
Pintu yang tak bersalah menjadi sasaran akan emosi pemilik ruangan. Devan merasa sedikit tertekan hari ini, karena semuanya harus sempurna jangan sampai semuanya jadi kacau. Jika kacau bisa gawat karir Devan. Untung karyawan sedikit bermasalah hanya satu orang. Kalau lebih Devan tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi.
Putra, Asisten Devan sekaligus manajer di resto ini. Tertib mengikuti Devan dari belakang. Bukan hal yang aneh lagi jika menyaksikan emosi Devan yang setipis tisu dibagi dua.
"Wuishh sabar dong Dev," ujar langkah kaki yang mengikuti dari belakang.
Ya pemilik ruangan ini adalah Devan Sanjaya. Bos besar kalau kata Bella.
"Haaa!" Helaan nafas panjang dari Devan yang sedang duduk di kursi kebesarannya dengan mata yang tertutup.
"Hari ini pasti terlewati kok! Jangan pesimis dong boss," semangat Putra kepada Devan. Sahabat sekaligus manajer di Resto Devan ini.
"Lo keluar! Biarin gue sendiri dulu," Usir Devan yang di balas delikan mata dari Putra.
"Kalau bukan lagi jam kerja udah gue pukul Lo boss," gerutu Putra dengan segera berlalu dari hadapan Devan.
Brak...
Suara pintu yang ditutup dengan sedikit kasar. Maklum Putra sedikit agak emosi tapi sayang kok.
...****************...
Devan Sanjaya, berusia 30 tahun dan memiliki usaha cafe and resto sejak 5 tahun yang lalu. Sukses di usia muda membuat Devan menjadi populer di kota ini. Apalagi dengan kelezatan dan ciri khas interior dari usahanya, membuat ia di kenal dimana-mana.
Sejak 1 tahun ini ia mulai terjun ke dunia YouTube dengan membuat vlog berisi resep makanan. Didukung dengan wajah yang tampan serta bentuk tubuh yang ideal bagi kaum pria. Jadi saat ia membuat konten di YouTube tak jarang selalu menjadi trending.
Memiliki penggemar dari remaja putri sampai nenek-nenek pun menggilai Devan.
drttt...
drttt....
drttt...
suara telepon yang berdering memecahkan kesunyian di ruangan Devan.
"Hallo," suara berat dari Devan menyapa penelpon.
"Hallo! Kamu udah di Resto kan? Ingat yaa harus perfect di segala sisi, Mama nggak mau ada yang kurang sedikit pun," titah si penelpon yang tak lain adalah Mama Devan sendiri.
"iya ma, iyaa. Hari ini juga Devan yang bakalan langsung turun tangan ke dapur. Jadi jangan khawatir, Dari subuh tadi ini udah telpon ke 5!" ujar Devan lelah melawan kecemasan dari Mamanya.
"Ihhh berarti hari ini spesial makan masakan kamu, wahh hebat anak mama hari ini, pasti Papa nanti bakalan bangga,"
"Stop bawa-bawa nama Papa ma!"
"Iya-iya, yaudah Mama tutup dulu telponnya. Semangat Devan," ucapan penuh ceria dari telpon berhasil mengisi energi Devan untuk selalu semangat.
"Kalau sampai gagal hari ini, kelar semua usaha gue," gerutu Devan sembari berputar di kursi yang ia duduki.
...****************...
Suasana di dapur Resto Devan teramat ramai dan semua karyawan sudah memegang perannya tersendiri.
Putri yang sudah siap sedia di meja kasir, Dan Saskia yang fokus dengan pekerjaannya sebagai waitress.
Berbeda dengan 2 temannya. Bella harus siap sedia di dapur, bukan sebagai chef tapi penanggung jawab kebersihan peralatan makan dan masak. Kalau bahasa kasarnya kita sebut dengan tukang cuci piring.
Ada 4 orang di bagian untuk kebersihan ini. Ada yang bagian untuk mencuci semua peralatan masak. Ada yang bertugas untuk mencuci semua piring. Ada yang bertugas untuk mencuci semua gelas dan sendok. Dan ada yang bertugas untuk kebersihan dari bahan makanan yang akan di masak.
