
Saat itu seperti hari biasa. Tidak ada yang aneh dan istimewa. Hanya saja, kelasku sedang bebas karena gak ada guru yang masuk.
Biasanya ini adalah hari yang menyenangkan. Aku yakin, kamu sendiri tau bagaiamana nikmatnya kelas, tidak libur tapi bebas karena tidak ada guru yang mengajar. Enak bukan? Uang jajan dapat, tapi tidak perlu pusing-pusing memikirkan pelajaran.
Meski gak ada guru, kelasku tidak berisik. Ada yang main HP, ngobrol, makan, tapi tidak sampai mengganggu kelas lain.
Tidak seperti anak-anak kelas 2 IPA 1 yang kalo gak ada guru, seperti pesta konser disana. Tapi mereka sih, tetap heboh meski ada guru yang mengajar. Kita sebut saja, mereka itu kelas anak-anak bandel.
Kelas 2 IPA 1. Disana terdapat kumpulan anak-anak nakal, yang sering berurusan dengan BP. Setiap hari selalu aja ada masalah di kelas itu. Tapi bagusnya, solidaritas mereka kuat. Misalnya, satu kelaparan semua kelaparan, seperti kejadian saat mereka masak untuk acara kelasnya tapi nasinya malah gosong.
-oOo-
Saat itu, aku sedang menulis. Untuk tugas bahasa indonesiaku. Aku sedikit malas, karena tugasnya banyak sekali. Empat lembar lebih, kalo tidak salah.
Guru indonesiaku ini tegas. Dia cewek, atau ibu-ibu mungkin, ya? Pokoknya, dia gak banyak bicara kalo gak penting. Tapi kalo kami salah, ya, siap-siap kena hukuman. Itu lebih baik, daripada gak di hukum tapi nanti nilai anjlok jauh di bawah KKM. Kayak yang di alamin si Mila temanku saat itu.
Saat aku sedang menulis, tiba-tiba tiga orang murid, dari kelas lain datang. Salah satu di antaranya, membawa wadah yang isinya adalah roti.
"Boleh minta waktunya sebentar," ucap salah seorang dari mereka. Orang itu menepuk tangannya, meminta perhatian.
Semua murid di kelasku diam. Mereka memandang orang yang ngomong barusan. Sepertinya, teman-temanku kenal dengan dia.
"Aya naon mar?" tanya Arif. Salah satu temanku. Si tukang tidur itu.
"Assalamualikum warrahmatuullahhi wabarakatuh. Disini saya, maksudnya kami bertiga. Membawa banyak roti yang enak bikinan Teteh Ati. Barangkali, teman-teman sekalian ada yang minat atau tertarik. Boleh di beli," ucapnya.
Aku ingin tertawa mendengarnya. Kupikir, ada pengumuman penting atau apa. Seperti pengumuman beasiswa atau pembagian sembako. Ternyata, hanya ingin menawarkan roti. Harus pake pengumuman segala lagi, haha. Ada-ada saja orang ini.
Satu orang dari tiga penjual roti tersebut menghampiriku. Dia duduk di atas meja, tepat di depan mukaku. Dia yang tadi berbicara di depan.
Dia memperhatikanku beberapa detik. Aku tidak tau apa yang di pikirakannya, saat itu. Tapi aku pura-pura tidak peduli padanya. Bukan pura-pura, aku memang benar tidak peduli waktu itu.
"Ressa?" tanyanya.
"Iya. Ada apa?" jawabku.
"Mau beli roti?" tanyanya. Dia menunjukkan dua roti yang di pegangnya.
Entah kenapa, rasanya saat itu aku seperti di sihir untuk membelinya. Aku mengambil salah satu roti dari tangannya. Padahal, aku tidak terlalu suka makanan yang manis-manis.
"Berapa?" tanyaku.
"Makan dulu aja. Kalo gak suka bisa di kembalikan," ujarnya.
Aku menatapnya heran. Aku pikir, dia bercanda. Tapi, kelihatannya dia serius dengan ucapannya barusan.
Aku memakan roti itu. Rasanya enak. Rasa coklat. Cukup unik, untuk roti buatan rumah. Tapi kalo di bandingkan dengan roti yang di impor dari Australia dengan toping parutan emas di atasnya, jelas saja roti ini kalah jauh dari itu.
"Rotinya enak," ujarku, sambil terus memakan roti itu.
"Kalo enak, berarti harus bayar," ucapnya.
"Berapa harganya?" tanyaku.
"Seratus ribu."
Uhuk..
Aku tersedak. Aku kaget dengan harga yang di sebutkan. Ini pemerasan namanya. Jika di laporkan, bisa kena pelanggaran pasal undang-undang.
Jika aku harus mengeluarkan seratus ribu hanya untuk satu roti. Aku lebih memilih tidak membeli roti. Lebih baik di belikan mie ayam di kantin saja, harganya hanya 7 ribu saat itu. Itu bisa buat kenyang.
