
Hari itu. Di kelasku. Amar benar-benar menemuiku. Pagi-pagi sekali, saat aku baru datang ke kelas.
"Selamat sore," ucap Amar.
"Kok sore?" tanyaku sambil ketawa.
"Sore kemarin, aku lupa ucapin kamu selamat. Jadi di qhodoin sekarang," ujar Amar
Dasar Amar. Ada-ada saja. Di qodo katanya, kayak puasa aja. Haha.
Amar duduk di mejaku. Di depanku. Seperti biasanya. Dia memang suka, duduk di meja, di depanku. Bukan di kursi, di sampingku.
"Kamu suka kucing?" tanya Amar.
"Gak terlalu," jawabku. "Emang kenapa? Kamu suka kucing?"
"Aku masih normal. Aku tidak suka kucing. Aku menyukaimu, tapi aku malu bilangnya. Seperti kataku saat itu."
"Hahaha."
Saat itu, entah kenapa, rasanya Amar membuatku tertawa dengan mudahnya. Aku tidak tau dia pakai jimat atau apa. Tapi, dia terlihat humoris saat itu.
Bel berbunyi. Tandanya masuk pelajaran. Amar bangkit dari duduknya dan pergi.
Sebelum pergi dia bilang, "Aku tidak akan ke kantin istirahat nanti. Jika mencariku, aku ada di warung Teh Ati."
Sebenarnya, aku tidak menanyakan akan kemana dia sekarang atau nanti. Tapi dia tiba-tiba bilang begitu. Seolah dia tahu, kalo aku suka mencari keberadaanya saat istirahat.
-oOo-
Saat istirahat, Amar memang tidak ada di kantin. Aku menanyakan dimana letak warung Teh Ati itu, kepada Hani. Ternyata, letak wsrung Teh Ati itu, tidak terlalu jauh. Aku hanya cukup keluar gerbang dan berjalan sekitar 50 meter untuk sampai disana.
Aku ingin ke warung teh Ati saat itu. Tapi, aku tidak melakukannya. Aku malu, masih tidak berani kesana. Ira bilang, disana banyak anak nakal. Suka ngerokok dan mabok-mabokkan.
Saat itu aku berpikir. Apa Amar juga ngerokok? Apa amar juga mabok? Apa Amar narkoba? Apa Amar suka minum alkohol? Pertanyaan itu muncul.
-oOo-
Aku sedang belajar pelajaran matematika, yang di ajar Pak Asep saat itu. Tiba-tiba, Bu Elis yang bertugas di bagian BP meminta izin, untuk membiarkan tujuh orang murid masuk dan membacakan surat peringatan yang mereka terima.
Tujuh murid itu adalah, Amar, Ahmad, Deden, Dede dan Beni kelas 2 IPA 1. Arif Kelasku, atau kelas 2 IPA 2. Dani kelas 3 IPS 4 dan Ujang kelas 3 IPA 1. Mereka ketahuan tawuran. Mereka di beri surat SP atau surat peringatan. Dan di hukum untuk berkeliling dan membacakan surat itu di setiap kelas.
Arif merusak nama baik kelas kami. Disini, hanya Arif yang sedikit melenceng dan nakal. Yang lainnya, meski tidak terlalu baik, setidaknya tidak membuat masalah.
"Setelah kejadian ini, apa pelajaran yang kalian dapatkan?" tanya Pak Asep kepada para murid yang di hukum itu.
"Pelajaran matematika pak," ujar Amar.
"Kenapa jadi matematika?" tanya Pak Asep. "Apa itu?"
"Saya jadi ngitung udah berapa kelas yang saya masukin. Dan berapa kelas lagi yang belum."
Semuanya tertawa termasuk aku. Dia malah bercanda, padahal lagi di hukum. Bu Elis menjewernya saat itu, dan Amar di suruh minta maaf.
Setelah selesai. Bu Elis membawa kembali tujuh orang itu untuk melanjutkan hukumannya.
