
Yesung menatap nanar kearah Yerye, tapi yeoja itu tetap menatap Yesung dingin. Perlahan Yesung mendekat kearah Yerye, membuat Hounan baru itu mundur beberapa langkah, hingga sebuah pohon menghentikan langkahnya.
"Mau apa kau? Jika kau mendekat, aku tidak akan segan-segan mencabik-cabik tubuhmu." ucap Yerye dingin, dari jarinya keluar kuku panjang nan runcing, mengarah pada Yesung.
"Coba saja, kau akan di hukum berat, karena memusnahkan iblis tanpa alasan." ucapan Yesung tidak membuat Yerye menurunkan tangannya. Perlahan Yesung semakin mendekat lalu menggenggam pergelangan tangan Yerye dan merangkul pinggang Yerye, menatap manik mata keemasan milik Yerye, mata Zambrud itu sudah tidak ada, mata berbinar itu hilang. Mata itu hanya memancarkan aura dingin dari pemiliknya.
"Kau yakin, aku tidak ada artinya di hatimu? Aku yakin masih ada hati malaikat yang tersisa, apa aku perlu memancingnya kepermukaan?" ucap Yesung pelan, wajah keduanya sudah sangat dekat, tapi Yerye masih memperlihatkan wajah dinginnya.
"Apa yang kau harapkan dari seorang Hounan sepertiku?" ucap Yerye dingin, Yesung semakin mengikis jaraknya dengan Yerye.
"CINTA." bisik Yesung lalu menempelkan bibirnya di bibir Yerye, bibir Yesung bergerak lambat, tapi tetap saja tidak ada reaksi dari Yerye, hingga lambat laun Yerye merasakan tubuh dan hatinya menghangat, setiap nafas Yesung yang menerpa wajahnya memancing air mata yang selama beberapa minggu terakhir mengering. Kuku tajam Yerye lambat laun menghilang dan perlahan tapi pasti Yerye ikut menggerakan bibirnya, membalas setiap sentuhan cinta yang tidak sempat keduanya ucapkan. Yerye dan Yesung mengembangkan kedua sayap mereka ketika ciuman mereka semakin dalam, sarat kerinduan. Yang lagi-lagi sulit untuk keduanya ungkapkan dengan kata-kata puitis sekalipun. Di bawah pohon di perbatasan tanah malaikat dan iblis. Tepatnya di Moranggan, Yesung kembali merasakan cinta malaikat kecilnya telah kembali.
Cukup lama keduanya menikmati sentuhan rasa rindu, hingga tautan itu terlepas, Yesung menatap sendu manik mata Yerye yang kembali seperti batu Zambrud, sangat indah, tapi mata itu terlihat berkaca-kaca, menandakan sang pemilik manik mata itu menahan tangis, yang pada akhirnya tetap lolos dari bibir mungilnya.
"Mianhae. Tidak seharusnya aku berbohong padamu dulu oppa, tadinya aku pikir rasa kagumku ini hanya kugunakan sebagai keberanianku untuk mendekatimu. Aku ingin lebih siap menghadapai takdirku sebagai Hounan, Tapi pertemuan-pertemuan itu membuat rasa kagumku berubah menjadi perasaan tidak pantas padamu. Padahal aku tahu oppa akan menjadi musuhku nantinya, tapi rasa ingin tahuku tentang iblis semakin besar, ketika melihat sifat dan kebaikan hatimu pada Zhoumi oppa ketika di lembah Nara." hati Yesung semakin tertohok mendengar kata-kata Yerye, air mata yang keluar dari mata Yeoja kecil ini saja sudah membuatnya sesak nafas, pengakuan Yerye semakin membuat hatinya sakit.
"Kemanhe. Aku tidak ingin mendengar apapun lagi. Aku akan menunggumu." ucap Yesung semakin dalam menatap Yerye yang masih terisak, Yerye menatap Yesung tidak percaya. Meminta kepastian dari pernyataan Yesung tadi-menunggu-
"Oppa tahukan resiko apa jika menungguku?" tanya Yerye lemah.
"Ne, berapa lamapun itu, seberapa beratpun luka dan kesabaran yang aku jalani nanti. Aku akan tetap menunggumu." ucapan Yesung semakin membuat tangisan Yerye semakin keras, ia tidak menyangka. Namja yang memeluknya dan juga memberi ketenangan hati padanya adalah seorang iblis.