"Seratus ribu kalo kamu belinya seratus," ucap si tukang roti.
Aku pikir saat itu dia serius bilang seratus ribu. Tapi ternyata tidak. Aku memberikan uangku senilai 5 ribu rupiah saat itu. Dia menyimpannya, kedalam tas solempang yang di sorennya. Lalu, dia memberikan kembaliannya.
Saat itu. Saat temannya menjual dan melayani pembeli yang lain. Dia hanya duduk di mejaku. Menatapku menghabiskan roti. Jujur aku risih, dengan tatapannya saat itu. Tapi, aku berpura-pura tidak menyadarinya.
Ya, siapa yang mau makan sambil di perhatikan. Memangnya aku sedang mengadakan acara mukbang apa?
Saat rotiku habis. Dia menyodorkan satu roti lagi. Aku menatapnya. Dia bermaksud menawariku, atau menyuruhku makan satu lagi?
"Ini apa?" tanyaku.
"Roti."
Aku tau itu roti. Tapi maksudku itu, maksudku kenapa dia memberikan roti itu. Padahal tadi aku sudah membeli satu.
"Tadikan udah."
"Beli satu gratis satu."
Aku mengambil rotinya. Sebenarnya, aku tidak terlalu tertarik. Tapi, entah kenapa, lagi-lagi tanganku seperti bergerak sendiri mengambil roti itu. Mungkin karena di bilang gratis.
"Suka rotinya?" tanyanya.
"Iya suka," jawabku.
"Baguslah. Aku juga menyukaimu."
Saat itu aku kaget mendengar ucapannya. Sungguh itu gak sopan. Kami baru ketemu, dan dia sudah berani bilang begitu.
Memangnya dia siapa? Anak presiden Soekarno? Atau mungkin anak pahlawan Moch Yamin? Hingga dia berani ngomong begitu.
"Aku suka semua yang membeli rotiku," ujarnya.
Haha. Aku merasa malu pada diriku sendiri saat itu. Gak tau aku yang berlebihan menanggapinya, atau memang dia yang tidak jelas dengan ucapannya.
Si tukang roti pergi dengan temannya. Rotinya laku, habis terjual. Aku penasaran, sebenarnya siapa dia? Dari penampilannya, mereka terlihat nakal. Tapi, kenapa mereka menjual roti? Biasanya anak-anak seperti mereka, itu gengsian.
Aku lebih penasaran dengan satu orang tukang roti itu. Orang yang tadi memberi pengumuman. Orang yang menjualnya secara berbeda kepadaku. Aku tau, rotinya harga seribu satu. Tapi dia berbohong, dan bilang beli satu gratis satu untukku.
-oOo-
Saat itu sekolah sudah bubar. Aku berjalan keluar dari gerbang. Dan tiba-tiba seseorang datang, mensejajarkan langkahnya denganku.
"Terimakasih."
Itu si tukang roti. Dia tiba-tiba mengucapkan terimakasih. Tapi untuk apa? Kenapa dia bilang makasih? Padahal, aku tidak melakukan apapun untuknya.
Aku bukan wonder woman yang telah menyelamatkan hidupnya. Atau mungkin, aku juga bukan bidan yang telah membantu proses lahirannya.
"Makasih buat apa?" tanyaku.
"Terimakasih, sudah membeli rotiku tadi," ucapnya. "Tadi, aku lupa, mau mengucapkan terimakasih."
"Sama-sama."
Sebenarnya, saat itu aku ingin mengucapkan banyak hal padanya. Tapi aku, lebih memilih untuk bilang sama-sama saja. Aku tidak ingin membuatnya berpikir yang tidak-tidak. Apalagi membuatnya berpikir aku nyaman di dekatnya, meski mungkin dia tidak akan begitu.
Saat itu, tak ada perasaan apapun. Kecuali, rasa penasaranku tentang siapa dia sebenarnya.
Tidak ada rasa suka, tidak ada rasa kagum atau apa pun itu. Aku hanya penasaran, penasaran siapa dia? Siapa si tukang roti itu?
"Mau pesan rotiku lagi?" tanya si tukang roti.
"Ada rasa apa aja?"
"Banyak," ujarnya. "Rasa, cinta orang kalo kuat. Rasa, sayangku sayangmu. Rasa, kecintaanku ujianmu."
Aku melirik ke arahnya. Aku menatapnya dan mengerutkan keningku. Dia bercanda, atau apa? Aku tidak mengerti dengan ucapannya itu.
Sungguh orang ini aneh bagiku. Dia cukup lucu, meski terlihat bajunya acak-acakan dan tidak rapi. Tapi entah kenapa, aku merasa dia anak yang baik.
Menyadari aku menatapnya. Dia mengambil sebuah kertas dari tas yang di sorennya itu. Dia memberikannya padaku.