Bella mendapatkan bagian untuk mencuci semua piring yang dipakai.
Bekerja di bagian dapur harus siap sedia dan cekatan. Semua harus fokus dengan pekerjaan masing-masing. Dan kerja sama yang baik adalah kuncinya.
Bella sudah mencuci berpuluh-puluh piring dan peralatan masak lainnya. Entah apa saja yang dimasak oleh Chef Boss besarnya hari ini, karena peralatan makan yang kotor seperti tak ada habisnya.
"Haaa, kapan habis nya nih piring, dari tadi perasaan nambah terus," walau mulut Bella menggerutu tapi tangan tetap bekerja.
"ini nambah lagi yaa bell," ujar waiter bernamA Anton.
"iya mas, silahkan!"
"semangat dong bell, bayangkan berapa banyak bonus hari ini kalau acaranya sukses," ujar Anton dengan mengedipkan sebelah matanya.
Anton memang terkenal dengan sifat genitnya di kalangan karyawan. Tak jarang ada saja karyawati yang terpincut dengan Anton.
"untung mas Anton mengingatkan, kan saya langsung ceria lagi nih,"
"ohh iyaa kalau bonus nya dapat banyak berarti uangnya bakalan cukup nih untuk ikut WAR tiket agustd," batin Bella dengan senyum tak jelasnya. Sampai ia tak mengetahui lagi yang berada di sampingnya bukan Anton.
"Bagus! lagi sibuk-sibuknya di dapur kamu habis dengan senyum-senyum sendiri seperti orang gila," suara berat yang berada tepat di samping telinganya membuat lamunan indah Bella menjadi buyar.
"Siapa juga yang senyum-senyum sendiri, orang lagi sibuk cuci piring kok," jawab Bella tanpa tahu siapa yang ada disampingnya.
"Oh ternyata masih berani jawab itu mulut ya,"
"Ya kan saya ada mu..." betapa terkejutnya Bella kalau yang berada di sampingnya adalah Devan. Dan posisi berdiri mereka berdua lumayan dekat. Membuat Bella mundur satu langkah.
"ehh Pak boss, sejak kapan di samping saya pak?"
"Sejak tadi saya disini, dari kamu yang mengajak karyawan lain untuk ngobrol. Terus kamu yang berhenti bekerja karena sibuk dengan khayalan tak kasat mata di kepala kamu ini," jelas Devan dengan mendorong sedikit kening Bella menggunakan jari telunjuknya.
"Maaf Pak boss, tapi mas Anton duluan yang ajak saya ngo..."
"STT! saya nggak mau dengar jawaban kamu! ingat setelah kerja nanti kamu keruangan saya!" titah Devan dengan segera berlalu dari hadapan Bella.
"jiahh strees itu orang! kalau bukan boss udah gue pites itu leher. Pakai acara dorong kening gue segala lagi. Jangan-jangan fans gue kali itu boss," omel Bella dengan suara pelan. Dan sedikit melampiaskan kekesalannya melalui cuci piring ini.
prang...
suara piring yang jatuh ke lantai karena terlepas dari tangan Bella. Akibat terlalu dongkol di hati membuat pekerjaan Bella sedikit tidak fokus.
suara pecahan piring berhasil mengambil atensi semua orang yang berada di dapur beralih menatap ke arah Bella. Walau hanya hitungan detik. Tapi ada satu yang menatap dengan mata wolfnya kearah Bella. siapa lagi kalau bukan Devan.
"Maaf semuanya!" ucap Bella dengan segera membersihkan pecahan kaca dari piring yang pecah.
"aduhh, berdarah lagi," goresan tajam dari pecahan itu berhasil melukai jari telunjuk Bella.
"Mangkanya lain kali itu fokus kalau di dapur." Ada tangan yang langsung mengandeng tangan Bella dan mengarahkan tangan yang luka itu kearah aliran air keran.
Gerakan yang begitu cepat membuat Bella terkejut dengan yang terjadi. Apalagi dengan orang tersebut juga dengan cekatan membersihkan pecahan piring yang berserakan.
"Pak putra,"