My Amar

My Amar
4.Penulis Puisi?!



Pada dasarnya. Kamu tidak pernah tahu, ada bakat apa, atau ada keahlian apa yang di miliki seseorang.


Kita manusia, hanya bisa melihat luar saja. Tapi kita tidak tahu, dalam diri manusia lain itu ada apa.


Jangan terlalu mempercayai mata. Karena mata, tidak bisa melihat semuanya. Kamu juga harus menggunakan hati sesekali, untuk melihat, apa yang tak bisa di lihat mata.


-oOo-


Hari itu senin. Aku lupa tanggalnya. Tapi, saat itu, aku sedang mengikuti upacara. Saat itu adalah pengumuman pemenang, dari hasil lomba yang di selenggarakan berapa hari yang lalu.


Kelasku, menjadi kelas terbanyak yang mendapat piala. Seingatku, kami menang lomba bermain alat musik, musikalisasi puisi, membaca puisi, melukis, membuat kerajinan, dan lomba pakaian adat. Kalo gak salah sih.


Kelasku bangga. Mereka selalu menjadi kelas terbaik katanya. Dan aku senang, meski aku tidak menang lomba.


Ada hal yang membuatku kaget. Amar menang. Dia benar-benar menang lomba cipta puisi dan mengalahkanku. Aku tidak percaya itu, aku pikir dia hanya main-main saat itu.


Tapi ada hal yang mengejutkan selain Amar menang lomba puisi. Yaitu, dia benar-benar menuliskan puisi tentangku.


"Pemenang lomba cipta puisi di menangkan oleh Amar Septian, dari kelas 2 IPA 1. Dengan judul karyanya 'Ressaku'."


Amar berlari ke tengah lapangan, untuk mengambil pialanya setelah mendengar pengumuman barusan. Dia mengangkat piala itu sambil bersorak kencang: "Ini piala kita!"


Anak kelas 2 IPA 1 bersorak gembira. Mereka senang mendengar kelasnya menang. Dan itu, satu-satunya perlombaan yang mereka menangkan.


Aku kaget. Amar benar-benar menuliskan puisi atas namaku. Wajahku merona, dan aku malu. Banyak yang menatapku. Sejak saat itu, guru-guru mengira aku adalah pacarnya. Teman-teman sekolahku juga menganggap aku pacarnya.


Sejak saat itu, namaku naik di sekolah. Namaku menjadi terkenal, karena menjadi inspirasi dari si pemenang lomba cipta puisi.


-oOo-


Saat di kelas, Hani menanyakan tentang hubunganku dan Amar. Aku bilang saja seadanya, kami tidak ada apa-apa. Aku tidak berpacaran dengannya.


Amar suka kepadaku itu oke. Tapi tidak denganku, aku tidak mempunyai rasa sama kepadanya.


"Aku gak nyangka si Amar eta nulis puisi tentang kamu, Res," ujar Eneng.


"Iya, aku juga," jawabku, berusaha menahan malu.


"Kayaknya teh, dia suka sama kamu," timpal Ira.


"Emang gitu katingali namah," ucap Hani membenarkan.


Aku hanya menunduk. Amar berhasil membuatku malu dan salah tingkah. Kupikir, saat itu dia berbohong menulis puisi tentangku. Aku penasaran, seperti apa puisi yang di tulis si Amar itu. Tapi, aku tidak pernah tahu apa puisinya itu. Katanya itu rahasia.


"Dia emang hebat," ucap Hani. "Tiap tahun menang wae."


"Iya. Aku ge kadangmah, suka di buatin sama dia kalo ada tugas indo," ujar Eneng.


Rupanya, Eneng adalah temannya Amar sejak SMP. Mereka dulu satu kelas di SMP, tapi sekarang tidak.


Eneng bercerita padaku. Kalo Amar, suka menulis puisi waktu SMP. Dia juga suka mengikuti lomba cipta puisi dan sudah banyak memenangkan penghargaan.


Saat itu aku semakin penasaran dengan siapa dia. Dia itu anak nakal atau anak baik? Dia itu berprestasi, atau malah suka buat onar? Dia penulis puisi, apa tukang roti?


-oOo-


Saat istirahat aku pegi ke kantin. Saat itu, kuharap aku bisa bertemu dengan Amar. Tapi sayangnya tidak, Amar tidak ada disana. Aku sudah mencari-carinya dengan mataku, tapi dia memang tidak ada disana.


Aku pura-pura bertanya ada berapa kantin di sekolah ini pada Hani. Tidak mungkin kan, aku langsung menanyakan Amar. Nanti, mereka semakin beranggapan bahwa aku ini pacarnya.


Aku tidak mau, di anggap pacar si pembawa onar. Aku juga masih takut tentang siapa dia sebenarnya. Aku tidak mau, dia menjerumuskan dan menghancurkan masa depanku.


Hani bilang, kalo selain kantin, siswa juga banyak yang jajan di luar. Katanya, kebanyakan anak cowok suka jajan keluar, di warung, biar bisa ngerokok.


Ada banyak warung dekat sekolah. Bukan cuma satu. Nama warungnya juga unik-unik. Warung Budeh, warung Babeh, warung Bi Ijah, warung Mang Aam. Itulah seingatku, dan masih ada banyak lagi warung lainnya yang sering di pakai nongkrong anak-anak sekolahku.


