
Yesung masih terpaku menatap hamparan bunga Tulip di hadapannya.
"Tuan mari masuk, barang yang anda cari ada di dalam." ucapan Joon sontak membuat Yesung mengalihkan pandangannya, lalu perlahan masuk kesebuah gudang yang lumayan besar di depan perkebunan bunga Tulip itu, benar apa yang di katakan Joon di dalam gudang sudah ada beratus-ratus serbuk merah bunga Tulip, juga beberapa macam serbuk dan akar-akar tanaman lain.
"Cepat berikan aku satu kantung besar sekarang." ucap Yesung seperti terburu-buru.
"Kenapa mesti terburu-buru, stok serbuk merah masih banyak, tuan tidak perlu takut kehabisan." ucap Joon tenang sambil mengambil satu dari beratus-ratus kantung di gudang tersebut.
"Aku tahu. Tapi aku tidak punya bnyak waktu, banyak bangsaku yang membutuhkannya. Berapa semuanya?" tanya Yesung setelah serbuk merah bunga Tulip di tangannya.
"100 ring." ucap Joon tersenyum licik membuat Yesung geram dan meremas kerah baju Joon dan menganggkat Joon tinggi-tinggi.
"Kau jangan main-main denganku Lee Joon, aku bisa melemparmu ke hadapan Lee Donghae sekarang juga jika aku mau." bentak Yesung, sambil perlahan mencengkram leher Joon kuat-kuat, Rounan itu sedikit tersendat-sendat nafasnya. Lupa jika ia berhadapan dengan orang-orang berpengaruh di Moranggan.
"Jika tuan membunuhku, bagaimana bisa tuan mendapatkan serbuk merah bunga Tulip nantinya." ucap Joon pelan, karena harus menghemat pasokan oksigen ke tubuhnya, Yesung tersenyum licik, lalu melempar tubuh Joon ketumpukan kantung serbuk Tulip merah.
"Mudah saja. Aku sudah tahu perkebunan ini, tinggal datang lagi kemari. Mudahkan. Terima harga minggu kemarin atau tidak sama sekali." ancam Yesung membuat Joon mendecak sebal. Ketika Joon bangkit dari tumpukan kantung serbuk Tulip merah, seseorang bertubuh besar dari bangsa Rounan masuk ke dalam gudang.
"Maaf tuan mengganggu. Di luar ada penyusup." ucap pemburu itu pada Joon, Yesung menatap Joon tajam.
"Kau bilang tempat ini aman." geram Yesung, tapi tidak di pedulikan Joon. Rounan itu bergegas keluar gudang, Yesung juga ikut keluar gudang.
Joon tersenyum licik ketika seorang malaikat kecil di pegang kuat oleh anak buahnya.
Sedangan Yesung hanya terpaku menatap kecantikan malaikat di hadapannya, jantungnya berpacu kuat, Yesung berusaha menetralkan jantungnya dengan kembali bersikap dingin.
"Ternyata hanya seorang malaikat kecil yang tersesat di ladangku." ucap Joon dengan tatapan puas, malaikat kecil itu kelihatan begitu ketakutan.
"Jebal lepaskan aku." mohon malaikat kecil itu, sedikit memberontak tapi tangannya semakin di cengkaram erat-erat oleh anak buah Joon tadi.
"Jangan harap kau bisa keluar dengan hidup-hidup ketika masuk kemari." ucap Joon senang, membuat malaikat kecil itu semakin ketakutan. Tapi ada rasa cemas yang juga terlihat di wajahnya.
"Izinkan aku pergi sebentar, aku janji akan kembali lagi. Jebal ada seseorang yang harus aku tolong." rengekan malaikat itu membuat Yesung semakin geram. Entah kenapa Yesung tidak suka yeoja malaikat ini merengek atau terluka. Perlahan Yesung mendekat kearah malaikat kecil itu yang justru semakin ketakutan, melihat yang mendekat bukan lagi bangsa Rounan tapi iblis.
"Memang kami bodoh apa melepasmu begitu saja." teriak Joon yang masih tetap berdiri di depan gudang, membiarkan Yesung yang seolah tertarik dengan malaikat kecil sandraannya, Joon berpikir malaikat ini mungkin berguna untuknya.
