My Amar

My Amar
3.Amar Namanya



Saat di kelas. Aku makan roti, yang tadi di beri oleh si tukang roti. Dia memberikannya, bukan menjualanya. Jadi, aku mendapatkan roti itu gratis. Bisa di bilang sebagai promosi, atau apa pun itu.


Roti itu, rasanya hambar. Tidak ada rasa, kosong. Tidak seperti roti coklat yang kemarin kumakan. Ada coklatnya, di dalamnya.


Ini seperti sebuah jebakan atau apa. Aku bingung. Aku tidak mengerti, apa yang di inginkan si tukang roti itu.


Setelah menghabiskan roti itu. Aku membuka amplop yang juga di berikannya tadi. Isinya hanya kertas sobekan. Sama seperti kertas yang kemarin. Kertas itu di lipat-lipat. Kira-kira 6 atau 7 kali lipatan.


"Bagaimana rasanya? Itu, awalnya rasa coklat. Tapi coklatnya hilang di makan Deden. Seperti yang kubilang, rasa yang pernah ada. Namun, kembali hilang. Hilang karena di makan si Deden." Begitulah tulisan di kertas itu.


Aku tertawa. Aku pikir, itu adalah kepanjangan dari rasa-rasa yang di singkat seperti kemarin. Ternyata tidak, itu bukan kepanjangan. Melainkan seperti curhatan. Ahaha.


"Ada apa Sa?" tanya Hani. Karena, melihat aku yang tiba-tiba tertawa.


"Ini han." Aku memberikan surat tadi.Hani pun, ikut tertawa setelah membacanya.


Surat itu kusimpan kembali, kedalam tasku. Aku tidak tau, aku hanya ingin menyimpannya saja. Tidak ada maksud lebih.


-oOo-


Aku menanyakan siapa si tukang roti itu. Dan, akhirnya aku tahu namanya. Hani bilang namanya Amar. Amar Septian. Nama yang cukup unik menurutku.


Amar bukan penjual roti. Bahkan, dia tidak pernah menjual roti sekali pun. Hani bilang, itu hanyalah akal-akalannya saja untuk mendekatiku. Amar juga terkenal di sekolah, terutama di ruang BP. Dia murid yang nakal, bandel, berandal, dan suka buat onar, kata Hani saat itu.


Amar suka tawuran, mabok, ngerokok, narkoba dan yang lainnya. Ira bilang jangan dekat-dekat dengannya. Nanti aku di culik, terus di bawa pesta ke rumah temen-temennya.


Saat itu aku merasa takut. Amar seolah menjadi penjahat dalam bayanganku. Aku takut seperti yang di bilang Ira waktu itu.


-oOo-


Waktu itu aku baru beres solat di mushola. Niatnya, aku sama temen-temenku mau balik lagi ke kelas. Tiba-tiba Amar, sama dua temannya yang kini sudah kutahu bernama Dede dan Acil menghadang kami.


"Maneh ek kamana, Amar?" tanya Eneng, menggunakan bahasa sunda yang artinya: "kamu mau kemana, Amar?"


"Solat atu," ujar Amar.


"Maneh sok solatnya?" tanya Ira. ("Kamu sering solat emang?").


"Solatku rajin," ucap Amar.


"Ti iraha?" tanya Eneng. ("Dari kapan?")


"Sejak sekarang, dan seterusnya," ucap Amar. "Aku lagi deketin cewek. Jadi harus berdo'a sama Allah."


Amar dan temannya masuk ke tempat wudhu. Hani bilang, kalo cewek yang di maksud Amar itu adalah aku. Aku tidak terlalu menanggapinya. Lagian, aku tidak tertarik pada Amar saat itu.


Di tambah, aku sedikit takut padanya saat ini. Aku tidak tau, berita tentangnya itu benar atau tidak. Sekarang, aku hanya perlu menjaga jarak dan hati-hati pada dia saat ini.


-oOo-


Saat pulang sekolah, aku bertemu dengan Amar kembali. Ini bukan kebetulan. Aku tau, Amar sengaja melakukannya.


