My Amar

My Amar
6. Kesedihan



Sekuat apa pun manusia, sekeras apa pun dia, atau secuek apa pun orang itu pada orang lain. Tetaplah, selalu ada yang bisa menyinggung perasaannya. Selalu ada yang membuat hatinya tertusuk.


Waktu itu, aku sungguh tidak menyangka, bahwa seorang Amar Septian akan benar-benar tersinggung. Aku tidak menyangka, bahwa dia mempunyai hal-hal sensitif yang membuat hatinya sakit.


Aku sedang berjalan pulang waktu itu. Iya, pulang dari sekolah. Memang dari mana lagi, aku keluar rumah selain sekolah?


Tiba-tiba, saat aku berjalan ke jalan raya, untuk memunggu angkot, Amar datang menghampiriku dengan motornya.


"Mau pergi kah?" Amar yang datang di hadapanku, bertanya tiba-tiba.


"Pergi kemana?" Aku mengernyit bingung karena gak paham.


"Ke rumahmu."


"Itu pulang, bukan pergi." Aku menatapnya heran sambil tersenyum.


"Terimakasih telah memberitahuku."


Aku menatapnya. Menatap dan berusaha mencerna maksud dari ucapannya. Sungguh, aku tiba-tiba blank saat itu disana.


"Aku sempat berpikir tempat pulangku itu kamu, tapi ternyata pulang itu kerumah."


Aku ketawa. Dia ketawa. Kami ketawa saat itu, meski aku tidak tahu menertawakan apa.


Amar menunjuk jok belakang motornya dengan dengan wajahnya. Aku paham. Aku mengerti, kalo dia mengajakku naik.


"Kemana?" tanyaku, sambil terus menatapnya.


"Kita kendara-kendara."


"Hah?" tanyaku tidak mengerti apa itu"kendara-kendara."


"Kalo jalan kaki, di sebutnya jalan-jalan. Kalo naik kendaraan jadi kendara-kendara."


Aku tertawa lagi saat itu. Ketawa sambil menutup mulutku dengan telapak tangan. Sementara Amar, tersenyum lebar menatapku.


"Memangnya, kendara-kendara kemana?" Aku mencoba mengikuti gaya bahasanya yang aneh itu.


Amar tersenyum. Dia menatapku, berkedip beberapa detik, menghela nafas panjang.


Amar tetap diam. Diam, sampai aku kebingungan sendiri kenapa dia diam seperti itu.


"Kok diem?" tanyaku, melihat dia yang terus diam menatapku.


"Barusan pergi ke jepang dulu." Aku mengernyit, tidak mengerti ucapannya. "Dalam imajinasi."


Lagi-lagi, Amar membuatku tertawa sendirian. Aku tidak tau kenapa, rasanya dia begitu mudah membuatku ketawa.


"Mari." Amar menunjuk jok belakang dengan wajahnya. Sementara tangannya, fokus pada stang motor.


"Kemana?"


"Coba tebak."


Aku memegang dagu, berusaha berpikir kemana dia akan mengajakku saat itu.


"Sukabumi?" tanyaku menebak.


"Sukabumi itu luas. Ini juga sukabumi."


Aku kembali berpikir sejenak. Aku menatapnya yang terus tersenyum tanpa henti, seolah dia tak pernah bunya beban hidup.


"Sukaraza?" Aku menebak kembali.


"Aku gak suka."


"Kok?"


"Aku suka kamu."


Oke, aku tidak heran mendengar itu. Ya, aku sudah tahu bahwa dia menyukaiku, dan itu jelas. Jadi aku tidak terkejut.


Amar menghela nafas, menyisir rambutnya dengan tangan ke belakang, lalu menatapku kembali.


"Kamu istimewa," ucap Amar.


Aku memicingkan mata, mencoba berpikir jernih dengan apa yang di ucapkannya. Aku menatapnya, menunggu dia memberi penjelasan.


