My Amar

My Amar
1.Aku



Aku Ressa. Nama panjangku Resaaaaaaa. Kalo mau lebih panjang, panggil aku Reeeeeeeeeesaaaaaaaaaa. Haha.


Nama asliku Ressa Arini. Lahir di bogor, 1998 pada tanggal 10 Februari. Aku perempuan, barusan baru beres makan martabak keju, dan minum kopi.


Aku tidak suka makanan yang manis-manis. Bukan tidak suka, tapi sedikit tidak tertarik. Karena apa? Karena aku sukanya laki-laki, bukan perempuan. Aku bukan lesbian jadi masih suka laki-laki, haha.


Dulu aku sukanya makan seblak. Sekarang aku suka seblak, kwetiaw, martabak, pisang coklat, mie ayam, samyang, dan banyak lagi yang lainnya.


Hal yang tidak kusuka adalah dimana aku tidur dan kena ereuep-ereup. Itu sangat mengganggu, bagiku, dan mungkin, bagi sebgaian orang di luar sana.


Pertama-tama, maaf jika ada yang tersinggung atau merasa tidak nyaman dengan apa yang kalian baca ini. Aku hanya ingin bercerita, jika kalian tersinggung, itu diluar dugaanku, maafkan aku.


-o0o-


Sebelumnya biar kuceritakan latar belakangku, sedikit saja tapi. Aku tinggal bersama dengan ayah, ibu dan adikku.


Ibuku namanya Siti Khomisah. Wanita kelahiran sukabumi. Orang-orang  memanggilnya Ity. Kalo aku yang memanggilnya begitu, aku pasti di marahin.  Jadi, aku memanggilnya Mamah.


Mamah ini orangnya baik. Baik, karena dia selalu rutin melakukan hal yang tidak orang lain lakukan untukku. Seperti memberi makan. Dan barusan, dia memberikan minuman untukku.


Mamah memanggilku Echa. Aku ini anak kesayangannya, karena selalu membantunya masak air dan membereskan tempat tidurku, waktu kecil. Kalo sekarang, aku suka membantunya memasak, itu pun kalo aku ingat bahan-bahan dan resepnya.


Aku pernah di marahin Mamah sekali. Waktu dulu, pas aku minta jajan cuma buat beli buku komik seribuan yang di jual pas aku lagi SD.


Ayahku Lahir di bandung. Namanya Roziq. Roziq lestari. Seperti nama perempuan bukan? Aku pikir juga begitu. Aku tidak tau alasan nenekku memberinya nama itu.


Mungkin nenek dan kakek ingin punya anak cewek saat itu. Tapi yang lahir ayahku, jadilah di beri nama Lestari belakangnya. Itu hanya menurutku, jika ingin tau yang sebenarnya tanyakan saja, pada mereka, di kuburannya.


Ayah adalah seorang pegawai di salah satu kantor di jakarta dulu. Sekarang, dia hanya orang tua biasa dengan gaji pensiunan yang di milikinya.


Aku ini adalah wanita tercantik. Tapi, itu kata ayah, dan diriku sendiri. Jika tidak percaya, tanyakan juga pada Mamah.


Sekian saja tentang keluargaku. Jika terlalu panjang, nantinya ini jadi biografi mereka. Maaf jika tidak detail, aku tidak ingin kalian benar-benar mengetahui siapa dan dimana aku tinggal. Nanti main ke rumah dan bisa menghabiskan banyak nasi. Aku tidak mau itu terjadi.


Tentang adikku. Itu tidak perlu di bahas. Dia baru lahir bulan kemarin. Februari tanggal 12, 2020. Jadi dia masih bayi saat ini. Suka menangis dan minum susu ibu. Namanya Putra Azhari.


Aku sering menggendongnya. Aku menyanyanginya. Pernah sekali dia menangis dan ingin minum susu, tapi ibu sedang tidak ada, sedang belanja. Aku iseng-iseng memberikannya ASI, tapi kalian tau? Tak ada airnya. Dan adikku menangis.


-o0o-


Dulu, saat aku masih kecil aku tinggal di bogor. Sekolah SD disana. Tapi hanya sampai kelas lima. Sebelum akhirnya, aku pindah ke jakarta, daerah tebet tepatnya.


Aku rindu bogor. Aku rindu perpustakaan sekolahku yang sering berantakan olehku dan teman-teman. Aku rindu banyak hal, karena aku menghabiskan masa kecilku di sana.