"Siapa yang ingin kau tolong? Serbuk merah tidak di gunakan bangsa malaikat bukan?" pertanyaan Yesung yang tepat di hadapan malaikat kecil itu membuatnya gugup.
"I. .itu karena yang aku tolong ada di lembah kematian." ucap malaikat itu pelan, tapi membuat Yesung terkejut bukan main.
"Kau. Sedang apa kau di lembah Nara? Itu lembah yang berada di tanah para ibliskan, kau bisa mati disana?" ucap Yesung penasaran.
"Bisakah penjelasan itu nanti saja. Dia sedang sekarat." ucapan Yeoja itu sontak membuat Yesung menatap Joon.
"Tidak bisa. Dia harus mati, terlalu beresiko jika malaikat ini mengadu nantinya." ucap Joon dingin. Yesung kembali mengepalkan tangannya sebal.
"Aku pastikan dia tidak akan buka mulut." Joon kembali tersenyum licik lalu perlahan mendekat kearah Yesung.
"Aku tidak ingin merugi nantinya." ucap Joon sambil menatap Yesung meremehkan. Dengan kesal Yesung melempar sekantung uang pada Joon.
"200 Ring untuk yeoja ini. Lepaskan dia sekarang." bentak Yesung, sesaat Joon menatap kantung itu lalu tersenyum senang.
"Lepaskan malaikat kecil itu." ucap Joon pada anak buahnya, dengan cepat anak buah Joon melepas malaikat itu, malaikat kecil itu terduduk di tanah mungkin masih ketakutan, Yesung mendekat lalu melihat sekujur tubuh malaikat itu.
"Aku baik-baik saja. Khamsamnida." ucap malaikat itu pelan, Yesung tidak menjawab, ia membantu malaikat itu berdiri lalu mulai berjalan dan terbang rendah meninggalkan perkebunan bunga Tulip itu.
Malaikat kecil itu terus menatap Yesung, membuat Yesung semakin tidak tenang.
"Tuan sekali lagi terimakasih." ucap malaikat kecil itu pelan.
"Ne gwenchanayo, lagipula kau menolong bangsaku. Anggap saja impas." ucap Yesung kembali berusaha dingin.
"Tapi tuan apa tuan punya serbuk merahnya?" pertanyaan itu membuat Yesung menatap manik mata malaikat disampingnya.
"Sudah. Tadi aku membelinya." ucap Yesung sambil kembali fokus memandang kedepan.
"Dari Rounan tadi?" Yesung hanya mengangguk pelan, malaikat kecil itu kembali menatap Yesung lekat-lekat.
"Namaku Park Yerye, namamu siapa tuan?" pertanyaan Yerye kembali membuat Yesung menatapnya, mata indah seperti batu Zambrud, Yesung kembali menatap kearah depan.
"Kim Jong Woon, tapi panggil saja Yesung." ucap Yesung dingin, berbeda dengan exspresi Yerye seperti terkejut.
"Kenapa namamu Yesung?" tanya Yerye ragu-ragu.
"Itu gelar untukku dari para dewan istana. Tidak ada yan istimewa." ucap Yesung kembali dingin.
"Anniya. Kemarin aku membaca sistem kerajaan iblis, kalau yang memiliki gelar adalah orang-orang tertentu yang memiliki kekuatan di atas rata-rata." ucapan Yerye sontak membuat Yesung berhenti, lalu menatap tajam kearah Yerye.
"Dari mana kau tahu? Apa kau seorang pemburu?.
Yerye terlihat gugup ketika mendapat pertanyaan langsung dari Yesung, sedikit tergagap Yerye memberanikan diri menatap Yesung.
"A. .anniya, tuan bisa melihat sendiri rambut dan sayapku, aku hanya malaikat biasa. Hanya saja aku sedikit tertarik pada bangsa iblis." ucap Yerye sambil kembali menunduk.
"Kau tidak perlu berbohong padaku, karena aku juga tidak takut pada bangsa pemburu. Kekuatan mereka semua tidak ada apa-apanya bagiku." ucap Yesung dingin lalu kembali mengepakan sayapnya meninggalkan Yerye di belakang yang kembali menyeimbangi diri dengan Yesung.