"Mian. Tadi aku bersikap dingin padamu oppa, bahkan ketika saengmu terlukapun aku mengacuhkanmu. Tapi sungguh oppa itu bukan kemauanku, ketika mencium darah malaikat aku memang tidak mempunyai exspresi apapun, yang ada hanya membunuh iblis di sekitar pemilik darah malaikat, saengmu yang darah campuran membuatku menjadi pribadi Hounan sesungguhnya. Zhoumi oppa juga di serang Hounan karena salah paham. Awalnya Zhoumi oppa ingin menolong malaikat kecil yang di lukai bangsa iblis, tapi Hounan yang salah paham langsung menyerangnya, aku yang saat itu sedang melakukan pelatihan tidak suka dengan kesalah pahaman itu dan membantu Zhoumi oppa. Jadi kumohon maafkan aku, jika oppa sudah tidak sanggup. Aku rela oppa mencari yeoja lain, asal oppa tahu saja, selama beberapa minggu ini aku merasa asing pada diri sendiri, tapi hanya karena merasakan setiap nafasmu hanya demi aku. Jiwa malaikatku bisa keluar, sudah lama aku tidak merasakan ketenangan dan kehangatan di hatiku. Oppa gomawo jeongmal mianhae." ucap Yerye panjang lebar, Yesung sudah tidak bisa bicara berkata apa-apa lagi, kata-kata yang ingin ia ucapkan seolah tertahan di kerongkongan, Yesung hanya bisa mendekap Yerye kuat-kuat. Perjuangan cintanya baru saja di mulai. Yesung tahu sakitnya tubuh seorang Hounan baru, karena tubuhnya harus terbiasa dengan perubahan demi perubahan fisik maupun mental yang di alamai Hounan. Yesung juga bukan harus bersabar ketika melihat Yerye yang menjerit kesakitan setelah membunuh Iblis, tapi semakin lama tugas Yerye berakhir, Yerye lambat laun mulai melupakannya bahkan sempat Yerye ingin membunuh Yesung karena membantu kabur iblis yang melukai malaikat, tantangan terberat Yesung adalah ketika Yerye akan di exsekusi oleh Donghae, dia membawa pergi Yerye yang terus memberontak ingin lepas, luka di tubuh Yesung sudah tidak terhitung tapi tidak Yesung pikirkan. Yang ia pikirkan Yerye bisa ia selamatkan dari Exsekusi mati, untung Kangin dan Siwon ikut membantu Yesung melarikan Yerye dari Moranggan.
Hingga saat ini Yerye masih sering mengamuk, tapi ketika Yesung di sampingnya Yerye tenang kembali. Itu karena Yesung dan Yerye saling mencintai. Yerye sekarang baru merespon pertanyaan dari Yesung saja, melalui anggukan dan gelengan.
***
Yesung menarik nafasnya dalam-dalam, perjalanan cintanya memang sangat sulit. Ia berharap saengnya tidak terlalu kesulitan ketika harus menghadapi situasi yang sama seperti dirinya dulu.
"Otte? Apa kau bisa menarik kesimpulan dari ceritaku ini?" pertanyaan Yesung hanya di balas anggukan pelan dari Kyuhyun, Yesung mengerti saengnya ini pasti sedang memikirkan cintanya yang bertepuk sebelah tangan, perlahan Yesung menepuk bahu Kyuhyun memberi sedikit semangat pada Kyuhyun.
"Tenanglah, kau masih ada waktu. Kau dekati Hyunmie pelan-pelan. Buat dia jatuh cinta padamu, sebelum ingatannya hilang, temani dia ketika rasa takut menjalar di tubuhnya. Cinta itu muncul karena terbiasa." Kyuhyun sedikit menarik nafas lega, ucapan Yesung sedikit mengobati rasa kecewa di hatinya.
Sementara di tempat lain, tepatnya di Norana, Hyunmie masih menherang kesakitan memegangi kedua lengannya yang masih begitu kepanasan. Leeteuk masih terpaku di tempat, tidak menyangka kekasihnya bisa berubah menjadi Hounan muda.
"Oppa jebal, tolong aku, panas, badanku panas oppa. Air aku ingin air." jerit Hyunmie semakin keras, Leeteuk benar-benar tidak tahu apa yang harus ia lakukan, tapi melihat Hyunmie yang kesakitan. Leeteuk mulai mendekat sambil memegangi sayapnya yang terluka. Perlahan Leeteuk memeluk tubuh Hyunmie, rasa sakit di tubuh Hyunmie seketika hilang. Sebagai gantinya tubuh Hyunmie melemas, isakan kecil mulai terdengar dari mulutnya.
