yang terjadi saat di telfon oleh Andrian, Bima pun langsung meluncur ke rumah sakit.
"Hai dek." Sapa Andrian
"Masih ada yang sakit dek?" Kata Bima.
"Hei juga kak, dan iya ini udah agak mendingan sakitnya." Kata Ran canggung.
"Dek kenalin ini temen kakak yang ini namanya Andrian dan yang ini Bima. Satu letting dengan kakak."
"Eh iya kak. Makasih kak Bima sama Kak Andrian udah jenguk Ran." Sambil memberi senyum manis yang sedikit canggung.
"Ehem!"
"Maap ya mama kurang perhatian ke kamu sampek gak tau kalau ilang. Terus nak Andrian sama Bima makasih udah bantu Pratama buat nemuin Ran. Memang anak ini sedikit bandel." Kata si wanita itu dengan memaksakan senyum manis.
"Iya nih Ran. Kalau sekolah tuh yang bener ngak usah aneh-aneh! Kan jadi nyusahin orang lain." Kata adik tiri Ran dengan tatapan benci kepada Ran.
"Orang sakit ngak usah di marahin. Lagian dia itu ngak hilang tapi di aniaya." Kata Pratama memberi pembelaan.
"Cih! Kak ngak usah di bela-bela napa sih?!" Sewot Amera.
"Diam kamu! Ngak sopan banget disini ada temen kakak." Si Andrian dan Bima hanya diam dan tersenyum kecut karna merasa ngak enak di antara mereka.
"Lagian kalo sampek kakak tau yang melakukan ini ke Ran siapa, bakal tidak di beri ampun!" Kata Pratama menatap tajam kepada mamanya dan Amera si adiknya.
Ran hanya menunduk tanda takut. Menakuti ke dua manusia iblis itu dan menakuti hawa yang mencekram di sekitarnya. Hawa-hawa Darah sedang naik tinggi. Takut terjadi kekerasan atau apalah itu.
Dan tatapan Pratama adalah untuk mengancam orang yang telah menjahati Ran. Bukan memberi ancaman kepada Mama dan adeknya, tapi mereka berdua malah memikirkan bahwa Pratama sedang mengancam mereka karna sudah tau semuanya. Akhirnya setelah perdebatan itu usai, anak dan ibu itu langsung berpamitan pulang. Dengan ekspresi wajah yang nampak ketakutan. Tentu dahi Pratama berkerut, heran dengan sikap mereka berdua. Andai saja waktu itu Pratama benar-benar tau dalang di balik semua ini adalah adiknya sendiri dan mamanya yang senantiasa slalu membela Amera. Pasti Pratama akan kalab saat itu juga. Membabi buta siapa pun itu lawan. Tak pandang bulus siapa pun itu.
.....
Ran saat ini sedang makan buah sambil tidur. Buah apel yang di kupaskan oleh Pratama setidaknya cukup untuk memberi isi pada lambungnya. Tidak terlalu berat untuk seseorang yang baru sadar dari koma nya.
"Dek kamu ngak inget siapa yang melakukan itu ke kamu?" Tanya Andrian di tengah suasana.
"Melakukan apa kak?"
"Menganiaya kamu?" Kata Andrian menegaskan lagi.
"Tidak." Ran hanya menggelengkan kepalanya dan mulai melamun. Tatapannya kosong dan seperti tidak berselera makan lagi. Andrian tau ada yang sedang di sembunyikan oleh Ran.
"Kakak ada disini. Tidak usah takut." Kata Pratama sambil mencoba menatap mata Ran mencari sebuah kepercayaan. Kepercayaan dari mata yang kini sedang menatap sayu dan kosong.
"Ran."
Tidak ada jawaban. Andrian dan Bima yang duduk di kursi waktu itu. Langsung bangkit dari duduknya dan mendekati tempat Ran dan Pratama berada.
"Dek jangan ngelamun." Kata Pratama sambil mengelus pelan pipi kanan Ran.
Ran tersadar dan sedikit berkeringan dingin. Dia bingung harus bagaimana sekarang.
"kamu baik-baik saja kan dek?" Tanya Bima.
"Ran ada kakak. Kamu ngomong aja jangan takut." Kata Pratama penuh perhatian.
"Ah...itu...anu... itu kak. Ran kepikiran ketinggalan mapel apa aja gitu." Jawab Ran asal bicara.
"Bukan itu! Tapi siapa yang nyekap kamu dan menganiaya kamu di gudang sekolah?!"