"Dadah ressa." Amar melambaikan tangannya sambil berjalan keluar.
"Cie.. cie..."
Semua teman-temanku bersorak. Ada juga yang bersiul. Wajahku merona saat itu. Aku menunduk malu. Dasar Amar, awas saja nanti jika ketemu. Dia membuatku malu dan salah tingkah di depan teman-temanku.
"Ressa kamu pacarnya amar?" tanya Pak Asep. "Jangan mau sama anak kayak gitu. Bisanya cuma nyusahin orang."
Saat itu, harusnya aku bilang aku bukan pacarnya. Tapi, entah kenapa, aku malah diam dan tidak menjawab. Mungkin karena terlanjur malu, jadi aku hanya menunduk.
-oOo-
Saat pulang sekolah, aku melihat Amar. Dia sedang berkumpul bersama teman-temannya. Aku melihatnya di sisi jalan, saat aku sedang menunggu angkot. Saat itu, aku melihat salah satu dari mereka membawa senjata tajam. Aku yakin, mereka pasti akan tawuran lagi.
Tiba-tiba Amar melihatku. Dia menghampiriku dengan naik sepeda motor milik temannya.
"Sudah mau pulang?" tanya Amar.
"Iya," jawabku. "Kamu mau kemana?"
"Hanya main dengan kawan-kawanku." Amar mengedikkan bahunya ke arah teman-temannya.
Aku tau dia berbohong. Dia pasti akan tawuran. Saat itu, aku ingin melarangnya. Tapi aku sadar, aku tidak punya hak akan itu. Aku bukan siapa-siapanya, jadi aku tidak bisa melarang dia melakukan apa pun yang di inginkannya.
"Mau kuantar?" tawar Amar, sambil melirik jok belakang yang kosong.
"Gak usah," ucapku.
Angkot lewat dan aku langsung naik. Aku meninggalkan Amar begitu saja. Saat itu, entah kenapa rasanya aku khawatir. Aku takut dia kenapa-kenapa. Aku tidak suka dia ikut-ikut tawuran.
Kulihat Amar menatap kepergianku dari sana. Dia seperti bertanya "kamu kenapa?" Tapi dia diam saat aku pergi dan hanya menatapku.
-oOo-
Malam harinya aku selesai makan bersama Mamah. Ayah baru pulang saat itu. Ayah masih bekerja di jakarta saat aku masih sekolah.
Aku bertanya pada Ayah. Kutanyakan tentang masa SMA nya, dan masa dimana dia mendekati ibu. Tapi, ayah enggan menceritakannya. Dia bilang itu tidak baik di ceritakan.
Setelah selesai makan. Aku pergi ke kamar. Aku bermain ponselku. Sejujurnya, aku menunggu Amar menghubungiku malam itu. Tapi sayangnya tidak, sudah dua jam aku menunggu. Dia tidak menelpon atau mngirim pesan padaku.
-oOo-
Saat aku sedang membaca buku. Amar datang saat itu. Seperti biasa, dia langsung duduk di meja. Tepat di hadapanku. Aku tak melirik ke arahnya dan fokus pada buku novel yang kubaca.
"Maafkan aku," ucap Amar.
"Maaf atas apa?"
"Maaf aku tidak bisa berhenti mencintaimu."
Aku tersenyum padanya. Dia membalas senyumanku. Aku pikir dia minta maaf atas apa tadi, rupanya hanya gombal.
Saat itu Amar pindah tempat duduk. Dia duduk di kursi. Di sampingku. Dan ini pertama kalinya, aku lihat dia duduk di kelas ini di kursi.
"Boleh?" tanya Amar tiba-tiba.
"Boleh apa?" tanyaku.
"Boleh aku mencintaimu?"
"Terserah," jawabku, tapi masih fokus pada buku yang kubaca.
"Ku anggap, itu jawaban boleh."
Aku melirik ke arah Amar. Menatapnya yang memandang fokus ke arah lain. Mungkin, agar tak berkontak mata denganku, atau apa.
"Minta kertas."
