
"Wah, benar kalian ternyata!" William berseru senang, sudah seperti orang kejatuhan hujan uang. Sedangkan Azuri di samping tersenyum senang, terkesan sumringah.
Kedua lelaki itu memperhatikan Alicia dan Archer bergantian. Mereka tampak takjub karena keduanya hampir seperti saudara kembar. Archer masih tersenyum kikuk, merasa canggung. Sedangkan Alicia terlihat semakin jengah.
"Kalian mau nyari buku novel?" tanya Azuri, basa basi.
"I-iya Bang." Archer yang menjawab, karena Alicia terlihat tidak ingin bicara. Omong-omong ini di luar kerjaan, mereka bebas mau memanggil apa, tidak harus terpatok kata 'Tuan' hanya karena mereka pelanggan di club.
"Gue juga mau nyari buku novel. Mau sekalian bareng?" tanya William ramah, menatap Archer dengan sorot mata lembut.
"Engga, kami mau nyari novel berdua aj--!"
Alicia berjengit kaget saat tiba-tiba saja Archer mencubit pinggangnya, membuat jawabannya untuk William terpotong. Untungnya dia hanya kaget tidak sampai memekik, apalagi teriak.
Archer si pelaku hanya memasang wajah tanpa dosa sambil membalas senyum William, serta menjawab. "Boleh." Sontak Alicia menatapnya degan tatapan tak terima. Tapi apakah ia peduli? Oh, tentu tidak.
"Yes! Zuri, Lo jagain Dedek Licia ya! Gue sama Archer mau ke bagian sebelah." William meraih tangan Archer untuk digenggam dan segera membawanya pergi.
Namun sebelum itu, ia menyempatkan diri mengacak gemes kepala Alicia hingga rambutnya berantakan seraya berucap. "Dedek ipar, Abang pinjem Kakaknya dulu ya. Jangan nakal!~"
Alicia yang diperlakukan begitu tentu saja tidak terima. Belum juga sempat ia menabok tangan William yang seenak jidat menghancurkan tatanan rambutnya, lelaki itu sudah keburu pergi sambil membawa Archer.
Cewek ini ini jadi semakin dongkol saja rasanya, apalagi Archer seolah mendukung William. Jadilah, sempat menggerutu Alicia merapikan kembali rambutnya. Untungnya tidak sulit karena rambutnya mudah diajak bekerjasama.
Selagi asik sendiri, Alicia melupakan atensi satu lagi laki-laki yang tadi datang bersama William. Azuri terkekeh geli, gemes memperhatikan Alicia yang menggerutu. Pipi chubby itu sampai menggembung dan memerah saking kesalnya.
"Udah jangan marah-marah. Kan masih ada gue,~" ucap Azuri sembari mencolek dagu Alicia dan mencubit gemes pipinya.
Sadar masih ada satu orang meresahkan yang tertinggal, Alicia langsung menepis tangan Azuri sebelum makin kurang ajar. Dia menatap tajam lelaki ini sambil memasang wajah segalak-galaknya.
"Gak butuh! Lo pergi sendiri gih sana Om, gue mau sendiri," cetusnya seraya melengos meninggalkan Azuri.
Apakah Azuri menurut? Oh, tentu saja tidak. Ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk berduaan dengan cewek yang akhir-akhir ini selalu memenuhi pikirannya.
Sembari memasukkan tangan ke dalam saku, Azuri dengan santai mengikuti kemanapun Alicia melangkah. Sampai-sampai membuat cewek itu risih bukan main karena terus diikuti olehnya.
"Om, Lo gak mau nyari novel di rak lain gitu?"
"Engga. Gue ke sini gak beli novel, cuman mau nemenin William."
"......"
Alicia diam. Ia kehabisan akal untuk mengusir Azuri yang semakin menempelinya. Dibilangin baik-baik sudah, dibilangin terang-terangan juga sudah, tapi tidak berhasil. Ingin saja Alicia nonjok wajahnya biar minggat, tapi untungnya ia masih sabar untuk tidak membuat keributan di toko orang.
Menit demi menit berlalu, Alicia belum juga menemukan novel yang ia cari. Ditambah ia tidak fokus dengan kehadiran Azuri. Sembari menghela nafas panjang ia mengusap dada seraya berharap stok kesabarannya masih banyak.
"Om..."
"Hmm?" Azuri menumpukkan perhatiannya pada Alicia sambil senyum-senyum melihat cewek itu sebal.
"Om stop ngikutin gue kalo gak mau bonyok gue tonjokin."
"Abang ipar pala kalian!" Alicia mendelik tidak terima pada Azuri. Tapi cowok itu malah ketawa sambil mencolek gemes dagunya.