"Oppa, ada apa denganku? Kenapa rasanya sakit sekali?" isakan Hyunmie membuat Leeteuk semakin mempererat pelukannya pada Hyunmie.
"Apa kau tidak tahu apa-apa tentang kondisimu?" tanya Leeteuk sedikit bergetar, Leeteuk berharap apa yang ia alami sekarang hanya mimpi buruk. Ini terlalu menyakitkan untuknya.
"Molla, jeongmal mollaseyo. Ige appo neomu appo oppa." isak Hyunmie semakin pelan.
Leeteuk memejamkan matanya, rasa sakit di sayapnya tidak seberapa dengan sakit di hatinya. Rencana indah pernikahan serba bunga lily, sirna sudah.
Sementara itu dari kejahuan seorang namja dari bangsa malaikat terlihat cemas, sejak tadi ia berputar-putar di Norana berharap saeng yang ia sayangi di temukan. Padahal ia sudah sering melarang saengnya untuk tidak datang lagi ke Norana, tapi saengnya keras kepala. Hukuman apapun tidak membuat saengnya jera. Sungmin perasaan di hatinya tidak enak, sesuatu yang buruk pasti menimpa saengnya Hyunmie, padahal beberapa hari lagi dia akan menikah dengan sahabat yang sudah ia anggap hyung sendiri Leeteuk.
Sepertinya firasatnya benar, Sungmin melihat Hyunmie yang membunuh iblis dengan sekali tebasan. Sungmin ingin mendekat menenangkan saengnya yang menjerit kesakitan, tapi dia tidak mau mengambil resiko seperti Leeteuk yang di lempar jauh hingga terluka di sayap dan lengannya. Tapi Sungmin akhirnya keluar dari persembunyiannya karena Leeteuk yang mendekat dan memeluk Hyunmie. Itu sangat berbahaya untuk Leeteuk.
"Jauhi dia Hyung." ucap Sungmin sambil menarik Leeteuk yang masih memeluk Hyunmie.
"Sungmin oppa?" ucap Hyunmie lemah, Leeteuk tidak membantah ucapan Sungmin ia berdiri di samping Sungmin sekarang, menatap nanar Hyunmie yang masih sangat lemas.
"Inilah akibatnya kau tidak mendengarkan ucapan dan nasehat oppa Hyunmie. Dan kau Hyung puas sekarang melihat saengku menjadi Huonan?" bentak Sungmin keras, Leeteuk terlihat menunduk.
"Aku. . . Aku tidak tahu kalau Hyunmie." ucapan Leeteuk terhenti ketika mendengar geraman sebal dari Sungmin.
"Menyesal aku mengizinkanmu mendekati Hyunmie." ucap Sungmin ketus.
"Oppa jangan salahkan Leeteuk oppa, aku yang salah, aku yang memaksanya untuk menemaniku ke Norana." ucap Hyunmie membela kekasihnya, Sungmin tersenyum miris.
"Dan apa yang kau dapatkan? Rasa sakit bukan?" bentak Sungmin sekali lagi.
"Mianhae oppa, jeongmal mian. Oppa tolong hilangkan rasa sakit di tubuhku."
"Aku tidak punya kuasa menghilangkannya, kau ikut oppa. Kau juga hyung." ucap Sungmin dingin, tapi ketika Leeteuk hendak membantu Hyunmie berdiri, Sungmin kembali berteriak keras.
"YAAK. Sudah aku bilang jangan sentuh dia." bentak Sungmin sambil menarik Leeteuk menjauh dari saengnya.
"Waeyo oppa? Leeteuk oppa hanya ingin membantuku berdiri." ucap Hyunmie sedih.
"Dan membiarkan kalian berdua mati lemas begitu? Sudahlah jalan sendiri. Dan kau Hyung sebisa mungkin hentikan pendarahan di sayapmu sebelum sampai di Moranggan." Sesaat Leeteuk membeku matanya membulat, dia tahu Sungmin akan mengajak mereka kemana, tapi apa harus sekarang?
Sesampainya di Moranggan, Sungmin menarik nafas dalam-dalam, sebenarnya berbahaya masuk ke kawasan itu, bukan hanya karena tiga mahluk Tuhan berkeliaran di sini, tapi perkampungan Hounan juga ada disana. Malaikat atau iblis tidak ada yang berani mendekat, kecuali mereka ingin bunuh diri. Sungmin beberapa kali datang ke Moranggan untuk bertemu Donghae, dan sekarang walaupun ini kedatangannya yang kesekian kalinya, sambutan para Hounan tetap dingin.