"Mianhae. Aku tidak bermaksud begitu. Tapi sungguh aku hanya malaikat biasa." ucap Yerye meyakinkan. Kali ini Yesung tidak menatap Yerye, jantungnya sudah meledak-ledak sejak tadi ketika mata Zambrud Yerye menembus manik matanya.
"Baguslah. Karena aku malas berhubungan dengan para pemburu itu." ucapan Yesung sontak membuat Yerye murung. Tapi Yerye berusaha menutupinya dengan terus menatap ketampanan pangeran iblis yang ia kagumi sejak lama.
Ketika melintasi Moranggan, Yerye dan Yesung terbang sedikit lebih rendah. Beberapa inspeksi dari tiga kalangan sedang berjaga di perbatasan. Mau itu pemburu, iblis dan juga malaikat. Beberapa saat Yerye masih bisa merasakan aura sejuk dari Moranggan tapi tak lama aura panas langsung merasuk tulang belulangnya ketika memasuki lembah Nara, lembah kematian.
"Tunjukan dimana orang yang ingin kau tolong." ucap Yesung sambil menatap Yerye, perlahan Yerye terbang semakin masuk kelembah yang semakin terasa panas untuknya, di sebuah pohon meranggas, seorang iblis terlihat bernafas lemas.
"Itu tuan." tunjuk Yerye pada iblis yang masih terduduk memegangi dadanya yang mengeluarkan darah hitam. Yesung membulatkan matanya ketika menyadari orang yang terluka adalah sahabatnya Zhoumi.
Yesung melihat wajah Zhoumi membiru, di lihat dari lukanya bisa di pastikan sahabatnya ini terluka akibat serangan seorang Huonan atau pemburu. Yesung benar-benar salut pada sahabatnya yang mampu menahan racun dari cakaran Huonan.
"Yesung apa itu kau?" tegur Zhoumi yang memang sistem penglihatannya mulai mengabur.
"Ne. Ini aku, apa kau baik-baik saja?" pertanyaan bodoh memang tapi Yesung hanya ingin memastikan keadaan sahabatnya.
"Sekarang aku masih tidak apa-apa, tapi pandanganku mulai mengabur, kau bawa serbuknya?" tanya Zhoumi semakin lemas. Yesung mengangguk lalu dengan cepat mengeluarkan serbuk Tulip merah dan menaburkannya di luka Zhoumi. Erangan langsung memekak telinga siapapun di sana, Yerye sampai menutup telinganya karena teriakan sakit yang Zhoumi rasakan, tapi erangan itu tidak berlangsung lama, luka di dada Zhoumi berangsur pulih, nafasnya mulai teratur. Inilah khasiat serbuk bunga Tulip merah.
Perlahan Zhoumi membuka matanya, wajah yang pertama ia lihat adalah wajah Yesung yang panik menatapnya.
"Apa sekarang lebih baik?" tanya Yesung lembut, membuat Yerye sedikit tertegun dan kembali menatap wajah cemas iblis di sampingnya, sebelumnya Yerye tidak pernah mendengar iblis seperti Yesung.
"Nan gwenchanayo, jeongmal gomawo Yesung dan kau juga agassi. Padahal kau tahu aku iblis." ucap Zhoumi menatap Yerye yang terkejut karena terlalu serius menatap Yesung.
"Jadi agassi melihat semuanya?" pertanyaan Zhoumi kali ini hanya di balas anggukan dari Yerye.
"Sebenarnya apa yang sedang kalian bicarakan?" tanya Yesung membuat Zhoumi menatap sahabatnya yang keheranan.
"Tidak penting, Yesung bisakah kau membantuku?" Yesung hanya mengangguk kecil, ketika Zhoumi menatap Yerye, Yesung juga melakukan hal Yang sama. Yeoja itu terkejut lalu menundukan wajahnya karena lagi-lagi terlalu asik menatap Yesung.
"Mwo?" tanya Yesung pada Zhoumi.
