Mr. Boss With Me

Mr. Boss With Me
2. Terlambat kan!



Mari ucapkan terima kasih kepada Mang Sardi karena berhasil membawa Bella tepat waktu untuk sampai di Resto. Walau dengan tampilan Bella yang cukup memperhatikan.


Bella terburu-buru turun dari motor Mang Sardi. Rasanya pandangan Bella seperti berputar-putar. Rasa mual hadir begitu saja. Bella langsung berjongkok ke tepi jalan.


"Huekk,,,,hueekkk," Bella seketika mual karena Mang Sardi membawa Bella ke jalan tikus dengan kondisi jalan diluar nalar Bella.


"Aduh neng! nggak apa-apa kan neng? saya tetap dibayar 3 kali lipat kan neng?" Panik Mang Sardi melihat Bella yang mual dengan wajah yang pucat.


"Udah nggak apa-apa Mang! Tapi lain kali jangan lewat jalan tikus itu lagi Mang. Nggak apa-apa terlambat asal masih tetap selamat tanpa efek samping," ujar Bella dengan posisi jongkok.


Bella segera membayar Mang Sardi sebesar 150 ribu. Dan yang pasti di terima Mang Sardi dengan hati yang berbahagia. Kapan lagi pagi-pagi sudah dapat rezeki nomplok.


"Makasih Mang! Dan semangat ngojek," Bella segera berlalu dari hadapan Mang Sardi dengan langkah yang sedikit sempoyongan.


"Semangat juga neng!" Teriak Mang Sardi yang dijawab lambaian malas dari Bella.


"Kasihan neng Bella euy. Tapi sering-sering aja telat kayak gini neng," Ujar Mang Sardi sambil bergantian menatap Bella dan uang 150 di tangannya.


...****************...


Bella sudah bekerja di Resto ini sekitar 3 tahun. Sejak ia memutuskan untuk menetap di kota ini. Awalnya tak mudah untuk bisa jadi karyawan di Resto ini. Entah apa yang membuat Resto ini banyak yang tertarik untuk menjadi karyawan. Bella harus mengikuti tes wawancara dan uji coba dengan 30 peserta lainnya. Tapi untunglah dulu dia bersekolah mengambil jurusan tata boga. Jadi ia mempunyai kelebihan bisa memasak dan mengolah makanan dengan baik.


"Baru hari Senin tapi udah kacau nih hidup," Gerutu Bella dengan segera absen menggunakan finger print.


Di resto ini memang peraturan sangat ketat tapi untuk gaji karyawan sangat mensejahterakan bagi karyawan.


"Put,,Putri!! Tolong ambil gue minum dong Put. Haus banget gue! Hari Senin gue kacau balau gara-gara tuh boss besar mau datang!"


"Lagian ngapain pakai datang di hari Senin dengan tiba-tiba sih," Cerocos Bella setelah memasuki dapur Resto dengan cuek tanpa melihat sekeliling.


"sttt...Bell," kode Putri tapi tidak di gubris oleh Bella yang sibuk memakai apron dan membelakangi Putri.


"Apaan sih! sattt suttt sattt sutt..Gue itu bukan cewek biasa di simpang 4 yaaa!"


"Ehemmm,"


"Kok suara loh jadi berat kayak git...." Mata Bella langsung melotot melihat sosok manusia yang sedang menatapnya dengan pandangan sulit di artikan.


"Mampus gue," batin Bella


Bagaimana Bella tidak terkejut, kalau yang berdiri sejauh 1 meter darinya adalah Bos Besar yang baru saja ia protes tadi.


Devan Sanjaya, Pemilik Cafe and Resto tempat Bella bekerja. Berumur 30 tahun dan dengan tampilan yang menawan. Bahu yang lebar dan wajah yang tampan. Dan tatapan matanya yang seperti serigala menjadi daya tarik sendiri ketika orang yang melihatnya.


"07:25 dan kamu baru sampai di resto! Katamu tadi saya tiba-tiba datang? Seharusnya kamu cek group Resto, karena saya sudah memberitahu terlebih dahulu di group!" tegas Devan dengan tangan yang terlipat di dada. Seolah memamerkan otot yang indah di lengannya.


"Maaf Pak, saya benar-benar minta Maaf," Lirih Bella dengan keberanian yang menciut.