"Sahabatku, ah tidak. Saudara perempuanku ingin bertemu denganmu."


Aku masih diam. Masih tidak mengerti dengan maksud dari tujuan dia mengucapkan itu.


"Dia seumuran kita." Amar menunjuk ke arah langit, ketika mengucap kata "dia".


"Emangnya dimana?" tanyaku.


"Mungkin sekarang... " Amar menjeda ucapannya. Aku menatapnya menunggu dia meneruskan perkataannya. "Sedang tertawa bahagia bersama sang pencipta."


Saat itu aku langsung berpikir, bahwa dia sedang bercanda seperti biasanya. Tawa khasnya itu, terlihat sangat berbeda dari biasanya.


Aku mengiyakan ajakkan Amar karena penasaran, siapa sebenarnya saudara perempuannya saat itu.


Aku naik ke motornya.


"Gak mau kayak Dilan atuh?" tanya Amar.


"Kayak Dilan gimana?"


"Di peluk misalnya."


Aku tersenyum, lalu memeluknya dari belakang. Kulihat dari belakang, sepertinya amar juga tersenyum saat aku memeluknya.


-oOo-


Saat itu, kami sampai di toko bunga. Amar membeli tiga bunga paket. Satu bunga asli, dan duanya hanya bunga imitasi. Tapi semuanya, seperti bunga mawar. Atau memang bunga mawar.


Pertama kali sampai disana, aku pikir penjaga toko bunga itu adalah orang yang di maksud Amar. Tapi ternyata bukan, dia hanya temannya bernama Rani.


"Kamu... Mau bunga?" Amar menawarkan bunga-bunga disana.


Aku hanya menggeleng pelan. Aku tidak terlalu suka bunga. Apalagi, bunga palsu yang terbuat dari kain.


"Ran ie tilu nya. Catet hela, ke isukan di bawa duitna," ucap Amar sambil menunjukkan bunga yang di pegangnya. ("Ran ini tiga ya. Tulis dulu, nanti besok di bawa uangnya.")


-oOo-


Kami sampai di suatu tempat. Lebih tepatnya, kami hanya memberhentikan motor, karena tempat yang di tuju masih sedikit jauh.


Setelah melewati rel kereta, berkendara motor melewati jalan kecil, lewat kuburan, akhirnya kami sampai di suatu perkampungan.


Amar menghentikan sepeda motornya di sebuah sekolah diniyah yang kecil. Mungkin, hanya untuk orang-orang di kampung ini.


"Ini kampungku," ucap Amar. Menyadari aku yang melihat-lihat sekeliling yang sepi.


"Kita ke rumah kamu?" tanyaku.


"Bukan. Ke rumahku nanti saja. Besok atau mungkin lusa."


Aku hanya menganggukkan kepalaku. Menegang dua bunga paket yang sedari tadi ku pegang.


Aku berjalan mengikuti Amar yang langsung melangkah begitu saja.


Saat itu, sore hari. Aku mengikutinya di belakang, melewati sebuah kebun sawi, menaikki tangga dan sampai si sebuah pemakaman.


Aku bergidik ngeri, melihat Amar membawaku kemari.


Tapi—


Entah kenapa, saat itu aku merasa Amar tidak akan berbuat jahat padaku. Dia terligat sedih, meski senyumnya terus dia ukir di bibir dengan paksa.


Saat itu juga. Mengingat kata-katanya saat tadi sebelum pergi, melihat bunga-bunga yang di beli—


Saudaranya telah meninggal.


Aku langsung menyadari itu disana, saat itu juga.


Amar berjongkok di sisi makam berkramik biru. Aku tidak bisa melihat jelas, nama di batu nisannya.


"Ini Abah."


Aku diam. Diam menatap Amar yang mengelus batu nisan itu.