Sungmin menatap Leeteuk yang ketakutan, tatapan para Hounan benar-benar mengerikan. Berbeda dengan Hyunmie yang terus menunduk dan menrintih kesakitan.
Sungmin berhenti beberapa meter di hadapan seorang Hounan yang sedang berbincang dengan Hounan yang Sungmin juga cukup mengenalnya, tapi dari warna rambut dan sayap menandakan tingkatan yang berbeda, Hounan bersayap putih sedikit keabu-abuan terlihat sedikit berbeda dari Hounan lain, tapi dia bukan Hounan muda seperti Hyunmie, dia hanya memperlambat perkembangan diri menjadi Hounan, memilih menjadi ahli ramuan bangsa Hounan dari pada membunuh para iblis dia Hyuk jae sahabat dari pemimpin bangsa Hounan. Sementara Hounan yang satunya berwajah dingin dengan wujud yang hampir 100 % seperti iblis. Dia pemimpin dari semua Hounan, Lee Donghae, Hounan Arion atau pemburu Exsekusi. Yang bukan hanya bertugas membunuh para iblis tapi juga para Rounan.
"Ah Sungmin hyung? Sedang apa kau-" ucapan Donghae tertahan ketika melihat Hyunmie di belakang Sungmin dan Leeteuk.
"Aku perlu bantuanmu Donghae." ucapan Sungmin mendapat anggukan mantap dari Donghae.
"Ikut aku." ucap Donghae pada ketiga tamunya, mereka berempat masuk kesebuah pondok dimana pondok itu lebih besar dari pada yang lainnya.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Apa hyung tidak menjaga Hyunmie dengan baik?" tanya Donghae ketika keempatnya sampai di pondok tersebut. Sungmin menatap Leeteuk yang menunduk kembali, Donghae yang melihat itu menghelah nafas lemas.
"Sudah, tapi kau tahukan bagaimana keras kepalanya Hyunmie?" Donghae kembali menatap Hyunmie yang merintih kesakitan, Donghae mengeluarkan serbuk tulip ungu dari lemarinya lalu memasukannya ke gelas perak di samping tempat tidur yang sedang di tempati Hyunmie.
"Minumlah, agar kau tidak kesakitan lagi." ucap Donghae sambil membantu Hyunmie meminum serbuk ungu bunga Tulip yang sudah di larutkan dengan air. Ajaibnya setelah meminum air itu Hyunmie tidak merintih kesakitan lagi, Leeteuk dan Sungmin menatap Hyunmie nanar ketika wajah dan mata Hyunmie mulai menunjukan gejala perubahan seorang Hounan.
"Hyung, sepertinya dari sekarang Hyunmie harus tinggal disini. Dia harus mulai beradaptasi dengan Hounan lain." ucapan Donghae membuat Hyunmie terkejut.
"Shirro. Aku mau pulang oppa." rengek Hyunmie pada Sungmin. Leeteuk benar-benar tidak tega melihat Hyunmie seperti itu.
"Ne. Apa tidak sebaiknya Hyunmie pulang dulu? Setidaknya dia harus berpamitan dengan kedua orangtuanya untuk terakhir kalinya." ucapan Leeteuk semakin membuat Hyunmie ketakutan.
"Oppa!! Bahkan kau menyuruhku untuk tinggal disini? Shirro aku ingin pulang." bentak Hyunmie pada Leeteuk.
"Tapi kau harus tetap tinggal disini, jika kau pulang. Kau bisa di di kucilkan Hyunmie_ya." ucap Sungmin pelan, membuat Hyunmie menangis matanya yang tadi sudah berubah keemasan berubah kembali menjadi biru daimon.
"Tapi apa salahku? Sampai aku harus tinggal disini, aku minta maaf kalau membantah nasehat dan ucapanmu oppa." isak Hyunmie sambil berlutut di hadapan Sungmin. Sungmin mengepalkan tangannya tidak kuat, ia mundur satu langkah membuat Hyunmie tertegun.
"Oppa. . ." gumam Hyunmie pelan.
"Terlambat, sekarang mau tidak mau kau harus tinggal disini. Leeteuk Hyung, jangan pernah mendekati Hyunmie jika tidak ingin mati." ucapan Sungmin membuat Leeteuk menghelah nafas, apa yang di katakan Sungmin memang benar, tubuh Leeteuk melemas ketika memeluk Hyunmie tadi.
