
Hampir 30 menit Devan menunggu Bella sadar dari pingsannya. Devan meletakkan Bella di sofa ruangannya. Dari tadi Devan terus menerus mendekatkan aroma minyak kayu putih ke arah hidung Bella. Tapi sayang usaha Devan tak membuahkan hasil.
"Apa gue panggil putra aja ya." Batin Devan bingung dengan apa yang harus ia lakukan.
Jika ia panggil putra terus ia ceritakan apa yang sudah terjadi. Nanti ia takut akan di cap sebagai pria mesum.
Tapi selama Devan bisa mengarang cerita seharusnya aman. Tapi kalau Bella yang menyebarkan gosip bagaimana? Bisa hancur reputasinya.
"ini juga kenapa bisa seperti orang ketakutan terus tiba-tiba nangis mana pakai acara pingsan lagi," gerutu Devan kesal.
"Eugh," lenguhan terdengar dari Bella.
"Hoamm," Bella menyesuaikan matanya dengan sinar lampu. Bella melakukan sedikit peregangan badan dan bergumam tak jelas membuat Devan seketika terkejut. Ini orang beneran pingsan atau sekedar ingin tidur.
"Jam berapa nih? Kenapa gue tidur disini," gumam Bella dengan melirik ke arah jam tangannya.
Bella kembali memejamkan mata dengan posisi duduk. Mencoba menggali memori apa yang sudah terjadi kepadanya. Sehingga bisa tidur di sofa yang empuk ini.
Devan memandang Bella dengan tatapan horor. Mungkin memang benar jika Bella tadi sedang dirasuki makhluk halus. Dan sekarang sepertinya Devan kembali mencurigai jika Bella masih dirasuki makhluk halus.
"Hei," tegur Devan dengan lembut. Tapi Bella tak menanggapi.
"Wah beneran masih dirasuki ini," Devan berdiri dan menuju kemeja kerjanya.
"Untung masih ada setengah," Devan bergantian menatap benda yang ada di tangannya dengan Bella yang asyik memejamkan mata.
"Kalau dia pingsan lagi gimana ya? Tapi nggak apa-apa Devan yang penting kamu sudah jadi pahlawan," Devan mencoba menyakinkan dirinya sendiri.
Dan tiba-tiba, siraman air yang dilakukan Devan dengan ayunan tangan yang cepat. Berhasil membuat Bella membuka mata seketika. Bella kaget dengan air yang membasahi wajahnya. Apalagi air yang membasahi wajahnya terasa sedikit menyakitkan.
"Woy!" Amuk Bella segera bangun dari duduknya dan mencari siapa yang menyiramnya barusan.
"Untung kamu sudah sadar," ujar Devan dengan mengelus dada. Dan merasa bangga dengan apa yang sudah ia lakukan.
"Ehh pak boss," Bella seketika bingung dan berusaha mencerna semua kejadian kenapa ia ada diruangan ini.
"Pak boss MESUM!" Teriak Bella berhasil membuat Devan panik.
"Eh nggak boleh ngomong gitu, jangan asal yaa," jawab Devan mencoba mendekati Bella.
"Terus kenapa saya bisa pingsan? Itu semua kan gara-gara pak boss yang mendekati saya terus. Dan tatapan bapak yang terus tertuju ke bibir saya. Ternyata pak boss mesum," penjelasan Bella berhasil membuat Devan terdiam. Ini bisa gawat kalau Bella sampai cerita ke karyawan-karyawan lain. Reputasinya bisa hancur.
"Ehh saya orangnya nggak gitu ya, justru kamu yang lihat bibir saya dengan penuh nafsu," balas Devan berhasil membuat Bella terdiam kaku.
Memang benar sih Bella melihat ke arah bibir penuh Devan tapi bukan tatapan nafsu justru Bella ingin bertanya tentang lipcare yang dipakai Devan.
"Bapak jangan asal! Justru saya itu mau tanya tentang lipcare bapak apa. Tapi bapak yang langsung gencar dekati saya tanpa mau dengar penjelasan saya, pokonya bapak mesum," jelas Bella dengan ngotot.