"Tolong antarkan dia sampai Moranggan, jika di pulang sendirian aku takut iblis yang tidak mengetahui tentang apa yang agassi ini lakukan untukku tetap membunuhnya. Ini masih jauh dari Moranggan." ucap Zhoumi pelan.
"Lalu bagaimana denganmu?" tanya Yesung yang masih khawatir pada sahabatnya itu.
"Aku akan sehat kembali sebentar lagi. Serbuk merah tadi cukup membantu, tenanglah." Zhoumi sebisa mungkin meyakinkan sahabatnya itu, akhirnya Yesung mau mengantarkan Yerye sampai Moranggan.
Tapi takdir Tuhan tidak bisa keduanya hindari, beberapa kali keduanya terus di pertemukan tidak sengaja, entah itu di Moranggan atau di Norana, lambat laun keduanya semakin dekat. Dan mau tidak mau rasa yang di tekan kuat-kuat itu semakin meluap. Yerye dan Yesung semakin berusaha tergantung dengan takdir Tuhan untuk bertemu, berharap jika tidak bertemu di Moranggan mereka bisa bertemu di Norana.
Hingga takdir jugalah yang memaksa keduanya terpisah. Seminggu sudah pertemuan tidak di sengaja itu tidak Yesung alami, hingga kelalaiannya sebagai ketua Inspeksi dan seorang Hyung terjadi. Beberapa anggota Inspeksi melihat Kyuhyun di serang Donghae.
Yesung mengepakan sayapnya kuat-kuat kearah Kyuhyun dan Donghae. Tapi terlambat Kyuhyun terluka karena cakaran Donghae.
Yesung mendorong Donghae kuat-kuat agar menjauh dari Kyuhyun yang mengeluarkan darah berwarna abu-abu.
"Jangan sakiti saengku." bentak Yesung menghalangi tubuh Kyuhyun yang terduduk di tanah.
"Kau tahukan ketentuan Tuhan. Iblis yang melukai malaikat harus di bunuh oleh kami para Hounan." ucap Donghae sinis, perlahan Donghae mendekat, tapi ketika indera penglihat dan ciumnya melihat luka Kyuhyun, tubuhnya mendadak bergetar hebat lalu terduduk melemas.
"Kau. Kau putra bungsu raja Tan Hangeng?" ucap Donghae geram, Yesung yang menyadari itu menatap Donghae tajam.
"Ne. Dia raja Iblis Cho Kyuhyun. Saengmu juga Lee Donghae." bentak Yesung, Donghae kembali tersenyum sinis lalu meludah kearah sampingnya.
"Cih. Aku tidak punya saeng berdarah iblis sepertimu." ucap Donghae tidak terima.
"Lalu apa bedanya denganmu, setelah semua ini berakhir kau juga akan tetap menjadi iblis. Kami siap menampungmu nantinya." ucap Yesung memberi penawaran, Donghae mendengus sebal lalu menatap Kyuhyun geram.
"Aku lebih baik mati dari pada bergabung dengan anggota kerajaan iblis." ucapan Donghae membuat dada Kyuhyun semakin sakit. Kenyataan Hyungnya tidak menerimanya.
"Tapi itu kenyataannya, seberapa sering kau memungkirinya, Kyuhyun tetap saengmu." ucap Yesung kesal dengan kekeras kepalaan musuh bebuyutan sekaligus hyung saengnya juga.
Donghae semakin geram, jika bukan karena tubuhnya yang melemas melihat darah Kyuhyun mungkin mulut Yesung sudah ia cabik-cabik. Tidak berapa lama seorang yeoja Hounan mendekat kearah Donghae lalu berusaha mengangkat tubuh Donghae, Yesung sedikit memicingkan matanya ketika menatap Yeoja yang membantu Donghae, tapi tatapannya berubah nanar, ketika menyadari yeoja itu yeoja yang ia kenal.
"Oppa aku mencium darah malaikat, apa oppa menemukan iblis lain yang melukai malaikat? Lalu iblis yang tadi mana?" tanya Yeoja itu dengan exspresi datar.
"Lihat saja kedepan sana." ucap Donghe pelan, yeoja itu menatap Kyuhyun dan Yesung bergantian lalu kembali menatap Donghae.