"Araseo." ucap Leeteuk pelan, membuat Hyunmie semakin ketakutan dan histeris.
"Oppa. . .kalian tega padaku." teriakan Hyunmie berhenti ketika Donghae memukul tengkuk Hyunmie sampai pingsan.
"Sebaiknya kalian pergi sekarang. Mulai sekarang percayakan Hyunmie padaku." ucap Donghae yang menidurkan Hyunmie di ranjangnya, Leeteuk dan Sungmin hanya bisa melihat nanar Hyunmie.
"Leeteuk Hyung, kajja." ucap Sungmin pelan sambil melangkah keluar dari pondok dan di susul Leeteuk.
Perlahan keduanya mengepakan sayap meninggalkan Moranggan, selama di perjalanan keduanya hanya terdiam. Membayangkan penderitaan Hyunmie dari sekarang.
"Sungmin, kenapa selama ini kau tidak bilang Hyunmie calon seorang Hounan?" pertanyaan Leeteuk memecahkan keheningan yang tercipta sejak tadi.
'Wae? Apa hyung menyesal? Kalau iya, hyung bisa meninggalkan Hyunmie sekarang. Cari malaikat murni yang bisa membuatmu bahagia." ucap Sungmin lemas, Leeteuk menelan ludah bersalah.
"Bukan begitu, setidaknya jika aku tahu, aku tidak akan pernah mengizinkannya menginjak Norana." ucap Leeteuk sayu, Sungmin tersenyum miris. Semua sudah terjadi tidak bisa di ubah lagi.
"Semua sudah terlambat hyung. Cari saja yeoja lain, Hyunmie sudah tidak bisa kau dekati." Leeteuk menghelah nafas lemas, walaupun itu kenyataannya, tapi semua tidaklah mudah.
"Tidak mudah mencari pengganti Hyunmie di hatiku. Aku bisa memilih sesukaku, tapi tidak dengan hatiku." ucap Leeteuk lirih. Sungmin menatap Leeteuk nanar, cukup tahu exspresi frustasi Leeteuk sekarang. Mengerti jika Leeteuk menyesali keputusan Hyunmie yang mengundur pernikahan mereka, yang membuat Hyunmie malah tertarik pada Norana, tempat tidak satupun orang yang mengizinkannya pergi kesana.
"Lalu apa yang akan hyung lakukan? Aku saja oppanya hanya bisa menyerahkannya pada Donghae, karena mulai sekarang penderitaannya akan lebih menyakitkan." ucapan Sungmin kembali membuat Leeteuk menarik nafas lemas, dia juga binggung harus bagaimana.
"Molla. Tapi aku akan mencari tahu nanti di perpustakaan kerjaan." ucapan Leeteuk hanya di balas gumaman kecil dari Sungmin. Pikiran Sungmin sekarang mulai memikirkan amukan raja Heechul appanya sendiri karena tidak becus menjaga putri satu-satunya kerjaan malaikat.
Sesampainya di istana, Leeteuk langsung izin pamit menuju keperpustakaan. Dia ingin membaca lebih banyak tentang Hounan. Sementara Sungmin mulai menyiapkan diri menyampaikan kabar Hyunmie pada kedua orangtuanya. Dugaan Sungmin benar, Heechul marah besar bahkan menampar Sungmin keras-keras.
"Bukankah appa sudah bilang, jaga saengmu baik-baik. Kenapa kau diam saja ketika dia ke Norana?" bentak Heechul membuat Sungmin beberapa kali terlonjak kaget.
"Aku sudah menjaganya sebisaku appa, tapi Tuhan memang sudah menakdirkannya menjadi Hounan, berapa lamapun di sembunyikan tetap akan terjadi juga." ucap Sungmin pelan, berharap appanya mengerti, kali ini eomma Sungmin angkat bicara.
"Tapi setidaknya kau bisa mengurungnya, walaupun di haquskan berubah, setidaknya tidak sekarang. Hyunmie bukan Hounan biasa." ucap Eomma Sungmin sedikit terisak.
"Kau memang oppa tidak berguna. Menjaga saengmu saja tidak bisa. Bagaimana bisa kau menjaga negaramu ini?" bentakan Heechul membuat Sungmin semakin memikirkan Hyunmie yang mungkin masih pingsan sekarang.
bersambung