
Sudah 10 menit Bella hanya berdiam diri di depan pintu keramat baginya. Bagaimana tidak keramat kalau pintu ini adalah pintu ruangan kerja Devan. Berulang kali Bella menenangkan diri agar bisa mengetuk pintu ini.
"Ayo semangat bell! Tinggal sapa lalu minta maaf dengan terlihat tulus semua masalah selesai," Bisik Bella untuk dirinya sendiri.
Setelah mengetuk pintu sebanyak 3 kali. Ada sahutan dari Devan yang mempersilahkan Bella untuk masuk.
"Selamat siang menjelang sore Pak," Sapa Bella setelah menutup pintu dan segera menyapa Devan yang sedang duduk di kursi kebesarannya.
"Hmm," jawaban sepatah kata dari Devan berhasil membuat bulu kuduk Bella merinding. Walau Devan menjawabnya tanpa melihat Bella dan lebih memilih melihat kertas yang ada ditangannya.
Hening setelah jawaban singkat dari Devan. Dan pikiran Bella di penuhi dengan kebingungan. Bingung harus apa dan harus bagaimana. Mau duduk tapi pemilik ruangan belum mempersilahkan. Mau bicara lagi tapi bingung mau bicara apa.
"Duh, kenapa dia lebih sibuk lihat tuh kertas, apa gue kurang menarik nih," ujar Bella di dalam hati.
"tapi kalau dilihat-lihat nih pak boss cakep juga, dari alis yang tebal, terus mata yang tajam seperti mata serigala, terus hidung yang indah, nah ini yang baru gue perhatiin bibir Pak boss ternyata seksi banget, berwarna merah terus penuh, beda banget sama bibir gue udah sedikit hitam mana pecah-pecah lagi,"
Devan tersadar dari kegiatannya memeriksa semua laporan yang dari tadi di pandangnya. Akhirnya tatapan Devan beralih menatap ke arah depan dan langsung tertuju kepada Bella yang sedang menatap Devan dengan tatapan yang sulit di artikan. Terkadang ekspresi Bella datar, senyum malu-malu dan tiba-tiba berubah cemberut entah apa sebabnya.
Devan merasa ngeri sekaligus merinding. Apa diruangan ini ada makhluk halus dan sekarang sedang merasuki karyawannya ini.
Salah Devan juga yang bisa-bisa tidak ingat kalau ada karyawannya ini dari tadi.
"Hei," panggil Devan dengan menjentikkan jarinya tapi tak mendapatkan respon dari Bella.
"Wah benar-benar gawat ini,"
Devan langsung mengambil gelas berisi air penuh yang berada di atas mejanya.
Dan Devan segera berdiri dari duduknya untuk segera menghampiri Bella. Dan kini ekspresi wajah Bella tambah aneh lagi dengan senyum yang sangat lebar. Semakin membuat Devan merinding.
'byur'
Air yang berada di gelas tadi sudah berpindah ke wajah Bella dan membuat sang empu terkejut.
"PAK BOSS!" seru Bella terkejut. Bagaiman tidak terkejut kalau ia tiba-tiba di siram air tanpa tau sebab.
Seberapa besar masalah yang telah ia timbulkan sehingga mendapatkan siraman rohani sepeti ini.
"Akhirnya kamu sadar juga," ucap Devan dengan menghembuskan nafas lega.
"BAPAK APA-APAAN SIH, MAIN SIRAM-SIRAM, SAYA TAU KALAU SAYA UDAH BAU KARENA KERINGAT AKIBAT BEKERJA TAPI YAAA NGGAK GINI JUGA DONG,"
Ingin sekali rasanya Bella menampar sosok manusia tampan di depannya ini. Kalau bukan karena ia yang masih ingin bekerja disini jadi Bella hanya meluapkan kekesalannya lewat amarah dari suaranya saja.
"Kamu itu tadi udah kerasukan makhluk halus, untung saya dengan cepat membantu kamu, seharusnya kamu mengucapkan terima kasih sama saya,"
"Nggak usah bohong deh pak! Pasti bapak ada dendam pribadi kan sama saya, udah ngaku aja pak,"
"Dasar tidak tau terima kasih kamu ini, sudah di tolong tapi malah menyalahkan orang lain,"
"Terus itu ekspresi mukamu tadi kenapa dari datar terus senyum-senyum tak jelas terus berganti menjadi cemberut dan yang terakhir menjadi senyum lebar sampai telinga," Jawab Devan dengan tatapan memicing kearah Bella.