-oOo-


Aku sedang duduk di bangku. Saat itu, baru saja beres belajar matematik. Dan sekarang lagi nunggu guru fisika masuk.


Amar datang sendirian ke kelasku. Tak ada yang menegurnya atau menyapanya. Kecuali Arif yang menyapa Amar, dan Eneng yang menegurnya untuk tidak masuk kesini. Yang lainnya diam, aku tidak tau kenapa.


Saat itu, aku pikir semua orang takut padanya. Dia seperti penjahat, atau musuh batman yang di takuti. Tapi, kenapa harus takut padanya? Memang, dia siapa? Penjahat? Pembunuh?


Amar duduk di meja. Tepat di hadapanku. Sama seperti, saat dia menjadi penjual roti. Dan tidak lupa, tas itu masih di sorennya. Seperti tidak pernah di lepaskan.


"Gimana?" tanya Amar. "Aku yang menangkan?"


"Iya," ucapku.


"Terimakasih," ucap Amar. "Aku menang berkatmu."


"Kok aku?"


"Tapi, apa hubungannya dengan aku. Yang nulis, kan kamu."


"Puisiku itu tak terlalu indah. Namamu yang indah, jadinya aku menang. Jurinya terpesona, membaca namamu di puisiku."


Saat itu aku tersipu. Jujur, entah kenapa, baru kali ini ada gombalan yang mampu membuatku tersipu. Biasanya, aku tidak suka dengan kata-kata gombal.


Aku penasaran dengan puisi yang di tulis Amar saat itu. Tapi sampai sekarang, aku tidak pernah tahu apa isi puisinya. Amar bilang itu rahasia.


"Boleh kuminta kertas?" tanya Amar.


Aku menyobekkan kertas bagian tengah di bukuku dua lembar. Aku memberikannya pada Amar. Amar menulis sesuatu.


Guru fisika, Pak Haryono datang. Amar memberikan kertas tadi kepadaku, lalu pergi karena ada Pak Haryono.


Dia melambaikan tangannya sambil berjalan. Aku menatapnya. Dia seperti seorang pahlawan sekaligus penjahat bernama bordir. Kamu bingung bukan siapa bordir? Ya, seperti itulah dia, membingungkan dan misterius saat itu.


-oOo-


Ressaku II


Menatap wajahnya membuatku bahagia


Dia berhasil membuatku jatuh


Jatuh dalam kata yang bernama cinta


Tanpa ada kata tapi atau pun karena


Ressa Arini


Kamu, dengan pesonamu


Memberiku kekuatan untuk menggerakkan penaku dan menulis puisi ini


Cantikmu akan hilang dimakan waktu


Tapi cintaku takkan pernah pudar padamu


Terimakasih jakarta


Karena engkau telah rela


Melepas wanita secantik bidadari


Dan membiarkannya menetap di sukabumi


Itu adalah puisi yang di tulis Amar, tepat di hadapanku tadi. Aku membacanya di kamar tidurku saat itu. Aku tersenyum setelah membacanya. Entah kenapa, rasanya ada yang berbeda.


Saat itu kira-kira jam 9 malam. Tiba-tiba HP-ku bergetar. Ada telpon masuk. Nomor tidak di kenal, dan aku mengangkatnya.


"Hallo," ucapku.


"Aku tidak bertemu denganmu tadi saat pulang. Maaf jika membuatmu rindu."


Telpon itu di matikan dari sana. Mendengar ucapannya, aku tau itu Amar. Dia menelpon hanya mengatakan itu? Dasar aneh. Lagian siapa yang rindu dia?


Gaya bicaranya itu unik. Seperti bahasa melayu atau indonesia kuno, atau apalah itu. Bahasanya itu seperti orang zaman dulu-dulu. Masih baku dan tidak seperti bahasa anak-anak di zamannya.


Tiba-tiba, sebuah pesan dari aplikasi wa masuk. Itu dari nomor barusan, Nomor Amar. Aku membacanya.


"Ini malam yang indah. Tapi sayang, besok kamu harus sekolah. Jangan menikmati malam ini. Tidurlah. Selamat bertemu denganku besok, di kelasmu."


Aku tidak tau, darimana dia dapat nomorku. Aku tidak pernah memberikan nomorku kepadanya. Mungkin dia mendapatkannya dari salah satu temanku. Tapi aku tidak menghiraukan hal itu.


Saat itu, entah kenapa. Rasanya tanganku seperti bergerak sendiri. Aku membalas pesan Amar barusan. Entah sadar atau tidak sadar, tapi aku melakukannya saat itu.


"Iya. Sampai ketemu."


Aku tidak tau. Kenapa aku membalas pesannya seperti itu. Tapi, aku sendiri tidak menyesal membalas pesannya.


Beberapa detik kemudian. Amar membalas pesanku kembali.


"Aku ingin berbicara denganmu saat ini lewat pesan. Tapi sayang, aku tidak mau membuatmu begadang. Jadi selamat tidur, Ressa."


Saat itu, aku mengetik pesan bertuliskan "selamat tidur juga." Tapi aku tidak mengirimkannya. Aku tidak mau, Amar berpikir aku menyukainya dan membalas perasaannya. Jadi, aku tak membalas pesannya itu.


"Selamat malam juga," ucapku saat itu. Sambil menutup mataku dan segera tidur, sambil memeluk boneka kesayanganku.


-oOo-