"Ishh ini akibat Drakor" batin Bella


Jadwal Bella di setiap hari Minggu adalah menonton Drakor dan mematikan telepon selulernya. Karena Bella tidak ingin di ganggu untuk waktu liburnya. Tapi kalau berdampak seperti ini, untuk pertama kalinya Bella menyesal telah menghabiskan waktunya kemarin.


Walau titah Devan terbilang biasa tapi entah mengapa memberi efek merinding dan takut bagi Bella.


...****************...


"Seperti kata saya di dalam group kemarin. Bahwa hari ini akan ada tamu kelas atas untuk makan siang disini. Dan untuk itu saya akan mengambil alih dapur untuk hari ini,"


"Dan saya tidak ingin ada satu kesalahan apapun itu. Tamu VVIP ini berjumlah 30 orang dan hari ini Resto kita hanya akan melayani mereka."


"Siapkan segala keperluan dari kebersihan, kenyamanan dan keindahan. Sehingga tamu kita akan betah. Mereka akan mulai berkumpul jam 11 siang ini," Titah Devan kepada 30 orang karyawan di restonya tersebut.


"sttt, put!!" senggol Bella sedikit di lengan putri yang tepat berada di sampingnya. Untung posisi mereka ada di barisan belakang jadi sedikit tertutupi dari pandangan Devan.


"Apaan sih! Udah diam dulu," Putri hanya takuts kena sembur dari Devan.


"Siapa sih yang mau datang sampai-sampai resto mau ditutup dan khusus menerima tamu itu aja. Sepenting apa sih," bisik Bella dengan penasaran.


Resto ini memiliki 3 lantai dengan setiap lantai berbeda tema. Dan Resto ini bisa menampung pelanggan sebanyak 150 orang. Jadi sepenting apa pelanggan ini pikir Bella.


"itu yang di belakang! Bisa ulangi sekali lagi apa yang sudah saya bicarakan," Ucapan tegas dari depan dengan sorot mata yang tajam berhasil membuat rasa penasaran Bella hilang.


"Sudah terlambat dan tidak memperhatikan apa yang sedang saya bicarakan!"


"Sudah bosan kerja disini kamu haa!" Nada tegas dengan sedikit bentakan itu membuat Bella tak mampu mengeluarkan satu suara pun.


Sudah menjadi rahasia umum jika pemilik Resto ini memiliki batas kesabaran yang bagaikan tisu di bagi 2. Dan Bella berhasil melampaui batas itu.


"Setelah kedatangan tamu kita hari ini! Kamu datang keruangan saya!" Tegas Devan dengan segera berlalu dari dapur Resto ini.


"Mampus gue Put!" nelangsa Bella dengan wajah yang pucat dan tatapan kasihan dari semua teman kerjanya.


"Yang sabar yaa Bel, lagian itu mulut sering nggak tau tempat sih kalau ngomel," Putri mencoba menenangkan Bella walau ia pun khawatir dengan nasib sahabatnya ini.


"Lebay deh," celetukan dengan bernada ketus tertuju kepada Bella dan Putri.


"Maksud Lo apa ha?" Dan sepertinya berhasil memancing Bella untuk meluapkan emosi.


"Lo, Lebay! wlekkk!" kata yang mengejek dengan juluran lidah di akhir kalimatnya membuat Bella ingin sekali adu jotos pagi ini.


"ehhh udah-udah," Putri mencoba melerai pertikaian mereka berdua.


"Lo juga nih sas, Udah tau temen baru kena tegur dari atasan bukannya jadi penenang tapi malah diajak ribut Mulu,"


"Dan Lo juga bel, coba deh sehari aja jangan mudah marah-marah, nanti cepat tua baru tau rasa!" Putri merasa menjadi ibu kalau melihat Bella dan Saskia lagi ribut.


"Yaa lagian dia duluan yaa bell," nada manja Bella kepada putri dibalas tatapan sinis dari Saskia.


Bella, Putri dan Saskia mereka 3 serangkai yang di setiap situasi selalu bersama-sama. Bolos kerja bisa samaan, sakit pun bisa bareng-bareng, dan memiliki hobi pun juga sama. walaupun watak mereka teramat beda. Jika Bella dengan kesabaran yang setebal tisu dibagi dan Saskia yang memiliki kata-kata yang tajam. Berbeda dengan Putri yang bisa sabar dengan segala situasi dan menjadi penengah di antara Bella dan Saskia.