Aku menetap di jakarta saat itu. Itu juga tak berlangsung lama. Aku pindah pada saat aku kelas 2 SMA. Sekitar tahun 2015.


Kini nenek sudah meninggal. Dia menghembuskan nafas terakhirnya tahun 2012. Jujur saar itu aku sedih dan menangis.


Aku ingin menyusul nenek. Karena, saat itu katanya akan ada kiamat di tahun 2012 dan kamu pasti tahu isu itu. Aku masih kecil, jadi aku mudah percaya berita hoax itu.


-oOo-


Sukabumi ini unik. Orang-orangnya baik, ramah, sopan, dan bisa berteman denganku. Udara di sini juga sangat nyaman. Belum tercemar polusi, seperti di jakarta.


Apalagi Bu RW yang dekat dengan rumahku. Dia selalu memberi kami durian, pada saat kebunnya panen. Sayangnya, aku tidak suka durian. Aku sukanya, kamu, haha. Bercanda.


Masih banyak pepohonan di sini. Masih banyak hutan. Masih banyak perkebunan. Masih banyak peternakan. Dan masih banyak lagi hal lainnya.  Yang kalo di jakarta, sudah mulai jarang terlihat.


Sukabumi masih normal. Air masih cair bentuknya. Ayam masih bertelur. Kucing masih suka ikan asin, dan belum ada yang aneh. Misalnya, kuda yang menikah dengan kurma dan anaknya dinamai Kurama, seperti biju milik si naruto.


-o0o-


Di sukabumi, aku melanjutkan sekolahku, di salah satu SMA yang ada si sana. Tidak sebesar dan semewah sekolah di jakarta. Tapi, sekolahnya bagus. Cukup ketat, disiplin, dan banyak hal lainnya yang tak kalah hebat dari sekolahku yang di jakarta.


Banyak teman baru yang kudapat. Diantaranya, Eneng, Hani dan Ira. Eneng adalah cewek. Ira adalah perempuan. Hani adalah wanita. Haha.


Selain Eneng, Hani dan Ira. Masih banyak teman lainnya. Termasuk, teman laki-laki, cowok, pria juga. Diantaranya seperti Ramdan, Iko, Iki dan yang lainnya.


Semua teman-temanku baik. Kelas yang kutempati saja, di sebut kelas anak-anak baik oleh guru. Semuanya disiplin dan taat peraturan. Kecuali si Arif yang duduknya di belakang. Dia tukang tidur di kelas.


Arif itu ibaratkan pohon pisang yang ngumpul sama pohon kelapa. Beda sendirian, cuman buat masalah aja. Tapi sekarang dia sudah sukses. Malahan, dia suka mentraktirku jajan es kepal kalo ketemu di jalan.


-o0o-


Hari-hari belajarku cukup menyenangkan saat itu. Sudah hampir satu bulan aku sekolah di sana. Tapi, belum ada hal aneh, atau istimewa disana. Kecuali beberapa hal.


Ada beberapa orang yang naksir aku, kata si Ira. Salah satunya Zaki, teman sekelasku. Zaki selalu menunkukkan perasaannya secara terang-terangan. Dengan cara, memberi perhatian lebih padaku, memberi makanan tiap jam istirahat, atau menelponku hanya untuk menanyakan hal tidak penting.


Selain Zaki, ada juga Badar. Badar menyukaiku, namun tidak seperti Zaki. Badar tertutup dengan perasaannya. Bahkan dia seringkali malu, atau salah tingkah saat bertemu denganku. Si Badar ini dari kelas 2 Ipa 3. Sedangkan aku, dari kelas 2 Ipa 2.


Ada lagi satu orang yang menyukaiku. Aku tidak tau siapa dia. Dia tidak pernah, menunjukan identitas sebenarnya. Seperti pengagum rahasia. Dia menyimpan coklat dan bunga di bawah mejaku. Dia menelponku, tapi tidak menyebutkan namanya. Dan aku tau, itu bukanlah Badar.


Masih banyak lagi yang menyukaiku. Mungkin karena aku berasal dari kota saat itu. Aku tidak senang di taksir banyak orang. Yang ada, aku risih dan sedikit tidak nyaman. Aku lebih suka berteman tanpa melibatkan perasaan. Lagian, saat itu aku masih SMA.


-oOo-


Sekian saja tentangku. Ini bukan autobigrafi, jadi aku tidak mau terlalu rinci menjelaskan siapa aku. Biarlah kalian tidak tau, aku tidak mau nanti ada yang mencintaiku setelah tau siapa aku. Nanti ada yang cemburu, hehe.


-oOo-