Tanpa menjawabnya, atau bertanya kenapa, dan buat apa? Aku langsung mengambil buku. Menyobek bagian tengahnya dan memberikannya pada Amar.
Amar mengambilnya. Dia menatap kertas itu lama-lama. Sampai aku bingung sendiri, kenapa dia melakukannya.
Amar mengambil pulpen yang ada di saku baju seragamnya. Lalu—
Kupikir dia akan menulis sesuatu, tapi malah kembali diam sambil menatap dua benda yang ada di tangannya itu.
"Kok di liatin terus, emang ada apaan di kertas itu?" tanyaku, penasaran.
"Kamu tau ini kertas?" Dia menunjukkan kertas itu padaku.
"Iya, tau."
"Baguslah."
Amar menyimpan kertas itu di meja.
"Kertas itu seperti hati," ujarnya.
Aku hanya diam. Diam menatapnya. Diam berusaha mencerna, maksud dari kata-katanya itu.
"Kosong," ujar Amar.
Aku semakin bingung. Semakin menatapnya, sampai aku mengerutkan keningku.
"Lalu kamu datang." Amar mengambil pulpennya, lalu menulis sesuatu di kertas itu.
Aku tak melihat apa yang di tulisnya, tapi aku terus memandang Amar.
Kepalaku penuh tanda tanya, apa maksud dari ucapannya? Otakku berpikir keras, berusaha mencerna maksud dari kata-katanya itu.
Amar selesai menulis, menyimpan kembali pulpen itu ke dalam saku bajunya, sambil berkata: "Kertas itu mulai ada tulisannya."
Kertas itu seperti hati. Kosong. Lalu kamu datang. Kertas itu mulai ada tulisannya.
Aku berusaha menggabungkan, setiap ucapannya yang terpisah-pisah itu. Mencernanya, dan berusaha menerjemahkannya agar aku mengerti.
Aku masih belum mengerti. Belum mengerti, padahal Amar telah menyelesaikan sesuatu yang dia tulis di kertas itu. Sampai—
"Seperti hatiku, kosong. Dan kamu mulai mengisinya."
Ah! Akhirnya aku mengerti.
Kertas itu seperti hati. Kosong. Lalu kamu datang. Kertas itu mulai ada tulisannya. Seperti hatiku, kosong. Dan kamu mulai mengisinya.
Yang kutangkap, dari maksudnya itu adalah: "Hatinya kosong. Lalu ketika aku datang, ada aku yang mengisinya."
Tapi itu menurutku. Aku tidak tau, apa aku salah atau tidak saat itu.
Amar bangkit. Berdiri, tanpa memandang ke arahku, lalu pergi tanpa pamit.
Aku melirik kertas yang tadi di tulisnya. Aku menatapnya, mengambilnya, lalu membaca tulisannya yang lumayan bagus untuk seorang laki-laki yang jarang menulis.
"Kertas itu kosong, putih, bersih, polos. Lalu, kamu mulai menuliskan tinta padanya. Kamu menggambar hati di kertas itu secara tidak sengaja. Lalu kamu menatapnya dengan senyum, meski hanya senyum yang kamu paksakan."
Aku membaca bait pertama pada tulisan itu. Lalu melanjutkan membaca baik kedua.
"Begitulah hati. Awalnya kosong, tapi kamu datang. Kamu mengisinya dengan cinta tanpa sengaja, atau mungkin tanpa kamu ketahui. Lalu kamu ingin menghapus cinta itu, menghapusnya dengan paksa."
Aku menghel nafas pelan. Perlahan, aku mulai mengerti setelah membacanya. Aku mencoba diam, menghela nafas lagi. Lalu—
Aku membaca bait terkahir dari kertas itu.
"Tapi, cobalah hapus tinta di berbentuk hati kertas itu. Kamu tidak bisa menghapusnya. Kamu bisa menyembunyikannya dengan tipe-x atau mencoretnya. Tapi tinta bentuk hati itu akan tetap ada, meski tertutupi."