"Saya? Begitu?," Baru Bella tersadar kalau semua ucapan di hatinya tadi amat tergambar di wajahnya.
Seketika wajah Bella berubah menjadi merah sampai telinga Bella pun menjadi merah.
"Ayo jawab! Kenapa kamu seperti itu tadi," Desak Devan dengan mendekatkan posisi ke arah Bella. Membuat langkah Bella mundur.
"ehh, itu karena?" Bella bingung harus jawab apa. Apalagi dengan tatapan Devan yang sangat mengintimidasi. Bella berusaha menghindar dari tatapan Devan.
"Oh saya tau! Pasti kamu berpikiran yang aneh-aneh tentang saya kan?"
"ehh bapak nggak boleh negatif thinking loh," Dengan pandangan Bella yang berusaha menatap ke arah lain. Apalagi posisi Bella kini yang semakin mendekat dinding yang ada di belakangnya.
"Bapak jangan maju-maju kayak gini dong, saya bisa teriak nih," cicit Bella dengan berusaha mendorong Devan tapi tak membuahkan hasil.
"Jawab dulu pertanyaan saya! Kenapa kamu menatap saya dengan ekspresi wajah begitu?"
"Atau jangan-jangan kamu sedang berpikiran yang aneh-aneh,"
"Dari tadi yang saya lihat matamu ini terus tertuju ke arah bibir saya, apa yang sedang kamu pikirkan?" Desak Devan terus menerus kepada Bella.
Selangkah demi selangkah posisi mereka semakin dekat, apalagi sekarang posisi Bella yang terhenti karena dinding di samping pintu ruangan ini. Ternyata Devan memergoki basah semua yang Bella lihat tadi. Gara-gara menikmati pahatan indah di depannya ini membuat Bella menghadapi masalah baru.
Alihan mata Bella selalu berhenti ke arah bibir itu. Katakanlah kalau Bella sedikit berpikiran kotor. Tapi bibir itu memang indah. Bella sangat bermimpi ingin memiliki bibir seperti pak boss nya ini. Bibir yang terlihat merah alami dan penuh akan keseksian.
Lain hal dengan Devan yang tadi hanya ingin menjahili karyawannya ini karena Bella terlihat lucu dengan wajah merahnya dan telinganya ikut memerah. Entah mengapa Devan menyukai semua ekspresi itu. Dan sekarang dengan posisi sedekat ini membuat Devan bisa memperhatikan lebih jelas. Semua yang ada di wajah Bella terlihat indah, apalagi di bagian pipi chubby Bella yang terlihat lucu.
Tangan Devan segera mengurung Bella ketika langkah mereka terhenti. Wajah Devan semakin mendekati wajah Bella. Entah kenapa Devan sangat ingin melakukan itu. Apalagi setelah melihat bibir ranum Bella yang seperti menggodanya untuk segera datang.
Lain hal dengan Bella yang sekarang justru takut. Apalagi dengan melihat tatapan Devan yang terus mengarah ke arah bibirnya. Seketika Bella merasakan dadanya mulai sesak dan tangan serta kaki yang mulai dingin. Keringat dingin yang tiba-tiba muncul dan detak jantung Bella yang terasa terhenti.
Sekelebat bayangan yang terasa samar kembali menghantui Bella. Ingatan atas kejadian itu berhasil merasuki Bella. Ketakutan mulai merasuki Bella.
"Tolong," lirih Bella dengan tangan yang gemetar.
"Jangan lakukan," lirihan pilu dari Bella. Berhasil menarik akal sehat dari Devan.
"Ah ****!," umpat Devan yang tersadar dengan apa yang sedang ia coba lakukan.
Apalagi kini seluruh tubuh Bella seperti gemetar ketakutan dan tatapan kosong tapi diiringi isak tangis yang teramat pilu.
"Maaf," Ujar Devan dengan segera menarik tubuh Bella ke pelukannya.
Bella langsung luruh di pelukan Devan. Semua kilasan bayangan itu teramat nyata. Suara dan tangisnya pun terasa nyata.
Lama-lama penglihatan Bella menjadi gelap dan yang ia ingat hanya pelukan yang terasa hangat dan nyaman.