"Serius Om, gue lagi pengen sendi--"
-Jdaarr!!
Alicia membatu di tempat dengan wajah shock setelah mendengar suara petir di luar toko, tepatnya di atas langit. Azuri yang melihatnya tentu bingung dan bertanya-tanya.
Sungguh, saking sibuknya memutar otak agar Azuri tidak mengikutinya lagi, ditambah kesal bukan main, Alicia jadi tidak memperhatikan sekitar yang sudah mendung dan berangin kencang di luar toko. Biasanya jika cuaca mendung, Alicia sudah terlihat khawatir dan cemas. Tapi kali ini berbeda karena posisinya dia tidak sadar.
"Alicia kenap-"
-JDAARR!!
"KYAAAA--!!"
Azuri terkejut lalu disambut tak berkutik lantaran tertegun dengan Alicia yang tiba-tiba menjerit dan melompat ke pelukannya setelah mendengar suara petir serta gemuruh hebat.
Cowok itu baru merespon setelah merasakan baju dan dadanya basah. Saat itulah dia sadar Alicia memiliki ketakutan berlebihan terharap petir dan gemuruh. "Alicia, lo punya.... Astraphobia?"
Pertanyaan Azuri tentunya tidak digubris oleh Alicia yang sedang ketakutan hebat mendengar suara petir, gemuruh dan hujan lebat di luar toko. Saking takutnya, Alicia sampai menangis sesenggukan dengan tubuh gemetar hebat. Cewek ini bahkan mulai merasa kepalanya pusing dan dadanya nyeri hingga sesak nafas.
Azuri antara mau senang dan kasian dengan situasi sekarang ini. Satu sisi dia senang karena Alicia nemplok di badannya sambil memeluknya erat. Tapi di sisi lain dia juga kasian karena cewek ini ketakutan parah.
"Ssthh...tenang Licia, jangan dengerin..," bujuk Azuri sembari mengusap punggung cewek ini, mencoba menenangkan Alicia yang tak kunjung tenang.
Sudah banyak kata-kata penenang yang Azuri ucapkan, namun Alicia masih ketakutan selama mendengar suara-suara mengerikan di luar toko belum juga reda. Kalau saja posisi Azuri tidak memeluk dan memeganginya, mungkin sekarang Alicia sudah meringkuk ketakutan di lantai.
"Ini gimana nenanginnya astaga...gue gak punya pengalaman nenangin orang punya phobia!" batin Azuri, menatap iba Alicia. "Dibikin pingsan aja kali ya? Tapi gimana? Masa harus mukul tengkuknya, kasar dong entar? Apa ***** aja sampe kehabisan nafas?"
Azuri bingung. Opsi satu ataupun opsi dua pasti ujung-ujungnya membuat Alicia marah. Tapi Azuri sudah tidak tahan, keadaan Alicia sekarang sudah sangat memprihatikan.
Akhirnya Azuri nekat mengambil opsi kedua karena tidak mungkin ia memukul Alicia. Apalagi ini cewek.
Lantas Azuri menangkup kedua pipi chubby Alicia yang basah air mata, membuatnya mendongak sebelum akhirnya mempertemukan bibirnya dengan bibir Alicia, meredam segala Isak tangis dan sesegukan dari cewek ini.
Alicia yang sudah sangat kacau karena Astraphobia-nya sendiri tidak bisa lagi berfikir tentang apa yang Azuri lakukkan. Namun pastinya ciuman Azuri langsung membuatnya yang sudah sulit bernafas, semakin sulit. Bahkan bisa dibilang tidak bisa bernafas.
Satu tangan Azuri menahan tengkuk Alicia agar ciumannya tidak terlepas, sedangkan satu tangan yang lain meliliti pinggang langsing cewek ini agar tidak jatuh ke lantai, sekaligus memeluk hingga jarak antara dia dan Alicia lenyap.
Azuri terus memperdalam ciumannya meskipun tidak menerima balasan dari Alicia. Ia tidak membiarkan sedikitpun celah untuk Alicia bernafas. Bahkan di saat cewek ini mulai sedikit berontak karena kehabisan nafas pun, Azuri tetap menahannya.
"Emnhh! Nngmhh!" Alicia mengerang. Ia mencoba lepas dari apa yang membuatnya sulit bernafas, namun tidak bisa. Tubuhnya yang sudah lemas gemetaran karena takut, jadi semakin lemas karena tidak bisa bernafas.
Melihat Alicia yang sudah pingsan tak berdaya, Azuri buru-buru melepaskan pangutan mereka. Ditatapnya Alicia yang sudah kacau dengan tatapan bersalah. Bibir tipis itu sudah bengkak dan basah karena ciumannya.
"Sorry Licia...gue terpaksa...," bisiknya.