"Darah campuran?" tanya Yeoja itu.
"Ne. Maka dari itu aku tidak bisa membunuhnya. Sebaiknya kita pergi." ucap Donghae, tanpa menunggu perintah dua kali. Yeoja itu membantu Donghae berdiri dan terbang meninggalkan Kyuhyun dan Yesung yang masih belum percaya dengan exspresi Yeoja itu. Apa ini hanya kebetulan? Atau yeoja itu memang Yerye.
Yesung masih terpaku menatap kepergian Donghae dan yeoja yang memapahnya, Yesung ragu dengan penglihatannya. Tapi wajah itu tidak mungkin Yesung lupa, wajah yeoja yang ia cintai Park Yerye. Sesaat fokus Yesung kembali sadar pada saengnya Kyuhyun yang mulai terbatuk dan membiru.
"Mianhae Kyu, aku akan menyembuhkanmu." Yesung kemudian mulai menaburkan serbuk merah di luka Kyuhyun, erang rasa sakit terdengar memekik dari mulut Kyuhyun.
"Mianhae, hyung tidak menjagamu dengan baik." ucap Yesung lirih, Kyuhyun hanya menggeleng kecil. Bagaimanapun bukan hyungnya yang salah tapi dia sendiri yang nekat datang ke Moranggan.
"Anniya. Ini bukan salahmu Hyung, Hyung mengenal yeoja tadi?" pertanyaan Kyuhyun membuat Yesung terdiam lalu menatap Kyuhyun sendu.
"Anniyo. Mungkin hanya mirip." ucap Yesung lemas, setidaknya itu yang Yesung harapkan.
"Hyung menyukainya?" tanya Kyuhyun lagi, Yesung menghelah nafas lemas.
"Sudah hyung katakan tidak Kyu. Oh iya apa kau tidak penasaran dengan percakapanku dengan Donghae tadi?" pertanyaan Yesung kali ini justru membuat Kyuhyun diam. Seolah sudah mengetahui segalanya.
Yesung menghembuskan nafasnya berat, saengnya pasti sudah tau.
"Apa kau sudah mengetahuinya?" Kyuhyun hanya mengangguk kecil, wajahnya mulai memucat tidak sebiru tadi. Luka cakaran juga tertutup sempurna.
"Apa ini alasannya kau ke Moranggan hari ini?" Kyuhyun tidak menjawab hanya menunduk dalam, tapi itu cukup menjadi jawaban Kyuhyun. Pantas Kyuhyun tidak melawan Donghae, logikanya kekuatan Donghae setingkat di bawa Kyuhyun. Jadi tidak mungkin Kyuhyun kalah.
Yesung mulai mengepalkan tangannya, aura hitam keluar di tubuhnya, sudah di pastikan yang mengetahui semua ini dan juga memberitahukan Kyuhyun adalah Siwon dan Kangin. Padahal selama ini Yesung menutup rapat-rapat kenyataan kalau Kyuhyun adalah keturunan bangsa malaikat, Donghae adalah putra Shin hye kyung yang pertama. Itu artinya Kyuhyun adik beda ayah dengan Donghae, sama pada awalnya Yesung membenci Kyuhyun karena menyebabkan appa dan eommanya meninggal tapi tidak lama, berbeda dengan Donghae yang tetap membenci Kyuhyun sebagai pembunuh eommanya karena melahirkan Kyuhyun.
"Sebaiknya kita pergi dari sini dulu, aku takut para pemburu melihat kita dan kembali menyerang. Kajja kau bisa terbang?" pertanyaan Yesung hanya di balas gelengan dari Kyuhyun, racun akibat cakaran Donghae masih melumpuhkan gerak tubuh Kyuhyun. Minimal seharian ini Kyuhyun harus berbaring di ranjang.
"Tidak apa, kita jalan saja." Yesung perlahan memapah Kyuhyun, sedikit demi sedikit keduanya pergi dari tempat itu, setengah perjalanan Zhoumi tiba-tiba muncul di hadapan keduanya.
"Syukurlah kalian lolos, aku bantu." ucap Zhoumi sambil membantu memapah Kyuhyun.
