
Hari itu, setelah kejadian tadi pagi, aku tidak bertemu dengan Amar lagi. Aku tidak tau dia kemana. Dia tidak menemuiku hari ini.
Saat itu, aku pikir Amar marah kepadaku. Dia mungkin, tersinggung dengan ucpanku tadi pagi. Aku juga merasa bersalah kepadanya. Aku merasa telah menyinggung perasaannya.
-oOo-
Malam harinya. Amar tidak ada menlepon atau pun, mengirim pesan padaku. Aku menunggunya saat itu. Rasa bersalahku semakin besar, aku tidak tau harus bagaiamana. Aku ingin minta maaf padanya. Tapi, aku terlalu gengsi saat itu, untuk menelpon atau mengirim Amar pesan duluan. Jadi, aku hanya diam, menunggu dia menghubungiku.
Sayangnya, seberapa lama pun aku menunggu. Amar tidak menghubungiku. Jujur, saat itu aku sedih. Aku marah pada diriku sendiri. Dan aku tidak tahu, apa alasan aku menjadi seperti itu.
"Maafin aku mar," ujarku. Sambil mungkin menangis malam itu.
Aku tidur, dengan perasaan yang hancur. Aku harus minta maaf padanya. Kuharap, dia besok datang menemuiku seperti biasanya.
-oOo-
Saat di sekolah, aku tidak melihat Amar. Dia tidak ada menemuiku. Aku juga bingung kemana dia sebenarnya. Padahal aku berharap dia menemuiku. Tapi sayang, itu tidaklah terjadi.
Amar tidak tau kemana. Biasanya, setiap pagi dia datang ke kelasku. Tapi pagi ini tidak, dan aku sangat yakin dia marah kepadaku saat itu.
Entah kenapa, rasanya aku takut. Aku takut, jikalau Amar sampai membenciku. Aku takut, dia tidak mau menemuiku lagi. Aku takut, dia mulai berusaha berhenti mendekatiku. Jangan tanya aku kenapa. Aku sendiri bingung, mengapa aku merasa hal demikian.
-oOo-
Pada waktu istirahat, aku belum bertemu dengannya. Dia seolah menghilang waktu itu. Seperti di makan kucing, setelah di sihir menjadi kecil. Dia pergi, dia seolah di telan bumi dan tidak akan pernah kembali.
Aku berjalan ke depan kelasnya, kelas 2 IPA 1. Aku berharap Amar ada di sana. Aku hanya ingin melihatnya, melihat dia ada. Hanya untuk memastikan dia masih tinggal di bumi, tidak pindah ke merkurius atau ke mars. Tapi sayang, aku tidak melihat dia di kelasnya.
Aku berpapasan dengan temannya saat itu, Ahmad dan Ucup. Mereka satu kelas dengan Amar.
"Eh eta kamu, nu namana ressa?" tanya Ahmad.
"Iya," jawabku.
"Tau si amar kemana gak?"
"Emang dia kemana?"
"Justru itu. Saya teh nyari dia, tapi gak ada," ucap Ahmad.
"Panyateh maneh nyaho," ujar Ucup, menggunakan bahasa sunda yang artinya: "Dikira kamu tau."
-oOo-
Sudah tiga hari aku tak melihat Amar. Hilangnya Amar menjadi misteri hingga kini. Amar tak pernah mau menceritakan tentang hal itu.
Saat itu, aku merasa kehilangan sesuatu yang berharga. Teman-temannya, termasuk guru di sekolah tidak tau dia kemana.
-oOo-
Aku tak bertemu Amar. Dia juga tidak sekolah selama itu. Aku ingin menelponnya, tapi aku tidak tau kenapa, rasanya berat jika harus menghubunginya duluan. Bukan karena apa, aku hanya merasa tidak mau sampai di anggap murahan. Lagian, saat itu kami masih teman biasa.
-oOo-
Waktu itu, aku berpura-pura pada Arif agar dia membawaku kesana. Aku bilang, aku hanya ingin tau keaadaan tempat jajan selain kantin. Arif setuju saja. Dia tidak tau, kalo aku ingin mencari Amar.
Di warung Teh Ati itu cukup rame. Berisik oleh orang yang ngobrol, sama berisik oleh suara musik yang di putar kencang sekali.
Di warung Teh Ati, kulihat anak-anak bebas merokok. Aku tidak nyaman saat itu dengan asap rokok.
"Eh, jangan di gangguin. Eta mah pacarna si amar," ucap Ahmad. Ketika, ada seseorang yang mau duduk di sampingku. Yang sudah kutahu namanya itu adalah Azis.
Gak ada yang spesial di warung Teh Ati ini. Semuanya sama saja seperti di kantin. Gorengan, minuman, mie rebus, mie goreng. Tapi, bedanya ada seblak di warung ini. Sejak saat itu, aku jadi suka seblak.
-oOo-
Sejak Amar hilang saat itu. Aku jadi sering ikut Arif ke warung Teh Ati. Iya, aku hanya berharap Amar ada di sana saat itu. Tapi sayangnya tidak. Dia tidak ada di sana.
Pernah suatu ketika, aku menanyakan tentangnya secara tidak sengaja menanyakan tentang Amar ke Ahmad atau ke Ucup ya? Aku lupa lagi. Pokoknya antara dua orang itu.
"Emang Amar jarang sekolah?" tanyaku.
"Sakola mah rajin. Ngan gak tau kemana, dia juga gak ngangkat telpon urang." Urang itu artinya aku.
-oOo-
Saat itu, aku memberanikan diri menelpon amar ketika aku sedang tiduran di kamarku. Benar seperti kata temannya. Dia tidak mengangkat telponnya. Aku khawatir, aku takut dia kenapa-napa saat itu.
Aku hanya mampu, memutar kembali ingatanku tentangnya. Tentang dia yang berpura-pura menjadi tukang roti untuk mendekatiku. Tentang dia, yang memenangkan lomba cipta puisi tentangku. Tentang dia, yang selalu duduk di meja ketika datang ke kelasku. Tentang dia, yang tidak pernah melepaskan tas yang di sorennya di sekolah. Dia yang mampu membuatku tersipu malu, dengan gombalannya di depan teman-temanku.
-oOo-
Pernah aku berpikir, Amar hanya sekedar main-main denganku. Saat itu, sudah seminggu lebih aku tidak bertemu dengannya. Aku berusaha membiasakan diriku kembali tanpanya. Tapi sayang, itu terlalu sulit.
Aku mencoba untuk menghabiskan waktu istirahatku di kantin, seperti biasa. Tidak di warung Teh Ati, mengikuti Arif.
-oOo-
Semuanya terasa berbeda saat itu. Seminggu lebih tanpa kehadirannya serasa berat bagiku.
Ternyata benar. Kita hanya akan merasa kehilangan, saat kita memang benar-benar sudah kehilangan seseorang. Kata-kata itu benar, benar-benar sama dengan yang kurasa saat itu.
Amar seolah ingin memberiku pelajaran. Pelajaran, tentang bagaiamana kita harus menghargai perjuangan seseorang.
Tapi jujur, saat itu aku belum pernah berpacaran. Aku masih SMA saat itu. Dan zamanku, tidak sebucin anak-anak zaman sekarang.
Aku pernah dekat dengan beberapa orang waktu di jakarta. Tapi, aku tidak pernah sedekat ini, seperti dengan orang sukabumi.
Amar seperti sengaja menguji. Atau dia mau, membuatku merasa, bahwa dirinya itu berharga. Aku tidak tau apa yang di pikirkannya, saat dia menghilang waktu itu. Dia pergi begitu saja, tanpa salam atau apa pun.
-oOo-