Dia masih berpura-pura jadi tukang roti saat itu. Padahal, aku sudah tahu siapa dia. Tapi, aku tak memberitahunya.


"Mau pesan roti lagi?" tanya Amar.


"Aku tau kamu bukan tukang roti," ujarku.


Amar terdiam. Sepertinya, dia kaget, kalo identitasnya sudah ketahuan.


"Yah." Amar menepuk jidat. "Kanyahoan eung." ("Ketahuan deh.")


"Mau tau, kenapa aku menyamar jadi tukang roti?" tanya Amar.


Sebenarnya, aku ingin menjawab aku sudah mengetahuinya. Aku ingin menjawab jika aku tau, dia melakukannya, untuk mendekatiku. Namun sayang, yang keluar dari mulutku saat itu adalah kata: "Apa?"


Aku takut dugaanku salah. Aku bisa malu, kalo Amar memang tidak menyukaiku. Nanti di kira, aku kegeeran lagi, menyangka di sukai olehnya.


"Aku menyukaimu. Tapi, malu mau bilang," ucap Amar.


Saat itu dia terang-terangan menyatakan perasaanya. Ya, meski dengan kata-kata anehnya itu. Seperti alien yang baru saja tersesat di bumi selama beberapa tahun terakhir.


"Itu barusan bilang," ujarku.


"Itumah, kan, bilang alesan aku jual roti. Bukan bilang aku suka kamu," ujarnya.


Aku tersenyum. Dia orangnya aneh juga. Malu bilang katanya, padahal tadi dia bilang.


Cara pendekatannya cukup unik. Tidak seperti orang biasa, yang monoton dan sudah banyak di lakukan orang-orang. Amar berbeda. Dia aneh, tapi aku yakin,jika kamu jadi aku saat itu, kamu pasti sangat senang.


-oOo-


Waktu itu, aku sedang mengikuti upacara bendera. Kulihat, Amar menjadi petugas upacara. Lebih tepatnya, pengibar bendera.  Amar melakukannya dengan dua temannya, Jupri dan Ahmad.


Aku tertawa, melihat dia bediri di barisan petugas upacara. Aku tidak yakin, kalo Amar, memang biasa melakukan hal itu. Hani dan Eneng juga bilang, mereka tidak yakin dengan apa yang di lihatnya.


Dugaanku benar saat itu. Amar melakukan banyak kesalahan bersama dua temannya. Mulai dari langkah yang tidak bareng, mengobrol dan saling menyalahkan. Bahkan, yang paling parah, adalah benderanya terbalik menjadi putih merah, bukan merah putih.


Upacara saat itu menjadi kacau. Banyak kesalahan yang di lakulan oleh para pengibar.


Para murid bersorak dan meneriaki. Bahkan ada yang melempar kertas, tapi langsung bersembunyi. Aku rasa dia benci Amar, tapi dia penakut, haha.


Banyak yang mencaci dan mengumpati mereka. Katanya: "Anak nakal seperti mereka bisa apa?" Itu yang banyak di ucapkan oleh murid-murid yang ada di sekitarku.


-oOo-


Bel istirahat tiba. Saat keluar kelas, aku melihat sesuatu yang bisa membuatku tertawa. Aku melihat, Amar sedang di hukum bersama dua temannya, Ahmad dan Dede. Mereka menghormat bendera. Kurasa ini dilakukan mereka dari pagi tadi. Sepertinya, karena kesalahan yang mereka lakukan saat upacara.


Kesalahannya sungguh susah di maafkan. Bagaiamana tidak, bendera itu terbalik. Itu bisa si sebut penghinaan meski tak sengaja.


Aku mendekat ke arah Amar di tepi lapangan. Aku bilang ke temanku, ingin pergi ke kamar mandi. Yang saat itu, arah ke kamar mandi membuatku bisa melihat Amar dari dekat. Dengan alasan itulah, agar aku tidak di curigai temanku ingin melihat Amar dari dekat.


Kulihat dia nyengir. Dia menghormat bendera bersama dua temannya itu. Wajahnya kepanasan. Keringat bercucuran, dan baju mereka juga sudah basah karena keringat.