Kini Pratama langsung bertanya *to the point* dan tegas. Tidak ingin membuang-buang waktu lagi.
"Sudah lah jangan di tekan Pratama. Dia butuh istirahat." Kata Bima berusaha untuk mencairkan suasana. Andrian pun hanya nampak diam.
Akhirnya Pratama harus menahan diri untuk tidak bertanya apa pun lagi. Dan lebih memilih untuk diam sambil mengupaskan buah Apel untuk Ran. Ran hanya memakan buah nya tampa berkata apa-apa lagi. membisu dan tampah aneh dengan raut wajahnya.
.....
Bima melihat jam tanganya. Sudah waktunya untuk Ia kembali lagi ke kantor. Sepertinya ini sudah menunjukkan waktu mendekati apel Sore.
"Ndri , Prat, aku mau balik ke kantor ada apel sore. Kalian ngak balik?" Tanya Bima.
"Aku harus jaga adik ku. Bingung juga mau izin." Jawab Pratama.
"Aku ikutan balik lah. Takut kena jatah ntar. Lo yakin ngak ikut apel?" Tanya Andrian ke Pratama.
"Ran gimana?" Kata Pratama.
"Kakak ke kantor aja. Sekalian pulang buat mandi sama makan. Ran ngak papa disini aja nanti juga di rawat suster." Ke tiga tentara itu menatap Ran. Yang paling sedih adalah Pratama.
"Cepetan keburu kena hukum komandannya lo nanti. Aku ngak papa nanti ada suster kok." Kata Ran lagi meyakinkan.
"Kakak ngak papa disini aja."
"Udah apel sana kak. Cepetan udah jam segini." Kata Ran memaksa.
Akhirnya Pratama mengiyakan perkataan Ran. Sebenernya siapa sih yang mau di tinggal oleh kakaknya sendiri apa lagi kakak yang perhatian. Tapi Ran sadar diri kalau kakaknya adalah seorang abdi negara jadi harus disiplin dan bertanggung jawab dengan pekerjaannya.
Ke tiga tentara itu akhirnya pergi juga dari rumah sakit secara tergesa-gesa. Mengetahui jika waktu yang mepet untuk balik ke kantor. Hanya bisa memanjatkan doa agar tuhan membuat mereka tidak telat dan membuat persiapan apel sedikit berjalan molor. Tapi apalah daya jika di pikir-pikir mana ada militer molor. Mungkin molor berlaku untuk para penduduk tapi tidam berlaku untuk kalangan abdi negara. Disiplin dan bertanggung jawab itu hukumnya wajib. Telat pasti suruh posisi atau ngak di tendang atau di pukul pakai laras panjang. Tiap hari di teriaki kasar, keras, dan harus nurut, biar jiwa korsa tetap terjaga. Inilah penjara dunia.
Intinya 25 menit sudah sampai di kantor. Masih tahap kumpul sebelum Apel di persiapankan. Alhamdulillah tuhan mengabulkan doa ke tiga tentara ini. Intinya juga mereka benar-benar tancap gas dengan kecepatan tinggi. Jika abdi negara itu multi fungsi. Maksudnya bisa melakukan bakat apa saja. Maka tak heran juga mereka juga pintar buat jadi pembalap motor dadakan. Apa lagi kalau mengejar waktu. Langsung juara 1 dunia itu. { buat para abdi negara yang baca ini jangan kesinggung ya :) }
......
Saat ke tiga tentara ini sudah sampai di lapangan dan ikut baris dengan posisi masing-masing. Saat itu lah tepat dan *finish* . Aba-aba di speaker terdengar untuk mengintruksikan gladi terlebih dahulu.
Beberapa menit kemudian gladi upacara di lakukan dengan tenang tanpa ada gangguan. Sambil menunggu sesosok komandan mereka datang. setelah datang mereka melanjutkan apel sore dengan menikmati secara kidmat dab berjalan lancar sampai selesai.
¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤
Maaf buat pembaca yang menunggu. Ini adalah Part revisi. Sebelumnya udah nulis banyak part tapi tidak ke simpan. Alhasil tidak pernah update
:( Maaf menunggu lama banget. Ini adalah bagian dari sesuatu yang aku lupakan beberapa kata. 🙏🙏🙏
Mohon bersabar untuk Part selanjutnya. 🙏
Semoga masih banyak yang betah🙏
akan di usahakan hadir Part selanjutnya🙏
~SEE YOU