Tiba-tiba, ada satu orang temannya dengan naik motor. Si tukang roti itu langsung naik ke motor temannya.
"Maafkan aku. Jika nanti malam, kamu memikirkanku," ujarnya. Setelah itu dia pergi bersama temannya.
Aku sedikit tertawa. Dia percaya diri sekali. Emang dia siapa? Kenapa aku harus memikirkannya. Dasar orang aneh.
Jika harus memilih memikirkan. Aku lebih memilih memikirkan bagaimana, aku bisa hidup bahagia dengan Justin Beiber, daripada harus memikirkan si tukang roti yang gak jelas asal-usulnya.
-oOo-
Saat malam. Aku tidak ikut makan malam, bersama kedua orang tuaku. Aku diam di kamar, dan membaringkan tubuhku.
Aku baru ingat. Aku menyimpan kertas yang di berikan si tukang roti, dan belum membacanya. Aku mengambil kertas itu, yang tadi kusimpan di meja belajarku. Kertasnya terlipat-lipat, dan aku membukanya.
Aku tertawa ketika mengetahui isi tulisannya. Itu hanya, sebuah kertas yang di sobek dari buku tulis. Lalu, di tulis menggunakan pulpen dan bagian sisinya di hias menggunakan gambar teletubies yang gambarnya juga jelek.
Menu Roti:
1.Cinta orang kalo kuat (Coklat).
2.Sayangku Sayangmu (Susu).
3.Kecintaanku Ujianmu (Keju).
4.Aku lelah menulis menunya. Jadi, kamu buat saja sendiri menunya.
Seperti itulah, isi kertas menu, yang di tulis si tukang roti tadi.
Dia berhasil membuatku memikirkannya. Aku tertawa, terbayang dari bagaimana dia bisa memikirkan nama-nama menu untuk rotinya. Itu sungguh hal yang tidak biasa.
Ucapan si tukang roti itu benar. Malam itu, entah kenapa aku memikirkannya. Aku penasaran siapa dia. Aku penasaran, mengapa dia menjual roti. Aku penasaran, dengan sifat aslinya. Aku penasaran padanya.
-oOo-
Aku sedang isitirahat di kantin, saat itu. Bersama, Hani, Ira, dan Zaki. Zaki mentraktir kami semua. Katanya dia sedang dapat uang, dari pamannya. Hani makan banyak hari itu. Katanya sih, mumpung gratisan.
Aku memandangi setiap sudut kantin. Kantinnya tak terlalu besar, jadi bisa kulihat seluruh isinya. Aku mencari-cari seseorang saat itu, ya, si tukang roti. Tapi, aku juga tidak mungkin menanyakannya kepada temanku. Aku gak mau, nanti mereka menyangka aku suka sama si tukang roti.
Jika kutanyakan, bisa-bisa nanti aku di kira naksir dia. Itu tidak mungkin. Aku gak mau sama dia waktu itu. Dia aneh, orangnya sungguh ambigu dan membingungkan. Cuma bikin penasaran.
Beberapa saat kemudian si tukang roti datang, bersama salah satu temannya. Jika di lihat-lihat, dia tidak pernah melepaskan tas yang di sorennya itu. Bahkan seperti sekarang, saat masih di sekolah.
Tasnya itu menggantung di tubuhnya. Aku tidak tau ada apa di dalamnya, mungkin emas, berlian, atau sesuatu yang berharga.
Si tukang roti menghampiriku. Temannya, membawa sebuah roti, dan sebuah amplop.
Si tukang roti bilang: "Kami mempunyai rasa baru. Kuharap, kamu mau mencobanya."
"Rasa apa?" tanyaku.
"Rasa yang pernah ada. Namun, kembali hilang," ujarnya.
Saat itu, aku bukan menginginkan rotinya. Tapi, aku penasaran, kepanjangan dari apalagi rasa yang di bilangnya itu.
Teman si tukang roti, memberikanku roti dan amplop yang di pegangnya. Dan aku, menerimanya. Seperti yang kubilang, aku penasaran dengan kepanjangan dari rasa roti yang di bilangnya. Tapi amplopnya, aku tidak tau untuk apa.
"Jangan di baca dulu!" larang si tukang roti. Ketika, aku akan membuka amplop itu.
"Kenapa?" tanyaku.
"Bukanya nanti saja," ujar si tukang roti. "Setelah kamu makan rotinya."
Dia langsung pergi begitu saja, bersama satu temannya itu. Aku menatap kepergiannya itu. Aku semakin penasaran dengan siapa dia.
Kulihat, Zaki hanya diam dari tadi. Aku tau, dia pasti tidak suka kepada si tukang roti itu. Tapi, kami hanya teman. Zaki tak berhak melarangku dekat dengan siapa pun, termasuk si tukang roti. Lagian, aku gak mungkin suka sama orang gak jelas kayak si tukang roti.
-oOo-