Amar melirik ke arahku. Aku langsung membuang pandanganku darinya. Aku takut, dia menyangka aku ingin melihatnya, meskipun itu memang iya.


Tiba-tiba Amar menghampiriku dan berhenti menghormat bendera begitu saja. Padahal, aku pikir dia sedang di hukum. Tapi kenapa menghampiriku?


"Mau kemana?" tanya Amar.


"Ke wc," jawabku.


"Mau ku antar?"


"Ih. Ngapain?"


"Takut tersesat."


"Gak usah," ucapku. "Lagian, wc-nya juga deket."


"Dekat di tangan jauh di mata," ucap Amar. Yang tidak pernah aku paham maksud dari ucapannya itu hingga kini.


Sebenarnya banyak, ucapan yang tidak kumengerti dari Amar hingga kini. Tapi, itu salah satunya. Aku tidak tau maksudnya. Dan, lupakanlah, itu tidak penting untukmu.


-oOo-


Pada bulan november, tahun 2015. Di adakan perlombaan karya seni di sekolah. Aku lupa tepatnya tanggal berapa. Tapi, kalo tidak salah, itu adalah minggu kedua dari bulan november.


Perlombaannya bermacam-macam. Ada melukis, menggambar, paduan suara, solo vocal, musikalisasi puisi, cipta puisi, membuat kerajinan, bernyanyi, main alat musik, dan yang lainnya.


Lomba itu di adakan untuk satu sekolah. Setiap satu kelas, hanya boleh mendaftarkan satu siswa untuk mengikuti satu cabang lomba. Jadi, satu cabang lomba hanya boleh di ikuti oleh satu orang, dari tiap-tiap kelas. Kecuali paduan suara dan musikalisasi puisi.


Hani ikut lomba menyanyi. Ira, ikut lomba melukis. Eneng, dia ikut musikalisasi puisi dan berpasangan dengan Zaki. Sementara aku sendiri ikut cipta puisi.


Aku bukan orang yang suka nulis puisi. Tapi, mau gimana lagi, aku di suruh sama teman-temanku. Di bilang, katanya, aku yang paling baik soal cipta puisi di kelas ini. Dan aku mengiyakan saja. Lagipula, itu, tidak akan merugikanku.


-oOo-


Satu lomba, tempatnya berbeda-beda. Ada yang di luar ruangan, ada yang di dalam ruangan. Jadi, semua lomba di adakan serentak. Tidak satu-satu. Melainkan, semua lomba dilakukan dalam waktu yang bersamaan, namun beda tempat.


Tempat lombaku di ruangan. Di kelas 3 IPS 5. Disana aku melihat Amar. Dia juga ikut lomba cipta pusi rupanya. Aku tertawa, aku tidak percaya dia ikut lomba ini.


Aku pikir, dia hanya main-main saat itu. Aku hanya mengira, Amar hanya ingin melihatku. Tapi aku tidak tau, dugaanku ini benar atau salah.


Lomba cipta puisi di mulai. Kami hanya di beri waktu 15 menit untuk menyelesaikan puisi kami. Setelah itu, kami semua mengumpulkan hasil karya kami. Tidak lupa di beri nama juga.


Setelah itu kami keluar dari kelas. Amar menghampiriku. Dia menghadangku tepat di depan.


"Hei," sapaku pada Amar.


"Ikut lomba ini juga?" tanya Amar.


"Iya," jawabku. "Kamu sendiri, ikut lomba ini?"


"Iya. Aku akan memenangkan lomba ini."


"Yakin?" tanyaku.


"Iya," jawabnya. "Karena puisiku tentangmu. Jadi aku akan menang."


Saat itu aku tertawa. Aku tidak percaya dengan ucapannya. Ya, tidak percaya dua-duanya. Tidak percaya Amar akan menang, dan tidak percaya puisinya tentangku. Aku yakin dia hanya bergurau.


"Maaf ya, kalo aku bikin kamu kalah lomba," ujar Amar, yang langsung pergi begitu saja.


Aku langsung ke tempat Eneng saat itu. Lombanya belum selesai, dan Eneng belum tampil. Jadi aku ingin melihatnya tampil.


-oOo-