"Dia tidur saat aku masih bayi." Amar melirik ke arahku dan tersenyum. Padahal, aku tahu, dia bersedih saat itu. "Sampe sekarang gak bangun lagi," sambung Amar tertawa hambar.


Hatiku terasa sakit. Tidak tau kenapa, saat itu, benar-benar sakit melihat Amar yang selalu ceria, kini terlihat bersedih. Meski begitu, dia terus berusaha melawak.


Aku lupa tanggalnya saat itu. Tapi kalo tidak salah, itu adalah minggu terakhir bulan november.


Amar terlihat kumat-kamit saat itu. Dia sepertinya sedang baca hadiah, atau mungkin alfatihah.


"Kaditu hela bah. Doaken, sugan we jeng nu ie jodoh. Pan Abah mah ges deket jeng nu maha kawasa." Amar tertawa hambar, lalu mencium batu nisannya.


Sungguh. Baik dulu, atau sekarang, air mataku selalu menetes mengingat kejadian itu.


Abah itu, bukan ayahnya. Tapi kakeknya.


Air mataku menetes disana. Aku memeluk dua bunga di tanganku dengan erat. Sementara Amar, menyimpan mawar di saku celananya.


"Ini Apih." Amar menunjuk salah satu makam saat kami berjalan.


"Ini Emak, mertuanya Abah."


"Ini kakak ipar Abah."


Ini, ini, dan banyak lagi lainnya makam yang di sebutkannya. Ya, itu memang area keluarganya.


Lalu kami sampai di sebuah makam yang masih baru. Dia belum di beri keramik seperti yang lainnya. Masih segundukkan tanah.


Saat itu juga, pertama kalinya aku melihat Amar seperti putus asa. Dia menjatuhkan tubuhnya, dan menyangga dirinya dengan kedua tangan yang menekan gundukan tanah di depannya.


Amar menunduk, tepat di atas makam itu. Dia menyimpan mawar itu di dekat padung. Dan—


Dia menangis?


Amar menangis tanpa suara. Aku yang melihatnya ikut meneteskan air mata.


Tak terasa, saat itu aku juga menyimpan bunga yang tadi ku pegang di samping mawar yang di simpan Amar di atas makam itu.


Aku mengusap punggungnya pelan. Berusaha menenangkannya yang menangis itu. Dia kelihatan sedih saat itu, sedih sekali.


"Dia Aira," ucap Amar dengan suara serak karena masih meneteskan air mata.


"Hai Aira. Aku Ressa." Aku menyapa makam itu.


Amar behenti menangis. Membiarkan air mata di wajahnya tanpa di usap.


Dia tersenyum. Mengelus tanah kuburan itu lembut.


"Dia tidur dua minggu yang lalu," ucap Amar.


Amar tidak menyebut orang-orang disana sudah meninggal. Dia hanya menyebutnya sedang tidur.


"Ini yang kamu maksud?" tanyaku, sambil terus mengusap punggungnya.


"Aku rindu Aira," ujar Amar tanpa menjawab pertanyaanku.


Saat itu, aku belum tau siapa Aira itu. Aku belum mengenalnya.


"Aira juga rindu kamu."


Amar melirik ke arahku. Menatapku sangat dalam hingga aku merasa malu. Dia menatapku sambil tersenyum.


Setelah berhenti menangis. Amar membacakan surat al-fatihah yang dia khususkan pada Aira.


Lalu, kami berdua pulang dengan mengucakan selamat tinggal pada Aira dan yang lainnya.


Saat di jalan, aku baru tahu siapa Aira. Amar menjelaskan semuanya padaku.


Amar memberitahuku kapan Aira meninggal tapi aku lupa. Dia teman masa kecilnya, dia dari jakarta sama sepertiku lalu meninggal karena kecelakaan.


Utntuk Aira, semoga dia selalu berada dalam naungan yang maha kuasa. Aku jelas tau, bagaimana rasa sedih dan kehilangan Amar saat menceritakan Aira.


-oOo-