"Untuk kau datang. Sebaiknya kita terbang Zhoumi, aku takut kita ketahuan dewan inspeksi." Zhoumi mengangguk paham, perlahan keduanya mengepakan sayapnya dengan masih memapah Kyuhyun.
Selama di perjalanan Yesung kembali melamun, dia masih tidak habis pikir. Apa yeoja yang ia cintai berbohong? Yesung harus minta penjelasan dari Yerye, tapi bagaimana? Selama ini Yesung dan Yerye mengandalkan takdir Tuhan untuk bertemu. Zhoumi seolah tahu kegundahan sahabatnya lalu menepuk lengan sahabatnya pelan. Yesung tersenyum kecil, merasa beruntung memiliki sahabat seperti Zhoumi.
Setelah beberapa saat terbang, mereka akhirnya sampai di kerajaan, Yesung dan Zhoumi langsung membaringkan Kyuhyun di kasur. Kyuhyun harus istirahat agar racun di tubuhnya benar-benar hilang.
"Zhoumi, bisa kau jaga saengku? Aku ada urusan dengan kedua penasehat kerjaan." Zhoumi mengangguk kecil, membiarkan Yesung pergi. Sepertinya Yesung akan mengamuk.
Yesung menerobos ruang perpustakaan dengan kasar. Yesung mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru, mata tajamnya langsung berkilat, ketika menangkap kedua penasehatnya sedang tertawa licik. Dengan kesal Yesung mengarahkan tangannya kearah Siwon, kilatan petir hitam menyambar leher Siwon yang berasal dari lengan Yesung.
"Beraninya kalian membocorkan rahasia Hye kyung eomma pada Kyuhyun?" bentak Yesung sambil semakin tinggi mengangkat tubuh Siwon yang sudah tidak bisa berbicara.
"Hentikan Yesung. Kami hanya menjelaskan tidak memberitahu. Dia mengetahuinya dari orang lain." bentak Kangin panik. Dengan kasar Yesung menarik tangannya membuat Siwon terjatuh.
"Itu sama saja bodoh. Mulut kalian memang tidak bisa diam." geram Yesung yang langsung pergi, sebelum dia membunuh kedua penasehatnya. Siwon hanya mendengus kesal, sesekali mengelus lehernya yang ngilu.
Yesung menarik nafas pelan, perasaannya lebih nyaman setelah emosinya keluar. Tapi tidak menghilangkan rasa penasarannya pada Yerye. Sedikit tergesa Yesung kembali mengepakan sayapnya menuju Norana. Berharap Yerye ada disana. Benar saja, baru saja beberapa kali berkeliling, dengan mata kepalanya sendiri. Yesung melihat Yerye yang sudah berubah menjadi seorang Hounan. Sayap dan juga rambut Yerye berubah menjadi abu-abu, dengan sedikit paksaan Yerye akhirnya bisa Yesung ajak bicara.
"Kim jong woon lepaskan aku." bentakan Yerye membuat Yesung menghentikan langkah dan genggaman tangan Yerye, entah kenapa rasanya sakit ketika Yerye memanggil namanya langsung. Perlahan Yesung menatap Yerye nanar, yeoja itu terlihat serba salah. Binggung harus menjelaskan apa.
"Aku akan jelaskan tapi tidak disini." ucap Yerye yang melangkah pergi. Yesung mengikuti Yerye dari belakang, hingga menuju perbatasan tanah malaikat dan iblis, Moranggan.
"Sekarang jelaskan semua padaku?" ucap Yesung tidak sabaran, perlahan Yerye berbalik menatap Yesung dingin.
"Apa perlunya kau tahu hal ini." ucap Yerye dingin, Yesung benar-benar sudah tidak mengenali sosok dingin di hadapannya.
"Aku berhak tahu."
"Untuk apa? Kau bukan siapa-siapa bagiku. Kau hanya iblis yang sewaktu-waktu bisa kubantai." ucap Yerye dingin. Yesung hanya bisa diam, dia benar-benar kehilangan yeoja yang iya cintai, yeoja pemalu, yang selalu tersenyum simpul padanya. Yerye bisakah kau kembali pada jiwa malaikatmu? Aku merindukanmu.
bersambung