"Terus ini maksud bapak siram saya sampai 2 kali itu kenapa? Saya walau buluk-buluk gini sering mandi kok, pokoknya saya mau minta ganti rugi, kalau nggak saya akan sebar tentang kejadian ini dan tulis blog biar reputasi bapak hancur," ancam Bella.
"Oke saya berhenti hari ini juga, dan setelah saya keluar dari pintu kerja bapak ini siap-siap saja reputasi bapak akan hancur, saya akan buat blog kalau ternyata bapak itu mesum," ujar Bella dengan segera ingin berlalu dari ruangan Devan.
"STOP!" cegat Devan dengan memblokir jalan Bella.
"Oke sekarang saya minta maaf kepada kamu, jadi kamu tinggal maafkan saya semua masalah selesai," angkuh Devan.
"Saya nggak butuh maaf dari bapak," tantang Bella.
"Mau kamu itu apa sih! Saya sudah minta maaf, oh atau jangan-jangan kamu!"
"Oke mau uang berapa kamu? Saya bisa kasih berapapun," sombong Devan.
"Dengar yaa Pak Devan yang terhormat, tidak semua di dunia ini harus selalu diselesaikan dengan uang. Bapak mungkin bisa beli semua yang Bapak mau tapi bukan berarti memandang rendah orang lain. Saya bisa saja memaafkan Bapak. Tapi cara minta maaf bapak yang salah, sifat angkuh bapak ini benar-benar sudah mendarah daging," jelas Bella membuat Devan seketika merasa bersalah walaupun sedikit.
Memang uang bisa menyelesaikan semua masalah di dunia ini. Terkadang meminta maaf dengan tulus pun sudah cukup.
Bella menggeser tubuhnya dan meninggalkan Devan yang berdiri kaku. Tapi langkah Bella kembali terhenti karena Devan yang mencegat Bella dengan memegang tangan Bella. Devan memutarkan badan Bella sehingga kembali menghadap ke arahnya.
"Saya benar-benar minta maaf! Saya minta maaf dengan semua yang sudah terjadi kepada kamu. Mungkin kamu merasa tersinggung dengan sikap saya tapi saya tidak bermaksud begitu," ucap Devan dengan lembut dan membius tatapan Bella.
"Oke! Karena bapak sudah minta maaf dengan tulus dan berhasil mengetuk pintu hati. Saya maafkan bapak," Bella seketika kaku karena Devan menarik Bella ke dalam pelukannya.
"Terima kasih banyak, saya nggak tau nama kamu siapa tapi tetap Terima kasih. Saya tadi sudah ketakutan karena kamu tidak sadar-sadar dari pingsan," syukur Devan dengan tetap memeluk Bella.
Seketika Devan tersadar dengan apa yang ia lakukan. Karena badan yang sedang ia peluk ini terasa kaku. Devan segera melepaskan pelukannya.
"Oh maaf," cicit Devan dengan malu.
"Pertama nama saya adalah Bella, jadi tolong bapak ingat. Terus untuk permintaan maaf ini nggak gratis loh pak," jelas Bella. Keadaan ini harus segera di manfaatkan.
"Loh loh! Kan kata kamu tadi cukup permintaan maaf saja, ini kok," bingung Devan. Ternyata memang sama ujung-ujungnya pasti uang pikir Devan.
"Mau dimaafkan nggak,"
"Ya sudah kamu mau minta uang berapa?" Tanya Devan dengan segera membuka dompetnya.
"Eitss, saya belum butuh ini, tapi saya mau bapak mengabulkan permintaan saya sebanyak 7 permintaan," ucap Bella dengan angkuh.
"Banyak sekali 7 permintaan, nanti kamu minta yang aneh-aneh,"
" Ya sudah kalau bapak menolak, toh saya nggak rugi," ucap Bella dan bersiap membuka pintu ruangan Devan.
"Oke-oke! Saya bakalan terima 7 permintaan kamu," jawaban Devan berhasil menarik garis senyuman di wajah Bella.
"Jadi permintaan kamu apa?"